
Hadiah ulang tahun yang sangat istimewa. Sulit menolak hadiah yang demikian indah dan halal.
Matahari selalu terbenam karena malam, dan manusia senantiasa tenggelam karena cinta yang kudus.
Mereka mengayuh perahu dalam ganasnya samudera, terombang-ombang deru ombak, tenggelam dalam kenikmatan, untuk kemudian terseret ke pantai.
Al terdampar di samping istrinya dengan tubuh berkeringat. Dia menyesalkan biduk hilang kendali dan akhirnya menabrak karang. "Kenapa kau tidak mengingatkan aku?"
"Kau saja tidak ingat, apalagi aku," kata Riany di antara sisa nafasnya. "Aku hanya mengikuti ke mana haluan bergerak."
Pengalaman pertama yang sangat melenakan sehingga mereka lupa untuk azlu.
Al memandang istrinya yang berbaring kepayahan, dan bertanya dengan pertanyaan yang sebenarnya terdengar bodoh, "Kamu capek?"
"Banget." Riany tersenyum mesra. "Aku minta waktu sebentar kalau kamu ..."
"Sanggup nggak jalan-jalan di kamar?" potong Al. "Untuk mengeluarkan nutfah dari farjimu?"
"Aku ingin punya anak darimu."
Al memperhatikan istrinya dengan sinar mata cukup menusuk, "Jadi kau biarkan terjadi di dalam bukan karena lupa mengingatkan aku?"
"Aku betul-betul lupa," sahut Riany tidak enak. "Saat terlanjur kejadian, aku tidak mau menolaknya."
"Kau lupa nasehat Umi? Berat kuliah sambil mengandung."
"Aku bisa cuti kalau tidak sanggup."
"Artinya kau menunda sesuatu yang seharusnya tidak perlu dilakukan."
Riany tersenyum separuh bercanda. "Aku sangat percaya sama nakhoda, nakhodanya belum pengalaman, kapal jadi ke mana-mana deh."
Al mengakui pesona yang luar biasa sudah memporak-porandakan akal sehatnya bagaikan singa lapar yang lepas kendali.
Dia berusaha bertahan dengan sunah, namun syahwat lebih menguasai otaknya sehingga azlu jadi sepenggal nasehat yang terlupakan.
Al bangun dari tempat tidur setelah keringatnya kering. Dia pergi ke kamar mandi untuk mandi besar. Untung dia tidak lupa pada tugas yang harus dikerjakan, membuat pengajuan judul skripsi.
Al keluar dari kamar mandi dan disambut senyum berlumur madu oleh istrinya yang terkapar di balik selimut.
"Sekarang kau percaya tidak ada setitik cela pun yang terjadi sebelum aku hijrah," kata Riany. "Aku sangat nakal waktu SMA, tapi tidak pernah ada bagian yang tersentuh oleh laki-laki. Jadi jangan sangsikan cintaku."
"Aku tidak pernah menyangsikan cintamu," jawab Al sambil mengenakan kimono tidur. "Maka itu aku menikahimu. Aku juga tidak mau mempersoalkan masa lalu istriku, karena aku hidup bukan di masa lalu."
Al tahu Riany bukan sekedar ingin membuktikan bahwa dirinya adalah seorang perempuan yang tidak pernah mempersembahkan kenikmatan pada lelaki yang tidak berhak. Di balik kata-kata itu tersimpan pesan tersembunyi untuk ketiga perempuan yang akrab dengannya.
Apakah mereka perempuan yang tidak pernah tersentuh oleh laki-laki?
__ADS_1
Ketika seorang perempuan mampu menjaga kesucian selama masa pencarian identitas adalah luar biasa. Namun bukan lantas menghujat perempuan yang sempat tergelincir.
Tidak ada manusia yang luput dari dosa dan tidak ada manusia yang tidak pernah berbuat kebaikan.
Masa lalu adalah jalan yang telah dilewati. Terlalu banyak melihat ke belakang membuat kita lengah untuk memandang ke depan. Membaca-baca masa lalu membuat kita kehilangan banyak waktu untuk mempersiapkan bacaan masa depan.
Memberi kesempatan pada mereka untuk berbenah diri dengan berpikir positif, itu yang paling penting.
Jadi Al tidak mempermasalahkan jika mendapati Aisyah, Wulandari, dan Lin Wei tidak menghidangkan secangkir permata di malam pertama.
Astaghfirullah! Apa yang terjadi dengan otaknya? Mengapa dia begitu terpengaruh oleh kata-kata sahabatnya, Rivaldo, yang berbeda keyakinan?
"Jika ada keringanan dalam agamamu, maka manfaatkanlah sebaik-baiknya," begitu katanya. "Jika diperbolehkan empat, mengapa harus bertahan dengan satu istri? Laki-laki bodoh yang disuguhi secawan anggur malah memilih secangkir air putih!"
Sebuah pandangan yang mengundang perdebatan untuk mommy jaman now!
Mengapa laki-laki banyak mengejar sunah yang satu itu?
Karena sunah yang satu itu paling sesuai dengan keinginan laki-laki!
