Cinta Untuk Gadis Madinah

Cinta Untuk Gadis Madinah
Episode 88


__ADS_3

Pesawat Saudia berada 35.000 kaki di atas Laut Merah. Riany merasa demikian gelisah. Wajah Al menari-nari di pelupuk matanya membuat penerbangan terasa lama sekali.


Sejujurnya dia tak sanggup untuk meninggalkan suaminya di tanah air. Tiga hari hidup bersama terlalu cepat untuk diakhiri dengan sebuah perpisahan. Namun masa depan tidak boleh tertunda oleh satu ikatan cinta.


Mereka menikah untuk menjaga keselamatan iman, itu tujuannya. Menghindari kemafsadatan lebih baik daripada mencari kemaslahatan. Khayalan tidak halal dan pandangan yang tidak terjaga adalah mafsadat. Memang sangat spekulatif, tapi ada kenikmatan yang luar biasa dengan cinta yang halal.


Tidak ada lagi yang perlu dijaga di antara mereka. Hasrat dan keinginan bebas terbang dari teratak tanpa kuatir ada kepak dosa menyertai.


Pesawat Boeing 777-300ER mulai menurunkan ketinggian dan mengatur kecepatan untuk menuju titik pendaratan. Jalur penerbangan tidak terlalu sibuk sehingga pesawat bisa langsung mendarat.


Riany merasa malas sekali untuk bangkit dari kursinya dan keluar dari pesawat. Dia menuruni garbarata pada antrian terakhir, kemudian naik ke bus bandara yang membawa mereka ke terminal kedatangan.


Betapa ingin hatinya pergi ke terminal keberangkatan untuk kembali ke tanah air, menjumpai suaminya yang menanti di Yogya. Rasa rindu demikian berat membebani kakinya untuk melangkah keluar melewati lounge pemeriksaan, padahal baru sepuluh jam mereka berpisah.


Untuk menuju apartemen di Al Aridh, Riany naik Leena, taksi online khusus wanita. Tanggal 24 Juni 2018 adalah titik perubahan di Arab Saudi. Larangan mengemudi bagi wanita dicabut dan wanita boleh menjadi driver untuk mendukung program Visi 2030.


Terlepas dari pro dan kontra, taksi online wanita ini membuat Riany sangat nyaman, terbebas dari pelecehan dan perilaku kekerasan yang kadang terjadi pada taksi reguler, privasi lebih terjamin.


Kedatangan Riany di apartemen disambut oleh Surti, satu-satunya asisten rumah yang menemaninya selama kuliah di Madinah.


Riany langsung menghubungi Al untuk memberi tahu kalau dirinya sudah sampai di Madinah dengan selamat, tapi handphone suaminya tidak aktif. Barangkali lowbat. Al kadang lupa membawa power bank sebagai cadangan, atau lagi di-charger di pondokan. Dia tentu sudah tiba lebih dahulu di Yogya.


"Nyonya, cepat sekali kembali ke Madinah," kata Surti sambil membawa travel bag ke kamar majikannya. "Memangnya kuliah sudah mulai?"


Ada perasaan aneh di hati Riany mendapat panggilan nyonya. Mulai saat ini dia harus membiasakan diri dengan panggilan itu, karena sudah berganti status, bukan seorang nona lagi.


"Aku besok ada kegiatan di Masjid Nabawi," ujar Riany. "Lagi pula di rumah juga buat apa? Hari ini suamiku pergi ke Yogya."


"Nyonya kan bisa ikut ke Yogya, tinggal bersama suami di apartemen."


"Apartemen sudah dioper alih sewanya ke teman suamiku. Dia tidak mau tinggal di situ, hanya membuatnya teringat sama Oma."

__ADS_1


"Sewa hotel dong, Nyonya. Sekalian bulan madu di Yogya."


"Tanggung. Sehari kemudian aku balik lagi untuk berangkat ke Madinah lewat bandara Sukarno Hatta, repot."


"Satu hari itu lumayan buat kangen-kangenan."


"Aku bisa mengundang suamiku ke Luxury kalau kepingin melepas kangen."


Ikatan cinta yang terjadi tidak membuat mereka harus selalu bersama. Ada kalanya untuk saling sendiri sehingga dapat merasakan betapa nikmatnya cinta yang halal, dimana mereka bisa saling menitip rindu tanpa kuatir terjebak dalam maksiat.


Yang pertama ingin dilakukan Riany setibanya di Madinah adalah pergi ke Raudhah, untuk bersujud syukur karena doanya selama ini terkabulkan. Dia sulit membayangkan bagaimana gersangnya hidup ini tanpa kehadiran Al sebagai imam hidupnya.


