
Izin keluar rumah bisa dipersulit kalau ayahnya tidak muncul untuk pergi ke perkebunan. Biasanya pagi-pagi sudah berangkat, barangkali bukan masa panen, jadi tidak terlalu sibuk.
"Kelihatannya lagi ada pembicaraan serius," komentar Pak Haikal sambil duduk di samping istrinya.
"Masalah apa sih yang tidak serius buat Ibu?" sahut Al kalem. "Izin keluar rumah saja proses administrasinya berbelit-belit."
"Izin untuk apa?"
"Al mau mengurus paspor untuk pergi umroh sama Oma."
"Alhamdulillah," kata Pak Haikal. "Akhir tahun Ayah juga berangkat. Hitung-hitung pembekalan buat naik haji tahun depan."
"Aamiin."
"Bareng Fatimah," sambar Bu Haikal ketus.
"Bareng kamu juga, kan?"
"Jangan-jangan terpaksa mengajak aku. Cuma ingin menghindari gunjingan orang."
"Gunjingan apa?"
"Pergi umroh cuma modus. Padahal ingin jalan-jalan berdua dengan janda Ustadz Bashori."
"Masya Allah. Sudah tahu aku pergi sama kamu, bisa kepikiran hal seperti itu?"
"Kupingku panas."
"Banyak mendengarkan omongan orang begitu jadinya."
"Habis suami sendiri tidak pernah cerita."
"Apa yang harus diceritakan, aku tidak ada apa-apa?"
Al simpati pada ayahnya. Dia jadi suami yang selalu dicurigai. Di rumah ini yang tidak dicurigai cuma Arya karena belum masuk hitungan. Bagaimana di Tanah Suci nanti kalau berangkatnya saja bermasalah?
Ibunya tentu lebih sibuk menjaga suami daripada melaksanakan ibadah. Kecurigaan membuatnya melakukan hal yang tidak sepatutnya dikerjakan.
Al jadi teringat cerita tetangga yang selalu menggandeng suaminya selama di Tanah Suci dengan alasan takut terpencar, padahal mantan istri ada dalam rombongan. Nilai ibadah jadi berkurang.
Bu Haikal protes ketika suaminya dengan mudah mengeluarkan izin, "Pergi sama puterinya Abi Hamzah loh, Pak?"
"Memangnya kenapa?" balik Pak Haikal. "Puterinya punya penyakit menular?"
"Bisa saja ini umpan untuk melunakkan hati Bapak."
"Maksudmu?"
__ADS_1
"Apa Bapak berani tegas ke pesantren kalau Riany jadi menantu?"
"Mereka itu pergi ke kantor imigrasi, bukan kantor KUA. Jadi menantu dari mana?"
"Bapak tidak kuatir mereka saling jatuh cinta?"
"Laki-laki dan perempuan wajar saling jatuh cinta."
"Seperti kamu sama Fatimah?"
Setiap ada kesempatan, Ibu pasti melancarkan serangan. Mengenai sasaran atau tidak, urusan belakang.
"Kamu menginginkan aku seperti itu?" pandang Pak Haikal santai.
"Biasanya Ahmed, suami Dinar, yang mengurus paspor laki-laki."
"Riany juga berwenang. Dia pengurus yayasan."
"Tapi kenapa mesti Riany?"
"Al sudah bilang permintaan Oma," jawab Al. "Bukan umpan seperti yang Ibu katakan. Memangnya Al tukang mancing?"
"Ibumu bawaannya curiga terus."
"Karena pantas dicurigai! Mana pernah aku mencurigai kalau tidak ada alasan?"
Sudah menjurus lagi. Segala pembicaraan ujungnya selalu bermuara pada masalah itu. Al tak dapat membayangkan, bagaimana kalau ayahnya benar-benar mengambil madu. Tiap hari rumah jadi kancah perang!
Istrinya menegur dengan jengkel, "Bapak ini tokoh masyarakat, tokoh agama juga. Suara Bapak didengar. Hati-hati ngomong."
"Dengar ya, Bu," tegas Pak Haikal. "Ibu itu diajarkan apa sih di majlis ta'lim? Senang sekali membuat gaduh. Kapan majunya umat kalau ribut terus? Boleh apa muslim menyakiti muslim lainnya?"
"Hancur umat kalau orang kayak Bapak semua."
"Kenapa?"
"Ajarannya itu loh."
"Ada apa dengan ajarannya?"
"Bapak mau tidak ditahlilkan kalau meninggal? Mau PHBI hilang dari masjid kampung?"
"Mereka itu ceramah di masjidnya, buat kaumnya. Kenapa jadi orang kampung yang blingsatan?"
"Soalnya banyak orang kampung terpengaruh."
"Masalahnya berarti ada pada orang itu."
