Cinta Untuk Gadis Madinah

Cinta Untuk Gadis Madinah
Episode 127


__ADS_3

Al terkejut. "Jadi kamu keponakannya Aisyah? Kok aku tidak pernah lihat ya?"


"Aku sibuk banget," jawab Belinda. "Kami paling kontak lewat handphone. Lebaran saja kumpul di Solo."


Al tidak tahu apa yang ada di dalam hatinya. Dia mendadak saja tidak gembira begitu mengetahui Belinda ternyata masih punya hubungan kekeluargaan dengan Aisyah.


"Bagaimana, boleh aku bawa tanteku?" tanya Belinda.


"Dia tidak mau," jawab Al datar. "Aku sudah mengajaknya."


Aku malah sudah melamarnya, sambung Al dalam hati, tapi ditolak mentah-mentah. Biarlah dia pergi bersama Ryan.


"Jadi kakak kenal sama tanteku?" pandang Belinda surprise.


"Sejak empat tahun yang lalu."


Jadi pemuda yang sering diceritakan tantenya adalah suami orang, keluh Belinda dalam hati. Tapi cinta tidak memandang status. Bebas hinggap di setiap teratak tanpa peduli milik orang.


"Ada apa?" tanya Al curiga. "Dia sering ngomong jelek soal aku?"


"Dia tidak pernah ngomong jelek biar orang yang diomongin jelek."


"Jadi aku jelek?"


"Maksudnya bukan kakak."


"Jadi ada cowok lain?"


Seingat Belinda cuma dua cowok yang sering diomongin Aisyah, dan dia cukup kaget mendapati kenyataan, tantenya ternyata jatuh cinta sama suami orang, padahal ada Ryan yang masih jomblo.


Belinda kenal baik kalau Ryan. Ia adalah produser sinetron religius yang pernah dibintanginya.


Cinta sungguh sulit dimengerti. Dia saja memilih Arya yang jelas-jelasan play boy, padahal pasangan main sinetronnya jauh lebih baik dan mendapat dukungan dari fans.


Barangkali Aisyah cemburu sama istrinya. Dia cuma melihat pemandangan menyesakkan di Madinah. Dia pergi ke Kota Suci untuk berziarah, bukan untuk sakit hati. Maka itu dia menolak.


"Jadi aku pergi sendiri," kata Belinda. "Gak apa-apa, kan?"


"Kok tanya aku? Tanya orang tuamu boleh tidak?"


"Pasti boleh."


Orang tua Belinda berarti sudah percaya penuh pada Arya, pikir Al, dan kepercayaan datangnya tidak secara tiba-tiba. Jangan-jangan orang tuanya yang pertama didekati, kemudian baru anaknya. Cerdik juga.


Play boy memang banyak akalnya.


"Coba dulu hubungi tantemu," saran Arya. "Siapa tahu dia mau kalau kamu yang ngajak."


Arya tidak tahu kalau usulnya membuat enek kakak iparnya. Riany sudah merasa plong Aisyah menolak pergi. Al jadi sepenuhnya mengurus istrinya. Tidak membagi waktu.


Riany pasti kekurangan waktu untuk bersama kalau Aisyah berangkat. Al pasti sibuk mengurusnya. Dia bahkan bisa lupa kalau istrinya ada di Madinah.


"Apa perlu aku minta bantuan Mami untuk merayu tantemu?" tanya Arya.


Belinda tersenyum senang. "Betul juga. Dia pasti nurut kalau sama Mami."

__ADS_1


"Sebentar," kata Al. "Kamu kayaknya akrab banget sama mami Belinda? Sering ngasih upeti ya? Biar anaknya mau sama kamu?"


"Oh, kakak belum tahu ya?" kicau Arya. "Mami Melinda adalah relasi bisnis Oma Jennifer."


Pantesan, gerutu Al dalam hati. Kamu kelihatan sok kuasa banget.


"Aku dapat dukungan penuh dari Oma Jennifer untuk jadian sama Belinda," kata Arya bangga, "dan maminya setuju banget."


Akal bulus, batin Al kecut. Arya sengaja memanfaatkan mereka untuk menarik perhatian bintang sinetron itu. Mana mau dia punya pacar play boy? Cowok baik-baik saja banyak!


"Kakak kayak nggak percaya?"


Al balik bertanya, "Maksudnya nggak percaya kamu pintar memanfaatkan kesempatan, atau sudah menjebak Belinda untuk jatuh cinta?"


"Aku itu nggak ada bagusnya di depan kakak."


"Oh, jadi kamu tidak ikut pergi ke Kota Suci?"


"Pacarku ikut, masa aku nggak?"


