
Al sebenarnya cuma iseng menyampaikan ke orang tuanya kalau Riany ingin menikah akhir minggu ini, karena tahu Ayah pasti menolak. Titel sarjana di atas segalanya. Tapi reaksinya sungguh di luar dugaan. Al semakin curiga kalau ayahnya akan mengambil Fatimah sebagai madu. Dia ingin minta dukungan dari anaknya.
Opa tentu tidak bisa menghalangi, karena sunah Nabi sudah jadi topeng syahwatnya. Kalau topeng Ayah lumayan bagus, mengangkat derajat Fatimah. Tapi heran yang sudah layu diabaikan. Janda ustadz Bashori kan ada empat!
Hari itu juga Pak Haikal langsung ke rumah Abi Hamzah untuk membahas rencana pernikahan yang mendadak itu. Sedikitpun tidak terbersit di pikiran Riany ketika mendapat panggilan dari orang tuanya.
Riany kira Abi ingin minta pertanggungjawaban karena sering meninggalkan rombongan sehingga tidak tahu-menahu soal wafatnya Oma.
Tapi Riany tidak mungkin berterus terang kalau keinginan untuk segera menikah itu hanya main-main karena alasan tertentu. Dia terpaksa menjelaskan bahwa pernikahan diperlukan bilamana mereka saling berkunjung ke kota masing-masing. Tidak ada jaminan mereka dapat mengekang hasrat. Dia kuatir iman tidak dapat menjaga rindu mereka!
Mereka dapat melabrak aturan yang justru fatal akibatnya! Jika nafsu sudah berkuasa, Kota Suci tidak bisa mencegah mereka!
"Pernikahan adalah jalan terbaik kalau takut terjebak dosa," komentar Abi Hamzah. "Ahmed akan siapkan segala sesuatunya."
Keputusan Abi membuat Riany kalang kabut. Di satu sisi dia senang karena dapat bersanding dengan laki-laki pujaannya, tapi di sisi lain ada masa depan yang dipertaruhkan.
Kabar pernikahan itu sempat membuat heboh pesantren. Untunglah bukan karena terjadi perbuatan aib sedunia. Maksiat di Kota Suci.
Yang membuat Riany keki, di mata orang banyak seolah dirinya sudah tidak tahan karena minta nikah cepat-cepat.
"Pakai bilang-bilang ke Ayah," gerutu Riany sambil berjalan ke tempat parkir Lamborghini. Dia sengaja shalat Dhuhur di masjid kampung karena ingin menjumpai Al. "Jadi ribet deh."
"Terus kita nikah diam-diam? Boleh apa?"
"Aku itu sebenarnya cuma ingin menguji kamu di depan Aisyah."
"Berarti lulus, kan?"
"Harusnya ngomong dulu ke aku."
"Aku sudah ngomong di Uhud."
"Itu lain."
"Lain suasana lain keputusan ya?"
"Kamu anggap aku ini plin-plan?" sambar Riany dengan nada agak tinggi. "Kita berdua belum siap."
"Jadi ngegas sih?"
"Habisnya."
"Terus nikahnya jadi gak?"
"Jadi."
"Tidak ada kamar pengantin?"
"Abi tidak setuju. Karena tidak mungkin setelah nikah kita tidur di rumah masing-masing."
"Cocok."
"Artinya kita tidur bareng."
"Setuju."
"Awas macam-macam."
"Kan sudah halal?"
"Pokoknya tidak ada malam pertama."
"Bagaimana ceritanya?"
"Ceritanya aku tidur di kasur, kamu di sofa."
"Apa kata orang rumah kalau sesudah malam pertama aku tidak mandi basah?"
"Jadi mikirin orang rumah, bukan mikirin nasib kita."
"Nama baik aku ada di orang rumah."
"Nama baik aku juga."
"Kamu berhijab, tidak kelihatan mandi basah atau tidak."
"Tinggal mandi basah apa susahnya?"
