Cinta Untuk Gadis Madinah

Cinta Untuk Gadis Madinah
Episode 115


__ADS_3

Begitu mobil polisi meninggalkan halaman, Riany dan semua asisten rumah bermunculan dari dalam.


"Aku ngeri lihat keberanian kamu," kata Riany yang menyaksikan pertarungan mereka di balik gorden. "Kamu bisa terbunuh."


Al menjawab dengan kerennya,"Aku bangga mati sebagai laki-laki."


"Tapi aku jadi janda karena kebanggaan kamu," gerutu Riany dongkol. Al seakan tidak takut mati. Dia tidak berpikir kalau sekarang sudah membawa dua nyawa, nyawanya dan nyawa istrinya!


Dia harus lebih hati-hati dalam menjalani kehidupan, karena setiap langkah yang diambil bukan cuma untuk dirinya.


Dia harus memperhitungkan secara matang segala kemungkinan yang terjadi.


Dia hidup tidak sendiri!


"Semoga dapat yang lebih baik kalau hal itu terjadi," kata Al.


"Jadi ke mana-mana deh."


Al angkat bahu sedikit. "Bagaimana lagi? Keberadaan istri tidak menahan aku untuk menegakkan kebenaran."


Al tidak bisa berpangku tangan sementara dia mampu mengatasi masalah. Dia sudah sering menangkap copet, maling, dan pelaku kriminal lainnya, sehingga lingkungan merasa terbantu.


Menciptakan lingkungan yang aman dan tertib bukan hanya tugas aparat. Kepedulian dan kesadaran akan hukum bukan lantas menyerahkan segala urusan kepada pihak berwajib.


Jadi tidak aneh kalau Al banyak teman dan banyak musuh. Bagaimanapun cara dia menjalani kehidupan pasti menanggung risiko.


Al sangat suka menempuh jalan yang penuh risiko untuk membentuk kepribadiannya jadi semakin matang.


Karena hidup adalah risiko.


Penjarahan di jalan tol dan kedatangan geng klitih adalah bagian dari risiko.


Wulandari dan Lin Wei muncul di pintu gerbang. Mereka mendatangi Al yang tengah berkumpul di beranda. