Cinta Untuk Gadis Madinah

Cinta Untuk Gadis Madinah
Episode 51


__ADS_3

Dari Padang Arafah rombongan menuju ke Jabal Tsur. Jarak 21 km ditempuh bis dalam waktu 23 menit.


Dinamakan Jabal Tsur karena bukit itu mirip lembu. Terletak di distrik Misfalah. Mempunyai tiga puncak yang saling berdekatan dan menyambung. Di puncaknya, ada sebuah gua yang sangat bersejarah, yakni Gua Tsur.


Pada 622 Masehi, Nabi mendapat perintah hijrah karena banyaknya ancaman dari kaum Quraisy Makkah. Masa itu merupakan waktu yang sangat sulit untuk menegakkan agama Allah. Bersama sahabatnya, Abu Bakar, Nabi bersembunyi di Gua Tsur menunggu situasi aman.


Dalam musyawarah di Darun Nadwah, para pemuka Quraisy memutuskan untuk membunuh Nabi. Mereka mengirimkan para pemuda perkasa yang berasal dari tiap-tiap kabilah Quraisy menjadi algojo.


Pertolongan Allah SWT datang ketika pemuda Quraisy yang mengejar Nabi tiba di depan gua, dengan cepatnya laba-laba dan burung dara membuat sarang menutup mulut gua. Akhirnya pemuda Quraisy itu pulang dengan tangan hampa.


Kesabaran dalam menghadapi penderitaan selama tinggal di Gua Tsur berbuah manis sampai saat ini.


Karena rombongan banyaknya sudah berumur, sedikit sekali yang ikut Al mendaki Bukit Tsur, yang muda-muda saja.


Riany terlihat kepayahan sebelum mencapai puncak bukit. Sekali-sekali beristirahat di pos pemberhentian mengeringkan keringat dengan tissue.


"Jangan paksakan kalau tidak kuat," kata Al. "Malahan jatuh sakit nanti."


"Apalah artinya pengorbananku dibanding Asma binti Abu Bakar."


Asma binti Abu Bakar adalah perempuan yang memberikan suplai makanan kepada Nabi selama bersembunyi tiga hari tiga malam di Gua Tsur. Risiko besar dihadapinya, kalau ketahuan orang Quraisy, tamatlah hidupnya.


Nidar masuk lewat pintu belakang gua yang bentuknya mirip kuali tertelungkup itu. Sementara Al dan Riany lewat pintu depan. Kaki Riany terantuk dan hampir terjatuh kalau tangannya tidak segera disambar Al.


"Batal deh," kata Al. "Gak jadi shalat sunah."


"Maaf," kata Riany merasa bersalah. "Mestinya aku nunggu di pos."


"Kan aku sudah bilang?"


"Iya, maaf."


"Kakimu tidak apa-apa?"


"Tidak."


Suasana di dalam gua agak gelap. Air mata Al menitik membayangkan betapa beratnya Nabi memperjuangkan risalah untuk menyelamatkan manusia.


Setelah semuanya mendapat kesempatan masuk gua, mereka lalu menuruni bukit dengan hati-hati. Banyak jatuh korban karena melangkah tergesa-gesa ingin lekas sampai di bawah. Erat-erat Riany memegang lengan Al yang berbalut kurta.


"Wajahmu kemerah-merahan, kayaknya makin serius sakitnya," kata Al.


Riany tersenyum sedikit. "Wajahku kemerah-merahan kena terik matahari. Kelihatan makin cantik ya?"


"Ada saatnya kamu ingin kelihatan cantik di mataku."


"Enam bulan lagi?"


"Satu tahun."


"Enam bulan!"


"Paksa-paksa."


"Biarin."


Mereka tiba di kaki bukit, minum-minum sejenak beli di pedagang eceran.


"Gelagatnya gak nyampe dapat Lc nih," goda Irma. "Dapat bayi duluan."


"Aamiin," kata Riany.

__ADS_1


Al menoleh sekilas. "Kok amin?"


"Setiap perkataan yang bagus perlu diaminkan."


"Bagus apaan? Pernikahan hari ini ruginya hari esok."


"Siapa yang minta nikah hari ini?"


"Di SMA tidak belajar majas ya?"


"Majas itu najis ya?"


"Hadas."


"Jadi enam bulan lagi ya?"


"Satu tahun."


"Enam bulan!"


Riany tersenyum. Dia malahan sempat berpikir ingin menikah sepulangnya dari Tanah Haram. Jadi Al terbentengi dari perempuan-perempuan cantik itu. Dia rela berkorban tidak kembali ke kota yang diimpikan demi cinta yang didamba. Tapi itu tidak mungkin.


