Cinta Untuk Gadis Madinah

Cinta Untuk Gadis Madinah
Episode 121


__ADS_3

Rivaldo dan Al berpisah di restoran mewah itu. Dia menemani sampai acara makan siang. Acara selanjutnya tidak cukup menarik untuk diikutinya.


Wulandari mampir di galeri batik untuk mengontrol. Dia diberi kekuasaan oleh ibunya untuk mengelola butik dan home stay.


Sebagai puteri sulung, Wulandari diminta untuk mulai belajar mengurus usaha yang dimiliki keluarga. Usianya sudah cukup untuk mengetahui betapa keras persaingan hidup di alam nyata.


Kampus adalah alam mimpi dengan segala idealisme yang ada, sehingga tidak kaget apabila sudah lulus dan menghadapi dunia nyata.


Al menunggu di dalam mobil. Dia malas untuk masuk ke dalam galeri. Setiap sudut galeri sudah dihapalnya karena hampir setiap hari Wulandari mengajaknya mampir, selama tiga tahun lebih!


Al menjelajah dunia maya untuk mencari referensi buat presentasi judul skripsi. Dia ingin mengumpulkan referensi sebanyak-banyaknya dari sekarang, sehingga di Madinah tinggal menggarapnya.


Al ingin mempersiapkan materi sebaik-baiknya untuk kelancaran proses presentasi. Banyak tahapan harus ditempuh sebelum sah memakai topi sarjana.


Sebuah perjuangan berat yang tiada arti jika topi itu kemudian mengukuhkan dirinya sebagai pengangguran.


Al bersyukur, setelah lulus, beberapa jabatan prestisius sudah menunggunya. Dia bahkan berencana untuk membaginya dengan Aisyah. Jadi gadis itu tidak hanya memegang koperasi saja.


Rencananya tidak berubah meski Aisyah memilih Ryan sebagai pasangan hidup. Tahta dan cinta tidak ada korelasinya, walau kadang saling menjatuhkan.


Aisyah keluar dari pintu galeri sambil mengendalikan kursi roda dengan tuas, dan berhenti di dekat pintu belakang.


Al segera keluar dari dalam mobil, dan bertanya," Yang lain mana?"


"Wulan sama Lin Wei sibuk ngantar Riany keliling galeri," jawab Aisyah. "Nah, aku ngapain di dalam? Tiap hari aku keluar masuk galeri Wulan."


"Lin Wei juga tiap hari keluar masuk galeri."


"Aku ribet ngikutin pakai kursi roda."


Kakinya yang lumpuh selalu jadi alasan untuk setiap keadaan, pikir Al pahit. Aisyah seolah mengeksploitasi kekurangan dirinya untuk mulai menepi dari kehidupan mereka.


Al mengangkat tubuh Aisyah untuk dipindahkan ke kursi mobil. Posisi mereka yang sangat dekat ini sering membuat Al terkecoh dengan perasaannya, dan banyak-banyak istighfar di dalam hatinya.

__ADS_1


Tubuh Aisyah yang lembut dan seksi acapkali menyeret pikirannya untuk berfantasi jauh ke awan, jika dia tidak segera menghentikannya.


Adalah laki-laki yang luar biasa kalau matanya tidak sempat tergelincir untuk menikmati pesona yang luar biasa itu. Dan Al bukan laki-laki yang luar biasa.


Al berusaha untuk tidak tergoda pikiran yang menyesatkan, dengan banyak-banyak minta perlindungan kepada Al Badii' yang telah menciptakan keindahan dengan segala kesempurnaan.


Perempuan adalah mahakarya paling agung dari seluruh ciptaan yang ada di muka bumi, mereka memiliki keunikan dan anomali yang sulit dimengerti oleh laki-laki, begitu kata Rivaldo.


Mahasiswa satu prodi itu adalah sahabat yang berbeda keyakinan yang sering mencatut ayat dari kedua kitab suci untuk mendukung teorinya.


Aisyah tidak memanfaatkan kesempatan itu untuk berperilaku yang aneh-aneh. Dia benar-benar menjaga kesucian hijabnya!


Atau Al bukan lagi lelaki yang menarik hatinya? Dia tidak bedanya perawat yang sedang menjalankan tugas.


Barangkali anggapan itu lebih baik bagi Al untuk menjaga rasa dari pengaruh persentuhan itu.


Bilamana hatinya tergelincir ke dalam jurang fantasi, maka celakalah dirinya. Ancamannya jelas tertuang dalam berbagai risalah, dan dia sangat percaya dengan keterangan itu.


