
Kabar Vidya ta'aruf dengan Ben Muzakir viral di kampung, padahal ta'aruf belum dilaksanakan.
Tentu saja yang lebih spektakuler kabar pernikahan Al dan Riany. Tidak terdengar kapan ta'aruf tahu-tahu naik ke pelaminan. Berita yang tersebar adalah mereka ta'aruf kilat di Tanah Suci. Dan hanya orang-orang tertentu yang tahu kapan mereka mulai ta'aruf.
Mendapati kenyataan ibu-ibu lebih tertarik membicarakan pernikahan itu, Umi Halimah terpancing situasi. Dia mempromosikan ta'aruf Vidya dan Ben Muzakir di majlis ta'lim, pasar, bahkan saat kumpul pagi-pagi di pedagang sayur keliling.
"Mereka adalah pasangan terfavorit tahun ini," kata Umi Halimah bangga.
"Pasangan kaporit kali," sindir Bu Hanif. "Yang cewek bajunya kekurangan bahan, yang cowok kelebihan bahan. Orang Arabnya sendiri gak lebay-lebay banget."
"Eh, tahu gak si Al Farisi itu pernah datang ke rumahku," sambar Umi Halimah panas. "Anakku menolak karena pakaiannya kurang Islami. Memang Islam munculnya di Hindustan?"
"Terus pakaian anakmu Islami?" ejek Nek Surti. "Sekalian saja suruh telanjang biar ditonton semua orang."
"Yang kudengar sih Al Farisinya ogah," sambar ibu yang lain. "Karena kelebihan bajunya tidak cukup buat menutupi aurat si Vidya."
"Begini kalau punya tetangga generasi jadul," cibir Umi Halimah. "Tidak tahu mode."
"Kamu itu hampir di setiap pengajian selalu hadir," sindir Nek Surti. "Nah, jatuh di mana tuh ilmunya tidak sampai ke anakmu? Mendingan si Pamela cucuku."
"Mendingan apaan? Lagi goyang, pantatnya ditempeli duit, boleh apa di agama?"
"Tapi pakaiannya tidak seronok kayak si Vidya."
"Yang penting kelakuannya. Buat apa pakaian tertutup tapi kelakuan terbuka? Kalian ingin tahu kenapa si Riany minta nikah cepat-cepat?"
"Sudah tidak tahan kali," sahut Nek Surti asal. "Cewek kan syahwatnya sembilan."
"Takut si Vidya berubah pikiran. Kalau tidak buru-buru nikah, calon suaminya pasti dibuat klepek-klepek sama anakku."
"Mau juga goyangan si Pamela yang bikin klepek-klepek."
"Alah, cuma goyang sompret saja dibanggakan."
"Goyang zigzag."
"Goyang zigzag sompret, kerjanya ganggu suami orang!"
"Eh, dengar ya. Cucuku bukan pelakor. Suami kamu saja kegatelan."
"Suamiku ahli masjid, tahu gak?"
"Ahli masjid kok nyawer?"
"Sekata-kata kalau ngomong."
"Maka itu jadi istri jangan bego-bego banget. Suami keluar pakai sorban langsung percaya pergi pengajian. Lihat sana, bajunya dititipkan di rumah si Munzir."
"Suamiku sudah hijrah."
"Tapi sering kumat."
Vidya muncul dengan pakaian sangat seksi. Nek Surti melongo. Waktu lagi nakal-nakalnya, dia belum pernah berpakaian seperti itu. Sungguh tebar pesona.
"Umi ngapain sih belanja di pedagang keliling?" tegur Vidya melecehkan. "Sayurannya tidak sehat tuh."
Tukang sayur tersinggung. Dia rampas kacang panjang di tangan Umi Halimah, dan berkata dengan kesal, "Sudah sini balikin. Punya anak mulutnya tidak dijaga."
"Kamu lihat kan? Orang miskin bisanya cuma emosi," komentar Umi Halimah pedas. "Biar kita lebih kaya dari ibu-ibu rempong ini, kita harus merakyat, jaga perasaan mereka, sekalian pencitraan."
Nek Surti melotot sebesar-besarnya. "Lebih kaya dari mananya? Dapat sumbangan dari menantu saja, sombongnya naudzubillah."
"Yang jadi simpanan malahan sudah terendus sama wartawan," timpal Bu Hanif. "Sebentar lagi pasti kampung kita ramai didatangi wartawan."
"Yang penting anakku punya suami kaya. Nah, tuh anakmu, jadi istri Eyang Munzir tidak mau, akhirnya nikah sama pengangguran. Bikin susah."
__ADS_1
"Kasihan si Ben punya mertua matre begini," dengus Bu Hanif sinis. "Jadi sapi perahan deh."
"Kalau sapi Ustrali susunya tidak habis-habis biar diperah tiap hari!"
Vidya terpana. "Si Ben? Jadi Umi yang menyebarkan hoax aku ta'aruf sama si Ben?"
"Umi sudah sepakat sama babenya si Ben."
"Aku tidak mau."
"Coba dulu."
"Sekali tidak mau, ya tidak mau."
"Lah, bagaimana urusannya?"
"Aku bisa cari sendiri."
"Tapi ingat syaratnya."
"Orang kaya, kan? Lagi siapa yang mau hidup blangsak!"
