
Riany dan Lukman terpaksa menyusul naik taksi. Dalam beberapa menit taksi sudah sampai di Masjid Quba. Tidak lama setelah bis-bis itu tiba.
Masjid Quba terletak di pinggiran kota Madinah, 3 km di arah selatan Masjid Nabawi. Berada di kawasan perkampungan Quba.
Masjid Quba adalah masjid pertama yang dibangun oleh Nabi pada tahun 1 Hijriyah atau 622 Masehi. Saat Nabi hijrah ke Madinah untanya berhenti, di situlah Nabi mendirikan masjid.
Masjid ini bercat putih, berbentuk segi empat dengan menara menjulang tinggi. Memiliki 19 pintu; pintu utama berdaun pintu besar, 2 pintu untuk jamaah laki-laki dan 1 pintu untuk jamaah perempuan. Di seberang ruang utama terdapat ruangan untuk tempat belajar mengajar.
Di depan masjid tersedia pelataran parkir yang cukup luas. Burung merpati dengan bebas beterbangan.
Lapak pedagang berjejer di pinggir pelataran menjajakan berbagai suvenir, kurma maupun sandang. Harganya terbilang standar.
Beberapa pohon kurma tertanam tepat di depan masjid. Memberi kesejukan di terik cuaca Madinah.
Begitu turun dari taksi, Riany segera mendatangi Al yang keluar dari bis bersama Aisyah, Irma, dan Nidar.
"Tega banget," gerutu Riany. "Aku ditinggalkan."
"Aku sudah minta untuk ditunggu," kilah Al. "Tapi rombongan ingin cepat-cepat berangkat."
"Kamu ketuanya. Kamu harusnya minta sopir untuk menunggu."
"Ketuanya itu kamu," balik Nidar. "Saking lamanya meninggalkan tanggung jawab, jadi lupa."
"Al cuma ketiban sial," timpal Irma. "Sudah jatuh tertimpa tangga! Nah, tangganya malah dibawa!"
"Kalian bisa tunggu aku!" geram Riany sengit. "Berapa lama sih menunggu aku memanggil Lukman?"
Irma mendengus sinis, "Bagi kamu sebentar, bagiku lama banget!"
"Dasar pengkhianat!"
"Kamu pengkhianat!" sambar Irma jengkel. "Semut di seberang Laut Merah kelihatan, gajah di depan Masjid Quba tidak kelihatan!"
Al melerai. "Sudah, sudah. Kalian sama teman kok berantem? Lagian apa sih yang diributkan?"
Riany sendiri heran. Sejak dia pulang dari Riyadh, Irma jadi berani membangkang. Gadis itu menolak untuk satu kamar dengannya, malah Aisyah yang rela berbagi tempat tidur. Dia terpaksa satu pembaringan dengan gadis yang berharap jadi madu! Dia kuatir Al jatuh sakit tidur di masjid dan tahu calon imamnya hanya ingin tidur di kamar almarhumah!
Apa Irma ingin mengambil kesempatan dari situasi yang rumit ini? Dia berusaha menunjukkan simpatinya kepada Al untuk mencuri perhatian! Riany tahu Irma tidak menolak kalau Al memilihnya jadi calon istri!
Provokator itu sebenarnya Nek Surti dan mendapat dukungan penuh dari rombongan. Al sudah minta rombongan bersabar. Tapi Nek Surti malah menceramahi karena mereka simpati atas pengkhianatan Riany. Kiranya kisah masa lalu itu bocor dan penyebarnya adalah nenek kepo itu.
"Nek Surti?" Riany kaget begitu mendengar penjelasan Aisyah tentang siapa provokator dari kejadian itu. "Aku tidak pernah membuat masalah dengannya. Mengapa dia mencari masalah denganku?"
Riany jadi curiga Nek Surti ingin memancing di air keruh. Dia tahu Pamela sampai detik ini masih menaruh hati kepada Al. Nek Surti ingin membantu memuluskan jalan dengan memanfaatkan situasi ini!
"Kamu sudah menyakiti, Al," kata Aisyah.
Riany memandang tak mengerti. "Menyakiti Al? Aku pergi ke Riyadh atas izinnya."
"Pertanyaannya, izin itu disalahgunakan tidak?"
Riany menatap bingung. "Disalahgunakan bagaimana maksudmu?"
__ADS_1
"Sudahlah, baiknya kamu segera ambil wudhu, terus shalat sunah dan itikaf. Tanya pada diri sendiri, apa ada kesalahan yang sudah kamu perbuat?"
"Kesalahan apa?" tanya Riany tidak paham. Tiba-tiba sinar matanya berubah. Dia memandang Aisyah dengan penuh selidik. "Apa Al mengatakan sesuatu padamu?"
"Al tidak mengatakan apa-apa padaku, sekalipun aku tahu hatinya hancur."
Riany terkejut. "Hancur? Hatinya hancur kenapa? Karena aku tidak mengantar kepergian Oma?"
"Kalian sampai kapan berdiri di situ?" tegur Al yang baru selesai mengambil wudhu. "Atau menggantikan tugas askar menjaga keamanan?"
"Calon istri sama madu akrab betul," sindir Eyang Munzir. "Doanya apa sih, Al, bisa akur begitu?"
