
Malam ini Oma tampil beda. Mengenakan abaya Arab model terbaru dengan detail bordir unik. Sehingga kelihatan anggun dan lebih muda.
"Oma kayak peragawati 60-an," puji Al. "Kapan belinya? Kok Al tidak tahu ya?"
Mereka berjalan melewati pintu King Aziz menuju ke lantai dasar sa'i. Malam ini Oma ingin tahajud di antara Shafa dan Marwah.
"Hadiah dari Riany, beli di Riyadh."
Al terdiam. Pakaian berbahan crystal satin sangat mahal dan tidak ada di eceran. Sempat-sempatnya Riany pergi ke boutique, atau dia menginap di hotel yang mengadakan pagelaran fashion?
"Itu tandanya calon istrimu perhatian. Biar sesibuk apapun, secapek apapun, menyempatkan waktu untuk beli baju buat Oma."
"Jadi Al kurang perhatian?"
"Cucuku kok baperan?"
Al mengeluarkan kotak mungil dari saku gamis, dan menunjukkan jam tangan emas hadiah dari Aisyah.
"Cantik sekali," komentar Oma takjub. Dia mengambil jam tangan dari dalam kotak dan memakainya. "Pas. Pasti mahal ya harganya?"
"Beda-beda tipis sama abaya."
"Terima kasih ya, cah bagus."
"Dari Aisyah."
Aisyah tahu Al tidak suka jam tangan. Cuma sesekali pakai. Tapi Al berpikir ada yang menuntun Aisyah untuk membeli jam tangan itu.
"Sampaikan terima kasih Oma ke Aisyah."
"Jadi tidak hanya Riany yang perhatian sama Oma."
"Ada apa, cah bagus? Kamu kayak tidak suka Oma memujinya."
"Maksud Al bukan hanya Riany yang perhatian, tapi semua orang perhatian sama Oma."
"Terus hadiah kamu apa?"
"Nanti juga Oma tahu."
"Sengaja bikin penasaran Oma ya?"
Mereka tiba di lantai dasar sa'i. Suasana sunyi. Oma berjalan ke pilar besar dekat wastafel zam zam, dan mengeluarkan perangkat shalat dari tas kecil.
Al diam termangu. Pilar itu adalah tempat Opa berindu-rindu dengan Tuhannya, menangisi segala dosa dan mensyukuri segala nikmat. Di hari lahirnya ini Oma begitu ceria berada di pilar itu. Tidakkah karena hadiah yang diberikan Riany dan Aisyah adalah sama persis dengan kado yang diberikan Opa?
Tak terasa air mata meleleh membasahi wajah Al dan menetes jatuh ke lantai dingin kala bersujud. Dia tahajud di dekat sebuah pilar yang diyakini tempat Hindun binti Utbah berpasrah diri karena keluhuran akhlak Nabi dan menyatakan keislamannya, setelah sekian lama menyakiti Nabi.
Pilar itu letaknya agak jauh dari Oma. Al tidak mau mengganggu kekhusyu'an Oma berindu-rindu dengan khaliknya.
Selesai berdoa, Al bangkit dan menemukan Riany duduk di belakang dengan berurai air mata, baru selesai berdoa. Kiranya gadis itu menghiasi tahajud dengan doa tanpa suara sehingga Al tidak mendengarnya.
"Aku bersumpah kepada Tuhanku," kata Riany lirih. "Demi laki-laki yang bersujud di depanku, tidak ada sedikit pun rasa itu kepada Lukman, tidak ada sebiji cela perbuatan disaat kepergianku."
"Aku bukan Muhammad yang diberi tahu Jibril atas kebenaran sumpah istrinya."
"Karena aku bukan Aisyah."
"Lalu?"
"Waktu itu aku panik karena sahabatku kena musibah, hingga aku berbuat bodoh. Seharusnya aku menunggumu pulang dari Haram."
