
Al jadi merasa sedang diuji bagaimana perasaannya terhadap ketiga gadis itu di hadapan istrinya. Dia jadi menyesal memberi tahu Riany kalau siang ini akan pergi melihat lahan buat usaha pasukan bandring.
Mereka memang tidak membicarakan soal madu di perjalanan. Tapi Al tahu apa yang terpendam di hati mereka. Pernikahannya dengan Riany bukan menguncupkan hati mereka, malah menyuburkan harapan untuk hadirnya istri kedua!
Mereka tidak berkecil hati Al menutup pintu untuk mengambil madu. Jika Allah sudah berkehendak, siapapun tidak kuasa menolak, dan mereka percaya akan hal itu. Mereka tidak peduli suara hati Al. Mereka hanya peduli pada takdir mereka sendiri.
Al jadi bingung bagaimana harus bersikap. Dia tidak memiliki alasan untuk menjaga jarak dengan ketiga gadis itu karena mereka tidak melakukan apa-apa terhadap dirinya. Jangan kata melelang rayuan, menyinggung soal cinta saja tidak. Mereka malah sibuk membicarakan kado bulan madu.
"Kalian sudah buka kado aku belum?" tanya Aisyah. Dia duduk bersama Wulandari dan Lin Wei di belakang. "Kok adem ayem saja."
Riany balik bertanya, "Kado yang mana ya?"
"Yang kecil mungil. Semuanya ada tiga, kado dari aku, Wulan, dan Lin Wei."
Setiap kali menyebutkan nama selalu urutannya begitu, pikir Al hambar. Riany tentu tidak dapat membaca makna yang tersirat kalau urutan itu adalah daftar antri untuk menjadi istri berikutnya. Al seolah wayang yang bisa mereka mainkan.
"Aku coba periksa nanti," kata Riany.
"Jadi belum dibuka?" tanya Wulandari.
Riany tenang saja menanggapi pertanyaan mereka. "Semua kado masih menumpuk di kamarku. Satupun belum sempat dibuka."
"Aku kira kalian di dalam kamar sibuk buka kado," ujar Lin Wei. "Ternyata sibuk buka yang lain."
"Memangnya kalian ngasih kado apa? Jadi penasaran. Aku buka nanti pas pulang dari kampung Ridwan."
"Pokoknya kamu cari kado mungil warna pink," tukas Lin Wei. "Jumlahnya ada tiga. Aku letakkan di atas kasur, kebetulan aku dan Irma kebagian mengangkut kado ke dalam kamar pengantin."
"Kamu kok tidak ngajak-ngajak masuk kamar pengantin?" protes Wulandari. "Jangan curang ya."
"Kamu sama Aisyah kan sibuk menerima tamu, mana sempat ikut aku?"
"Aku boleh minta bocoran isi kadonya apa?" potong Riany.
"Aku ngasih cek untuk pergi umrah," jawab Aisyah.
"Aku ngasih cek untuk bulan madu ke Tiongkok," sahut Lin Wei.
"Aku ngasih cek untuk pergi ke Lombok. Kecil ya?"
Riany terpana. "Kalian serius?"
"Masa kado buat mainan?" balik Aisyah. "Memang nikahnya mainan?"
"Aku pernah dapat kado ultah kodok karet."
"Kurang ajar betul. Kalau jantungmu copot, bagaimana? Kamu kan paling takut sama kodok."
Riany menoleh heran. "Tahu dari mana aku takut sama kodok?"
"Umi cerita kalau lagi kumpul di ruang keluarga."
"Cerita apa saja dia?"
__ADS_1
"Banyak."
Mereka pasti mengorek keterangan tentang pribadi Riany dari masa kecil sampai dewasa, pikir Al sambil mengendarai Lamborghini dengan santai. Umi tidak tahu kalau mereka lagi mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya tentang anak bungsunya. Bukan untuk mencari keburukan, tapi untuk persiapan beradaptasi dengan istri pertama!
"Banyak itu cerita apa?"
"Pokoknya yang bagus-bagus."
"Yang bagus-bagus itu apa?"
"Waktu kecil kamu takut banget sama pocong karena sering nonton film horor."
"Takut sama pocong kamu bilang cerita bagus?"
"Pocong kan jelmaan orang mati, jadi kita akan selalu ingat tentang mati. Jadi rajin ibadah deh, sekurang-kurangnya hapal doa pengusir setan."
Riany tidak tahu apa maksud Umi bercerita tentang masa kecilnya. Barangkali saking bahagianya karena anak manja itu kini sudah memiliki suami yang jadi idaman setiap perempuan.
"Nah, aku itu takutnya sama vampir yang suka menghisap darah. Maka itu aku jarang bermain waktu kecil karena takut kena luka lalu didatangi vampir. Pas akil balig keluar darah, aku tidur sampai ditemani Umi karena takut didatangi vampir."
Riany tertawa geli. "Sekarang masih takut vampir?"
"Kamu masih takut pocong?"
"Aku sering melayat orang meninggal, jadi tidak takut lagi."
"Aku juga sering menonton film vampir, kemudian berusaha meyakinkan diriku kalau vampir adalah setan impor, setan lokal ya pocong dan uka-uka yang tidak menghisap darah."
"Berarti ketahuan kamu tidak pernah donor darah. Takut darahmu dihisap."
