Cinta Untuk Gadis Madinah

Cinta Untuk Gadis Madinah
Episode 133


__ADS_3

Al sebenarnya ingin menunggu ayahnya pulang untuk mendapatkan kejelasan. Dia tidak bisa membiarkan ibunya di rumah seorang diri dalam ketidakpastian, meski dia pergi ke Madinah bukan untuk bersenang-senang. Tapi jika Ayah benar menikah lagi, apa yang akan dilakukannya?


Al menginginkan ayahnya jujur pada keluarga. Anak-anaknya sudah dewasa. Risiko apa yang timbul dari kejujurannya adalah sebuah konsekuensi yang harus diterima. Jangan tes ombak, ketika gelombang datang bergulung-gulung, baru menutup pintu untuk mengambil madu.


Al tidak mungkin bertanya langsung kepada Fatimah. Arya cuma menyaksikan perdebatan mereka karena permintaannya digantung. Perempuan itu ingin dihalalkan terlebih dahulu sebelum pergi ke Surabaya. Kalau tidak, anaknya lebih baik menuntut ilmu di pesantren tempatnya mengajar.


Nah, sekarang mereka pergi ke Jawa Timur, dan kepergian itu tidak membuktikan kalau tuntutan Fatimah sudah dikabulkan, kecuali Arya menyaksikan ayahnya melaksanakan ijab kabul.


"Aku yakin mereka sudah menikah," tegas Arya sambil duduk di samping kakaknya yang mengawasi pembangunan garasi. Dia baru pulang dari kantor imigrasi mengantar Belinda memperpanjang paspor. Mobilnya parkir di halaman. "Fatimah melarang putrinya untuk dibawa ke Surabaya, kecuali permintaannya dipenuhi."


"Siapa tahu pikirannya berubah."


"Aku justru curiga pikiran Ayah berubah. Dia nekat menduakan Ibu. Aku saja bersedia menikahi Fatimah karena sangat menguntungkan laki-laki."


"Kalau begitu kau saja yang menikahinya. Seleramu kan perempuan yang usianya di atasmu."


"Maksudku tidak ada kerugian untuk menikahinya. Dia memiliki kecantikan yang didamba setiap laki-laki, dan tidak perlu memberi nafkah lahir karena mempunyai harta cukup."


"Jadi pantas Fatimah memilih Ayah kalau prinsip anaknya begitu. Dia memberi nafkah lahir untuk menjalankan amanah sahabatnya. Untuk nafkah batin barangkali tidak ada amanah, maka itu jandanya tidak dinikahi. Tapi niat tulusnya jadi lain di mata Ibu, dan makin rumit karena Fatimah meminta hal yang sulit dipenuhinya."


"Aku pikir Ayah jaga image. Semua pengurus DKM beristri lebih dari satu. Bagaimana opini jamaah kalau ketuanya beristri dua?"


"Jamaah tidak perlu beropini. Tinggal diadakan pemilihan pengurus baru kalau tidak setuju."


"Kelihatannya kakak lagi membangun opini untuk mengikuti jejaknya. Jangan kuatir, aku selalu berada di belakangmu, berapapun bilangan yang diinginkan."


"Aku tidak tertarik dengan dukunganmu, harganya sangat mahal, lagi pula aku tidak perlu dukungan keluarga kalau ada niat."


"Restu orang tua perlu, supaya kehidupan yang dijalani mendapat berkah."

__ADS_1


"Sampai sehari menjelang kiamat juga Ibu pasti tidak memberi restu. Jadi buat apa mengharapkan restu?"


"Oh, aku mengerti. Nikah diam-diam baru diperkenalkan, mau tidak mau kan Ibu merestui."


"Aku heran sama kamu. SMA saja belum lulus sudah kepikiran soal madu."


"Aku mau mengikuti jejakmu, nikah muda, bila perlu lulus SMA."


"Dengan Belinda?"


"Rencananya begitu. Aku kuatir terjebak maksiat. Dia bukan penganut hidup bebas, aku juga."


"Nggak repot kuliah nanti?"


"Pernikahan bukan penghalang untuk meniti karir sampai puncak. Buktinya kakak bisa."


"Pernikahan bisa menggagalkan rencanamu untuk meniti karir. Permasalahan yang terjadi di dalam rumah tangga sangat rentan mempengaruhimu dalam mengejar cita-cita, kecuali kamu sudah merasa cukup dengan apa yang dimiliki."


