Cinta Untuk Gadis Madinah

Cinta Untuk Gadis Madinah
Episode 110


__ADS_3

Al kaget. "Bagaimana Riany bisa berpikir begitu? Aku tidak mungkin meninggalkan istriku. Aku tidak ada alasan untuk pergi darinya."


"Syukurlah," kata Aisyah.


Al memandang gadis itu separuh protes. "Kok syukurlah?"


"Aamiin," ucap Aisyah. "Untuk yang baik-baik kita harus mengaminkan, begitu maksudmu?"


"Maksud aku kenapa Riany sampai punya pikiran takut ditinggalkan?"


Aisyah bimbang untuk menjawab. Kelihatannya bukan saat yang tepat untuk menceritakan sekarang. Proposal pasti terbengkalai.


"Selesaikan dulu kerjaanmu," kata Aisyah. "Kau datang untuk bantu aku, kan?"


Aisyah menggerakkan tuas kursi roda meninggalkan Al. Sebelum menutup pintu kamar, dia berkata," Fokus ya. Jangan sampai nulis hubungan politeknik dan poligami...."


Al ternganga. Riany pasti cerita tentang kesalahan ketik itu. Tidak ada lagi yang tahu selain dirinya. Jadi sudah sejauh itu kedekatan mereka?


Al tidak marah istrinya cerita pada mereka. Dia malu juga sebenarnya, tapi bagaimana lagi?


Istrinya terlalu muda untuk membedakan mana yang perlu dirahasiakan mana yang boleh jadi santapan dengan teman-temannya.


Dia hanya berpikir bahwa typo itu adalah kejadian lucu!


Al tidak mau mengulang kesalahan ketik. Dia berusaha fokus meski dalam hatinya rasa penasaran menggunung.


Apa yang telah dibicarakan antara Riany dan Aisyah sampai istrinya berubah secara drastis?


Perempuan suka sekali membuat laki-laki penasaran!


Tidak rumit membuat proposal judul skripsi. Yang penting bahannya lengkap, termasuk permintaan dosen pembimbing.


Untuk nama dosen pembimbing ini kadang tidak mutlak, komisi review kadang mengganti dengan dosen lain karena dosen yang bersangkutan sudah memegang banyak mahasiswa.


Al sendiri tidak mengajukan nama dosen pembimbing yang diinginkan. Dia bisa bekerja sama dengan dosen mana saja.

__ADS_1


Permintaan dosen pembimbing hanya masalah like dan dislike. Jadi Al sudah tahu siapa dosen pembimbing yang diminta Aisyah. Tiga-tiganya perempuan.


Al mengirim chat agar Aisyah segera datang ke ruang belajar. Proposal sudah selesai.


Aisyah muncul di pintu dan berkomentar, "Cepat banget."


"Apa susahnya bikin proposal? Yang bikin mumet itu pas ambil sampel penelitian. Kamu sedikit repot kayaknya kalau ngambil judul kayak begini. Coba periksa lagi."


Aisyah memeriksa hasil ketikan di layar laptop. Mereka duduk berdekatan. Wanginya parfum Arabia membuat pernafasan Al segar.


"Aku baru sadar kalau wajahmu sangat cantik," puji Al sambil memandang sekilas.


"Pujian itu untuk istrimu," kata Aisyah santai, tanpa ada rasa bangga di hatinya. "Kamu jadi genit setelah punya istri."


Al belum pernah segampang itu memujinya. Dia bahkan sangat hati-hati dalam urusan perempuan.


"Kok genit?" protes Al. "Aku memuji kesempurnaan ciptaan Allah, tanpa syahwat."


"Aku mana tahu kamu melihat aku dengan syahwat atau tidak? Mata bisa menipu."


"Setidaknya bisa jadi referensi. Kamu tahu dari mana kalau nggak lihat bahasa tubuh dan perbuatan aku? Memangnya kamu bisa membaca hati aku?"


Tidak mudah untuk mendapat kepercayaan Aisyah. Masing-masing perempuan punya kriteria sendiri untuk menentukan modus atau bukan. Dia biasanya minta bantuan pada sujud malamnya, karena tidak ada yang bisa membaca isi hati seseorang, paling menebak-nebak.


"Kamu bikin proposal keren banget," puji Aisyah tulus. "Sudah begini, bagus. Tinggal cetak."


"Urusan cetak gampang. Kamu cerita dulu."


"Cerita apa?"


Al berusaha untuk sabar. "Apa semua perempuan begini? Pura-pura lupa sama janjinya?"


"Janji apa?" tatap Aisyah heran. "Aku tidak janji apa-apa."


"Betul kamu nggak janji. Tapi kamu seakan memberi isyarat kalau kamu akan bercerita tentang apa yang dibicarakan sama istriku setelah proposal ini selesai."

__ADS_1


Aisyah tersenyum manis. "Aku cuma tidak mau dia curiga dan cemburu padaku. Aku bisa merebutmu di Tanah Suci, tapi tidak kulakukan, karena kamu sudah terlanjur memilih."


