
Riany mengendarai mobil cukup kencang di jalan raya yang tidak begitu ramai. Mereka mengambil jalan reguler karena lewat tol harus putar arah. Agak jauh sedikit tapi bisa rileks berkendara.
Al duduk dengan santai di sampingnya. Hatinya terasa plong meninggalkan rumah sakit. Aisyah sudah tidak marah padanya meski tiada kata terucap. Gorden kamar perawatan jadi saksi tidak perlu waktu lama untuk memaafkan. Hanya memaafkan untuk soal apa?
Aisyah sebenarnya tidak pernah bisa marah kepadanya, seperti Al yang tidak pernah bisa benci kepadanya.
Al segera menutup lamunan tentang gadis itu, lambat sedikit pasti Riany tahu apa yang ada dalam pikirannya. Maka dia mulai membuka percakapan, "Kamu sudah buang-buang waktu pergi ke Yogya. Ada saatnya kalau mau jalan-jalan."
"Pergi sama suami kok buang-buang waktu?" protes Riany. "Lagian suamiku baru sembuh, hari ini ulang tahun juga, masa aku tinggalkan sendiri?"
"Aku tidak merasa ditinggalkan."
"Karena banyak serepnya atau bagaimana?"
"Aku salah terus kalau ngomong."
"Aku ada sisa waktu tiga hari. Aku pikir berguna sekali kalau dihabiskan bersamamu di Yogya."
"Ceritanya pengen bulan madu?"
"Miliarder masa bulan madunya ke Yogya? Aku pengen keliling dunia kayak Opa sama Jennifer!"
"Aku kuatir kamu lupa pergi ke Madinah kalau sudah tahu kehidupan di Yogya."
"Hanya kamu yang bisa membuat aku lupa."
"Maka itu selalu aku ingatkan."
Al heran saat Riany belok mengambil jalan ke arah yang berbeda dengan lokasi kampusnya. Ia bertanya, "Kok gak ambil lurus? Kau mau jalan-jalan ke keraton? Nanti saja. Kita cari hotel dulu."
"Aku ingin menginap di daerah keraton," jawab Riany kalem. "Lingkungannya nyaman."
"Aku kejauhan ke kampus."
"Kan bawa mobil. Aku jadi sopirnya nanti."
Al menoleh dengan kaget. "Jadi kau mau ikut ke kampus?"
"Gak boleh?" tanya Riany tersenyum. "Terus siapa yang ngantar kamu? Aku belum ngizinin suamiku bawa mobil sendiri."
"Aku bisa naik andong."
"Sampai di kampusnya kapan? Keburu dosen pulang."
Kacau, keluh Al dalam hati. Begini kalau punya istri posesif. Dia ingin tahu setiap sudut kehidupannya.
Kejadian deh bakal dibully teman-temannya! Riany tidak tahu kalau omongan mereka tidak mengindahkan himbauan Kemeninfo!
__ADS_1
"Jangan kuatir," kata Riany seolah ingin menenangkan suaminya. "Aku nggak ngaku sebagai istri."
"Terus ngaku sebagai apa?"
"Adik."
"Makin ribet! Kamu nggak sadar apa kalau wajahmu cantiknya segambreng? Teman-temanku pasti antri pengen kenalan!"
"Cemburu ya?"
Al tidak mengerti dengan sikap Riany. Rumah tangga seakan dianggap main-main. Apakah boleh seorang istri mendekati pria lain untuk membuat suaminya cemburu?
"Terus aku ngakunya apaan?" desak Riany penasaran. "Ngaku istri jangan, ngaku adik gak boleh, ngaku sopir pribadi kecakepan."
"Terserah deh, asal jangan ngaku selingkuhan. Kampus pasti heboh karena pacaran saja aku belum pernah."
"Ngaku...madu boleh?"
Al diam. Matanya memperhatikan lesehan yang mulai ramai di pinggir jalan. Udara sore Yogyakarta sungguh indah dengan langit berwarna jingga.
Madu adalah kata yang sudah tertanam subur di hati Riany. Dia tidak tahu suami bisa nekat karena bosan dicurigai. Al berharap tidak termasuk suami jenis itu.
Riany menoleh sekilas. "Kok diam?"
Al mengangkat bahu sedikit. "Aku harus jawab apa? Aku sudah memberikan mobil paling mahal yang kumiliki, kata-kata itu tetap keluar."
"Maksudnya apa ngaku madu?"
"Kok jadi ribet ya? Ya sudah ngaku istri aja."
"Lagi ngapain pengen ngaku yang aneh-aneh?"
"Takut aku digodain cowok ya kalau ngaku yang lain? Apalagi bawa mobil tiga puluh dua milyar!"