Al tidak termasuk laki-laki yang pro monogami karena bertentangan dengan sunah Nabi. Namun Al juga tidak berpaham poligami karena poligami untuk orang-orang pilihan.
Tidak mudah berbuat adil! Cukup harta bukan jaminan kalau istri tidak mendakwa di akhirat!
Astaghfirullah! Mengapa dia jadi berkepanjangan membicarakan perkara yang sulit dijalankannya?
Riany tersenyum melihatnya merenung di sisi pembaringan. Biasanya dia langsung menghakimi. Apakah dia terlarut dalam kebahagiaan, karena berhasil mempersembahkan segala kesucian pada lelaki yang berhak?
Padahal Al tidak pernah memandang kesucian secara berlebihan! Perilaku saat hidup bersamanya yang penting!
"Segeralah mandi," kata Al. "Jangan sampai tidur dalam keadaan junub. Kita tidak tahu apakah esok hari masih diberi kesempatan untuk bangun."
Riany tersenyum manis. "Aku ingat, beb."
"Lalu kenapa belum pergi mandi? Ketiduran bablas nanti. Aku gendong kalau capek."
"Kau suka dengan hadiah ulang tahun dariku?"
"Kau belikan kue tart saja aku merasa sangat surprise. Aku setiap tahun merayakan hari kelahiran dan tanpa keluar biaya. Aku tidak ada anggaran. Begitu pulang liburan, tiba-tiba saja aku bingung bagaimana cara menghabiskan uang yang ada."
Al belum sepenuhnya percaya kalau dia jadi anak muda terkaya di kota satelit. Pulang ke tanah kelahiran saat liburan adalah jalan untuk menjemput kehidupan baru.
Oma ternyata tidak hanya mewarisi kekayaan senilai tiga ratus miliar. Dia menghibahkan harta warisan dari orang tuanya yang jumlahnya sangat besar, tujuh ratus miliar!
Al tahu hal ini saat bertemu secara tidak sengaja dengan pengacara Simbah buyut selesai shalat Isya di Masjid Agung. Harta itu akan diserahkan padanya setelah lulus kuliah!
Jadi, tidak sampai enam bulan lagi dia akan memiliki kekayaan sebanyak satu triliun!
__ADS_1
Dia akan jadi anak muda yang sangat berpengaruh di kota satelit!
Dia bisa berbuat apa saja dengan harta sebanyak itu.
"Kau akan jadi istri orang terkaya di kota satelit," kata Al. "Enam bulan lagi aku akan memiliki kekayaan satu triliun rupiah."
Subhanallah! Riany sampai terbangun dari rebahannya. Matanya menatap suaminya dengan tak percaya. Sebuah surprise di malam pertama yang sangat membanggakannya!
Jadi orang terkaya adalah anugerah. Suaminya bisa menjadi rahmat bagi warga kota satelit. Dia bisa menciptakan lapangan pekerjaan yang sangat banyak.
"Pengacara Simbah buyut minta waktu kepadaku untuk mampir di kantornya," kata Al. "Dia mau menunjukkan dokumen kalau aku adalah penerima hibah harta yang diwariskan sama Oma."
"Aku sangat bahagia mendengar kabar ini, beb," senyum Riany indah. "Cita-citamu untuk membantu kota kelahiran akhirnya kesampaian."
"Setelah wisuda, aku ingin mengajakmu bulan madu keliling dunia."
"Terima kasih, beb. Kau sangat memanjakan istrimu."
Bulan madu keliling dunia adalah dambaan setiap istri. Mereka bisa berpesiar dengan kapal mewah untuk merajut cinta di setiap kota romantis.
"Kau susun rencana dari sekarang," kata Al. "Aku mengikuti saja."
"Siap, beb."
"Aku ada permintaan untukmu."
"Permintaan apa?"
Al memandang lamat-lamat seakan ingin memastikan kalau istrinya siap mendengar permintaannya.
Riany jadi tidak sabar. "Permintaan apa sih, beb? Kepingin lagi? Aku kasih bonus tak terbatas!"
Al menyampaikan permintaan yang beberapa hari ini jadi beban pikirannya. "Aku ingin mengobati Aisyah sampai sembuh, berapapun biayanya dan berapapun lama waktunya."
Di luar dugaan, wajah yang bercahaya itu semakin memancarkan kemilaunya. Sebuah senyum membias menambah indah pesona yang tidak tergantikan, kemudian bibir mungil yang sangat menggoda itu berkata, "Aku setuju, beb. Musibah yang menimpanya tidak lepas dari andil suamiku."
Al senang sekali. "Alhamdulillah."
"Aku ada hadiah kedua untukmu."
"Sungguh penuh berkah ulang tahunku. Untuk hadiah yang kedua ini, kau tunggu saja di kamar. Aku membuat pengajuan judul skripsi dulu."
"Aku sudah bilang ada bonus kalau kamu kepingin lagi."
"Terus apa hadiahnya?"
"Aku ikhlas dan memberimu izin untuk menikah dengan Aisyah."
__ADS_1