Cinta Untuk Gadis Madinah

Cinta Untuk Gadis Madinah
Episode 135


__ADS_3

Belinda sudah menunggu di beranda ditemani kedua orang tuanya ketika mereka tiba di rumahnya. Papi dan maminya sengaja menunda keperluan mereka karena ingin bertemu dengan Al.


"Sebelumnya saya minta maaf karena kedatangan saya terkesan mendadak," kata Al setelah bersalaman dengan mereka. "Saya kira tidak cukup minta izin lewat telpon."


"Oh, tidak apa-apa," ujar mami Belinda ramah. "Meski kita baru bertemu muka, tapi Jennifer sudah sering bercerita tentang kamu. Ternyata orangnya lebih dari apa yang diceritakan."


Al tersenyum sedikit. "Lebih apanya, Tante?"


"Segalanya," jawab mami Belinda tersenyum. "Oh ya, bagaimana usaha butiknya? Aku tertarik untuk bekerja sama, kebetulan aku memiliki produk bermerek."


"Saya sangat mengapresiasi itikad Tante. Tapi baiknya lain kali saja kita bicarakan. Kita tidak banyak waktu hari ini. Tante dan Om harus menghadiri sebuah acara, saya harus segera ke bandara."


"Ya, saya kira begitu. Tolong jaga anak saya. Maklum baru pertama kali ke Madinah. Kenapa tidak sekalian umrah saja?"


"Waktunya terbatas, Tante. Minggu depan saya harus mempresentasikan proposal skripsi saya."


"Alah, itu gampang diatur. Yang penting kamu sudah memiliki apa yang dicari para sarjana baru. Apa artinya titel kalau cuma untuk jadi pengangguran?"


Mami Belinda kelihatannya suka mengobrol. Mereka bisa telat kalau Al tidak segera menutup pembicaraan. Dalam pertemuan singkat itu, dia mendapat kesan positif kalau orang tua Belinda adalah crazy rich rendah hati.


Tidak seperti orang kaya di tanah kelahirannya. Beli pakaian mahal saja langsung update status. Akhirnya muncul komentar negatif dari follower yang tidak mampu membelinya.


Pamer kekayaan lagi membudaya di kotanya. Mereka haus akan pujian. Padahal orang terbaik adalah populer di bumi dan terkenal di langit.


Papi Belinda kelihatannya pendiam dan seorang pemikir. Dia akan jadi pendengar yang baik bagi istrinya. Al bersyukur adiknya memiliki pacar dari keluarga harmonis, sehingga kemungkinan kecil mereka terjerumus karena broken home.


"Lulus SMA mau fokus di sinetron atau melanjutkan sekolah?" tanya Al dalam perjalanan menuju bandara. "Jangan jawab kalau menurutmu pertanyaan itu masuk ranah privasi."


"Jadi artis sinetron break dulu," kata Belinda. "Mami menginginkan aku sekolah mode di Institut Français de la Mode."


Al tampak surprise. "Kok bisa sama ya dengan Arya? Dia ingin kuliah pertanian di University of Toulouse. Kalian sudah janjian apa untuk sekolah di Prancis?"


Arya bengong. Kapan dia bilang mau sekolah pertanian di Prancis? Tapi dia paham maksud kakaknya. Dia diwajibkan mengambil jurusan yang sesuai dengan bisnis keluarga.


"Kamu mau kuliah di Toulouse kok nggak bilang-bilang?" protes Belinda.

__ADS_1


Arya jadi gelagapan. "Ya ... soalnya masih pikir-pikir."


"Kalau tahu kamu kuliah di Prancis juga, adikku pasti tidak pikir-pikir," potong Al. "Dia bimbang untuk meninggalkanmu. Soalnya kabar kedekatanmu sama lawan main di sinetron prime time itu makin santer saja, bikin panas kuping pacarmu."


"Aku tidak ada hubungan apa-apa dengannya. Fans saja tidak ada kerjaan."


"Jadi pacarmu cuma satu?"


"Jangan dengerin omongan Arya. Mami pernah memergokinya mengantar pulang teman sekelasku habis syuting iklan. Dia tidak tahu kalau ibunya adalah teman bisnis Mami."


"Kebetulan mobilnya mogok pas aku lewat." Arya membela diri. "Masa dibiarkan naik ojek online?"


"Alah, bilang saja gatal!"


"Tetanggamu CEO pabrik salep. Tinggal minta kalau aku gatal."


"Jadi kamu sering main ke rumah sebelah kalau aku tidak ada? Tante itu lagi viral punya sugar baby! Jangan-jangan kamu!"


Arya melongo. Dia betul-betul sudah salah ucap. Dikiranya perempuan baik-baik.


"Mami kamu banyak banget teman bisnisnya ya?" komentar Al. Kelihatannya Belinda memiliki karakter hampir mirip dengan istrinya. Pasti seru jika naik ke pelaminan. "Semua teman kuliahnya?"


"Jennifer omanya pacarmu."


"Ya, Oma Jen."


"Nah, terus di Paris tinggal sama keluarga atau bagaimana?"


