
Pagi-pagi Arya sudah berdiri di muka pintu. Mbok Narti yang membukakan pintu curiga melihat anak muda dengan penampilan dandy dan trendy ini. Matahari belum terbit sudah bertamu. Dia tidak melihat security di pintu gerbang. Pasti telat lagi shalat Subuh.
Majikan rajin bangun malam, pegawainya malah rajin tidur malam. Dasar.
Bagaimana anak muda ini bisa masuk padahal pintu gerbang terkunci?
Mbok Narti tampak bimbang antara berteriak atau menerimanya.
"Tuan Muda sudah bangun?" tanya Arya.
"Sudah," jawab Mbok Narti sambil tangannya waspada memegang gagang pintu, kalau anak muda ini memaksa masuk, langsung ia tutup dan kunci. "Tamu dari mana ya?"
Arya tersenyum kecut melihat wanita separuh baya itu mencurigainya. Betul jangan tertipu dengan penampilan, tapi tidak begitu-begitu banget.
"Apa sudah ada janji dengan Tuan Muda?" selidik Mbok Narti.
"Sudah," jawab Arya santai. Untung wanita itu tidak memergokinya melompati pintu gerbang. Pasti gempar. "Kemarin sore."
Dia terpaksa mengambil jalan kid jaman now karena pegal menunggu di luar. Security barangkali ketiduran.
Pagi buta begini bel rumah belum diaktifkan, perintah langsung dari Tuan Muda. Dia tidak mau diganggu dengan bunyi bel.
Mbok Narti langsung ingat pesan majikannya. Wajahnya mencair seperti es kena sinar matahari. "Oh, Den Arya. Masuk."
Mbok Narti membuka pintu lebar-lebar, dan berkata, "Maaf ya, Den. Habis penampilannya beda banget sama Tuan Muda."
"Masa aku ngikuti fashion orang yang sudah punya istri?"
Penampilan Arya kontras sekali dengan kakaknya. Masing-masing punya tren, dan tidak pernah jadi persoalan dalam keluarga.
"Silakan duduk, Den," kata Mbok Narti. "Saya kasih tahu Tuan Muda dulu ya."
Mbok Narti pergi. Tak lama kemudian muncul Riany dengan mengenakan pakaian shalat. Ia belum selesai berzikir ketika asisten rumah mengetuk pintu kamar.
"Kamu pagi banget datangnya," komentar Riany. "Mbok Narti baru masak air."
"Aku datang bukan untuk numpang minum," kata Arya. "Aku mau ambil mobil buat jemput Belinda."
Belinda adalah pacar terkini Arya, teman sekelas dan bintang sinetron yang lagi naik daun.
"Kalian tidur satu hotel?" selidik Riany.
Arya tersenyum kecut. "Aku tahu ke mana arah kata-kata kakak. Nggak tidur satu kamar kok, dan nggak ada pintu terusan."
"Aku cuma ngingetin aja. Jangan rusak karirnya karena perbuatan tidak terpuji."
__ADS_1
"Citraku begitu jelek ya di depan kakak ipar?"
"Tidak mungkin ada asap kalau tidak ada api."
"Perumpamaannya lumayanlah mengenakkan hati, dibanding si Kakak bikin enek."
"Memangnya bilang apa kakakmu?"
"Tidak mungkin ada kakus kalau tidak ada tinja. Bayangin coba."
"Males bayanginnya."
Riany belum bertemu secara langsung dengan Belinda. Tapi dia tahu artis muda itu jauh dari gosip miring. Dia memiliki citra positif di mata penggemarnya.
Riany capek setiap bulan Arya memperkenalkan pacar baru. Mereka sudah akrab sebelum jadi keluarga. Anak itu jadi informan penting untuk mengetahui perkembangan kakaknya di Yogya, sejak dia mengenal cinta.
Kelakuan Arya dijadikan senjata oleh ibunya. Dia adalah fotokopi ayahnya di masa SMA dan masa tua. Sadis.
Belinda juga kayaknya tidak lama. Fans menjodohkannya dengan pasangan main, dan itu sangat mengganggu Arya. Dia mulai melirik artis lain.
Belinda sudah selesai syutingnya di Yogya. Dia ingin ikut pulang.
"Mobilnya dibawa kakakmu ke Masjid Agung," kata Riany. "Tunggu saja.... Nah, itu orangnya datang."
