
Al tidak dapat menyembunyikan kekacauan pikiran di depan istrinya. Kabar itu terlalu dahsyat untuk direkam otaknya. Kepalanya sampai berdenyut sehingga perlu sebutir obat.
Aisyah memintanya untuk naik kereta. Panorama alam di sepanjang jalan yang dilewati sangat syahdu untuk dinikmati, dibanding pemandangan macet di jalan raya. Wulandari dan Lin Wei setuju mereka naik kereta.
Aisyah paling suka lihat panorama alam. Di jalan tol sampai berhenti beberapa kali jika ada view yang sangat menarik, mengambil gambar atau sekedar memanjakan mata. Sesuatu yang tidak diperolehnya di Al Khanza.
"Aku heran abinya menutupi dariku," kata Al sambil berjalan menelusuri koridor menuju ke ruang ICU. Langkahnya serasa mengambang. "Dia biasanya cerita tentang apa yang terjadi pada Aisyah. Putrinya telat datang bulan saja aku sampai tahu."
"Abi Rashid curiga kali kamu yang membuat telat datang bulan."
"Aku tidak bisa membuat bulan datang cepat atau telat."
"Tapi kamu bisa ngocorin air ke bak penampungan. Bendungan istri saja belum dibobol."
Riany mengeluarkan kata-kata itu sekedar untuk mengusir ketegangan di wajah suaminya. Al belum pulih betul. Ia bisa jatuh sakit kembali karena memikirkan Aisyah.
Al menganggap ucapan itu bentuk pengalihan agar dia tidak selalu memperhatikan Aisyah, sehingga terkesan kurang tepat dalam situasi pikirannya yang sangat kacau.
Al jadi suami bukan untuk berhenti peduli pada ketiga temannya. Dia tidak bisa melarang mereka untuk mencintainya, itu hak mereka, seperti Riany tidak bisa melarang Lukman untuk mencintainya karena itu hak Lukman.
Status suami istri hanya untuk melegalisasi perkara yang haram jadi halal, dan berlaku hanya untuk mereka. Jadi tidak serta merta semua harus berubah.
Atau Riany bangga dicintai oleh orang ketiga dalam membangun mahligai rumah tangga? Seandainya hal ini terjadi, maka mereka sudah membangun fondasi yang rapuh.
Al melihat Abi Rashid berdiri di dekat pintu koridor menuju ke ruang ICU. Pintu itu jadi batas untuk lalu lalang umum. Di balik pintu, terdapat deretan ruang ICU untuk penanganan bermacam penyakit.
Pria separuh baya itu nampak tegar menghadapi musibah yang menimpa anaknya. Dia menyambut Al dengan sejumput senyum.
"Kau sudah boleh jalan-jalan, Al?" tanya Abi Rashid. "Hari ini aku belum sempat mampir ke kamarmu."
"Alhamdulillah, aku sudah boleh pulang besok pagi. Jadi Abi tidak perlu repot menengok aku."
Al tahu Abi Rashid bolak-balik ke kamarnya bukan sekedar ingin melihat perkembangan kondisinya, ada sesuatu yang mau dibicarakan, tapi tidak ada kesempatan karena Riany selalu berada di sisinya.
Bagi Al, istri bukan penghalang untuk berbicara tentang perempuan lain. Dia justru merasa ada ganjalan kalau berbicara di belakang Riany. Lebih jauh, dia kuatir Riany berbuat serupa, padahal ada aturan berbeda untuk istri, tidak di segala aspek berlaku kesetaraan gender.
Abi Rashid barangkali sudah membaca bagaimana karakter istrinya. Riany tidak membedakan urusan persahabatan dan persoalan yang merongrong rumah tangga. Baginya, urusan sahabat bisa mengganggu ketertiban rumah tangga, padahal belum tentu.
Al keliru kalau yang ada di otaknya hanyalah istri, anak, dan urusan rumah tangga mereka. Status hanya membatasi kepedulian dan pergaulan, bukan membelenggu.
__ADS_1
"Abi tidak cerita apa yang terjadi sama Aisyah," keluh Al. "Kalian sudah seperti keluargaku sendiri."
Kalau sudah seperti keluarga sendiri, berarti Aisyah sudah serasa istri sendiri, sindir Riany dalam hati. Dia sulit menghalau perasaan cemburu, meski sudah meyakinkan hatinya kalau Aisyah hanyalah seorang sahabat.
Barangkali karena sahabat bisa dihalalkan jadi istri!
"Apa karena aku sudah punya istri sehingga Abi ragu untuk bercerita?" tanya Al. "Istriku tidak apa-apa, Abi. Dia paham tentang arti Aisyah bagiku."
"Jadi istrimu tidak masalah?" tatap Abi Rashid ingin memastikan.
Riany tersenyum manis walau terasa pahit di hati. "Aku masalah kalau Abi tertutup sama suamiku sehingga jadi pikiran suamiku."
Al tidak tahu kata-kata itu sindiran atau keluar dari ketulusan hatinya. Dia harus memberi rambu-rambu pada istrinya kalau tidak semua perilaku suami pada perempuan lain patut dicurigai.
"Istriku punya sahabat dekat laki-laki," kata Al. "Dia memberi perhatian yang sama saat Lukman mendapat musibah, dan aku tidak masalah. Jadi istriku juga tidak masalah kalau Abi terbuka padaku. Abi dengar sendiri pengakuannya."