"Berarti ada bagusnya, kamu mau pergi traveling sambil beribadah."


"Terima kasih atas pujiannya."


"Aku tidak memuji kamu, kecuali dapat menjaga hubunganmu sama Belinda secara bersih."


"Kakak tanya sama Belinda, pernah nggak aku nge-kiss dia, atau pegang-pegang apanya. Aku takut dikutuk sama Ibu."


"Subhanallah," kata Riany tidak tahan untuk memuji. "Pacar-pacarmu sebelumnya bagaimana?"


"Kesalahan apa?"


"Aku jadi kayak diinterogasi. Aku pernah berani sama cewek, pulangnya motorku ditabrak orang, kayaknya kualat sama Ibu."


Setiap orang harus punya rasa takut, pikir Riany. Rasa takut membuat mereka bertindak hati-hati. Orang akan kehilangan kendali jika tidak ada rasa takut.


"Berani apa sama cewek?" selidik Riany ingin tahu.


"Aku malu ngomongnya."


"Jangan cerita kalau sekiranya aib."


"Cukup sekali."


Belinda jadi penasaran. "Cewek mana? Sabrina ya? Jadi benar dia aborsi?"


"Astaghfirullah! Jadi kamu nuduh aku yang menghamilinya?"


"Kamu kan dekat sama dia."


"Dekat bukan berarti kamu boleh nuduh seenaknya. Dia jadi artis pakai jalur pintas, nah, jalur pintas itu yang membuatnya hamil, begitu kabar yang beredar."


"Kok jadi ngomongin aib orang ya?" sindir Al. "Makanya kalau ngomong jangan bikin orang penasaran. Wajar Belinda nuduh macam-macam."


"Aku nggak ada apa-apa sama si Sabrina, cuma teman kursus."

__ADS_1


"Lalu berani apa?"


"Perlu cerita ya, Kak?"


"Kamu tahu risikonya kalau berani membantah kakakmu. Geng motormu yang berjumlah dua puluh orang itu bisa jadi perkedel, dan kamu saosnya."


Arya tersenyum kecut. "Sadis."


"Ya terus kamu berani apa sama si Sabrina?" tanya Belinda tidak sabar, cemburu juga.


"Kok si Sabrina sih?"


"Terus siapa?"


"Kamu pasti nggak kenal."


"Iya siapa?"


"Irmayanti."


Riany terkejut. "Irma teman aku?"


"Iya."


Al biasa saja mendengar skandal itu. Arya sering pacaran sama perempuan yang lebih tua. Cuma tidak sampai level tante-tante, jadi sugar baby.


Maka itu Al sering bersikap keras karena orang tuanya terlalu lunak, yang justru bisa menjerumuskan adiknya ke dalam pergaulan bebas.


Al menjamin Arya untuk tidak takut pada preman, atau teman-temannya yang memaksa untuk berbuat maksiat.


Sehari sebelum pernikahan, Al sempat mendatangi sekelompok preman yang meminta upeti setiap bulan pada Arya dan geng motornya. Dia menghajar mereka sampai kapok, sekalian memberi pressure kepada Arya dan kawan-kawannya, kalau berani macam-macam dengannya, maka seperti itu nasibnya.


Dia tidak mengekspos karena panjang urusannya kalau ketahuan ibunya. Dia pasti kena damprat, karena seharusnya lapor polisi.


"Kamu sudah berbuat apa sama Irma?" tanya Riany separuh mendesak.


"Cuma nge-kiss sama pegang-pegang pepayanya."


"Berbuat maksiat dibilang cuma?" tegur Al tidak senang. "Berbuat maksiat sebesar biji sawi juga harus bertobat."


"Aku sudah shalat tobat bareng."


"Terus kumat lagi?"


"Langsung putus!"


Riany tersenyum geli. Irma tidak pernah cerita soal kisah cintanya dengan Arya. Pantas dia sangat senang kalau ada ketemuan sama Arya untuk minta informasi sama kakaknya.


"Aku pikir kamu tidak perlu minta bantuan mami Belinda untuk merayu Aisyah," kata Al. "Kamu sudah dipercaya untuk membawa anaknya."


Ucapan itu sungguh menyejukkan hati Riany. Mereka adalah pengantin baru, dan sejujurnya dia tidak mau diganggu dengan kehadiran perempuan lain dalam masa bulan madu.


Padahal Al ingin jaga image. Dia tidak mau Aisyah menganggapnya telah memanfaatkan saudaranya untuk memisahkannya dengan Ryan.


Sakit rasanya dicurigai perempuan yang belum pernah berbuat kesalahan padanya.

__ADS_1


__ADS_2