
Sulit menahan keluarnya air mata menjelang detik-detik perpisahan. Pergi ke Tanah Suci risikonya beda dengan pergi liburan ke Dubai atau Kairo. Cuaca ekstrim, ritual ibadah yang berat, konflik Saudi dengan negeri tetangga, segalanya bisa terjadi.
Jadi wajar kalau ada acara maaf-maafan sebelum keberangkatan, dan kepergian mereka diantar sampai bandara.
Tetangga, kerabat, dan sahabat datang berduyun-duyun menyampaikan salam perpisahan.
Masjid ramai oleh isak tangis.
Al dan Oma menyampaikan permintaan maaf ke setiap orang yang dijumpai, baik kenal atau tidak, kalau-kalau ada dosa disengaja atau tidak disengaja kepada mereka.
Banyak jamaah, termasuk Oma, mengadakan acara walimatussafar sebelum berangkat umrah. Walimatussafar adalah momen baik untuk bermaaf-maafan. Karena setiap hari, bahkan setiap menit, manusia tidak luput dari dosa.
Tapi Al tidak mengadakan acara itu di rumah. Dia lebih suka mendatangi tetangga satu per satu mohon doa dan dibukakan pintu maaf. Untuk tetangga jauh, dia gunakan momen di masjid setelah shalat berjamaah, atau kirim WA bagi warga yang jarang ke masjid.
Banyak cara untuk bermaaf-maafan dan tidak terikat pada momen tertentu saja. Al tidak mau memperdebatkan hal itu.
Dia tidak usil kepada jamaah yang membawa perbekalan segambreng dan dijejalkan ke travel bag. Takut makanan di Saudi tidak cocok. Setiap jamaah punya prinsip masing-masing.
Al cuma membawa beberapa setel kurta, gamis, dan ihram. Tidak membawa perbekalan. Dia harus beradaptasi dengan makanan Saudi, tidak bertahan dengan seleranya. Dan sebagai tuan rumah yang baik, Saudi menyediakan berbagai makanan Indonesia. Jengkol dan petai juga ada, pesan khusus ke chef.
"Nah, ini yang benar," komentar Bu Hanif. "Yang penting jangan lupa bawa duit."
"Aku tidak bawa duit."
"Kartu ATM?"
"Ya."
"Lebih simpel. Jangan kayak si Eyang, umrah apa pindah rumah?"
Eyang Munzir membawa banyak perbekalan. Kopi, gula, mie instan, dan dua pak rokok. Merokok tidak dilarang di Saudi, tapi jualan rokok dilarang. Konon ada yang nekat jualan, petugas sampah atau sopir ambulance.
Al tertarik mendengarkan percakapan Oma dan Opa. Sebenarnya Jennifer ingin datang, tapi Al melarang karena takut merusak suasana.
"Kamu ridha aku pergi sama cucuku?" tanya Oma.
"Ridha," sahut Opa.
"Kamu ridha jika aku menjumpai Muhammadku untuk selamanya?"
"Maksudnya?"
"Perjalanan jauh dan rangkaian ibadah yang berat bisa saja terjadi sesuatu padaku."
"Aku doakan kamu kuat menjalani ibadah umrah."
"Aamiin."
"Kalau aku tidak bisa berbuat adil, maafkan aku, sekalipun aku sudah berusaha."
"Kumaafkan."
"Yang tua pergi sendiri ke Makkah, yang muda diajak bulan madu ke Dubai, itu sudah berusaha adil?" sindir Al dingin.
"Cah bagus, aku sudah menawari Oma seperti halnya aku menawari Jennifer. Oma memilih Makkah dan Jennifer memilih Dubai. Aku putuskan untuk mengundi mana yang mesti didahulukan. Tapi Oma menolak, tidak apa aku mendahulukan Jennifer. Ketika aku sudah mempersiapkan segalanya, Oma memilih pergi ke Makkah bersamamu."
__ADS_1
"Tapi kamu ridha, kan?" potong Oma.
"Ya."
"Kamu ridha jika aku menjumpai Muhammadku untuk selamanya?"
"Kamu bercita-cita meninggal...."
"Tidak boleh manusia bercita-cita mati."
"Lalu?"
"Aku bilang jika, ngerti jika kan?"
"Ya. Aku ridha."
"Terima kasih. Ridhanya suami adalah ridhanya Allah."
Melalui pengeras suara, Harbi mengumumkan agar jamaah masuk bis sesuai daftar absen. Al menjinjing hand bag Oma dan mengikutinya antri masuk ke dalam bis. Sementara travel bag sudah dimasukkan ke bagasi.
Setelah semuanya masuk, Riany mengabsen satu-satu. Lengkap. Tinggal menunggu bis lain selesai mengabsen. Semua ada sembilan bis.
Bis yang ditumpangi Al berada paling depan, nantinya membuntuti langsung mobil polisi yang mengawal. Ada beberapa mobil polisi untuk mengantisipasi dampak kejadian semalam.
