
Al terbangun tatkala berkumandang adzan awal yang dilantunkan Syaikh Khasogji dari Mukabariyah, tempat adzan yang berada di ketinggian 3 meter dari lantai.
Al bangkit mendirikan shalat tahajud, berzikir sampai datangnya adzan Subuh. Mendirikan shalat Fajar. Kemudian berdoa untuk kebaikan Oma. Saking khusyu'nya sampai tidak tahu kedatangan Syaikh Al-Hudhaify yang dikawal para askar. Imam Besar Masjid Nabawi itu mengambil tempat menghadap mihrab Nabi.
Barangkali karena warna gamis dan kopiah Al sama dengan warna tiang As-Sarir, sehingga tidak kelihatan oleh askar untuk dihalau pergi dari shaf yang diperuntukan para syaikh pengurus Masjid Nabawi dan pembesar, atau sengaja dibiarkan karena semalam penuh tidak bergeser sedikit pun dari tiang tersebut.
Rasa syukur memenuhi relung hati Al mendapat berkah shalat bersama para syaikh dan pembesar Madinah.
Manakala para syaikh dan pembesar Madinah meninggalkan Raudhah, Al tidak bergerak dari tempatnya, duduk bersandar ke tiang, itikaf sampai Dhuha tiba dan mendirikan shalat sunah dua raka'at. Berdoa bagi kebaikan Oma dengan berurai air mata.
Kemudian Al pamit pada Penghulu Para Ambiya yang keindahan risalahnya semakin melekat di hati. Antara tempatnya berdiri dengan tempat peristirahatan Nabi terhalang rak Al-Qur'an dan dinding yang tinggi, namun dia yakin tidak ada tabir di antara mereka.
Matahari sudah naik sepenggalahan ketika Al keluar masjid. Dia berjalan di antara lalu lalang jamaah yang datang dan pergi.
Seorang jamaah dari Srilanka menyodorkan kue 7Days dan berkata, "Halal. Halal."
"Jazaakallah khairan," sahut Al sambil menerima kue itu.
Dia tidak pernah menolak pemberian orang karena menurutnya rejeki hari itu. Betapa indahnya kebersamaan di kota penuh berkah. Semua orang berlomba-lomba untuk berbagi.
Al sering memborong makanan tradisional Indonesia untuk dibagikan pada rombongan. Ia pernah meminta tukang nasi uduk dari tanah air untuk membawa dagangan ke hotel, dalam sekejap habis oleh mereka yang rindu kampung halaman, padahal baru beberapa hari pergi.
Al menyantap 7Days bersama orang itu dan pamit tatkala dianggap cukup untuk bersilaturahmi. Dia berbaur dengan keramaian pengunjung yang tak henti keluar masuk areal masjid.
Al meninggalkan pelataran masjid lewat gerbang 3, melintasi King Fahd Road, kemudian masuk lobi hotel dan naik ke lantai 9.
Dia melihat Nidar bolak-balik di depan pintu lift. Sahabatnya itu lagi berusaha menghubungi seseorang tapi selalu gagal. Wajahnya terlihat kesal.
"Angkat dong," kata Nidar tidak sabar. "Please."
"Ngebel siapa?" tanya Al sambil lalu. "Kelihatannya penting banget."
"Riany."
Al berkata dengan dingin, "Jangan suruh pulang perempuan yang pergi bersama masa lalunya. Lagi pula buat apa?"
Saat ini Al tidak butuh siapa-siapa. Hanya ingin sendiri. Dia pergi ke kamar Oma dan mengetuk pintu. Pintu terbuka sedikit. Muncul kepala Aisyah.
"Ada apa?" tanyanya.
"Aku ingin istirahat di kamar Oma," jawab Al. Dia sodorkan kartu kamarnya. "Tidak keberatan, kan?"
Aisyah memperhatikan sekilas. Dia prihatin melihat wajahnya demikian lusuh, lalu berkata, "Aku bereskan tas dulu."
Aisyah menutup pintu lagi. Al diam menunggu sambil bersandar ke dinding. Kemudian gadis itu keluar menyeret travel bag. Mereka tukaran kartu.
"Yang sabar ya," hibur Aisyah lembut. "Kepergian Oma adalah takdir."
"Aku sedang bertanya pada diri sendiri," kata Al datar. "Mengapa begitu banyak waktu disia-siakan sehingga aku merasa kurang dengan Oma?"
"Jadikanlah penyesalanmu sebagai titian menuju tangga keimanan yang hakiki."
__ADS_1
"Seandainya kamu halal, betapa ingin aku berkunjung ke hatimu yang begitu mulia."
"Halalkan Riany," ujar Aisyah lembut, "baru berpikir tentang aku."
"Aku tidak tahu, apakah ada tempat di hatinya untukku? Aku merasa semakin sedikit kavling dia di hatiku."
"Aku tidak berharap taman untukku semakin luas di hatimu, sementara untuk Riany semakin sempit."
"Kamu berharap sesuatu yang aku sulit mempertimbangkan di situasi apapun."
"Biarkan takdir bicara, dan aku senang menunggu."
Betapa ingin Aisyah mendampingi pemuda yang berdiri luluh di hadapannya itu. Bercerita tentang kepergian Oma yang indah. Tapi mereka tidak mungkin tinggal satu kamar.