"Bagus."
"Kan anak Umi."
"Boleh tahu siapa calonnya?"
"Raja minyak."
"Kalian dengar, kan?" Dengan bangganya Umi Halimah menoleh ke ibu-ibu rempong. "Anak siapa dulu? Hajah dua kali!"
Padahal Vidya hanya ingin membuat senang ibunya, supaya bisa buru-buru pergi. Selang kemudian muncul Eyang Munzir dengan dandanan anak muda sekali.
"Lihat my baby lewat gak?"
"Biasa aja keles. Semua orang tahu kalau sudah dandan aku ini keren habis. Haji Munzir gitu loh."
"Jadi calonnya stok alam kubur?" belalak Nek Surti. "Aki-aki yang tinggal tulang-belulang?"
Bu Hanif melongo. "Ternyata raja minyak nyongnyong. Kirain raja minyak dari Dubai."
Umi Halimah merah padam karena malu. Serta merta mengambil seikat kacang panjang dan memukuli Eyang Munzir.
"Eyang jangan coba-coba main gila ya," geram Umi Halimah. "Sama aku saja tidak pantas, apalagi sama anakku."
Eyang Munzir kaget. Sibuk menangkis. "Sabar, Limbah, sabar."
"Limah!"
"Kamu kesurupan?"
"Eyang yang kesurupan! Kesurupan kambing bandot!"
Nek Surti dan kawan-kawan tertawa membuat Umi Halimah tambah mendidih.
"Ngomongnya setinggi langit," dengus Nek Surti mencemooh, "Al kurang Islamilah, cocoknya sama si Benlah, nyatanya ngembat kayu bakar gosong!"
Eyang Munzir menangkap tangan Umi Halimah. "Bentar, bentar. Kayaknya ada yang salah sambung nih."
"Memang gak pantes nyambung!" sergah Umi Halimah. "Lepasin!"
"Tanganmu halus juga," kata Eyang Munzir sambil melepaskan pegangannya. "Kalau si Marwah sudah bosen, suruh lempar ke aku."
"Amit-amit."
__ADS_1
"Gasnya pol abis loh, Lim?"
"Cuih!"
"Kamu ini kenapa sih, Lim? Kayaknya jijik bener lihat aku?"
"Banget."
"Iya, kenapa?"
"Eyang pakai pelet ya?"
"Iya."
"Kurang ajar!"
"Pelet Jepang. Mana bisa laku kalau modal dengkul?"
"Pengen muntah dengernya!"
"Makin galak makin gemas saja aku lihatnya."
"Ingat kuburan! Umur tinggal seuprit!"
"Karena tinggal seuprit, maka aku manfaatkan baik-baik. Aku ini mau ngedate sama si Ijah. Kemarin baru pulang dari Saudi. "
Umi Halimah melongo. "Jadi bukan si Vidya?"
"Kemudaan keles. Gak kuat ngegasnya."
Dengan gaya yang menyebalkan Eyang Munzir pergi dari hadapan mereka.
"Kacang panjangnya bagaimana?" tanya tukang sayur. "Habis tiga ikat loh?"
"Berapa ikat pun aku bayar!"
Umi Halimah mengeluarkan uang dari dompet dan menyodorkan ke tukang sayur. Dia merasa lega karena anaknya terhindar dari musibah.
Banyak cara agar Vidya bisa ta'aruf dengan Ben Muzakir. Tapi itu urusan nanti. Sekarang dia harus memberi pelajaran pada suaminya. Tidak ada kapok-kapoknya.
"Mau ke mana?" sergah Umi Halimah melihat suaminya sudah rapi berpakaian haji. "Nyawer di sanggar?"
"Astaghfirullah. Masa pakaian begini nyawer?"
"Kan bisa salin di rumah Eyang Munzir."
"Eyang Munzir?" Haji Marwah heran. "Setahun dua kali aku anjang sana ke rumahnya, hari raya, maaf-maafan keliling kampung."
"Pokoknya kalau kamu nyawer lagi, lebih baik pulangkan aku ke rumah orang tuaku!"
"Rumah orang tuamu sudah digusur."
"Pulangkan ke rumah Eyang Munzir!"
"Bentar, bentar. Kayaknya ada yang gak nyambung. Setahuku yang akrab sama Eyang Munzir adalah haji umrah, bandar jengkol. Namanya sama denganku."
Umi Halimah bengong. Baru kepikiran kalau nama Marwah ada dua di kampung ini. Dan Marwah bandar jengkol terkenal hobi nyawer sejak bujangan sampai sudah beristri empat. Sialan. Kena prank.
"Barusan si Vidya ngebel," kata Haji Marwah. "Dia tidak mau ta'aruf sama si Ben."
"Ini semua gara-gara kamu! Ngapain dikuliahin jauh-jauh ke Mesir? Nah, ini hasilnya! Berani membantah orang tua!"
"Jaim dong. Anak tetangga kuliah di Turki."
"Pokoknya akan kupaksa si Vidya ta'aruf!"
__ADS_1
"Gelagatnya si Ben juga tidak mau."
Mereka memang menolak untuk ta'aruf, tapi bersekongkol sebagai barisan sakit hati. Perkawinan Al dan Riany adalah kematian bagi cinta mereka.