Mobil pesantren yang dikemudikan Ridwan menghidupkan lampu sen dan belok memasuki jalan aspal kecil. Al membuntuti pelan-pelan. Kemudian mobil pesantren berhenti di sebuah kebun yang ditanami beberapa pohon kelapa. Mobil Al parkir di sebelahnya.
Al segera turun membukakan pintu untuk Riany dan ketiga gadis itu. Lalu dia berjalan menghampiri Nidar dan kawan-kawan yang berkumpul di bawah pohon kelapa. Pasukan bandring yang ikut adalah beberapa calon pengurus koperasi. Sementara Riany dan tamunya pergi ke dangau di tengah sawah dengan hamparan padi menghijau.
"Aku sebagai teman turut berbahagia melihat istri pertama akur dengan mereka," komentar Nidar. "Kamu berguru di mana sih, Al?"
"Berguru apa maksudmu?"
"Mereka bisa akur begitu."
"Jangan cari perkara deh."
"Sunah kok perkara? Lebih baik kamu halalkan mereka daripada jadi selingkuhan."
"Aku itu baru dua hari menikah, kamu sudah mengajari macam-macam. Jadi imam untuk satu perempuan saja aku belum tentu bisa."
"Kalau empat harusnya bisa...bisa kelenger." Nidar tertawa.
"Aku diajak ke kebun ini bukan untuk bicara soal empat, kan?"
"Aku dan teman-teman siap mendengarkan kalau kamu ingin bicara soal itu," sambar Ridwan tersenyum. "Tapi aku mengajakmu ke mari untuk membahas rencana pasukan bandring yang ingin memiliki usaha bersama."
"Aku kira akan lebih nikmat kalau kita mengobrol sambil minum air kelapa hijau."
__ADS_1
"Siap, dan," kata seorang pemuda bertubuh ceking. "Aku sediakan segera."
Kemudian pemuda itu menaiki pohon kelapa yang berbuah banyak. Temannya memunguti kelapa yang jatuh. Seorang lagi pergi ke petani yang sedang beristirahat di pinggir sawah untuk meminjam golok.
"Kebun ini kamu wakafkan semua?" tanya Al. "Apa tidak terlalu luas?"
"Kebun ini satu-satunya lahan yang tersisa dari keserakahan ibu tiriku," sahut Ridwan sambil mengedarkan pandang ke sekeliling kebun. "Aku ingin menghibahkan untuk usaha bersama dan semoga jadi pahala bagi almarhum ayahku, sebagai rasa terima kasihku kepadamu yang membuat aku terlahir kembali dengan kehidupan yang baru."
Ridwan sangat bersyukur karena telah diterima oleh pasukan bandring sebagai saudara tanpa melihat masa lalunya. Semua ini berkat Al yang sudah memberi kepercayaan. Dia jadi merasa hidupnya berharga. Maka itu dia menyumbangkan lahan ini untuk usaha bersama dalam meningkatkan taraf hidup mereka.
"Aku optimis usaha kalian akan maju," kata Al. "Pesanku, jika usaha kalian sudah besar kelak, jangan ribut masalah keuntungan, aku pasti sedih mendengarnya."
"Maka itu aku minta kamu tidak lepas tangan," ujar Nidar. "Aku ingin kamu ikut mengelola koperasi ini."
"Aku tidak ada waktu. Aku harus pegang butik Oma di Jakarta. Sabrina kewalahan untuk mengelola sendiri."
"Istrimu juga menolak karena ingin fokus ke pesantren dan yayasan. Maka itu aku minta Aisyah untuk membantu setelah lulus kuliah nanti."
Al menatap tak berkedip. "Kenapa harus Aisyah? Pamela Bordin juga calon sarjana akuntansi?"
"Rekomendasi dari istri pertama."
"Istriku cuma Riany," sergah Al keki. "Memangnya ada istriku yang lain?"
"Kita kan tidak tahu apa yang terjadi di kemudian hari."
"Jangan mengada-ada. Istriku pasti merekomendasikan Lin Wei kalau benar ingin membantu kalian."
"Lin Wei menolak karena bukan bidangnya. Lalu dia merekomendasikan Aisyah."
"Riany setuju?"
"Mana berani aku tanpa persetujuan kalian."
"Lalu Aisyah kamu suruh tinggal di mana?"
"Tergantung kamu."
"Kok aku?"
"Kata istri pertama, kalau kamu tinggal di rumah Oma, maka Aisyah tinggal di pesantren. Kalau kamu tinggal di pesantren, dia akan minta kamar Oma untuk ditempati Aisyah. Aku heran, memangnya madu tidak boleh tinggal satu atap?"
"Kutempeleng jadi muadzin kamu."
"Naik pangkat dong, dari marbot ke muadzin?"
"Tempelenganku membawa berkah."
Al tidak mengerti apa maksud Riany dengan mengijinkan Aisyah untuk jadi pucuk pimpinan koperasi dan tinggal di pesantren atau di rumah Oma. Aisyah adalah perempuan yang paling dicemburuinya. Mengapa dia menginginkannya berada dekat dengan kehidupan mereka?
"Kamu kayak resah dan gelisah," kata Nidar.
"Kayak lagu jadul."
__ADS_1
"Tapi bukan menunggu di sudut sekolah...di kebun jagung."