Cinta Untuk Gadis Madinah

Cinta Untuk Gadis Madinah
Episode 14


__ADS_3

Yudi datang bersalaman dengan Al selesai melaksanakan shalat Subuh berjamaah di masjid kampung, dan memujinya, "Suaramu merdu sekali. Aku serasa sholat di Madinah."


"Pernah ke Madinah?"


"Belum."


"Tahu dari mana sholat di Madinah seperti itu?"


"Channel langganan."


"Berarti serasa sholat di televisi."


"Siaran langsung dari Madinah."


"Jangan mengambil perumpamaan karena melihat ada persamaan, padahal kualitasnya jomplang. Sama saja kamu merendahkan Imam Madinah."


Subuh ini Al kembali jadi imam karena imam rawatib mendesaknya untuk maju atas masukan jamaah. Bukan hanya Yudi yang memuji bacaannya bagus. Setiap jamaah yang bersalaman dengannya melontarkan pujian serupa. Ibu-ibu mendoakan Al segera lulus kuliah dan pulang ke kampung halaman agar bisa mendengar suara indahnya setiap hari.


"Saya bukan sekolah agama, Bu," kata Al. "Saya kuliah di pertambangan."


"Maksudnya belajar bikin tambang? Buat apa sekolah tinggi-tinggi kalau cuma bikin tambang? Datang saja ke rumah si Aki, mau belajar membuat tambang jenis apa?"


Al tersenyum kecil. "Bukan tambang sapi maksudnya, Bu. Tambang berupa hasil dari dalam bumi."


"Memangnya sarjana pertambangan tidak boleh jadi imam?"


"Banyak yang lebih ahli. Di kampung ini tidak sedikit anak muda keluaran pesantren."


"Alah, keluar dari pesantren bukan membuat sejuk warga, malah menambah panas situasi."


"Ibu tinggal siapkan ember untuk mendinginkan situasi."


"Diguyur air maksudnya?"


"Terserah ibu enaknya bagaimana."


"Enaknya kamu jadi imam di masjid kampung. Jangan terbujuk oleh masjid pesantren."


Ada rasa kecewa di hati Al mendapat pujian dari mereka. Memilih imam dengan suara terindah sebuah fenomena yang mengutamakan selera. Dia menangkap kesan ritual ibadah seperti panggung hiburan, dimana penonton terpukau dan terhanyut mendengar merdunya suara artis.


Al khawatir kebiasaan ini untuk menandingi imam masjid pesantren yang memiliki suara bagus. Jika benar demikian, celakalah sholat mereka.


Jamaah banyak yang tidak segera pulang. Mereka itikaf untuk menunggu datangnya waktu Dhuha. Al memilih tempat duduk di dekat sebuah pilar, mengambil Al-Qur'an dan siap-siap mengaji.


Imam rawatib datang dan menyerahkan mic wireless. "Pakai speaker biar semua orang mendengar. Aku rindu mendengar suara muridku sewaktu kecil."


"Banyak santri Pak Ustadz. Mereka lebih fasih."


"Kamu adalah idola kampung. Mereka tentu sangat ingin mendengar suaramu mengaji. Jarang sekali anak muda bukan alumni pesantren memiliki bacaan sebagus kamu."


"Boleh saya minta bantuan Pak Ustadz?"

__ADS_1


"Bantuan apa?"


"Doakan saya untuk dijauhkan dari riya agar tidak mengalami kebangkrutan di akhirat."


"Insya Allah. Saya akan mendengarkan di dekatmu sambil membuka surah yang kamu baca."


"Itu lebih baik, agar setan tidak berani mengganggu karena ada orang berilmu di dekat saya."


Kemudian Al mulai membaca surah Ali Imran. Surah ini jadi terkenal di Eropa ketika Presiden Rusia Vladimir Putin meminta dua pihak yang terlibat perang saudara di Yaman untuk berdamai dengan mengutip ayat 103. Ayat ini juga relevan untuk mendinginkan situasi yang memanas di kampungnya.


Jamaah yang berzikir berhenti dan mendengarkan lantunan merdu Al sambil membuka Al-Qur'an surah Ali Imran. Pamela Bordin sampai menitikkan air mata teringat betapa jauh akhlaknya dari keluarga Ali Imran.


Dia sudah berusaha sedapat mungkin untuk tidak terseret pada akhlak akhir jaman, dan senantiasa berdoa agar terlindung dari kemilau uang yang menyesatkan. Dia besar oleh media dan fans dengan berbagai karakter, membuatnya riskan tergelincir ke dalam kesesatan yang nyata.


Al mengaji selama satu jam, kemudian berzikir bersama-sama sampai menjelang waktu Dhuha. Keindahan suaranya menghipnotis jamaah dan berderai air mata mereka teringat akan dosa-dosa yang telah dilakukan. Pak Haikal bahkan menangis tersedu-sedu karena takutnya akan dakwaan di pengadilan akhirat kelak.


Makanya jangan ada niat ambil madu, gerutu Bu Haikal dalam hati. Pertanggungjawaban harta sangat berat, dan istri muda dapat menjerumuskan ke neraka jahanam kalau tidak bisa berlaku adil.