"Tidak ada kewajiban minta izin dariku."
"Kamu calon suamiku."
"Artinya belum jadi istri. Tidak ada kepatuhan untukmu."
"Tapi aku perlu minta maaf karena meninggalkan tanggung jawab. Aku sudah menyusahkan kamu."
"Bagaimana keadaan Faye sekarang?"
"Masih koma di Rumah Sakit Green Crecent."
__ADS_1
"Dan kamu tinggalkan?"
"Ditunggui Lukman."
"Keluarganya?"
"Dalam perjalanan dari New York."
"Kenapa kamu pulang padahal Lukman butuh spirit darimu?"
"Karena aku merasa bersalah padamu. Tidak ada yang lebih penting di hatiku selain perasaan itu."
"Dan baru terpikir setelah ada di Riyadh?"
"Aku sebenarnya ingin bawa Irma. Tapi siapa yang menemani Oma tidur?"
"Kamu bisa bawa Nidar. Dia pendamping aku. Kamu bisa minta Nek Surti buat menemani Oma tidur. Banyak perempuan di rombongan ini yang lebih Oma sukai dibanding Irma. Bila perlu, aku sendiri menemani Oma."
Air mata laksana kristal mengalir di wajah tak berniqab itu.
"Yang aku khawatirkan perbuatan ini terjadi karena saking senangnya kamu pergi berdua sama Lukman ke Riyadh. Lalu kamu kecewa ketika mendapati kenyataan Lukman begitu setia sama Faye dan akhirnya kamu pulang cepat."
"Tega kamu ngomong begitu ke aku."
"Lebih tega mana, kau pergi bersama laki-laki lain tanpa pendamping dan meninggalkan aku dengan rombongan banyak masalah?" Al menatap Riany dengan tenang tapi menusuk, kemudian menarik nafas pelan-pelan. "Sudahlah. Kalau mau bahas ini, baiknya nanti di kampung."
"Bahas apa lagi?" pandang Riany tak mengerti di balik air mata yang menggenang. "Aku sudah sampaikan semuanya. Setitik pun tidak ada yang hilang dari diriku karena perjalanan itu. Kau ingin tahu cerita menit per menitnya?"
"Aku datang ke Tanah Haram untuk memenuhi panggilan Tuhanku, bukan untuk keperluan lain," ucap Al seakan ingin mengakhiri perdebatan itu.
Riany merapikan peralatan shalat, dimasukkan ke tas kecil, kemudian mengeringkan air mata dengan tissue.
Oma datang, dan berkata, "Cah ayu. Ayo kita cari tempat di pintu Ali, keburu banyak orang."
"Sudah banyak, Oma."
"Maka itu cepetan, tidak kebagian tempat nanti."
Al menatap Oma separuh protes. "Gak ngajak cucu Oma?"
"Terus Al suruh ngurus rombongan?"
"Ada Nidar," jawab Riany. "Sudah menunggu di pintu Ali."
Oma menoleh dengan surprise. "Kok bisa sama ya pintunya?"
"Hari ini kan harinya Oma. Pagi kita pesta gudeg manggar sama sambel krecek."
"Pagi ini sudah aku siapkan hadiah buat Oma," kata Al dingin.
Oma memandang dengan antusias. "Apa itu?"
"Lihat saja di lantai 63 kamar 63."
Riany dan Oma terpana.
"Kamu ngajak Oma pindah?" tatap Riany setengah tak percaya.
"Aku ingin menghabiskan sisa hariku di Makkah bersama Oma."
"Kok jadi gini sih, Al?"
"Jadi gimana?"
"Acara sendiri-sendiri."
"Aku tidak tahu ada pesta."
"Kamu susah dihubungi."
"Kan bisa ngasih tahu Irma."
"Sudah."
__ADS_1
"Gak nyampe."
"Sampai ke Oma, cah bagus."
"Kok Oma gak ngasih tahu?"
