Cinta Untuk Gadis Madinah

Cinta Untuk Gadis Madinah
Episode 64


__ADS_3

Serba salah. Itulah situasi yang dihadapi Riany saat ini. Dia mengakui sudah melakukan kesalahan besar, tapi bukan tanpa alasan. Mestinya mereka berempati. Jika menghadapi peristiwa seperti itu, segalanya bisa terjadi. Atau ada hal lain yang membuat mereka semakin tidak bersimpati.


Dia sulit memperoleh informasi. Bertanya kepada Irma hanya menimbulkan kegaduhan. Entah kenapa, sahabatnya itu tiba-tiba jadi musuh besarnya. Sementara Aisyah memintanya untuk introspeksi diri. Bagaimana dia bisa memperbaiki diri kalau tidak tahu apa sebenarnya yang terjadi?


Pulang dari Masjid Quba, Riany segera ganti pakaian siap-siap berangkat ke Masjid Nabawi untuk merindu dengan Sang Khalik menghibur kegundahan hati. Siang hari kamar Oma ditempati olehnya, malam hari untuk Al tidur. Dia menumpang di kamar Aisyah.


Ketika keluar kamar, dia melihat Aisyah berdiri di depan pintu kamar sebelah sudah siap pergi pula.


"Nunggu siapa?" selidik Riany ingin tahu.


"Al."


Riany menatap Aisyah dengan berbalut curiga yang kental. "Calon imamku ada di dalam?"


"Jangan parno deh. Aku tidak pegang kartu cadangan, jadi tidak bisa masuk."


"Ngapain Al di dalam?"


"Ini kamar yang disewa buat aku, tapi Oma minta ditemani. Nah, akhirnya Al tinggal di kamar ini. Tapi pas Oma meninggal, Al ingin pindah ke kamarnya. Travel bag belum sempat diangkut. Dia lagi menumpang mandi dan ganti baju. Masih kurang penjelasanku?"


"Jangan-jangan sengaja travel bag ditinggalkan," sindir Riany dingin.


"Pengen aku sih begitu."


Riany memandang lurus-lurus, dan Aisyah tahu apa arti tatapan itu.


"Bercanda," senyum Aisyah. "Aku hijaber ori, tidak menerima tamu diam-diam di siang hari."


"Jadi menerimanya di malam hari?"


"Malam hari aku menerima kamu."


Al keluar dari dalam kamar dan mendapati sorot mata yang menjilati seluruh tubuhnya. Meski hanya sekilas, cukup membuat Al tersinggung. Tapi dia sembunyikan di balik senyum kecilnya. "Cuma numpang mandi dan ganti baju. Atau kamu ingin aku tinggal di kamarnya?"


Al menyodorkan kartu ke Aisyah tapi langsung diambil Riany. Kemudian dia membuka pintu kamar, mengambil pakaian kotor, travel bag, dan barang-barang lain. Semua diangkut ke kamarnya.


Aisyah berkata separuh meledek, "Perlu bantuan gak? Awas daleman aku kebawa."


"Ini daleman Al." Dengan gemas Riany menunjukkan keranjang pakaian ke depan matanya. "Kamu cari perkara naroh daleman di sini?"


"Kok bisa hapal ya?"


Riany tidak peduli. Dia berjalan ke kamarnya dan masuk menaruh barang-barang yang dibawa di sudut kamar dekat travel bag Oma. Ketika dia keluar lagi, koridor telah sepi. Al dan Aisyah sudah pergi bersama rombongan. Mereka tidak butuh ketua lagi rupanya. Bahkan mungkin sudah melupakannya.


Riany menghalau perasaan kecewa yang hinggap di hatinya, lalu mengayunkan langkah menuju pintu lift. Dia tidak bisa menyalahkan Al kalau sampai membatalkan ta'aruf. Kesalahannya memang sulit dimaafkan. Sebagai calon cucu, dia seharusnya menemani Oma disaat-saat terakhir, bukan Aisyah!


Riany sudah terjebak dalam dua peristiwa yang memilukan. Dan pikirannya terkuras oleh satu peristiwa sehingga peristiwa lain terlupakan, membuat cintanya berada di ujung tanduk. Takdir. Barangkali itu yang betul-betul perlu disadarinya.


