Cinta Untuk Gadis Madinah

Cinta Untuk Gadis Madinah
Episode 79


__ADS_3

Al menerima cangkir yang disodorkan istrinya. Kemudian meneguknya sedikit, dan berkomentar, "Lumayan, jangan terlalu kental kalau bikin lagi nanti."


"Aku ganti lagi saja sekarang," sahut Riany. "Biar ketemu yang pas."


"Jangan," cegah Al lembut. "Jadi mubazir. Pertama kali mencoba bikin itu tidak harus berhasil. Lagi pula, kalau teh ini terlalu pahit, aku tinggal melihat wajahmu."


"Katanya tidak suka memberi pujian semu."


"Kodok juga tahu kamu sangat manis."


"Teh itu maksudnya. Kamu tidak perlu menghabiskan kalau tidak enak."


"Minuman adalah soal selera. Jadi aku perlu sedikit menyesuaikan sebagai bentuk penghargaan kepada istri yang telah berusaha untuk belajar."


Al menghabiskan teh meski terasa terlalu pahit. Dia kira istrinya cukup sukses membuat teh hijau untuk yang pertama kali. Riany sama sekali tidak tahu urusan dapur. Di antara ketiga saudaranya, dialah yang paling jarang masuk ke dapur.


Jadi Riany sudah menempuh bahtera rumah tangga sebelum tiba waktunya, tak ada persiapan. Namun dia bertekad tidak akan menyerahkan semua urusan suami kepada asisten rumah. Peletakan batu pertama dalam keharmonisan berumah tangga adalah bagaimana dia memperlakukan suaminya.


Riany tidak berusaha untuk menguasai Al sepenuhnya. Tindakan itu hanya membuat suaminya kurang nyaman. Dia memilih berjalan bersama Umi di belakang untuk pergi ke masjid dibanding jalan berdua bersama suami sebagaimana umumnya pengantin baru.


"Bagaimana semalam?" tanya Umi separuh berbisik. "Kau jalankan nasehat Umi?"


Riany tersenyum bahagia. "Tentu saja, aku belum kepingin hamil."


"Lagi pula hanya menunggu enam bulan, setelah itu kamu boleh mempunyai momongan."


Riany diam. Dia tidak ingin terlalu banyak bicara yang akhirnya membuat banyak kebohongan. Umi tentu akan mencecarnya kalau di malam pertama ini sebetulnya dia tidak perlu membawa seprei ke ruang laundry dan mencucinya sendiri.


Al sampai protes, "Buat apa seprei diganti? Kamu ganti seprei dua belas jam sekali?"


Al tahu seprei itu baru dipasang sore hari. Dia membeli seprei beberapa buah untuk tidur mereka, padahal seprei yang ada cukup banyak. Entah kenapa Riany ingin seprei berwarna merah.


"Umi pasti menegurku kalau tidak diganti. Dia kira seprei ini sudah terkena kotoran."


"Kamu bilang saja apa adanya."


"Cukup kita berdua yang tahu bagaimana kita melewati malam pertama."


"Hari pertama kita sudah berbohong."


"Aku bersedia, tapi kamu tidak ingin azlu. Berarti jalan tengah kita ambil."


"Jalan tengahnya adalah berbohong?"


"Bagusnya bagaimana?"


"Aku lebih suka ngomong jujur, kan tidak ada aturan kita harus melakukan hal itu di malam pertama. Kita sepakat untuk melakukannya setelah lulus kuliah demi kebaikan bersama. Masalahnya di mana?"


"Masalahnya aku pasti di-bully keluarga, di-bully teman-teman. Sama kamu mereka tidak berani, aku pasti habis. Namanya pengantin baru."

__ADS_1


"Kamu dengarkan saja, beres."


"Muka ditaruh di mana?"


"Ya sudah kita lakukan saja daripada harus berbohong."


"Terserah, aku mengikuti apa maumu."


"Kok apa mauku? Mau kamu juga dong?"


"Mau aku enam bulan lagi. Tapi aku ikhlas kalau kamu ingin sekarang."


"Ya sudah kamu tidak usah banyak cerita. Cukup tersenyum saja kalau mereka menggodamu."


"Umi pasti bertanya."


"Bertanya apa? Kita melakukan atau tidak?"


"Tentang nasehatnya, dijalankan apa tidak?"


"Kamu tinggal jawab; tentu saja, aku ingin menunda kehamilan."


"Itu namanya aku berbohong."


"Berbohongnya di mana?"


"Maksud Umi kamu melakukan azlu."


Al sebenarnya sedang menggoda istrinya. Riany ingin mendapat gelar Lc yang sudah di depan mata. Maka itu dia ingin menunda kehamilan. Jadi Al berharap andai istrinya harus berbohong semoga termasuk dosa terampuni, karena berbohong demi kebaikan.


Kehamilan pertama untuk puteri manja tentu sangat berat. Barangkali faktor ini yang jadi pertimbangan Umi. Dia bisa repot bolak balik ke Madinah untuk mengurus anak bungsunya.


Al juga pasti sibuk untuk melayani ngidamnya. Puteri manja biasanya aneh-aneh ngidamnya. Bagaimana kalau dia kepingin cendol Yogya? Al terpaksa harus pergi ke Madinah cuma untuk mengantarkan cendol!


Jadi Al mendingan cari aman. Melewati malam pertama tanpa pesta kenikmatan. Lagi pula, dia melangsungkan pernikahan bukan untuk itu. Dia ingin memenuhi permintaan perempuan yang jadi pilihan ayahnya.