Ada satu momen di Tanah Suci yang membuat Al goyah dengan pilihannya saat Riany tidak menghadiri pemakaman omanya. Tapi dia kira bukan itu alasan yang membuat istrinya bersedia berbagi suami.


"Aku tahu ada wasiat Oma yang kamu sembunyikan dariku," kata Al. "Padahal saat itu aku betul-betul akan melaksanakan permintaan Oma."


"Saat itu?" Keceriaan di wajah Aisyah sedikit berkurang. Ia berkata separuh mengeluh, "Jadi sekarang sudah terlambat. Buat apa kamu pengen tahu?"


Al semakin curiga mendengar kata-kata Aisyah yang mengundang penasaran. Dia harusnya berterus terang di Tanah Suci kalau wasiat Oma menyangkut perkara mereka bertiga.


"Aku tidak memaksa kalau kamu tidak mau memberi tahu," ujar Al. "Kau sudah tahu tentang arti sebuah wasiat. Aku wajib dikasih tahu kalau wasiat itu ada hubungannya denganku."


Wajah Aisyah berubah sendu. Dia kelihatan sulit untuk berterus terang, tapi pemuda di hadapannya punya hak untuk tahu, dan dia salah kalau menutupinya. "Kau juga tahu jika wasiat itu memberatkan seseorang, maka tidak perlu dilaksanakan."


"Memberatkan bagaimana, maksudmu?"


"Kau akan tahu sendiri nanti. Oma mengirim rekaman wasiatnya sebelum masuk pintu satu untuk berjumpa dengan Nabi. Dia seakan sudah punya firasat kalau pertemuan dengan Nabi adalah saat terakhir hidupnya."


Aisyah membuka chat yang berisi video kiriman Oma, kemudian diserahkan pada Al untuk memutarnya. Gambar Oma terlihat sedikit gelap, berada di kamar hotel di Makkah, tapi suaranya terdengar jelas:


"Cah Bagus, aku tidak tahu tiba-tiba saja ingin membuat video ini. Aku melihat kamu sangat menderita karena kepergian Riany yang seenak-enaknya tanpa pendamping. Kau berusaha menyembunyikan kegelisahanmu dariku."


"Cah Bagus, aku tiba-tiba saja kuatir dengan calon istrimu. Dia begitu gampang meninggalkan tanggung jawab karena ada kepentingan pribadi yang seharusnya tidak perlu membuatnya pergi berlarut-larut. Apakah dia tidak memanfaatkan kesempatan yang ada?"


"Cah Bagus, aku tidak bermaksud mempengaruhimu. Aku hanya berpikir seandainya dia menunggumu pulang untuk pamit, adalah jauh lebih baik. Dia bisa pergi menyusul Lukman dengan pendamping."


Rekaman pertama habis, Al putar rekaman kedua. Gambar Oma sangat jelas, sejelas suaranya, durasinya cukup panjang. Dia lagi berdiri di pintu dua puluh lima Masjid Nabawi:


"Cah Bagus, aku tidak tahu tiba-tiba saja aku merasa usiaku sudah sangat dekat. Maka itu aku ingin bicara banyak denganmu. Aku merasa kamu memberi izin kepada calon istrimu untuk pergi ke Riyadh adalah sebuah kesalahan besar, sehingga membuatmu galau berat, itu kesan yang kutangkap dari puisimu. Aku tahu kau berada di persimpangan."


"Cah Bagus, aku kira calon istrimu belum matang untuk mengurus segala keperluanmu, belum matang menjaga kesetiaannya, belum matang untuk duduk bersanding di pelaminan, belum matang untuk mengelola harta tiga ratus miliar yang sudah kuberikan padamu."


"Cah Bagus, ada rahasia yang belum aku sampaikan padamu. Aku dapat warisan tujuh ratus miliar dari Simbah buyut, dan harta itu kuberikan padamu setelah kau jadi sarjana. Tapi aku kuatir dengan calon istrimu, tidakkah ada sedikit cinta untuk perempuan yang menemani aku di saat-saat terakhir?"


"Cah Bagus, aku sudah ngobrol banyak dengannya, dan percayanya pada takdir sangat menawan hatiku. Aku tidak memintamu untuk membatalkan perjodohanmu. Kamu perlu bekerja keras untuk mendidiknya menjadi perhiasan yang terindah dari yang pernah ada, sebagaimana harapanmu, sekalipun aku lebih memilih perempuan yang terakhir tidur bersamaku."

__ADS_1


Al terdiam. Dia berusaha menahan kepedihan yang mendera dadanya. Dia tidak tahu perasaan apa yang ada di dalam hatinya saat ini.


Dia sudah curiga pasti ada wasiat yang ditinggalkan sebelum kepergian Oma. Mengapa Aisyah baru memberi tahunya sekarang?


__ADS_2