Lukman muncul dari arah lain hendak pergi ke Masjid Nabawi juga. Di atas pintu terpampang angka digital bergerak turun. Dia menekan open. Kemudian pintu lift terbuka. Dia masuk dan menahan tombol agar pintu tidak menutup, menunggu Riany yang berjalan mendekat.


"Duluan deh," kata Riany. "Tidak baik berduaan di dalam lift."


"Tunggu di lobi ya?"


"Tidak usah."

__ADS_1


Pintu lift tertutup dan bergerak membawa Lukman ke lantai bawah.


Kedekatan Riany dan Lukman bukan hanya mengganggu ta'arufnya, juga menimbulkan pandangan negatif orang-orang di sekitar.


Belakangan ini Riany sering mengajak Lukman keluar; belanja makanan, jajan, shalat arbain. Dan membuat suasana tambah panas. Sinar kebencian bertaburan melihat mereka jalan berdua. Irma dan Nek Surti bahkan menutup pintu kamar keras-keras kalau mereka lewat.


Riany pergi bersama Lukman karena terpaksa tidak ada teman. Biasanya Irma menemani. Tapi dia mendadak saja jadi membencinya. Entah apa sebabnya. Ditanya baik-baik malah suruh cari jawaban sendiri.


Ketika Riany muncul di lantai dasar, Lukman ternyata menunggunya. Dia jadi kesal.


"Sudah kubilang jangan tunggu," gerutu Riany ketus. "Aku ingin jalan sendiri."


"Ada yang ingin aku bicarakan sama kamu."


"Kamu sadar gak sih? Mereka seolah ingin menguliti aku setiap kali melihat kita jalan berdua."


"Justru itu yang mau aku omongin," kata Lukman sambil berjalan ke pintu lobi di antara satu dua orang yang lalu lalang. "Jangan-jangan Al baca buku diary aku. Kau suruh Al merapikan travel bag aku waktu di Makkah, kan?"


"Lagi ngapain ke Tanah Suci bawa diary?"


"Itu catatan hidupku. Aku pergi ke Tanah Suci dalam keadaan hidup. Diary itu sudah menemani aku sejak kelas sepuluh SMA."


"Kok tidak habis-habis?"


"Jarang-jarang nulisnya."


"Memangnya kamu nulis apaan di buku diary? Hingga aku jadi kayak pesakitan begini?"


"Perjalanan kita."


"Perjalanan yang mana?"


"Salah arti apa?"


"Aku pernah mencintai kamu diam-diam."


Riany terkejut, tapi kemudian matanya menatap heran. "Kalau Al baca diary kamu, terus siapa yang menyebarkan? Al tidak mungkin, Nidar juga. Selain mereka, tidak ada lagi yang tinggal satu kamar sama kamu di Makkah."


"Bisa saja ada yang nguping."


"Nek Surti," gumam Riany. "Pasti dia orangnya. Biar sudah tua, dia rajin ngegosip."


"Aku perlu menjelaskan ke Al sebelum salah pahamnya kejauhan. Dia pasti mengira perjodohan kalian sudah menjegal cinta kita."


"Biar aku. Dia pasti kecewa karena menurutnya aku tidak jujur."


Riany tidak mau Lukman jadi bulan-bulanan. Bagaimana juga pemuda itu sahabatnya. Al tentu tidak berani kasar kalau dia yang menjelaskan.


Sewaktu kecil, betapapun marahnya Al tidak pernah berlaku kasar sama perempuan. Kalau sama laki-laki, main tonjok saja.


Dan wajar Al salah mengartikan catatan hidup Lukman. Puisi-puisi itu sepintas menyiratkan ada sesuatu di antara mereka hingga sekarang.


Apalagi selama di Kota Suci Riany tidak ada kontrol kepada Al seperti perempuan murahan. Padahal semua itu dilakukan untuk membentengi calon suaminya dari pesona Aisyah yang menghanyutkan.


Jadi tidak aneh kalau Al beranggapan negatif. Dia bisa saja mengira kejadian di kamar tempo hari itu mancing-mancing. Riany tidak tahu, seandainya Al menginginkan, dapatkah mempertahankan kehormatan dari renggutan calon suaminya!

__ADS_1


Al bahkan bisa saja mencurigainya ingin menjebak karena sudah tidak suci lagi!