"Wudhu ternyata tidak berpengaruh ya, Eyang?"
"Maksudnya?"
"Tubuh bersih tapi pikiran kotor."
"Kok kotor? Madu itu sunah!"
"Satu saja belum, madu apa? Madu lebah!"
Mereka masuk ke pintu yang bertuliskan bahwa Nabi selalu mendatangi Masjid Quba pada hari Sabtu, baik berkendara maupun berjalan kaki untuk melaksanakan shalat dua rakaat.
Pada pintu lain terpampang surah At-Taubah ayat 108 yang artinya: Sesungguhnya masjid itu didirikan atas dasar takwa, sejak hari pertama lebih patut bagimu shalat di dalamnya.
Pintu satu lagi bertuliskan hadist tentang keistimewaan masjid Quba bahwa jika seseorang shalat di dalam masjid ini, maka dia akan memperoleh pahala setara umrah.
Hamparan karpet hijau menimbulkan suasana sejuk. Beberapa rak berisi Al-Qur'an terpajang rapi. Lampu gantung kristal menambah keindahan masjid.
Di lokasi yang berbeda, Riany shalat bersama rombongan perempuan. Selesai baca doa, Riany mengajak Aisyah keluar.
"Ada apa sih?" tanya Aisyah ketika mereka sudah berjalan di deretan pedagang suvenir, sekedar melihat-lihat. "Bukan itikaf, malah ngajak keluar buru-buru. Kalau soal meninggalkan kamu, aku abstain, aku bukan anggota rombongan."
"Aku tidak mengerti sikap mereka."
"Jadi mereka yang harus mengerti sikap kamu?"
"Berapa kali lagi harus kukatakan kalau meninggalnya Oma hampir bersamaan waktunya dengan Faye?"
"Dan kau lebih memilih untuk mengurus jenazah Faye."
"Aku tidak tahu Oma meninggal."
"Karena tidak mencari tahu kabar rombonganmu."
"Waktu itu Faye ..."
"Jadi Faye lebih berharga bagimu?"
"Tidak ada yang lebih berharga dari calon imamku."
"Lalu apa yang membuatmu tidak mencari kabar?"
__ADS_1
"Saat itu aku lagi syok berat."
"Aku mengerti perasaan kamu. Tapi perilakumu membuat mereka muak. Kamu itu ketua rombongan. Mereka tidak peduli bagaimana keadaanmu di Riyadh. Yang mereka tahu kamu sudah meninggalkan tanggung jawab. Kamu limpahkan beban kepada Al yang sedang menanggung beban lain."
Kayaknya tidak hanya itu, pikir Riany muram. Ada masalah lain. Dan Al seakan terpengaruh oleh mereka.
"Kamu tidak menghasutnya, kan?" selidik Riany tiba-tiba.
"Jadi ke mana-mana ya," sahut Aisyah santai, tanpa perasaan tersinggung.
"Aku tahu kamu bukan perempuan penggoda, tapi kamu menunggu Al."
"Karena hatiku sudah terlanjur memilih."
"Sekalipun jadi istri kedua?"
"Itu pilihan yang tersisa."
"Berarti musibah bagiku."
"Sunah kau anggap musibah?"
"Apa itu adil? Kalau sunah yang pahit-pahit ditinggalkan, sunah yang manis-manis dikerjakan?"
"Itu urusan laki-laki."
"Akibatnya kita yang menanggung."
"Berarti kamu tidak suka sunah yang pahit-pahit, hanya ingin sunah yang manis-manis, apa itu adil?"
"Kamu rela suamimu dibagi?"
"Perempuan tidak bisa memiliki suami seutuhnya. Mesti berbagi sama orang tua, pekerjaan, umat, dan perempuan lain jika suami berkehendak."
"Aku tidak rela berbagi."
"Suara perempuan tidak didengar di dunia tapi menentukan di akhirat."
"Kalau aku tetap tidak rela?"
"Sederhana saja, cerai."
"Itu perbuatan halal yang dibenci Allah."
"Berarti belajar ikhlas."
Satu-satunya jalan Riany harus bisa menciptakan situasi agar madu tidak hadir dalam rumah tangganya. Berusaha menunaikan kewajiban sebaik-baiknya supaya suami bertahan dengan satu istri.
Adalah aneh kalau istri ingin memiliki suami seutuhnya tapi banyak melalaikan kewajiban. Sama anehnya dengan suami yang sudah mendapat pelayanan istri sebaik-baiknya tapi masih mengambil madu, kecuali tidak punya keturunan.
Lagi pula, kenapa jadi mempermasalahkan hal ini? Yang jadi persoalan kan sentimen mereka? Dan cuma Riany sama Lukman yang jadi sasaran?
Kalau dipikir-pikir, Dinar lebih keterlaluan. Disaat orang lain mendapat musibah, sempat-sempatnya shopping beli kimono sutera buat mereka!
__ADS_1
Riany sebenarnya tidak peduli dikucilkan oleh mereka, rombongan lain masih menerima. Tapi jika Al berpaling darinya, ke mana dia menambatkan hati? Dia hanya punya satu pelabuhan dan tak tergantikan!