Allah sudah mendengar satu-satunya doa yang senantiasa didengungkan di Raudhah untuk kebahagiaan hidupnya. Dia berencana ingin berbagi kesenangan dengan mahasiswa Indonesia yang ada di Madinah, dengan makan bersama di restoran di pinggiran kota Madinah, tempat mereka biasa berkumpul.


Pulang dari Raudhah, Riany heran sekaligus terkejut mendapati Dinar dan Fatimah duduk menunggu di ruang tamu. Perasaan tidak enak menggantung di hatinya.


Melihat mendung menghiasi wajah mereka, Riany tahu ada kabar buruk yang dibawa ke kota suci ini.


"Apa yang terjadi di tanah air?" tanya Riany tidak sabar.


Fatimah adalah kakaknya yang paling irit bicara, namun saat ini dia yang mengambil alih pembicaraan, bukan Dinar si ceriwis itu. Tentu saja ini sangat membingungkan Riany.


"Apa sebenarnya yang terjadi, Kak?" desak Riany sambil duduk di dekatnya. "Tolong ceritakan segera."


"Aku harap kamu dapat menerima kabar ini dengan tabah," ucap Fatimah tersendat. Dia hampir tak sanggup untuk bicara. "Musibah kadang datang tidak disangka-sangka."


Jantung Riany mendadak berdebar hebat, matanya memandang Fatimah tanpa berkedip. Bermacam pikiran bercampur aduk memadati benaknya. Pasti bukan musibah biasa!


"Musibah apa? Apa yang terjadi dengan keluarga kita?"


"Al mengalami kecelakaan di jalan tol...."

__ADS_1


"Innalillahi wainna ilaihi raji'un," ucap Riany bergetar. Sesaat dia terdiam, tidak terlihat reaksi apa-apa, kemudian kepalanya tiba-tiba terkulai ke bahu Fatimah, tak sadarkan diri. Fatimah dan Dinar panik. Mereka mencoba membangunkan adiknya dengan menggoyangkan tubuhnya.


"Ri...Ri...," panggil Dinar kalang kabut. "Pakai acara pingsan segala lagi. Ri...bangun."


"Aduh, bagaimana ini?" keluh Fatimah bingung. Dia membaringkan tubuh adiknya di sofa, kemudian berteriak memanggil asisten rumah, "Sur! Surti!"


Surti datang dengan tergopoh-gopoh dan kaget melihat Riany terlentang tak bergerak. "Ada apa, Nyonya? Apa yang terjadi dengan nyonya muda?"


"Ambil minyak wangi, cepat!"


"Minyak wangi?" Surti terdiam linglung sejenak. "Minyak wangi tidak ada, Nyonya."


"Pokoknya ambil apa saja yang baunya menyengat!" perintah Dinar. "Ketiakmu bau tidak? Nah, itu juga boleh!"


Surti mencium ketiaknya, dan berkata, "Tidak bau, Nyonya."


"Kamu ambil apa saja! Parfum ada kan?" sergah Dinar jengkel melihat kepolosan asisten rumah itu. "Cepat! Kok malah bengong di situ?"


"Baik, Nyonya."


Surti pergi dengan tergesa-gesa, kemudian muncul lagi membawa parfum dengan aroma yang menyengat. Dinar mual-mual karena bayi dalam kandungannya seakan tidak akrab dengan aroma itu.


"Ini parfum apa sih?" sergah Dinar kesal sambil membanting botol minyak wangi ke sofa. "Aromanya aneh banget."


Fatimah mengambil botol parfum yang dibuang adiknya dan mencium aroma parfum itu. "Wanginya soft. Bawaan bayi saja kali."


Fatimah melepas tutup botol parfum dan mengoleskan cairan di dalamnya ke sekitar hidung Riany, menunggu beberapa saat. Mata yang indah itu perlahan terbuka. Dahinya yang putih mulus mengernyit sedikit seperti mengingat-ingat apa yang terjadi. Dua bulir air mata jatuh mengalir, kemudian terdengar suaranya yang sendu, "Al bagaimana?"


"Al tidak apa-apa...," sahut Fatimah serba salah. Informasi terakhir, Al masih dalam keadaan koma di ruang gawat darurat, dan tidak boleh dikunjungi.


"Kakak bohong!" sentak Riany tiba-tiba. "Apakah ... apakah ... Al ... meninggal?"

__ADS_1


"Dia masih dalam perawatan intensif dokter. Kita doakan saja semoga tidak terjadi apa-apa dengannya. Nidar dan kawan-kawan sedang menungguinya di rumah sakit."


Air mata mengalir deras membasahi wajah Riany. Semua ini gara-gara dirinya! Dia sudah membuat Al celaka! Dia yang menyuruh suaminya naik mobil bersama mereka! Kejadiannya tentu akan lain kalau Al naik kereta!


__ADS_2