
Bu Haikal tersenyum sinis. "Hijrah cuma modus."
"Ridwan sudah jadi sahabat Harbi," kata Al. "Mustahil menggunting dalam lipatan."
"Di depan cinta mana ada yang mustahil? Inses saja kejadian di kampung kita."
Al terkejut. "Astaghfirullah! Kampung ini sudah rusak oleh peradaban."
"Makin rusak dengan berdirinya pesantren itu."
"Jangan berkata begitu, Bu," tegur Al sabar. "Ada kesan pesantren lebih buruk dari inses."
"Inses pada dasarnya tidak merugikan orang lain."
"Lalu pesantren merugikan?"
"Jelas! Mereka sudah membuat kampung gaduh!"
"Lalu inses tidak membuat kampung gaduh?" Al geleng kepala. "Perbedaan sudah membuat warga kehilangan akal sehat."
Bu Haikal memandang anaknya dengan kesal. "Jadi kamu anggap Ibu sudah gila?"
"Kehilangan akal sehat tidak berarti hilang ingatan, tapi cenderung berpikir negatif karena akal sakit. Kesibukan warga mengurusi orang pesantren, membuat mereka lengah, dan tidak mengambil langkah konkret agar kejadian itu tidak terulang lagi. Aku jadi merasa hidup di Luxemburg."
"Kenapa kamu jadi membela orang pesantren? Kamu itu anakku!"
"Al tidak membela siapa-siapa, Bu. Tapi Al sulit untuk berpihak pada warga kampung cuma karena Al anak Ibu."
"Ibu tidak minta kamu berpihak pada warga kampung. Ibu minta kamu tidak bergaul dengan Riany."
"Ibu menginginkan Al untuk memutuskan tali silaturahmi?"
Bu Haikal terdiam. Memutuskan tali silaturahmi sangat berat ancamannya di akhirat. Tapi bagaimana anaknya menjaga silaturahmi tanpa berkomunikasi? Mereka harus bertegur sapa.
"Mengapa kita harus menciptakan jurang dan bukannya jembatan di atas perbedaan?" tanya Al.
"Ibu takut kamu tergoda," jawab Bu Haikal kuatir. "Musibah bagi keluarga ini jika kamu mengambilnya sebagai istri."
"Kenapa?"
"Ibu ingin ditahlilkan kalau meninggal."
"Insya Allah ditahlilkan," jawab Al. "Kita harus mengakui ada yang perlu dibenahi dalam pelaksanaan tahlil di kampung ini. Jika orang tahlil bawa piring, gelas, makanan, dan minuman sendiri dari rumah, bid'ahnya di mana? Haram itu karena habis tahlil menyantap harta anak yatim, menyusahkan orang kena musibah."
"Kalau shohibul musibah ikhlas bersedekah untuk santapan orang tahlil, bagaimana?"
"Jika ada ijab qabul bahwa shohibul musibah ikhlas bersedekah dari harta mereka, atau semasa hidup berwasiat agar sebagian harta disedekahkan buat santapan orang tahlil, atau lingkungan menanggung semua kebutuhan tahlil, haramnya di mana?"
"Menurut mereka tahlilan adalah perkara baru."
"Tidak semua perkara baru bid'ah. Maka itu kita butuh mujtahid. Perkara baru yang sudah jelas dilarang saja jadi pedoman bagi semua golongan, dan tidak ada perdebatan."
"Apa itu?"
__ADS_1
"Kitab Suci Al-Qur'an. Nabi jelas melarang untuk dikumpulkan, dibukukan. Tapi pada masa khalifah yang empat dikumpulkan, dibukukan."
"Kalau tidak begitu kita belajar dari mana? Penghapal Al-Qur'an dari masa ke masa semakin berkurang."
"Artinya perkara baru jangan jadi persoalan karena situasi jaman berbeda, dan mujtahid yang menentukan. Ikutilah pendapat sekelompok ulama, bukan seorang ulama."
"Riany pasti tidak setuju Ibu ditahlilkan."
"Apa urusannya?"
"Jadi kamu tidak ada niat menjadikannya sebagai istri?"
"Riany sudah punya calon imam, Bu. Mohammed Al Harbi."
"Ibu tahu cintanya buat siapa."
Al tersenyum miris. "Begitu hebatnya apa anak Ibu sampai bisa merebut Riany dari tangan Harbi?"
"Ibu tahu kalau kalian tidak terpisahkan sejak kecil, tidak juga perbedaan. Apa itu tandanya?"
"Jawabannya pasti menjebak."
"Takdir mempersatukan kalian. Tidak ada jaminan Harbi jadi suami Riany, sekalipun abinya sudah menentukan."