Dia bangga kepada puteranya sanggup membuat masjid ini begitu hidup. Mereka tidak menyangka Al demikian magis dalam berzikir, padahal cuma mengikuti kegiatan keagamaan di masjid kampus, tidak mondok di pesantren.


"Dia akan jadi imam yang sempurna buat Vidya," puji Umi Halimah senang. "Tidak percuma anakku kuliah di Mesir kalau mendapat calon yang sepadan."


"Sepadan apanya?" komentar ibu-ibu. "Gak level kali. Al itu anak miliarder, nah, anakmu anak herder."


"Sialan kamu ya! Berani menghinaku!"


"Nah, benar kan? Dikatai begitu saja langsung menggonggong, padahal di tempat suci."


"Kamu juga sama," sergah wanita yang duduk di sebelahnya. "Sudah tahu di tempat suci, mancing-mancing."


Al keluar paling akhir dan heran melihat Pamela berdiri mematung di beranda. "Nunggu siapa?"


Pamela tersenyum menggoda. "Nunggu calon imamku."


Al menengok ke belakang, tidak ada siapa-siapa, lalu bertanya, "Siapa calon imamnya?"


"Yang bertanya."


Al mengambil sandal di rak penitipan, kemudian berjalan menuruni beranda.


"Aku ingin pulang bareng," kata Pamela sambil berjalan di sampingnya. "Sesekali kamu naik mobil aku."


"Aku biasa jalan kaki."


"Ya sudah, aku suruh sopir pulang duluan."


Pamela menghampiri sopir yang menunggu di samping mobil yang parkir di halaman. Kemudian mobil itu pergi. Dia kembali pada Al yang mulai meninggalkan halaman masjid.


Mereka berjalan di trotoar ditingkahi suara kendaraan yang lalu lalang di jalan raya. Matahari sudah cukup terik padahal hari masih pagi.


"Kamu harusnya tidak jalan kaki," kata A. "Kulitmu nanti hitam kena sinar matahari."

__ADS_1


"Aku sengaja ingin agak hitam," jawab Pamela. "Kulitku terlalu putih sehingga kelihatan kurang eksotik. Aku ingin kulitku putihnya pas kayak Riany."


Hati Al mendadak berawan mendengar nama itu. Selama ini dia menutup pintu hati dari pesona cinta bidadari kampus karena berharap ada rindu yang sama. Nyatanya dia menabung rindu yang salah.


Kecewa itu belum hilang karena cintanya kuncup sebelum mekar. Maka itu dia melantunkan ayat Illahi dan berzikir sampai menjelang waktu Dhuha untuk menghibur kegersangan hatinya.


"Kamu kecewa ya Riany sudah punya calon suami?" tanya Pamela. "Kamu terlambat pulang, seharusnya dua tahun lalu."


"Perjodohan mereka terjadi dua tahun lalu?"


"Bangsawan Arab itu datang dua tahun lalu dan aku tidak tahu perjodohan mereka tepatnya kapan."


Al tidak menyesali apa yang sudah terjadi. Seandainya dia pulang saat itu belum tentu perjodohan mereka urung. Dia hanya butuh waktu untuk melupakan cintanya.


"Kalau saja aku bisa menggantikan posisi Riany...tapi tidak mungkin."


"Jelas tidak mungkin. Mereka sudah ta'aruf."


"Maksudnya menggantikan posisi Riany di hatimu."


Al tersenyum kecil. "Jadi untuk itu kamu jalan kaki bersamaku?"


"Benar kan tidak mungkin?"


"Tentu ada alasannya kamu beranggapan begitu."


"Aku dengar kamu akan ta'aruf sama Vidya."


"Berita itu sangat cepat menyebar."


"Umi Halimah ngomong di masjid tadi."


"Jadi itu yang membuatmu tidak mungkin?"


"Kamu juga tentu tidak suka artis dangdut."


"Pernah aku bilang begitu?"


Pamela terlihat seperti memiliki harapan. "Jadi tidak masalah? Aku bersedia menutup aurat dan mempersembahkan keindahan tubuhku hanya untukmu kalau kesempatan itu ada."


"Aku tidak tahu kesempatan itu ada atau tidak. Aku tidak menutup pintu untuk semua tamu, karena aku tidak tahu tamu bagaimana yang akan datang."


"Aku berharap jadi salah satu tamu itu, terlepas kamu terima atau tidak."


"Aku berharap kamu menemani aku breakfast di lesehan."


Mereka mampir di sebuah lesehan. Pengunjung kawasan kuliner itu lumayan ramai.


Sebuah SUV mewah berhenti di pinggir jalan, dari dalam mobil turun Harbi, Riany, dan Irma. Mereka berjalan ke salah satu tempat lesehan. Mereka biasa sarapan di luar sekalian berbaur dengan warga. Riany melihat Al dan Pamela asyik mengobrol sambil duduk di sebuah lesehan.


Riany mendadak hilang selera untuk mampir. "Kita cari tempat lain saja."

__ADS_1


"Bagaimana sih gaje banget?" protes Irma. "Aku mengajak ke tempat lain kamu ingin ke mari. Sekarang berubah lagi."


Riany kembali ke lokasi parkir mobil. "Kamu mau breakfast di sini terserah, aku pergi ke tempat lain."


__ADS_2