"Aku tidak punya keluarga di sana. Rencananya tinggal di apartemen."


"Bahaya kalau begitu. Aku jadi berpikir ulang untuk mengizinkan Arya kuliah di Toulouse. Bukan tidak percaya pada kalian, tapi di City of Debaucher itu sangat memungkinkan untuk tinggal bersama, bahkan pesta orgi. Atau begini saja, biar tidak terjebak maksiat, bagaimana kalau sebelum berangkat ke Prancis kalian menikah dulu? Jadi kalian bebas untuk berbuat apa saja di kota yang menjunjung kebebasan itu."


Arya terpana. Dia menyampaikan hal itu kepada kakaknya baru sekedar wacana. Belum ada pembicaraan sama sekali dengan pacarnya. Tapi ada bagusnya juga ditembak sekarang. Dia jadi tahu bagaimana jawaban Belinda.


"Kok bengong?" tanya Al melihat gadis itu terdiam. "Keberatan ya? Atau memilih hidup bebas di Kota Cahaya? Aku tidak yakin kalau kalian sanggup bertahan."

__ADS_1


"Pertanyaan kakak terlalu tiba-tiba," dalih Belinda. "Aku tidak tahu bagaimana menjawabnya."


"Seharusnya kamu sudah ada pikiran saat aku mengajakmu ke Kota Suci. Hal itu menyiratkan kalau aku menaruh perhatian serius kepadamu."


"Aku sudah kepikiran ke arah itu. Tapi lulus SMA...apa tidak terlalu cepat? Aku ingin meniti karir dulu."


"Jadi pernikahan dianggap sebagai penghalang bagi karirmu? Karir macam apa yang ingin dicapai? Atau kamu menganggap adikku cuma layak untuk jadi pacar, tapi tidak cocok untuk jadi suami? Ya sudah, tidak apa-apa. Cuma pesanku, pacaran bersih dan pertahankan di Paris nanti. Jika suatu saat ingin berpisah, maka berpisahlah secara baik-baik, jangan saling menyakiti."


Seperti kamu dan tanteku, jawab Belinda dalam hati. Dia tidak mau bernasib seperti tantenya. Aisyah begitu mencintai Al, tapi mereka harus berpisah dengan cara yang salah. Tapi adakah cara yang benar untuk sebuah perpisahan?


"Kamu teringat Tante Aisyah ya?" tembak Riany. Dia mendengarkan saja percakapan mereka karena tidak ada hal yang perlu disampaikan. Dia tahu suaminya khawatir dengan hubungan mereka, maka nikah muda adalah solusi terbaik. "Tantemu sangat percaya takdir, sedangkan kamu sangat percaya karir."


"Kakak ipar bisa saja."


Riany memandang tak percaya. "Kakak ipar? Jadi kamu...?"


Belinda tersenyum manis. "Aku sebenarnya tidak masalah nikah muda. Cuma tanya sama play boy yang duduk di depan, dia siap tidak nikah muda? Jangan sampai baru dua bulan sudah cerai karena tergoda bintang iklan. Aku cuma ingin ada satu laki-laki yang menemani tidur untuk seumur hidupku."


"Artis bukannya doyan kawin cerai?" sindir Arya. "Jangan-jangan hari ini nikah denganku, besok bulan madu sama bintang sinetron itu."


"Kamu lihat kan saat aku syuting? Dan aku selalu minta kamu untuk hadir biar percaya."


"Aku bukan sutradara. Jadi aku tidak tahu adegan mesramu itu cuma akting atau sungguhan."


"Mesra apaan? Ciuman saja nggak kena."


"Jadi kamu pengen kena?"


"Ya sudah! Lulus SMA kita nikah! Terus kita tinggal satu apartemen di Prancis! Lulus sekolah mode aku langsung terjun ke perusahaan konfeksi Mami! Dan berhenti jadi artis sinetron kalau kamu berhenti jadi play boy!"


Arya mengusap-usap kepala. "Berat banget syaratnya? Kamu pasti tidak ada waktu untuk syuting karena sibuk mengurus perusahaan. Jadi sudah seharusnya berhenti jadi artis."


"Kamu juga sudah seharusnya berhenti jadi play boy karena sudah jadi suamiku. Adil kan?"


"Aku tahu kalian belum siap untuk nikah muda," tukas Al. "Tapi cuma itu yang bisa menenteramkan orang tua kalian. Aku bicara demikian tidak secara mendadak, aku sudah bertukar pikiran dengan ibuku dan papimu lewat telpon, dan menurutku sekaranglah momen terbaik untuk menyampaikannya. Jadi di Madinah nanti persiapkanlah diri kalian baik-baik, saling mengenal kekurangan dan kelebihan masing-masing melalui jalan suci. Berjanjilah di depan Penghulu Para Nabi untuk saling setia dalam lindungan-Nya."

__ADS_1


Mereka tiba di terminal bandara. Sopir mengantar sampai pintu imigrasi. Mereka menjalani pemeriksaan untuk keberangkatan.


Jam 16.00 WIB mereka terbang menuju ke Kota Suci dengan pesawat jumbo jet.


__ADS_2