Polisi mulai menghidupkan lampu sirine. Bis siap-siap konvoi. Lalu sirine berbunyi bersamaan dengan meluncurnya mobil polisi yang diikuti oleh bis-bis di belakangnya.
Riany memilih jadi ketua rombongan bis ini. Duduk bertiga bersama Oma. Al tidak tahu gadis ini ingin selalu dekat dengannya atau ada Pamela Bordin duduk di seberangnya bersama Nek Surti.
"Aku ada di bis ini karena Oma," kata Riany pelan seakan tahu isi pikirannya. "Di Makkah laki-laki dan perempuan pisah kamar."
"Kecuali pengantin baru itu."
"Mereka pergi bulan madu sekalian umrah. Kok tega banget kamu?"
"Biar adil."
"Justru itu tidak adil."
"Menurutmu baiknya mereka tinggal satu kamar?"
"Karena untuk itu mereka pergi."
"Berarti aku rubah lagi daftarnya."
"Jangan terlalu penurut."
"Aku ingin jadi perhiasan yang terbaik."
"Kepedean ya kalau aku bilang kamu ada di sini karena aku?"
"Di Makkah nanti jaga kata-katamu."
"Di sini juga kata-kata harus dijaga."
"Di kota suci kata-katamu termakbulkan."
__ADS_1
"Kecuali kalau aku ingin menikah dengan puteri kerajaan."
"Ngeri deh dengernya," potong Pamela. "Di Makkah jangan ngomong gitu ya, Al?"
Al tersenyum sedikit. Ini yang perlu diluruskan. Dia percaya setiap ucapan di Makkah adalah doa termakbulkan. Tapi doa yang bagaimana? Kalau doa tidak masuk akal, mana mungkin termakbulkan.
Tidak sampai dua jam bis sudah tiba di curb bandara. Kemudian jamaah antri menjalani pemeriksaan; security check, tiket, imigrasi, timbang, boarding pass, hingga body check dan hand luggage. Selesai melewati semua itu, Al dan Oma duduk di boarding lounge menunggu pesawat take off. Sementara Riany sibuk mengurus jamaah yang jadi tanggung jawabnya.
"Kamu sudah pernah naik pesawat, cah bagus?" tanya Oma.
"Belum."
"Oma sering naik pesawat domestik, bolak-balik Jakarta-Yogya."
"Lagi muda ya, Oma?"
"Sudah tua kan Oma bolak-balik ke kampung nengok cucu."
Oma tersenyum, wajahnya juga. Al senang melihat mood-nya membaik. Kalau perjalanan suci ini dapat menghibur kegundahannya, dia tidak keberatan mengantar bolak-balik.
Meski belum pernah naik pesawat, Al bisa membayangkan naik pesawat dengan kecepatan di atas 900 km/jam seperti duduk di ruangan ini, tidak berasa.
Riany datang selesai mengurus jamaah. Al bangkit memberinya tempat duduk karena ruangan penuh sesak.
"Oma senang banget bisa bertamu lagi ke Tanah Suci."
"Kalah dong cucunya," kata Riany. "Naik pesawat saja kayaknya baru sekali ini."
"Mulai sekarang cah bagus bisa bolak-balik ke Madinah."
"Ngapain?" tatap Al sekilas.
"Jenguk cah ayu."
"Tunggu pulang saja."
"Perempuan itu ingin dimanja, cah bagus."
"Iya, iya."
Padahal Al ingin menjawab; habis dimanja terus diduakan kayak Oma. Sungguh, mommy jaman now sulit menerima, kecuali dengan ketakwaan tingkat Siti Aisyah!
Terdengar pengumuman lewat pengeras suara dan informasi digital bahwa nomor penerbangan dengan pesawat Saudi Arabia akan segera berangkat.
Mereka berjalan menuju apron di mana pesawat yang dituju parkir. Lalu menaiki garbarata, menjalani pemeriksaan boarding pass, dan masuk ke kabin pesawat.
Riany sibuk mengabadikan momen-momen tertentu.
Sebelum masuk pesawat, Al melempar pandang ke sekitar. Berat rasanya meninggalkan tanah air. Padahal cuma 22 hari, 8 hari di Makkah dan 12 hari di Madinah, sisanya di perjalanan.
"Berat nian yang kurasakan saat pertama kali pergi ke Madinah," kata Riany pelan. "Apalagi di Indonesia ada laki-laki yang kudoakan siang dan malam agar jadi imam yang terbaik dari yang pernah ada."
"Aku pamit Indonesia," gumam Al bergetar.
Mereka masuk ke dalam pesawat. Al menaruh hand bag di kompartemen lalu duduk di samping Oma sesuai nomor.
__ADS_1
Pramugari menyampaikan pemberitahuan sebagaimana umumnya sebelum pesawat berangkat.
Pesawat bergerak pelan-pelan meninggalkan apron, melintasi taxi way, berputar memasuki run way, lalu melaju semakin lama semakin kencang dan meninggalkan landasan menuju angkasa.