"Kamu ingin suamimu berbohong?"
"Jadi maunya ada malam pertama?"
"Kalau aku minta?"
"Hakmu," sahut Riany pelan.
"Tidak kedengaran."
"Itu hakmu!"
"Terus kenapa jadi persoalan?"
__ADS_1
"Kalau aku hamil, titel Lc bagaimana?"
"Bomat."
"Kamu suamiku!"
"Karena aku suamimu, ada malam pertama, malam kedua, malam ketiga, suka-suka dong?"
"Menang sendiri."
"Pikirmu ada yang tahan apa tidur satu kamar sama kamu?"
Riany diam.
"Kayak keberatan?"
"Tidak."
"Yang ikhlas."
"Banget." Di balik niqab tipisnya Riany tersenyum dibuat-buat. "Minta berapa kali?"
"Karena cuma satu malam, non stop sampai Subuh." Al tersenyum puas. Makanya kalau cemburu jangan kebablasan. Ngomongnya di Madinah kena karmanya di kampung. "Malam pertama nanti kuingin kamu tidur dengan kimono, cuma kimono, kayak hari itu."
Riany merengut.
"Kayak keberatan?"
"Tidak."
"Yang ikhlas."
"Iya."
Tiba di Lamborghini, Al menekan tombol remote membuka kunci pintu. Matanya mengikuti Riany yang berjalan ke pintu sebelah. "Bareng aku?"
"Calon istrimu disuruh jalan?" balik Riany.
Bergegas Al jalan memutar membukakan pintu untuk Riany. Lalu kembali lagi, membuka pintu sopir, duduk di belakang setir. Sebelum menghidupkan mesin, Al menoleh sekilas. "Aku serius soal kimono."
"Iya."
"Benar ya?"
"Gengges banget."
"Biar kelihatan mangkok dan serabi Arabnya."
Al menjalankan Lamborghini pelan-pelan. Irma mendadak muncul menghalangi jalan sambil menggerakkan kedua tangannya. "Stop. Stop."
Lamborghini berhenti. Irma segera berjalan ke belakang, buka pintu, duduk, tutup lagi.
"Tidaklah seorang laki-laki itu berkhalwat dengan seorang wanita," tegur Irma, "kecuali yang ketiganya adalah setan."
"Yang ketiganya siapa?" tanya Riany.
"Aku," jawab Irma spontan. "Berarti aku...setan dong?"
Nidar datang dan masuk. "Enak saja aku ditinggalkan."
Irma tersenyum senang. "Syukurlah ada yang keempat, gagal jadi setannya."
"Jangan main-main dengan lisan," tegur Al.
"Astaghfirullah."
"Kalian sudah tidak butuh pendamping lagi?" protes Nidar. "Gak ngajak-ngajak."
"Disumpal pakai recehan baru tahu," sambar Al. "Buka dong WA."
"Kuota habis."
"Dibel tidak diangkat-angkat."
"Di-silent."
"Terus yang salah aku?"
"Pulang umrah jadi sering ngegas ya."
"Sudah kebelet kayaknya," sindir Irma.
"Kebelet apaan?" tanya Riany.
Nidar tertawa kecil. "Kebelet nikah. Al yang kebelet malahan kamu yang pengen cepat-cepat."
"Istri kan harus ngerti keadaan suami."
"Yakin akhir minggu ini?"
"Yakin dong."
__ADS_1
"Kelamaan di kamar pengantin hati-hati ketinggalan pesawat. Melayang deh Lc."
"Jangan sampai."
"Aamiin."
"Terus kalian kapan ta'arufnya?" tanya Riany.
"Sudah mulai."
Riany memandang surprise. "Kok tidak bilang-bilang?"
"Lagi sibuk menyiapkan pesta, kan? Mana sempat buka WA."
"Kalau begini, siapa pendamping siapa?" potong Al. "Tukeran tempat duduk deh. Kamu di belakang sama Irma."