Riany tahu suaminya mengungkit masa lalu untuk menegaskan kalau kepergiannya bersama Lukman bukan persoalan yang perlu ditanggapi secara berlebihan. Jadi Al meminta istrinya untuk tidak mencurigai perlakuan istimewanya dalam musibah yang menimpa Aisyah.
Tapi Riany tidak memiliki selembar cintapun untuk Lukman diantara beribu-ribu lembar hari yang mereka lalui. Kalau Al?
Dia sulit untuk tidak berprasangka kalau setiap permasalahan Aisyah mendapat perhatian khusus dari suaminya!
Al menatap pria berpakaian kurta dan sirwal itu sejurus. "Kenapa Aisyah? Dia mencintai aku? Lukman juga mencintai istriku. Dia bahkan mencari calon istri yang segala-galanya mirip. Apa aku masalah? Aku egois kalau melarang istriku untuk memutuskan persahabatan pada saat Lukman kena musibah. Yang penting ada aturan yang tidak boleh dilanggar."
Aku tidak mungkin melanggar aturan itu, sahut Riany dalam hati. Karena aku tidak mau berpisah denganmu. Tapi kamu bisa mengambil Aisyah tanpa perlu berpisah denganku!
Pikiran Riany jadi melayang jauh, padahal mereka datang untuk membesuk Aisyah. Sekedar membesuk saja sudah demikian heboh hatinya, bagaimana jika jalan ke arah itu terbuka?
Di antara Riany dan Al belum ada peristiwa apa-apa, jadi belum ada hal yang perlu dikuatirkan. Mereka baru memiliki ikatan yang menghalalkan untuk pergi berdua dan tidur satu kamar.
Riany menyesal atas keputusan bodoh yang telah diambil. Dia seharusnya mengisi malam pengantin dengan secangkir kemesraan, bukan mengekang suami yang sangat berhasrat. Al tidak mau mengambil hak tanpa kerelaan istrinya.
Dia terlambat untuk merubah keputusan karena Al sudah terlanjur memberi kesempatan kepadanya untuk mencapai apa yang dicita-citakan.
Riany baru sadar kalau Al punya perhatian berbeda pada Aisyah sejak kepergian Oma. Dan itu bukan karena istrinya tidak mengantar kepergian perempuan yang sangat disayanginya. Ada hal lain yang membuat Al bergeser perhatian.
Riany jadi berpikir. Kemarahan Al atas pelecehan yang dilakukan ketiga penjarah itu, apakah benar karena dia tidak sudi sahabatnya diperlakukan secara hina? Bukan karena tidak rela ada pria yang lebih dulu menjamah tubuh Aisyah, meski sebatas meraba?
Prasangka itu membuat kacau pikirannya.
__ADS_1
Abi Rashid bercerita tentang musibah yang menimpa Aisyah yang mereka sudah tahu dari pengacara. Kemudian di akhir ceritanya, dia terlihat gamang. "Aku bingung bagaimana cara menyampaikan ke anakku. Dia harus segera tahu apa yang terjadi. Dokter sudah mendesak aku."
"Lalu kenapa Abi belum menyampaikan juga?" tanya Al.
"Aku tahu siapa yang pantas untuk menyampaikan. Anakku butuh dukungan dari laki-laki yang dicintainya. Meski aku tahu harapannya adalah hampa."
Al tersenyum sedikit. "Aku tahu cinta Aisyah bukan cinta buta. Aku melihat keluhuran cintanya lebih kepada seorang sahabat. Aku tidak melihat dia berusaha untuk membuat aku terpesona, atau berusaha menggodaku."
Karena dia bergantung pada takdir, sambar Riany dalam hati. Dan dia percaya takdir akan mempersatukan kalian!
"Jadi bagaimana menurutmu?" tanya Abi Rashid.
"Aku coba untuk menjelaskan, dan aku tidak ingin dia hancur karenanya."
Al menekan bel di dinding. Suster datang untuk membuka pintu koridor.
"Ada yang bisa saya bantu, Pak?" tanya suster ramah.
"Saya ingin ketemu pasien di ruang 301."
Suster tersenyum. "Tunggu lima belas menit lagi, Pak. Jam besuk baru buka."
"Saya heran rumah sakit apa bioskop tunggu buka."
"Aturannya begitu."
"Nah, tinggal lima menit lagi. Seberapa pentingnya lima menit bagi rumah sakit? Lagian belum tentu jam dinding itu tepat."
"Saya hanya menjalankan tugas."
"Saya tahu tugas tidak jalan kalau tidak ada anda. Jadi keputusannya ada di anda. Saya berjalan ke ruang ICU saja lebih dari lima menit. Pertanyaan saya, jam besuk berlaku untuk pasien atau untuk menunggu di sini?"
"Baiklah, Pak. Silakan masuk."
"Jelas harus dipersilakan karena jam besuk sudah pas."
"Hanya satu orang ya, Pak. Gantian."
"Saya kira ngisi bensin saja antri." Al menoleh ke Riany. "Kau tidak keberatan aku besuk Aisyah sendirian?"
__ADS_1
Riany menggeleng dan tersenyum manis. "Apapun yang kamu katakan di dalam, ada istrimu setia menunggu di luar."