Dipikir-pikir lucu juga. Waktu anak-anak, mereka tidak pernah akur, tapi saling bantu kalau ada serangan dari luar. Lalu Riany jadi ratu kecilnya padahal musuh bebuyutan. Apa takdir mereka harus bersatu?
"Al bukan laki-laki penggoda."
"Ya iyalah kamu bukan lahir dari stupa."
"Sebagai perempuan, Ibu tahu perasaan Riany walau disembunyikan di balik baju syar'i."
"Sejak dewasa, Al baru sekarang ini bertemu dengan Riany."
"Tapi gadis itu mengikuti perkembangan kamu dari Madinah, dan selalu comment di medsos Ayah; semoga jadi calon imam yang terbaik dari yang pernah ada."
"Al calon imam kan, Bu?"
"Yang lain tidak comment begitu."
"Karena Riany paling tahu masa kecil Al."
Bu Haikal ingat sesuatu. "Oh ya, kenal Umi Halimah?"
Umi Halimah adalah ibunda Vidya Ambarwati. Gadis itu kuliah di Mesir. Ayah tidak luput menyampaikan kabar tentang anak-anak kampung yang berpikiran maju. Dia adalah selir kedua masa kecilnya.
Pamela dan Vidya mengadakan sayembara bagi semua kepala suku dari beberapa kampung. Bagi kepala suku yang mampu mengalahkan mereka dalam pertarungan silat, maka mereka bersedia jadi ratu atau selir.
Sekali lagi Nidar mendesaknya untuk ikut. Al kali ini tidak butuh akal liciknya untuk mengalahkan mereka. Karena sudah punya ratu, maka mereka jadi selir pertama dan kedua.
"Hari ini pulang dari Kairo," kata Bu Haikal. "Dia tidak kalah cantik dengan Riany."
"Terus?"
"Besok ada undangan makan malam."
__ADS_1
Al tersenyum sedikit. "Ceritanya ta'aruf?"
"Kalau cocok apa salahnya?"
"Sama Ayah dan Ibu perginya?"
"Ayah tidak, ada pengajian."
"Dan Ibu mementingkan undangan makan malam?"
"Pengajian bapak-bapak."
"Al berarti tidak bisa."
"Memangnya kamu bapak-bapak?"
"Ada larangan calon bapak-bapak ikut pengajian?"
Bu Haikal jadi naik tensinya. "Jadi kamu ikut-ikutan genit kayak ayahmu? Atau ayahmu ngasih tahu kalau adiknya janda itu datang dari Palestina kemarin?"
Begini kalau perbedaan banyak ditunggangi kepentingan. Gampang terjadi letupan. Semua yang dilakukan jadi tidak baik karena majelisnya ada di paviliun rumah Ustadz Bashori. Padahal pengajian itu sudah ada dari dulu.
Kejengkelan Bu Haikal semakin menjadi-jadi karena Fatimah dikabarkan membelot. Dia sholat di masjid pesantren belakangan ini, padahal dia ingin menghindari gunjingan. Kabar kedekatan dengan Pak Haikal semakin kencang berhembus.
Akibatnya, kecurigaan Bu Haikal kepada suaminya makin memuncak. Jangankan mendengar kabar mampir di rumah Fatimah, mampir di kamar Al pun dicurigai.
"Ada perlu apa ayahmu barusan?" Bu Haikal masuk ke dalam kamar tidak lama berselang suaminya pergi. Kecurigaannya demikian kental.
Al sedang membaca kitab Sullam al-Munajah karya Imam Nawawi sambil duduk bersandar di tempat tidur.
"Minta persetujuan," jawab Al.
"Tuh kan?" Wajah Bu Haikal berubah panik. "Kabar yang beredar berarti benar."
"Ibu ini kenapa sih?"
"Terus apa jawaban kamu?"
"Setuju."
"Setuju?" Mata Bu Haikal mendelik. "Kamu tidak sayang sama Ibu?"
"Justru karena sayang sama Ibu, makanya Al setuju."
"Sayang apaan?" sambar Bu Haikal jengkel. "Kamu melukai hati Ibu!"
Al menoleh heran. "Kok melukai sih, Bu? Katanya ini keinginan Ibu?"
"Keinginan Ibu?" belalak Bu Haikal kaget. "Pintar sekali ayahmu! Dikiranya Ibu ini Siti Saudah apa? Yang ikhlas dimadu karena keluhuran budi pekertinya!"
Al tersenyum menahan geli. "Ikan kembung ikan sabu, gak nyambung, Bu."
"Nggak nyambung apaan? Jelas-jelasan kamu setuju!"
"Iya, Al setuju ngambil pasca sarjana di Maroko, sesuai kemauan Ibu."
__ADS_1
Bu Haikal terpana.