
Al terbangun. Jam dinding menunjukkan pukul tiga dini hari. Dia melihat istrinya sedang shalat Tahajud beralas sajadah di lantai kamar rumah sakit.
Doa berkumandang tanpa suara. Air mata meleleh membasahi pipinya yang elok. Entah apa yang dipanjatkan.
Al sudah bisa berjalan menuju ke kamar mandi untuk mengambil wudhu, namun dia memilih tayamum, kekuatiran ada luka yang kambuh akibat terkena air adalah alasannya.
Dia ingin segera keluar dari rumah sakit, namun dokter menahan satu hari lagi. Jadi lusa baru bisa pulang.
Keberadaannya di rumah sakit merepotkan semua orang. Ibu tidak pulang-pulang, Ayah bolak-balik dari perkebunan ke hotel tempat mereka menginap selama Al dirawat. Dia minta Abi dan Umi untuk pulang ke pesantren, tapi mereka memilih tinggal di hotel bersama besan sampai menantunya diperbolehkan pulang.
Lin Wei dan Wulandari sudah diperbolehkan pulang. Mereka sudah pamitan sore tadi, dan memberi kabar buruk tentang Aisyah.
Gadis inilah yang membuat Al bertahan di rumah sakit. Dia bisa saja nekat pulang dengan menandatangi surat perjanjian, tapi rasa ingin tahunya tentang kondisi Aisyah membuatnya bersabar tinggal di rumah sakit.
Dia menolak untuk pindah ke kamar VIP yang kosong karena penghuninya sudah keluar. Dia lebih suka berbagi tempat tidur dengan istrinya. Dia tidak mau Ibu dan Umi ikut menunggui di rumah sakit karena takut kesehatan mereka terganggu.
Keliru kalau menganggap rumah sakit adalah rumah yang paling aman. Rumah sakit adalah tempat berkumpulnya segala penyakit yang bisa menyerang siapa saja jika tak mengikuti prosedur yang ada.
Keadaan rumah sakit yang bersih dan nyaman tidak menjadi jaminan untuk tamu terbebas dari ancaman virus. Itulah alasan yang membuat Al untuk segera pergi dari kamar ini. Dia kuatir dengan kondisi kesehatan istrinya.
"Aisyah sudah siuman," kata Wulandari sore tadi. "Aku dan Lin Wei sudah boleh membesuknya untuk pamit. Tapi aku kira ada sesuatu yang terjadi sehingga dia belum bisa pindah ke kamar perawatan."
"Sesuatu yang kalian tidak boleh tahu atau bagaimana?"
"Aku kira sesuatu yang Aisyah sendiri belum mengetahui. Abinya kelihatan bersedih sekali."
"Dia selalu begitu kalau putri sulungnya sakit. Kayaknya ada amanah dari almarhumah istrinya untuk anak yang satu itu."
"Amanah apa?"
"Aku tidak tahu. Barangkali karena anak perempuan satu-satunya sehingga almarhumah minta suaminya untuk menjaga secara ketat."
Wulandari memotong, "Emang begitu kan untuk anak perempuan? Sampai tiba waktunya diserahkan kepada suami?"
"Kalian tidak mencoba cari tahu ke dokter apa sebabnya Aisyah belum boleh pindah kamar?"
"Dokter mendadak bisu sampai aku pengen membeli rumah sakit ini," jawab Lin Wei.
"Ibuku juga ingin membeli rumah sakit ini karena ingin bebas membesuk aku. Masalahnya rumah sakit ini milik Pemda. Kau pengen sekalian membeli Pemda?"
"Rumah sakit emang ribet."
"Tidak ribet kalau kalian dan pihak rumah sakit sadar ada aturan yang perlu dijalankan. Jangan karena ingin bebas seperti di mall kamu terpancing oleh situasi."
__ADS_1
"Barangkali karena aku biasa shopping kali ya? Segalanya pengen main beli saja."
"Neneknya yang di Al Khanza sudah datang? Aku kira kedekatan mereka bisa membantu proses pemulihan Aisyah."
"Beliau sudah ada, dan sama hanya diam melihat kondisi cucunya. Aku berharap kamu bisa mengorek keterangan dari mereka."
Kata-kata itu membuat Al susah untuk tidur. Dia tidak bisa mengira-ngira apa yang terjadi dengan Aisyah sampai perlu ada pembicaraan khusus antara dokter dengan keluarganya.
Jika dari kecelakaan itu terdiagnosa Aisyah mengidap penyakit lain, maka vonis itu adalah pukulan telak bagi temannya. Dia kelihatan sehat-sehat saja selama ini dan menjalani aktivitas seperti biasa.
Al belum pernah mendengar Aisyah mengeluh ada bagian tubuhnya yang sakit. Gadis ini malah paling jarang terdengar sakit, biar cuma flu. Apakah kasus pelecehan oleh penjarah itu sudah membuatnya kehilangan...?
Tapi tidak mungkin!
Kondisi Aisyah yang penuh tanda tanya ini mengisi doa shalat malamnya dalam hening. Al berharap Allah memberikan yang terbaik untuk temannya.