"Yang penting luruskan niat," sanggah Riany. "Itu kata-katamu, sudah lupa?"
"Banyak bantah ya."
"Yang ngajarin siapa?"
Hari ini mereka akan membesuk Ridwan di kantor polisi. Kasusnya jadi berlarut-larut. Keluarga korban minta diusut sampai tuntas, sedang polisi belum menemukan bukti yang cukup. Polisi terpaksa menambah masa tahanan.
Pengacara bisa mengusahakan tahanan luar tapi Ridwan menolak. Lebih baik bergaul dengan orang busuk berhati busuk daripada bergaul dengan orang baik berhati busuk. Dia merasa lebih nyaman.
Polisi pasti kebingungan untuk menjebloskan Ridwan, pikir Al pahit, kecuali nekat menjadikan dia kambing hitam. Atau polisi lagi mencari bukti lain buat mematahkan opini publik karena adanya pengakuan Al.
Keluarga korban roman-romannya tidak tahu kalau anggota keluarga yang tewas itu adalah perampok. Tapi sulit dibuktikan kalau hanya berdasarkan keterangan saksi dari pihak tersangka. Dikiranya bersekongkol.
Atau mereka sebenarnya tahu siapa korban yang tewas itu? Mereka ingin menutupi aib untuk menjaga nama baik keluarga? Dan kebetulan ada tersangka!
Al tidak ingin temannya jadi kambing hitam.
Ridwan sedang memberi pencerahan ke beberapa tahanan di dalam sel ketika mereka datang menemuinya. Dia senang sekali. Dari balik jeruji, dia memeluk erat Al lalu Nidar.
"Kenapa kamu tolak pelayanan Yudi?" tanya Al. "Apa kamu tidak menghargai aku?"
"Hanya tidak ingin merepotkan."
"Kalau aku bilang terima, berarti itu perintah," tegas Al. "Silatmu sudah hebat banget apa berani menolak kebaikan aku?"
"Pulang umrah bukan makin baik, malahan kambuh penyakit lamanya."
"Lagi kebelet," kata Nidar.
"Kebelet nikah?"
"Tahu sih?"
"Viral di medsos."
"Jangan alihkan pembicaraan," sergah Al.
"Iya. Iya. Mulai detik ini aku tidak menolak setiap pemberian kamu kalau ujung-ujungnya jadi ribet."
Nidar menyerahkan kantong plastik ke Ridwan. "Zam zam dan kurma ajwa."
"Dari Saudi?"
"Masa dari kaki lima?"
"Boleh dibagi sama teman-teman?"
"Terserah."
Ridwan memanggil tiga tahanan dan membagi oleh-oleh itu. Mereka tampak senang sekali.
"Terima kasih, Guru."
Satu per satu mereka cium tangan, padahal usianya sudah tua, lalu kembali ke tempatnya.
"Jadi sebutan itu yang membuatmu betah di dalam?" sindir Al. "Sampai-sampai menolak opsi yang diajukan pengacara?"
"Aku merasa damai hidup di dalam."
"Kamu harus berani menghadapi kenyataan. Orang kampung butuh kesabaranmu, bukan keputusasaan."
"Aku tidak putus asa."
"Kau semakin tenggelam di dalam. Aku butuh kamu di luar."
"Buat?"
"Aku tidak suka bicara terhalang jeruji. Kadang terasa aneh, aku atau kamu yang terkekang."
Ridwan tahu ada misi sangat rahasia yang akan diembannya. Maka itu dia bersedia keluar dari tahanan dengan jaminan. Setiap pagi harus lapor ke Polsek.
Santri-santri senior bersuka cita menyambut kedatangannya. Satu per satu berpelukan hangat. Ridwan menangis terharu. Ternyata masih ada yang menerima kehadirannya tanpa melihat masa lalu.
Masa lalu yang membuatnya terjerat masalah pelik!
__ADS_1