Aisyah pergi ke kamar sebelah. Al membuka pintu dan masuk. Langkahnya terayun ke wastafel untuk membersihkan muka, demikian kusut terlihat di cermin, kemudian duduk bersandar di tempat tidur. Matanya memandang kosong ke travel bag kepunyaan Oma. Aisyah rupanya sudah merapikan barang-barangnya. Perlahan mata itu menguncup dan terpejam.
Entah berapa lama Al tertidur. Lambat-lambat matanya membuka karena samar-samar terdengar panggilan Oma mengajak ke masjid. Dia mengedarkan pandang ke sekeliling. Tidak ada siapa-siapa.
Halusinasi.
Al melihat jam handphone. Sudah waktunya pergi ke masjid. Sebenarnya waktu Dhuhur masih lama, tapi dia ingin datang jauh lebih awal agar bisa memilih tempat.
Al bangkit cuci muka, dan pergi tanpa ganti pakaian karena travel bag masih di kamarnya.
Sepanjang King Fahd Road wajah Oma mengejar-ngejar matanya.
Sedikit sekali waktu yang dihabiskan bersama Oma. Al lebih memilih berlibur di Yogya bersama orang lain. Seandainya setiap enam bulan sekali pulang menengok Oma, barangkali tidak sebesar ini rasa kehilangannya.
Berjam-jam Al melewatkan waktu di At-Taubah sampai Isya berlalu. Kalau saja tidak ada tahlilan, dia enggan pulang ke hotel.
Tahlilan ini sengaja dilaksanakan menjelang makan malam sehingga tidak ada harta shahibul musibah yang termakan.
Al sebenarnya ingin menanggung biaya hidup rombongan selama sisa waktu di Madinah, namun dia kuatir banyak yang tersinggung karena mereka sangat berkecukupan, sehingga mengurangi pahalanya. Ada saatnya nanti di tanah air untuk bersedekah atas nama Oma.
"Baiknya shadaqah jariyah agar pahalanya mengalir sepanjang waktu," kata Nidar suatu kali. "Jangan cuma memberi makan aku dan mukimin, setelah keluar lewat belakang, lewat pula pahalanya."
Al memiliki pandangan berbeda dengan Nidar, namun dia menghindari perdebatan yang justru dibenci Allah. Menurutnya, memberi makan kepada Nidar dan mukimin pahalanya tetap mengalir selama mereka dan keturunannya masih hidup, karena makanan itu akan menjadi sumber energi dan mengalir dalam darah.
Selesai tahlilan, Al tidak pergi ke prasmanan, tapi berjalan ke arah lift.
"Mau ke mana?" tanya Aisyah, prihatin melihat keadaannya.
"Raudhah."
"Makan dulu."
"Tidak lapar."
"Nanti sakit."
"Sudahlah, aku bukan anak kecil. Aku tahu kondisiku."
__ADS_1
"Gantilah dulu bajumu."
Al melihat pakaiannya sekilas, lusuh sekali, kemudian memandang Aisyah dan bertanya, "Mana kartunya?"
Aisyah menyerahkan kartu kunci kamar. Al belum sempat membereskan barang-barangnya, semua masih tersimpan di kamar gadis itu.
Tiba-tiba Al ingat sesuatu. "Besok agendanya ke Bir Ali, kan?"
"Dibatalkan."
''Kok?"
"Kamu lagi dapat musibah, masa rombongan jalan-jalan?"
"Bilang ke rombongan kita berangkat habis Subuh, biar pulangnya senggang untuk arbain."
"Kamu ikut?"
"Tentu saja. Siapa yang pegang komando kalau aku tidak ikut? Aku tidak bisa lepas tanggung jawab."
Al tidak mau gara-gara kepergian Oma, agenda mereka terhambat. Kalau dia bermalam di Nabawi, bukan berarti mengabaikan rombongan, dia merasa lebih damai.
Maka itu selepas Subuh Al pulang untuk mengurus rombongan, biasanya baru pulang setelah Dhuha. Bis sudah menunggu di pelataran hotel.
Al tidak perlu susah payah mengatur. Pagi ini rombongannya paling sigap. Mereka sudah siap berangkat, sementara rombongan lain masih bermunculan satu-satu.
Al meminta rombongan masuk ke dalam bis. Dia absen satu-satu. Lengkap. Kemudian dia mendatangi Aisyah yang berdiri di depan lobi mengobrol bersama rombongan lain.
"Cepetan naik," perintah Al. "Rombongan sudah siap berangkat."
"Aku bukan anggota rombongan."
Selagi Oma masih ada, Aisyah ada alasan menemani beliau, mengurus keperluannya. Nah, sekarang mengurus siapa? Mengurus Al? Satu saja belum halal!
"Sopir juga bukan anggota rombongan ikut," kata Al.
"Aku senang kamu sudah bisa bercanda."
"Aku tidak bercanda. Sopir bukan anggota rombongan, tapi ikut."
"Nah, aku bukan anggota rombongan bukan sopir, jadi apa alasanku?"
"Ada tulisannya yang boleh ikut cuma anggota rombongan?"
"Riany protes tidak nanti?"
"Jangan sebut orang yang tidak ada."
Nek Surti dan kawan-kawan sebenarnya sudah minta Aisyah untuk ikut. Tapi dia ingin mendengar tawaran dari Al. Dia tidak mau disebut hijaber kegatalan.
Saat ini Al tidak peduli Riany pulang atau tidak. Aisyah adalah perempuan yang menemani Oma pada detik-detik terakhir hidupnya. Dia akan melaksanakan apapun seandainya Oma berwasiat kepada Aisyah!
__ADS_1