Dia susah untuk mendapatkan informasi perkembangan kesehatan Aisyah. Dia tidak enak bertanya kepada istrinya tentang perempuan yang paling dicemburui itu.
Minta Ridwan cari informasi tidak mungkin. Dia repot mengurus keperluan orang tua mereka. Mengantar bolak balik dari hotel ke rumah sakit sangat menyita waktu.
Irma sudah pulang sejak awal. Sibuk menyiapkan acara pernikahannya. dengan Nidar. Mereka terpancing untuk segera menikah melihat bebasnya Riany dan Al dalam melakukan segala hal. Tidak ada orang yang menghujat.
"Aku lihat kayak ada yang kamu pikirkan, beb," kata Riany sambil berbaring di sisinya. "Bisa cerita ke aku?"
"Aku ingin segera keluar dari rumah sakit," ujar Al pelan. "Pengajuan judul skripsi sudah tertunda satu minggu."
"Aku sudah menghubungi kampusmu dan mereka memaklumi. Mereka ingin kamu segera sembuh dan sabar menunggu pengajuan skripsimu."
"Aku sudah sembuh, hanya butuh istirahat."
"Nah, istirahat itu yang jadi catatan mereka. Kamu tidak bisa total istirahat kalau tinggal di asrama."
"Mereka tertipu kalau beranggapan di kamar ini aku bisa istirahat total."
"Kerjamu cuma makan, minum, dan shalat. Kok kamu bisa merasa tidak total istirahat?"
"Bagaimana aku bisa total istirahat kalau ada perempuan terindah di negeri ini yang tidur berdempetan denganku?"
Riany tersenyum menggoda. "Kepengen ya?"
"Iya."
"Di dalam selimut bisa. Aku bawa selimut yang cukup untuk menutupi kita berdua."
__ADS_1
Al berlagak bodoh. "Maksudnya apa ya?"
"Katanya kepengen."
"Aku kepengen kita tidur kayak begini bukan di rumah sakit, tapi di rumah kita di kampung."
Al tersenyum dalam hati. Jika sampai kejadian di rumah sakit, hebohnya kayak apa! Viral sepanjang masa! Gampang banget sebenarnya kalau mau cari sensasi!
Kamar ini berisi dua tempat tidur. Pasien sebelah sudah pulang habis Maghrib dan kini belum terisi lagi. Ada kesempatan untuk berbuat. CCTV tidak dapat merekam karena terhalang gorden pembatas. Nah, suster yang jadi masalah karena suka masuk seenaknya!
Udara AC yang terlalu dingin membuat pikirannya jadi ngawur!
"Bagaimana perkembangan kasus penjarahan terhadap aku dan ketiga temanku?" tanya Al.
"Polisi sudah menangkap ketiga pelakunya. Nidar dan pengacara sedang mengurus proses BAP. Lin Wei dan Wulandari mampir di Polsek sebelum pulang, untuk memberi keterangan barang apa saja yang hilang. Soal kasus pelecehan dan siapa pelakunya mereka tidak tahu."
"Mereka berarti sudah tidak sadarkan diri saat itu. Aku kapan diinvestigasi?"
"Menunggu kau siap."
"Kau minta pengacara untuk datang besok. Aku tidak mau menunda proses BAP. Aku kira cukup satu saksi dalam kasus ini. Kesalahan penyidik adalah bertanya tentang kasus pelecehan kepada mereka. Aku kuatir mereka trauma begitu mengetahui telah mengalami pelecehan."
"Wajar dong polisi bertanya karena mereka adalah korban."
"Mereka adalah korban kecelakaan dan tak sadarkan diri, kemudian ada yang memanfaatkan."
"Kelihatannya kau tidak suka sekali dengan kasus pelecehan ini. Mengalahkan nilai dua milyar dari total yang dijarah."
Barang yang dijarah tidak banyak, tapi memiliki nilai yang fantastis. Ketiga gadis itu memakai kalung bermodel sama dengan masing-masing kalung bernilai lima ratus juta.
Nah, pada saat mengambil kalung ini terjadi pelecehan. Aisyah malah tidak hanya digerayangi mangkok Arabnya, namun juga serabinya. Santri gadungan itu kayaknya penasaran sekali dengan perempuan cantik yang terbungkus rapi.
"Apa yang sudah terjadi dengan Aisyah?" tanya Riany. "Pelecehan apa yang diterimanya?"
Al menatap istrinya sejurus. "Kok kamu bisa langsung tertuju ke Aisyah?"
"Naluri seorang istri."
Al sendiri heran, kecurigaan Riany pada suaminya tentang Aisyah tidak pernah meleset! Apa benar naluri seorang istri, bukan cemburunya?
"Perempuan itu yang ada di pikiranmu sekarang, "kata Riany, "meski ada perempuan yang halal di sisimu."
"Jadi ke mana-mana deh."
__ADS_1
"Aku cemburu kamu memikirkan Aisyah. Tapi Aisyah perlu dipikirkan. Aku sempat mendengar obrolan dokter dengan abinya. Aisyah mendapat rujukan untuk berobat ke luar negeri. Apa yang terjadi dengannya sampai perlu berobat ke Tokyo?"