
Al dan Nidar antri memberi selamat pada kedua mempelai. Pasangan yang cukup unik. Kalau mereka pergi ke mall, tidak sedikit yang mengira ibu dan anak lagi shopping. Dia terlalu lama meninggalkan kampung sehingga cukup surprise melihat fenomena yang terjadi.
Yudi termasuk anak bawang semasa anak-anak. Tubuhnya paling kecil sehingga sering dibully anak berbadan besar, lalu Al tampil sebagai pelindung. Sekarang siapa saja pasti berpikir untuk mengejek pengantin itu, di sampingnya ada wanita kaya yang siap membela.
"Jangan bully aku," bisik Yudi saat mereka berpelukan. "Istriku orangnya baperan."
Perkawinan dengan usia jomplang lagi marak di kampung ini dan tentu saja jadi tanda tanya besar. Sulit diterima kalau atas nama cinta. Al jemu membahas motifnya. Klasik bangat.
Faktor ekonomi, itulah alasan yang lagi mainstream. Entah standar ekonomi seperti apa yang diterapkan. Mereka bangga disebut kaya dan tersinggung disebut miskin. Cuma soal sebutan.
Al melihat ada persaingan kurang sehat antar tetangga. Mereka dulu saling mengalah, sekarang tidak mau kalah. Mereka harus punya apa yang dimiliki tetangga. Hidup jadi sulit di kampung ini.
Di perjalanan, Al sempat bertemu dengan beberapa ABG bergandengan mesra dengan opa-opa. Sudah sedahsyat itukah kehidupan di kampungnya?
"Masa itu sudah lewat," senyum Al samar. "Selamat ya. Semoga jadi keluarga Samawa."
"Terima kasih," kata Yudi terharu. "Kamu sahabat yang kurindukan kedatangannya."
Semua teman Yudi diundang dalam acara resepsi ini, kecuali Al karena terhalang jarak. Dia tidak kuat untuk menahan air mata bahagia melihat pemuda itu muncul secara tiba-tiba di pesta perkawinan.
"Jadi aku tamu tak diundang?" kicau Al. "Maling dong?"
Yudi tertawa kecil. "Kamu seperti punya indera keenam kalau hari ini aku menikah, tahu-tahu muncul."
"Indera keenamnya itu aku," sambar Nidar. "Kalau aku tidak lewat rumahnya, mana ingat sama kita?"
Setelah menyampaikan selamat ke mempelai wanita, mereka turun dari panggung pelaminan mencari tempat duduk. Banyak sekali tamu yang datang, tua muda. Kelihatannya karena ada Pamela Bordin. Artis itu belum tampil.
Di sudut tenda, ada meja bundar yang menyisakan dua kursi kosong. Dua kursi lagi sudah ditempati gadis berhijab.
"Meja itu," kata Nidar. "Sekalian silaturahmi."
"Ogah."
"Kok?"
"Takut ditangkap kawin."
"Gadis kampung sekarang lebih moderat. Pacaran tidak harus berakhir dengan tanda tangan. Yang cuma tes onderdil saja banyak."
"Masa?"
"Dibaca-baca bukan komik."
"Kulihat banyak gadis berhijab."
"Cuma casing."
"Jangan parno. Habis Maghrib pengajian remaja penuh di masjid."
"Habis Maghrib mereka ramai buka-buka kitab, habis Isya buka-buka yang lain."
"O ya?"
"Tiap malam mereka mampir di apartemen. Shalat Isya jadi modus."
Apartemen yang baru dibangun itu sering dijadikan tempat kencan oleh remaja kampung. Nidar tidak tahu bagaimana dengan apartemen yang sudah ditempati. Kehidupan mereka sangat eksklusif, tidak tersentuh oleh aparat desa.
__ADS_1
"Patroli kampung sudah tidak ada lagi?" tanya Al.
Dulu ada jam malam. Mereka digelandang ke kantor desa kalau kelayapan lewat pukul sepuluh, dan baru bisa pulang setelah dijemput orang tua.
Al sering mengintip orang pacaran di tempat gelap. Kadang iseng memukul kentongan bambu sehingga mereka tidak jadi bermesraan.
"Linmas susah menerapkan di abad millenium ini," kata Nidar.
"Kid jaman now banyak akalnya."
"Maka itu ribet."
"Mereka patuh berhijab tapi melalaikan akhlak."
Berhijab dan akhlak adalah dua hal yang berbeda. Gadis kampung yang berhijab belum tentu akhlaknya baik, sebaliknya gadis kampung yang berakhlak baik banyak yang tidak berhijab. Perkara berhijab adalah bentuk ketaatan pada aturan agama.