Al muncul di ruang tamu, dan menatap adiknya dengan heran. "Kamu masuk lewat mana? Security menggembok pintu gerbang sebelum pergi denganku."
"Kelakuan. Untung nggak diteriaki maling."
"Pinjam kuncinya, Kak," kata Arya, langsung ke maksud kedatangannya. "Aku mau jemput Belinda. Dia ingin pulang bareng."
Al menggerutui adiknya, "Pacarmu tidak mau naik taksi? Jadi kamu tidak perlu bolak-balik."
"Artis terkenal masa naik taksi? Apa kata dunia?"
"Jangan lebay. Dunia tidak kenal kalian."
"Sudah kasih," tegur Riany halus. "Belinda naik taksi viral nanti, dan pacarnya yang malu."
"Aku ingin adikku berpikir praktis."
"Praktisnya kid jaman now begitu."
"Oh ya, Belinda pasti bawa koper banyak. Kamu kirim saja lewat paket. Di mobil tidak muat. Travel bag kakakmu saja terpaksa ditinggal. Bagasi penuh sama oleh-oleh."
"Sudah diurus sama manajernya. Artis masa bawa koper? Katrok banget."
__ADS_1
"Kamu bisanya cuma ngebully kakakmu."
"Karena pantas untuk dibully. Pikirannya ketinggalan satu abad. Sudah, aku pergi dulu."
Arya mengambil kunci mobil di tangan kakaknya, kemudian berjalan ke pintu depan. Ia menoleh sebelum keluar, teringat sesuatu, dan berkata, "Aku dan gang motorku mau touring ke Yogya. Kami boleh tinggal di rumah ini?"
"Bawa perempuan?" tanya Al.
"Belinda dan beberapa teman sekelas saja."
"Berarti laki-laki tidur di luar dan perempuan di dalam."
"Laki-laki bisa di home stay sebelah," kata Riany. "Aku bilang sama Wulan nanti."
"Biarkan adikku belajar jadi gelandangan. Hidupnya terlalu enak."
"Memangnya kakak tidak malu punya adik jadi gelandangan?"
"Aku justru bangga, kecuali jadi gelandangan karena keadaan."
"Baiklah kalau begitu. Aku sama teman laki tidur di paviliun."
"Nah, begitu. Setidaknya kamu mendengarkan nasehat kakakmu, tidak tidur di dalam rumah."
Al tidak tega bertindak keras pada adiknya. Dia lihat gang motor yang dipimpinnya hanya untuk senang-senang, tidak pernah meresahkan masyarakat. Jadi dia tidak bisa melarang Arya untuk memanfaatkan rumah kakaknya. Dia bisa minta bantuan Wulandari untuk memantau.
"Jangan terlalu keras sama adikmu," kata Riany setelah Arya pergi. "Dia sangat penurut sama kamu. Aku belum pernah melihat seorang adik yang sebaik itu pada kakaknya."
"Karena dia tahu betul risikonya kalau tidak berperilaku baik."
"Tapi jangan disuruh tidur di paviliun juga."
"Memangnya kenapa tidur di paviliun? Ada beberapa kamar kosong, dan kondisinya bagus, ada AC-nya juga."
"Kamar paviliun untuk tidur pelayan. Masa adikmu disamakan dengan mereka?"
"Tidur satu barak dengan pelayan, bukan berarti mereka sama. Aku mau adikku berbaur dengan mereka. Bukan cuma memikirkan kesenangan diri sendiri, karena dia adalah calon pimpinan perkebunan. Aku tidak kepegang."
"Adikmu itu sangat dimanja oleh Ayah dan Ibu. Dia selalu mendapat fasilitas terbaik di manapun berada."
"Aku ingin merubah kebiasaan itu. Ada saatnya dia memperoleh fasilitas terbaik, ada saatnya melihat kehidupan di bawahnya."
Arya sudah kelas dua belas dan posisi penting sudah menunggunya. Bagaimana tekad dia dalam menempuh studi, sangat menentukan masa depan perkebunan yang melibatkan banyak karyawan.
Jadi Arya sudah harus mulai belajar berpikir bukan cuma untuk diri sendiri.
__ADS_1
Al bersyukur adiknya tidak terjerumus dalam kehidupan bebas yang mewabah pada generasi milenium. Kebiasaan ganti-ganti pacar adalah wajar untuk crazy rich dalam masa mencari identitas.
Al tidak bisa memaksa Arya untuk mengikuti jejaknya, hanya mengenal perempuan lewat ta'aruf.