
"Aku kira tidak perlu sejauh itu," kata Al. "Pasti muncul banyak pertanyaan jika kau melamar Aisyah untukku."
"Pertanyaan dari siapa?" tanya Riany. "Dari keluargamu? Jangan kasih tahu mereka."
"Jadi maksudmu aku menikah secara diam-diam? Orang tuaku pasti tersinggung. Aku tidak mau menikah tanpa sepengetahuan mereka."
"Berarti kau sulit untuk menikah sama Aisyah. Ibu tidak akan setuju sampai kapan juga."
Al bingung untuk memutuskan perkara ini. Maka dia memilih untuk melamar setelah wisuda nanti, atau tidak sama sekali.
"Aku tidak dalam keadaan buru-buru untuk menghalalkan Aisyah. Aku mau lihat situasi setelah aku jadi sarjana nanti."
"Itu lebih baik, karena Aisyah sendiri memutuskan untuk menunda pengobatan kakinya. Aku minta kamu fokus pada studi. Enam bulan lagi kita bicarakan hal ini."
"Enam bulan adalah sebentar untuk memutuskan sebuah kehidupan. Aku tidak akan memaksa Aisyah untuk menerima lamaran. Aku bisa membawanya pergi berobat ke luar negeri dengan mengajakmu."
"Masalah berobat tidak prinsipil bagiku. Kehidupan setelah berobat itulah yang perlu dipikirkan."
Sulit untuk berharap Aisyah dapat sembuh seperti sediakala. Hanya mukjizat yang membuat harapan tetap terpelihara.
Aisyah kayaknya sudah tahu hasil diagnosa dokter biar sudah disembunyikan oleh mereka. Dia menunda pengobatan karena rasa pesimisnya untuk sembuh.
Aisyah memilih untuk belajar hidup dengan kondisi kakinya yang sekarang. Dia merasa percuma berobat ke Tokyo, hanya buang-buang waktu dan uang. Dia lebih suka mengisi waktu untuk bikin skripsi agar bisa lulus kuliah tepat waktu.
Riany sadar jika sudah membuka pintu untuk Aisyah masuk ke dalam kehidupannya, maka akan terbuka pintu untuk perempuan lain. Barangkali hal ini yang membuat suaminya setengah hati untuk mengambil madu.
Jadi Al tidak kecewa saat Aisyah terkesan tidak bersedia jadi istri yang kedua, padahal posisi itu adalah kesempatan yang tersedia untuknya.
Satu bukti kalau Al ingin menghalalkan Aisyah bukan karena syahwat. Dia ingin mengangkat martabat gadis cacat dengan jadi istri pria seharga satu triliun.
"Kamu itu kebiasaan, setiap kali pulang, pintu gerbang pasti hampir kelewat," tegur Al halus saat Riany ngerem mendadak di depan pintu gerbang rumah mereka. "Sebodoh-bodohnya keledai tidak pernah melakukan kesalahan yang sama dua kali."
"Maka itu besok aku bikin kesalahan tiga kali, biar beda sama keledai," jawab Riany seenaknya. "Besok ada rencana ke mana?"
Riany mengendarai mobil pelan-pelan memasuki halaman dan berhenti di dekat teras.
"Aku mau ngantar Aisyah ke kampus untuk menyerahkan proposal judul skripsi," kata Al sambil keluar dari dalam mobil.
Kemudian mereka berjalan melintasi teras.
"Aku boleh ikut?" tanya Riany.
"Tentu saja," sahut Al sambil membuka pintu rumah dan menutup kembali setelah istrinya masuk. "Wulandari dan Lin Wei juga ikut."
"Kamu ngajak mereka?"
"Aisyah minta mereka ngantar, aku juga kepingin ngantar. Jadi akhirnya pergi rombongan."
"Sekalian kita tanya pengajuan judul skripsi kamu bagaimana hasilnya."
"Besok harusnya sudah ada keputusan."
"Jadi kau bisa ngantar aku pulang ke rumah untuk selanjutnya pergi ke bandara."
"Aku ingin ikut denganmu ke Madinah."
Riany tampak sangat senang. Mereka bisa bikin skripsi sambil bulan madu. Lalu dia nanti ikut pulang ke Yogya jika Al mulai bimbingan.
Satu minggu di Madinah dan satu minggu di Yogya rasanya cukup adil. Perjalanan pulang pergi Yogya Madinah pasti terasa singkat karena sarat dengan hidangan cinta.
__ADS_1
Lelah adalah sebuah cerita usang yang tertutup dengan cerita indah tentang kemesraan.
Ingat kemesraan, Riany tidak jadi pergi mandi, sekalian nanti. Dia rebahan di kasur yang empuk.
Jam menunjukkan pukul delapan malam. Cukup lama mereka makan di restoran terkenal di kota ini sambil menikmati senja hari, kemudian pergi ke Masjid Agung dan pulang selepas shalat Isya.
"Gak jadi ngambil bonus?" tanya Riany saat suaminya hendak pergi ke kamar mandi. "Gak selera ya karena Aisyah nolak lamaran kamu?"
"Aku lihat kamu sangat capek," jawab Al. "Maka itu aku pergi mandi."
Riany tersenyum mesra. "Tidak ada kata capek untuk suamiku. Aku merpati yang tak pernah ingkar janji. Aku siap kapan pun kamu ambil bonus tak terbatas."