Al secara mental belum siap untuk menikah saat ini. Dia butuh pembelajaran dari kehidupan untuk mengarungi bahtera rumah tangga. Mereka baru memiliki modal cinta, yang kadang justru menyesatkan tujuan.


Maka itu Al tidak ingin mengambil hak selaku suami karena kewajibannya belum ditunaikan. Betul dia memiliki banyak uang, semua biaya dari prewedding sampai wedding party ditanggung olehnya, namun pada hakekatnya dia adalah laki-laki tidak berdaya kalau tidak ada harta peninggalan omanya. Dia belum dapat menghasilkan uang sepeserpun!


Hidup berumah tangga bukan sekedar pergi berlayar untuk bersenang-senang menuju pantai harapan. Mereka harus menjalankan tugas dan tanggung jawab masing-masing. Saat ini Al belum mampu melaksanakan hal itu.


Al memang tidak akan hidup menderita sekalipun tidak bekerja. Kekayaan Oma jadi jaminan untuk kenyamanan hidupnya. Tapi tanggung jawabnya dalam mengemban amanah di mana? Oma mewariskan seluruh harta kekayaan bukan untuk dihabiskan!


Al tidak bisa terlepas dari tanggung jawab Oma semasa hidup. Mempertahankan apa yang sudah berjalan dengan baik, dan memperbaiki segala kekurangan yang ada. Maka itu ketika dua hari lalu Sabrina, orang kepercayaan Oma yang mengelola butik, datang untuk memberi laporan bulanan, dia tak menolak sekalipun sibuk mengurus persiapan pernikahan.


"Aku ingin mempelajari laporan ini dulu," kata Al waktu itu. "Minggu depan kau bisa lihat hasilnya."


Tentu saja Al tidak bisa membubuhkan tanda tangan begitu saja. Dia tidak terpancing dengan neraca yang menunjukkan laba yang lumayan besar. Dia harus tahu secara detil laporan itu, jadi tidak sekedar melihat angka secara global, karena hal ini akan menjadi dasar dalam mengambil sebuah kebijakan.

__ADS_1


"Jika neraca keuangan baik begini, kebijakan yang sudah-sudah bagaimana?" tanya Al ingin tahu.


"Biasanya Oma mengeluarkan bonus, Pak," jawab Sabrina.


"Datanya bisa aku lihat?"


Sabrina jadi sedikit gugup karena tidak ada persiapan. "Maaf, Pak. Saya tidak membawa data itu. Saya bisa kirim lewat email nanti."


"Aku ingin hard copy. Kau datang besok dan bawa seluruh pegawai untuk menghadiri resepsi pernikahanku, sekalian bawa laporan."


Sabrina menatap Al separuh tak percaya. "Di hari pernikahan saya harus bawa laporan, Pak?"


Al tersenyum kecil. "Aku tidak banyak waktu. Aku tidak mau kamu pergi ke Yogya untuk memberi laporan, banyak waktu terbuang yang bisa kamu manfaatkan untuk hal yang lebih penting. Kamu tidak punya wakil, kan?"


"Tidak, Pak."


"Jadi kamu harus banyak stand by di Jakarta."


Butik Oma di kota metropolitan terbilang besar dan cukup terkenal. Kepergian almarhumah membuat Sabrina bertambah sibuk karena harus menangani semua pekerjaan yang ditinggalkan oleh pimpinan tertinggi.


Al belum mengenal satupun pegawai butik. Dia berjumpa dengan wakil Oma ini baru pertama kali dan tentu butuh waktu untuk mengenal mereka lebih dekat. Maka itu dia ingin memanfaatkan momen pernikahannya. Tapi dia percaya mereka dapat bekerja dengan baik.


Oma sangat selektif dalam memilih pegawai. Sekali ditemukan pegawai berbuat curang, maka tidak ada ampun, pecat, untuk memberi pressure kepada karyawan lain. Timbal baliknya, Oma banyak memberi fasilitas untuk menumbuhkan loyalitas mereka.


"Lagi memikirkan kejadian di tempat tidur?" sindir Aisyah yang berjalan di samping Al. Wulandari tidak pergi shalat berjamaah karena ada halangan. Lin Wei memang tidak wajib melakukan. Mereka tinggal satu kamar dan masih tidur. "Terbayang-bayang terus ya?"


Al berlagak bodoh. "Kejadian apa? Terbayang-bayang apa?"


"Aku sudah dewasa kali. Jadi tahu apa yang terjadi di malam pertama."


"Memangnya kamu pernah ngintip?"


"Pernah dengarlah."


"Pengantinnya cerita ke kamu? Tidak ada kerjaan banget."


"Pengantin lama. Pengantin baru kan masih malu-malu."


"Terus apa tujuannya cerita ke kamu?"


"Kok jadi aku yang diinterogasi ya?"


"Lagi kamu bertanya begitu tujuannya apa? Bahaya nanti kalau kamu halu."


"Pasti indah banget tidur satu pembaringan dengan orang yang dicintai."


"Nah, betul kan jadi halu?"


"Maka itu cepat-cepat nikah," sambar Dinar. "Jadi bisa mengalami sendiri. Wisudanya bareng sama Al, kan?"

__ADS_1


Dinar tidak tahu kalau ketiga gadis yang menginap itu menaruh harapan padanya. Mereka hanya ingin menikah dengan laki-laki yang saat ini berjalan di sampingnya. Sesuatu yang membuat Al kadang tak habis pikir.


Ucapan Dinar sama saja memantik perkara yang coba dilupakan oleh Al. Senyuman Aisyah seolah mengirim sinyal kalau dia adalah perempuan berikutnya yang perlu mendapat tempat di hatinya!


__ADS_2