"Akhirnya hijab cuma topeng," keluh Nidar. "Mereka berhijab cuma untuk menutupi keburukan."
"Tentu tidak semuanya."
"Sulit membedakan mana yang santri mana yang santer, mana yang alim mana yang lalim."
"Perempuan seperti itu butuh motivasi. Kalau mereka bisa berhijab, mengapa tidak bisa membentengi akhlak? Sama halnya perempuan tidak berhijab tapi berakhlak terpuji. Mengapa tidak menyempurnakan akhlak dengan berhijab? Karena berhijab adalah syar'i. Jadi jangan saling caci."
"Susah."
"Tidak perlu ada majlis ilmu kalau gampang."
"Kuncinya sabar ya?"
"Orang berakhlak apa orang berilmu?"
"Orang berilmu kalau tidak berakhlak sering bertindak tidak bijaksana. Ujungnya saling hujat. Umat mayoritas di kampung ini yang seharusnya jadi tuntunan malah jadi tontonan kaum minoritas."
Penonton bertepuk tangan meriah sekali ketika MC memanggil primadona dangdut untuk naik ke atas panggung. Al tidak melihat di mana artis YouTube itu berada, terhalang oleh penonton yang penuh sesak.
“Inilah artis yang kita tunggu-tunggu ... si Goyang Zigzag ... Pamela ... Bordin!”
Penonton berteriak histeris. Suasana gaduh sekali. Pamela Bordin tampil dengan busana yang sangat modis. Kecantikan wajahnya tidak tertandingi oleh artis yang tampil sebelumnya. Suaranya lebih bagus dari penyanyi asli yang membawakan lagu hits itu.
"Coba perhatikan artis YouTube itu," kata Al. "Apa yang terlintas di pikiranmu?"
“Goyangannya heboh."
“Cuma itu?”
"Aku ingin lihat tetangga pinggulnya!"
"Jujur banget."
"Pamela Bordin mestinya dapat menahan diri. Banyak tamu kehormatan."
"Kebebasan berekspresi."
"Tapi timbul fitnah berantai."
"Jadi Pamela Bordin berdosa?"
__ADS_1
"Jelas."
"Kamu tidak?"
"Astaghfirullah." Nidar buru-buru mengalihkan matanya yang tersihir. "Ane khilaf."
"Khilaf kok melotot?"
"Bawaan."
"Aku tidak menyalahkan matamu. Kelemahan Adam ada pada wanita sehingga terusir dari surga. Kalau tidak mau timbul fitnah berantai, mulai dengan menjaga mata sendiri. Pamela Bordin bergoyang karena ada yang nonton."
"Jadi salah penonton?"
"Penonton datang karena ada panggung pertunjukan."
"Jadi salah shahibul hajat?"
"Shahibul hajat bisa apa kalau tidak ada izin hiburan."
"Jadi salah aparat?"
"Aparat cuma menjalankan peraturan."
"Jadi salah peraturan?"
"Peraturan yang membuat wakil rakyat."
"Jadi salah wakil rakyat?"
"Wakil rakyat yang memilih konstituen, salah satunya artis YouTube itu."
"Lingkaran setan."
"Jangan salahkan setan. Dia sudah divonis bersalah."
"Terus?"
"Jangan mulai segala sesuatu dengan menghakimi. Tidak selesai-selesai. Kalau menurutmu terlarang, ya sudah jangan tonton."
Yudi datang bersama dua gadis berhijab dengan model sangat fashionable, yang satu bercadar bandana. Dia baru sempat menyapa tamu, meninggalkan istri di pelaminan dikipasi dayang-dayang.
Gadis berhijab itu memberi salam, "Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam," jawab mereka.
Mata Al tertuju kepada gadis bercadar. Penampilan tertutup tidak dapat menyembunyikan pesona di baliknya. Gadis itu sangat rupawan.
Al hanya sekilas memperhatikan. Gadis itu juga cuma sekilas memandang. Mereka menghindari bertemu mata lama-lama. Namun dari sekilas itu, Al perlu menata hati dengan beristighfar.
Bola mata bening kebiru-biruan bagai samudera itu mengingatkan Al pada ratu kecil. Tapi apa mungkin?
Wajah gadis yang satu lagi terbuka seutuhnya. Dia kenal biar agak lama mengingat-ingat, padahal tetanggaan, Irma.
"Ngobrolnya sambil duduk," kata Yudi. "Mari."
Ada simfoni indah berdendang di hati Al berjumpa dengan gadis bercadar ungu itu. Apakah mungkin ratu kecil?
__ADS_1