"Aku tidak mau terlalu kaya karena tuntutannya sangat berat di akhirat, kecuali aku tidak percaya ada kehidupan di akhirat. Kamu belum cukup dengan apa yang dimiliki karena biaya hidupmu sangat tinggi. Perkebunan keluarga perlu dikembangkan dan tidak cukup dengan pendidikan SMA. Aku menaruh harapan besar padamu."


"Jadi kakak tidak berminat untuk mengelola perkebunan?"


"Aku sangat berminat untuk meneruskan bisnis keluarga, tapi tidak ada waktu. Setelah lulus kuliah, aku akan memiliki aset kekayaan satu triliun lebih dari peninggalan Oma dan butuh penanganan secara profesional. Jadi mulai saat ini kerjamu jangan hanya menghambur-hamburkan uang, mulai dipikirkan perkebunan, sehingga nantinya bisa mengelola keuangan dengan baik dan lebih bermanfaat."


Arya terkejut mendengar penjelasan kakaknya. Oma ternyata memiliki harta peninggalan yang demikian banyak. Beliau berarti bukan hanya menggeluti usaha butik.


"Aku baru tahu kalau Oma punya bisnis kakap selain butik," kata Arya tak habis pikir. "Pantesan beliau sering transfer dengan nominal yang di luar nalar."


"Karena almarhumah ingin memanjakan cucunya, dan cucunya tidak berpikir, kerjanya cuma main perempuan," sindir Al. "Aku bukan melarangmu untuk hidup berfoya-foya, tapi tolong pikirkan juga bagaimana memperoleh uangnya. Jadi sudah saatnya kamu terjun membantu Ayah."

__ADS_1


"Aku tidak tahu apa-apa tentang perkebunan. Lagi pula, Ayah kelihatannya tidak percaya padaku untuk mengelolanya."


"Karena Ayah tahu hidupmu cuma untuk hura-hura. Kamu bisa belajar dengan sesekali pergi ke perkebunan. Saat kamu sudah siap untuk mengemban tanggung jawab, saat itulah waktunya kamu menikah. Belajar bertanggung jawab adalah fondasi penting dalam berumah tangga."


Arya mengakui hari-harinya banyak terbuang percuma. Padahal hidup tidak sekedar untuk bersenang-senang. Barangkali hal ini yang menjadi alasan Oma tidak menaruh kepercayaan padanya. Di kepalanya cuma ada hura-hura dan perempuan.


"Jadi transferan kakak itu untuk melanjutkan tradisi Oma?" tanya Arya.


"Aku tidak melanjutkan tradisi siapapun. Aku mencoba memahami kebutuhan adikku untuk mengurangi beban Ayah. Asal kamu tahu, uang yang dikirim ke rekeningmu adalah dua kali lipat biaya hidupku."


"Jadi kakak ipar beda lagi?"


"Kewajiban suami adalah memanjakan istri. Aku memberi kebebasan padanya untuk membeli barang-barang dan aktif dengan kegiatan yang disukai."


"Supaya tidak protes kalau diduakan?"


"Supaya istriku tidak tertekan dalam menjalani hidupnya. Dalam berumah tangga nanti, kamu jangan pernah berpikir untuk menduakan meski hidup sangat berkecukupan, nikmatnya sesaat, tanggung jawabnya sampai di akhirat."


"Jangan ngomong-ngomong akhirat deh. Aku jadi ngeri."


"Alhamdulillah adikku masih punya rasa ngeri terhadap akhirat. Jadi hidup tidak akan terlalu bebas."


"Hidupku sangat bebas, aku punya banyak uang, tapi bukan untuk hal yang melanggar norma."


"Artinya tidak hidup sebebas-bebasnya karena ada batasnya."


"Aku mau tanya, kakak mengirim uang banyak ke rekeningku karena sayang pada adikmu atau karena takut aku menuntut harta peninggalan Oma?"


"Aku tidak pernah sayang pada adikku kecuali berhenti main perempuan, dan aku tidak pernah takut dituntut karena harta itu adalah warisan dari Simbah buyut yang dihibahkan padaku dengan kekuatan hukum, jadi kau tidak berhak memilikinya, kecuali kau bisa menjalankan amanah Oma untuk menjadikan ladang pahala baginya, maka aku berikan seluruh hartanya padamu."

__ADS_1


"Wah, berat banget. Aku lebih baik hidup seperti sekarang, tidak disayang kakak satu-satunya tapi hidup berkecukupan."


"Jika aku sayang padamu, maka kamu tidak akan sanggup menerima rasa sayangku. Jadi belajarlah dari sekarang untuk bertanggung jawab, sebelum menerima rasa sayangku."


__ADS_2