"Kalau aku gak ngambil-ngambil?"
"Aku paksa untuk ngambil," bisik Riany mesra.
Manakala cinta datang menyapa, secangkir kenikmatan tersuguh di kamar yang indah. Malam penuh cahaya, tersilaukan segala problema.
Mereka berlomba-lomba melepas dahaga, lalu terdampar lunglai di taman kemesraan.
Tok tok tok.
Pintu kamar ada yang mengetuk dari luar. Riany yang tergeletak lemas di tempat tidur segera mengenakan kimono. Suaminya sudah pergi mandi.
Pasti ada urusan penting sampai orang rumah berani menganggu istirahat mereka.
Riany membuka pintu. Di hadapannya tersuguh wajah yang diliputi ketakutan.
Riany heran. "Ada apa, Mbok?"
"Ada tamu untuk Tuan menunggu di luar," jawab Mbok Narti bergetar.
"Perempuan apa laki-laki?" tanya Riany penasaran.
"Laki-laki," sahut Mbok Narti gelisah. "Kayaknya mereka bermaksud tidak baik."
Riany menatap kaget. "Mereka? Jadi tamunya banyak?"
"Ada sepuluh orang. Lebih baik Nyonya lapor polisi."
Riany berusaha untung tenang. "Mbok tahunya mereka berniat jahat dari mana? Siapa tahu teman kuliahnya Tuan."
"Masa temannya Tuan bawa senjata tajam?"
Riany terkejut. Dia teringat pada geng klitih yang lagi marak di Yogya. Mereka adalah sekumpulan anak muda yang sangat meresahkan warga karena sering berbuat kriminal. Tapi ada urusan apa suaminya dengan geng klitih?
"Mbok bilang saja Tuan sudah tidur," kata Riany.
"Mereka maksa untuk ketemu, Nyonya. Pak Muji diancam mau dibunuh kalau Tuan tidak keluar."
Pak Muji adalah penjaga pintu gerbang.
"Pak Muji sekarang di mana?"
"Menemani mereka di beranda. Dia ngebel saya untuk ngasih tahu Tuan."
"Bilang saja ke Pak Muji Tuan lagi mandi, suruh tunggu sebentar."
Riany menutup pintu. Dia segera mengambil handphone di meja kecil dekat tempat tidur. Panggilan tak terjawab dari Wulandari tampak berderet di layar.
__ADS_1
Riany memasang nada sambung dalam mode getar, harusnya terdengar karena posisi meja tepat berada di samping kepalanya. Barangkali karena gemuruhnya cinta hingga tidak terdengar bunyi lain.
"Ada apa, Wulan?" tanya Riany setelah tersambung.
"Kamu ke mana saja sih, ditelpon gak diangkat-angkat?" omel Wulandari panik. "Geng klitih barusan dari rumahku, sekarang pergi ke rumahmu."
"Mereka sudah ada di beranda, pakai ngancam security segala. Ada urusan apaan sih sampai kalian kedatangan geng klitih?"
"Ketua geng klitih adalah adiknya salah seorang penjarah yang sekarang lagi nunggu persidangan. Dia maksa aku sama Lin Wei untuk menolak jadi saksi. Jika tidak, dia bakal menghabisi aku berdua."
"Lin Wei ada di home stay kamu?"
"Iya. Dia sering nginap kalau home stay kosong."
"Kalian punya nomer kantor polisi?"
"Jangan lapor polisi deh, Ri. Nyawaku berdua terancam."
"Kalian gembok pintu gerbang."
"Security sudah menggembok. Aku malam ini aman, bagaimana besok, lusa?"
"Kita minta polisi untuk menangkap mereka."
"Teman-temannya bagaimana? Mereka adalah jaringan terorganisir di kota ini."
"Kamu tenang saja. Aku akan minta pengamanan pada polisi jika dibutuhkan. Premanisme kayak begini tidak bisa dibiarkan."
"Mulai ketularan Al rupanya."
"Kan istrinya? Sudah ya, tolong kirim nomer kantor polisi."
"Aku telpon sendiri saja."
Al keluar dari kamar mandi dengan mengenakan kimono dan mendengar percakapan mereka. Ia bertanya, "Ada apa minta nomer kantor polisi? Aku KDRT tadi ya?"
Riany mengakhiri sambungan dan tersenyum mesra. "Kekerasan yang tadi itu tidak masuk pasal, malah aku adukan kalau lembek."
"Terus?"
"Di luar ada gang klitih bawa senjata tajam ingin ketemu kamu. Mereka mengancam akan membunuh Pak Muji kalau kamu tidak keluar."
Al segera membuka lemari pakaian mencari baju dan celana.
"Kau mau keluar, beb?" tanya Riany kuatir.
"Katamu mereka akan membunuh Pak Muji kalau aku tidak keluar."
"Wulandari sudah menghubungi kantor polisi. Mendingan kita tunggu polisi datang."
"Nambah-nambah kerja polisi saja."
"Mereka ada sepuluh orang, beb. Aku minta jangan keluar."
"Kamu tenang saja. Mereka adalah orang-orang yang tidak punya nyali."
"Tidak punya nyali masa berani mendatangi rumah kita?"
"Orang punya nyali nggak bawa senjata tajam."
__ADS_1