"Aku tidak mau mimpiku kerja di Turki berantakan demi apa yang namanya cinta," gumam Al. "Jadi paling cepat satu tahun lagi."


"Aamiin."


"Amin lagi."


"Salah lagi deh. Terus maunya apa?"


"Kamu maunya apa?"


"Kamu tidak?"


"Masa depanku adalah kamu."


"Ingin membelenggu aku ya?"


"Jadi kamu anggap pernikahan kita adalah belenggu?"


"Biar aku tutup mata sama perempuan lain."


"Laki-laki tidak bisa tutup mata sama perempuan lain kecuali sudah tutup mata untuk selamanya."


"Takdir laki-laki."


"Kamu diuntungkan di dunia tapi dirugikan di akhirat. Kamu tidak akan masuk surga kalau aku masuk neraka."


"Kids jaman now mana bisa mendakwa suami di akhirat?"


"Aku akan mentaati kamu demi surgaku."


"Apapun?"


"Kecuali melanggar Tuhanku."


"Kalau tidak melanggar?"


"Aku tahu ke mana arah kata-katamu."


"Apaan coba?"

__ADS_1


"Madu."


"Madu lebah? Nikah saja belum."


"Pasti itu. Apa lagi?"


Rombongan masuk ke dalam bis. Al absen satu-satu. Lengkap. Lalu bis berangkat menuju ke Jabal Nur.


Jabal Nur berada di kawasan Hejaz, sekitar 7 km di sebelah timur Masjidil Haram.


Di puncak Jabal Nur terdapat Gua Hira, tempat pertama kali Nabi menerima wahyu dari Allah. Turunnya wahyu ini adalah titik awal cahaya Islam yang tidak pernah padam hingga kini.


Untuk menempuh Gua Hira, diperlukan fisik dan stamina yang kuat. Bebatuan yang terjal akan ditemui sepanjang jalan. Tak hanya itu, kemiringan medan jalannya cukup curam. Ada lebih dari 1.000 anak tangga yang mesti ditapaki untuk sampai di gua terpencil itu.


"Baiknya kamu istirahat di bis," kata Al ketika hendak mendaki Jabal Nur bersama rombongan muda lainnya. "Kalau jatuh sakit, yang ngurus kamu siapa?"


"Gak mau ngurus aku?"


"Sudah tugasku. Tapi yang ngurus rombongan siapa"


"Aku ingin ikut ke manapun kamu pergi."


"Masuk kamar juga?" sambar Pamela bengong.


"Tapi kamar pengantin."


"Gara-gara makan kikil sapi sama jengkol balado, kamu jadi aneh ya," komentar Al. "Bagaimana kalau makan gudeg manggar sama sambel krecek?"


"Kayak kamu jadinya. Ngulur-ngulur waktu."


"Cepat-cepat nikah itu apa untungnya sih?"


"Banyak."


"Satu saja contohnya."


"Bisa minta gendong ke Gua Hira."


"Yang masuk akal. Kita sekarang lagi menuju ke Gua Hira. Tidak mungkin kan nikah detik ini juga."


"Besok-besok kita ke sini lagi."


Sepanjang jalan, ada banyak penjual yang menjajakan air kemasan, makanan ringan, hingga teh. Mereka yang lelah mendaki bisa beristirahat sembari makan dan minum.


Tiba di puncak, rombongan mesti antri masuk ke dalam Gua Hira. Gua itu hanya mampu menampung empat orang saja. Keadaan di dalam cukup gelap, sebab hanya sedikit cahaya matahari yang masuk.


Riany dan Al berdiri bersisian melihat pemandangan kota Makkah yang cantik. Mereka bisa melihat Masjidil Haram dengan jelas tanpa ada gangguan gedung-gedung tinggi.


"Hari nanti aku ingin bulan madu ke bukit ini, sekalipun aku bukan Khadijah dan kamu bukan Muhammad, aku ingin kita satu untuk selamanya."


Al hanya menoleh sekilas.


"Mimpinya kepagian ya?" senyum Riany. "Mestinya berangkat agak siangan tadi."


"Aku tuh heran," gumam Al hampir tak terdengar. "Sebenarnya apa yang terjadi di Riyadh? Tiba-tiba saja kamu jadi aneh begini?"


"Orang pengen nikah kok aneh?"


"Masuk gak?" teriak Nidar sambil keluar dari dalam goa. "Lagi kamu, Ri, mepet-mepet terus. Takut Al diambil Aisyah ya?"


Ada kekhawatiran di relung hati Riany. Aisyah dengan segala pesona Arabianya dapat melumpuhkan hati yang paling setia jika aliran cinta mengering.

__ADS_1


__ADS_2