Yang pertama perlu dilakukan adalah membersihkan namanya di depan rombongan jamaah bahwa tidak ada kisah masa lalu di antara mereka.


Riany tidak tahu kalau Lukman pernah mencintainya. Dia tidak bisa melarang sahabatnya untuk jatuh cinta. Itu hak pribadi. Yang jelas, semua yang dilakukan tidak pernah keluar dari koridor persahabatan.


Riany meminta Ahmed untuk menyampaikan hal ini pada saat makan malam. Kalau di waktu tahlil, rasanya kurang tepat. Mengurangi nilai sakral dari acara yang berlangsung khidmat itu.


"Walah, gitu toh?" komentar Nek Surti selesai Ahmed bercerita. "Cinta tidak sampai."


Lukman tersenyum pahit. "Begitulah adanya. Kalau Nek Surti masih mencurigai saya, saat ini juga saya angkat kaki dari hotel ini, tidak ikut pulang ke Indonesia."


"Jangan dong," potong Pamela. "Aku tidak tega cintamu bertepuk sebelah tangan. Kamu ingin bertepuk apa denganku?"


"Huuuh!" Bapak-bapak kompak mencemooh.


"Kamu itu pantasnya sama Eyang Munzir," cetus Bu Hanif setengah meledek. "Biar si Eyang jadi muda lagi."


"Langkahi dulu mayatku," sambar Nek Surti.


"Belum dilangkahi juga sudah kayak mayat," ejek Eyang Munzir.


"Roman-romannya ada yang jealous nih?" sindir Pak Hanif.


"Yang jealous itu siapa?" bantah Nek Surti keki. "Aku itu melindungi cucuku!"


"Sudah, sudah," lerai Ahmed. "Kita tidak boleh berbantah-bantahan. Semua sudah clear ya? Tidak pernah ada apa-apa di antara mereka berdua. Jadi jangan kucilkan mereka lagi."


"Pada kesempatan ini juga saya ingin menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya," kata Riany. "Saya adalah ketua yang tidak bertanggung jawab, mementingkan diri sendiri, meninggalkan rombongan saat banyak masalah. Untuk itu saya mohon bimbingan dari kalian semua."


"Ini baru ketua," puji Eyang Munzir. "Berani mengakui kesalahan."


"Sebenarnya sih tidak salah-salah banget," ujar Bu Hanif. "Alasannya cukup masuk akal. Cuma karena kecintaan kita sama Oma, kamu jadi bulan-bulanan."


"Dan simpati kita pada Al yang sudah dikhianati," sambung Pak Hanif. "Ternyata Nek Surti cuma menyebar hoax."


"Memang begitu kok apa yang kudengar dari pembicaraan Al dan Nidar," sanggah Nek Surti.


"Sudah salah, keras kepala lagi!" tegur Eyang Munzir.


"Ya sudah aku minta maaf!"


Irma memeluk Riany dengan menitikkan air mata. "Maafkan aku ya, Ri. Aku sempat parno sama kamu. Nyatanya Lukman memang menutup pintu untukku."


"Aku juga minta maaf tidak peka selaku sahabat," sahut Riany terharu. "Sumpah, aku sedih banget dijauhi kamu."


"Al merasa berdosa sekali sama Lukman," kata Nidar. "Waktu kecil Al jadi malaikat pelindungnya, sudah besar malah merampas pacarnya."


"Sudah pergi sana ke Nabawi," potong Nek Surti. "Belum pernah ada kan yang mengatakan cinta di Raudhah? Sok ciwiiit."


"So sweet," ralat Pamela.


Riany merasa tidak perlu terburu-buru dalam menyelesaikan masalah, dampaknya bisa kurang baik, dan tidak pula menunda-nunda.


Namun api di hati Riany sulit padam ketika Al terlihat makin lengket dengan Aisyah, dan tetap menjaga jarak dengannya. Apa penjelasan Ahmed belum sampai?

__ADS_1


Riany mencegat mereka di pintu Baqi dekat makam Nabi dan berkata dengan kesal, "Aku rela kalau kamu berpaling pada Aisyah karena Oma, tapi aku tidak terima kalau gara-gara diary Lukman."


"Demi cinta, kamu berani berkata busuk di depan bagindaku dan bagindamu," ujar Al dingin. "Cinta macam apa yang ada di hatimu?"


__ADS_2