"Yang ulang tahun kan Oma."
"Irma tidak ngomong apa-apa ke kamu?" tanya Al.
Riany balik bertanya, "Soal apa?"
"Apa saja."
"Apa saja itu apa?"
"Ya sudah," Al angkat bahu sedikit. Jadi Irma tidak cerita tentang Aisyah? Syukurlah. "Pestanya pindah ke lantai 63."
Riany terlihat penasaran. "Bukan soal pesta, kan?"
"Soal apa lagi?" balik Al santai.
Oma tersenyum. "Tidak apa, cah ayu. Ini hadiah terindah dari cucuku."
"Tapi, Oma...."
"Kejauhan ya kalau kangen sama cah bagus?"
"Kalau sudah masuk kuliah lebih jauh lagi, Oma. Mesti ke Yogya."
"Biar cah bagus ke Madinah."
"Pasti lupa kalau punya calon di Madinah."
"Cah ayu bisa saja."
"Oma belum tahu ya teman-teman gadisnya itu kayak apa?"
"Kayak apa tuh?"
"Nanti Riri ceritakan."
Bilamana rasa tidak percaya mulai bertunas, maka setiap apa yang dilakukan pasti menimbulkan prasangka tidak baik.
Al memesan kamar 63 di lantai 63 karena setiap kali Oma ulang tahun Opa selalu menghadiahkan kamar di lantai yang nomornya sama dengan usia Oma.
Uniknya mereka tidak merayakan hari perkawinan. Alasannya tidak mau mengingat berapa lama kebersamaan itu tercipta. Mereka hanya ingin mengingat berapa banyak nikmat yang tercipta dari kebersamaan itu. Karena di dalam kenikmatan sudah tentu ada kebersamaan, tapi di dalam kebersamaan belum tentu ada kenikmatan.
Tapi Riany beranggapan bahwa Al memanfaatkan momen itu untuk menghukum dirinya. Tidak mau bertemu setiap waktu dengannya.
Al tidak tahu kalau di Riyadh Riany begitu terguncang. Bukan cuma karena mendapati temannya dalam keadaan sekarat, manakala tersadar betapa besar cintanya kepada pemuda itu, sehingga muncul kerinduan menggebu dan akhirnya menyeret hatinya untuk segera pulang.
Riany begitu senang jika melihat wajah Al, dan tidak pernah berfantasi walau sekedar membayangkan sosoknya. Dia hanya merindukan pemuda itu secara nyata.
Oma sendiri curiga dengan hadiah istimewa yang diterimanya walau di dasar hati sebenarnya senang menempati kamar suite yang sangat mewah itu. Ada beberapa kado di tempat tidur, kado yang biasa diberikan Opa.
"Oma tahu kamu sakit hati," senyum wanita itu tawar sambil duduk di kasur empuk. "Kamu ingin menghukum Riany dengan segala bimbangmu, seperti bimbangnya Muhammadku yang menjauhi Aisyah manakala tertimpa fitnah."
"Kayaknya Oma kurang senang menerima hadiah ini?"
"Oma sangat senang."
"Hadiah ini tanpa modus, Oma."
"Syukurlah."
Kelihatannya Oma tidak percaya dengan kata-katanya. Tapi Al tak ambil peduli. Percuma meyakinkan orang yang tidak percaya.
Tasyakuran hari lahir Oma berlangsung meriah. Ada acara tiup lilin dan potong kue. Pamela bersama rombongan masuk kamar memberi kejutan.
Satu per satu anggota rombongan memberi selamat sambil menyerahkan kado. Oma sampai meneteskan air mata, terharu.
Al menutup dengan doa sebagai ungkapan rasa syukur dan tak lupa mendoakan Faye agar segera diangkat dari musibah.
__ADS_1
Kemudian mereka pesta gudeg manggar dan sambel krecek. Ada juga kikil sapi dan jengkol balado.