"Dengar ya, status istri bukan mainan. Hati-hati."
"Sorry, beb. Aku cuma ingin tahu. Kamu ternyata keberatan kalau aku ikut ke kampus. Semoga saja bukan karena takut pasaran anjlok."
Curiga lagi. Riany adalah seorang istri yang hanya memiliki dua perasaan, curiga dan cemburu. Apakah Al akan sanggup mengayuh biduk menuju pantai harapan dengan berbekal itu?
"Aku tidak pernah ngomong keberatan kamu ikut ke kampus," kata Al. "Aku cuma tidak mau kamu repot. Aku pergi ke kampus bukan jalan-jalan, jadi kau nanti banyak sendiri karena aku banyak perlu. Tidak apa kalau mau nunggu di pintu berjam-jam."
"Aku pasti tidak sendiri di kampus," senyum istrinya menggoda. "Pasti banyak cowok yang nemenin. Nah, aku perlu status supaya mereka ngerem."
Riany memasuki kawasan home stay di daerah keraton. Kemudian laju mobil melambat dan memasang lampu sen.
Al kaget. "Jangan kawasan ini, cari kawasan lain."
__ADS_1
"Kenapa?" tanya Riany heran sambil belok memasuki halaman rumah dengan model antik dan unik. "Fasilitasnya bagus, harga ekonomis. Aku pernah nginap satu minggu waktu studi banding."
"Kayaknya gak nyaman deh."
"Gak nyaman apanya? Rumah megah begitu. Percaya deh, kamu nggak bakal kecewa."
Home stay di daerah ini terbilang berkelas. Modelnya menarik dan artistik dengan bangunan terbuat dari kayu jati. Lingkungannya asri. Halaman parkir cukup. Jadi aneh kalau dibilang tidak nyaman.
"Kita cari hotel yang paling mewah saja," ujar Al. "Aku harus membiasakan diri hidup sebagai miliarder. Takut disangka pencitraan kalau hidup sederhana."
"Hotel mewah hanya menaikkan gengsi," sambar Riany. "Hanya membuat harga makin mahal, kualitas belum tentu."
"Duit tidak pernah berbohong."
Al sedikit gelisah ketika mereka turun dari dalam mobil. Dia tahu siapa pemilik rumah ini. Mudah-mudahan orangnya tidak ada. Tapi hari libur biasanya bantu-bantu di home stay.
Benar saja! Wulandari langsung keluar dari dalam rumah dengan sebaris senyum mautnya. Dia bengong melihat Ferrari keluaran terbaru itu. "Sudah beli mobil lagi? Orang tuamu tajir banget ya."
Al balas tersenyum. "Tajir sih nggak, cuma rejekinya banyak."
Riany yang terpukau melihat keberadaan Wulandari, bertanya, "Kamu nginap di sini?"
"Home stay ini milik ayahku."
Riany terpana. Dia menatap Al yang berdiri dengan sok cool di sampingnya, dan berbisik, "Jadi yang membuatmu gak nyaman home stay-nya atau gadis di depanku?"
Al sulit untuk membela diri. Dia tahu situasi memojokkan dirinya. Dia heran ada saja jalan untuk memperkuat curiga dan cemburu Riany.
"Jangan bisik-bisik dong," kata Wulandari. "Aku juga pengen denger kamu ngomong apa."
Al merasa asa peluang untuk lepas dari penderitaan. "Tahu nih, aku jadi tidak enak sama pohon cherry."
"Bisik-bisik apaan sih, Ri?" tanya Wulandari penasaran.
Riany kelihatan bingung. Dia tidak siap untuk mencari jawaban yang sekiranya pantas. Al terpaksa membantu, "Dia bilang kamu sangat ayu dengan pakaian adat, wajahmu mirip Roro Jonggrang yang termasyhur kecantikannya. Dia senang melihatnya."
Riany mencubit tangan suaminya dan menggerutu pelan, "Gak usah lebay juga kali mujinya."
"Bisik-bisik lagi kan," sindir Wulandari. "Lama-lama aku jadi baper deh."
Riany tersenyum manis. "Aku nyuruh suamiku tanya home stay ini sudah ada yang booking belum?"
Wulandari terbelalak. "Apa? Kamu mau nyewa home stay aku? Bercanda kamu!"
"Kok bercanda? Aku mau tinggal di Yogya beberapa hari. Aku suka dengan daerah ini."
"Ngapain kamu nyewa home stay aku? Di sebelah rumah ini, rumah yang paling bagus itu, adalah rumah Al! Baru dibeli sama opanya bulan kemarin!"
__ADS_1