Dalam persoalan agama, untuk membuktikan kebenaran akan suatu perkara, tidak perlu menyaksikan secara langsung atau mengalami, cukup dengan keyakinan. Jadi dia tidak perlu pergi ke akhirat untuk membuktikannya.


Persoalannya terletak pada tidak siapnya dia menjalankan aturan agama, sehingga menghambat kesuksesan hidupnya.


Jadi bukan karena belum mendapat hidayah kalau dia kedapatan melanggar aturan agama, terkesan dia jadi menyalahkan Sang Pemberi Hidayah.


Kemampuan untuk menentukan jalan kehidupan yang ditempuh adalah kunci dari segala pertanggungjawaban. Agama hanya memberi pilihan, jalan kanan begini dan jalan kiri begitu.


Tidak ada paksaan memilih jalan kanan atau kiri, dan dia harus menanggung risiko dari pilihannya. Selesai.


Setelah Aisyah duduk manis di dalam mobil, Al melipat kursi roda dan menyimpannya di bagasi. Kemudian kembali duduk di belakang kemudi, dan membuka-buka situs mencari referensi.


"Kamu cari apaan sih?" tanya Aisyah lembut. Al sampai tertegun. Sejak tragedi itu, dia belum pernah mendapat perlakuan sehangat ini.


"Cari referensi buat bikin materi presentasi," jawab Al santai. "Kamu mau aku carikan? Atau perlu aku buatkan materinya?"

__ADS_1


"Nggak usah," tolak Aisyah. Al pasti sibuk mengurus materi Wulandari dan Lin Wei kalau dia menerima tawarannya. Jadi bukan cuma bikin satu, tapi bikin tiga. Mereka bukan iri, mereka ingin Al berbuat adil. Begitulah yang terjadi selama ini. "Aku bikin sendiri saja, supaya lebih menguasai materi saat presentasi."


Aisyah mulai berani menolak jasa baiknya, pikir Al hambar. Padahal dia sering minta bantuan, bahkan memaksa, untuk dibikinkan kalau ada tugas makalah.


Al kadang curiga apa yang dilakukannya cuma modus agar mereka selalu bersama. Aisyah mampu untuk bikin sendiri, karena otaknya sangat cerdas.


Barangkali Aisyah ingin mengurangi kebersamaan mereka. Dia mulai membagi waktu untuk Ryan. Keberadaan pemuda itu sangat membantu karena mereka satu fakultas. Dia lebih paham materi yang diperlukan.


"Aku tidak mau merepotkan," dalih Aisyah. "Kamu berarti harus bikin empat dengan punyamu sendiri, belum ngurus istri."


Alasan yang belum pernah didengarnya selama empat tahun ini. Aisyah malah senang kalau Al sangat sibuk, kelihatan mahasiswanya, begitu katanya.


Sesuatu yang belum pernah terjadi lalu mendadak jadi alasan! Sungguh aneh kalau bukan karena Al tidak memiliki tempat lagi di hatinya.


"Istriku bisa ngurus diri sendiri," kata Al. "Aku tidak pernah menyuapi dia, memandikan dia, melepas pakaian dia saja aku belum pernah."


Al bercanda, tujuannya untuk menghalau kegersangan yang menerpa hatinya. Dia merasa Aisyah akan singgah di dermaga baru dan membiarkannya melanjutkan pelayaran.


Aisyah tidak terpancing dengan candanya, dia berkata dengan serius, "Istri ingin dimanja, dan memanjakan istri sangat menyita waktu. Kamu rela menunggu lama di dalam mobil dalam rangka memanjakan istri, padahal acara masih banyak hari ini."


Aisyah tampak kaku bercakap dengan dirinya. Kata-katanya terkesan formil. Hal yang sangat dihindari sebelumnya.


Aisyah bahkan ngambek kalau lagi berdua bicara serius tentang mata kuliah, padahal lagi membuat makalah!


"Sikapmu beda banget," komentar Aisyah. "Lebih pendiam. Apa semua cowok begitu kalau sudah punya istri?"


Al tersenyum sedikit. Hatinya jadi sinis. Apakah Aisyah tidak merasa kalau sikapnya juga berubah? Bahkan karena perubahan itu, dia mengambil sikap berbeda!


"Sikapmu juga berubah," ujar Al tenang. "Aku kehilangan Aisyah yang dulu."


"Kamu pasti kehilangan Aisyah yang dulu, karena keadaanku tidak seperti dulu."


"Aku tidak percaya gadis yang kukenal bertahun-tahun berubah cuma karena kakinya lumpuh. Ada hal lain yang membuatmu mulai menjaga sikap denganku."

__ADS_1


"Hal lain apa? Ryan maksudmu?"


__ADS_2