__ADS_1
"Ini tanggung jawab Bapak sebagai DKM."
"Tanggung jawabku adalah memakmurkan masjid, bagaimana agar tidak terjadi perpecahan pada umat. Kalau tidak setuju dengan ajaran mereka, ya sudah jangan ikuti. Jangan nyinyir juga."
Menyederhanakan perbedaan diperlukan untuk meminimalkan pergesekan di kampung ini. Dimulai dari pernyataan tokoh masyarakat yang menyejukkan.
Kondusif tidaknya situasi kampung tergantung ayahnya. Warga sudah mengasah pedang, tombak, dan panah untuk menyerang pesantren. Sekali dikasih komando, pasti terjadi tawuran berdarah.
Cuma ayahnya tidak bisa mencabut sumpah itu. Terlambat tahu. Dia tidak mungkin memberi pencerahan kepada masyarakat yang sudah bulat berikrar. Bahkan ada warga membubuhkan cap jempol darah. Sumpah itu membuat ayahnya gelisah. Konfrontasi massa tinggal menunggu waktu.
"Sekalian bikin SIM kalau sempat," kata Pak Haikal sambil mengeluarkan kartu ATM dan menyerahkan ke anaknya. "Biaya hidup di Yogya yang seharusnya kamu terima selama ini. Nomor PIN-nya hari lahir Nabi."
Al tampak surprise. "Jadi Ayah sudah menaikkan budget kuliah? Kok baru dikasih sekarang, bukan tiap bulan?"
"Hitung-hitung menabung."
Al menerima kartu itu sebetulnya karena tidak enak hati saja. Dia sudah dikasih kartu ATM oleh omanya dengan nominal sangat fantastik, untuk biaya administrasi dan kebutuhan mereka selama di Tanah Suci. Dia ingin menjaga perasaan ayahnya dalam keadaan bagaimana juga.
Al belum ada rencana dengan uang sebanyak itu. Barangkali untuk persiapan masa depan. Tapi masa depan bersama siapa? Gadis yang menghiasi doa-doanya sudah ada yang punya.
Lulus kuliah, Al rencananya mau mengikuti pelatihan selama enam bulan untuk mempersiapkan diri bekerja di perusahaan petroleum Turki atau Yordania.
Al ingin menikah lebih dahulu sebelum berangkat ke negara tersebut. Dia menikah muda supaya di hari tua sudah bisa melihat hasil pembekalan kepada anak-anaknya. Tidak hanya pembekalan untuk masa depan mereka di dunia, tapi masa depan di akhirat juga, pekerja keras dan rajin ibadah.
Ada tiga pilihan calon istri di kampus dengan karakter berbeda. Tapi Al ingin mengenal terlebih dahulu kepribadian Vidya dan Pamela. Dia tidak bisa sembarangan memutuskan karena pilihan itu untuk seumur hidupnya.
Hidup memang aneh. Banyak pilihan untuk pasangan hidup, bingung menentukan. Tidak punya pilihan, pusing mencari. Kalau salah menjalani, yang punya banyak pilihan diambil semuanya. Yang tidak punya pilihan, jajan sembarangan.
"Kamu yang aneh bukan hidup ini," kata Rivaldo, teman sekelasnya. "Dikasih kemudahan oleh agamamu malah cari kesulitan."
"Maksud kamu?"
"Kamu boleh beristri empat, ambil saja semuanya; Aisyah, Wulandari, Lin Wei. Mereka siap berbagi. Masalahnya di mana? Nah, satu lagi ratu kecilmu itu."
"Ancamannya berat kalau tidak mampu berlaku adil."
"Maka itu belajar berlaku adil. Namanya belajar bisa berhasil bisa gagal. Kamu teruskan kalau belajarmu berhasil. Kemudian kamu remedial kalau belajarmu gagal, back to one wife."
"Masalahnya di agamaku perkawinan bukan try and error."
"Di agamaku juga sama, bro. Perkawinan bukan coba-coba."
"Lalu kenapa punya pendapat seperti itu?"
"Namanya pendapat, berguna ya pakai, tidak berguna buang."
Mereka sering bertukar pikiran tentang agama masing-masing dengan maksud untuk memperkuat keyakinan terhadap agama yang dianut, bukan untuk mencari kelemahan.
__ADS_1
Mereka tidak tersinggung dengan sebutan agama untuk orang yang bukan penganutnya, karena sebutan itu dari Tuhan, bukan dari pribadi masing-masing. Mereka tidak mau membuat masalah sederhana jadi rumit hanya karena ingin terkenal di seluruh penghuni asrama.
Sementara Al menunda dulu urusan calon istri. Saat ini dia ingin mencurahkan perhatian untuk persiapan berangkat ke Tanah Suci.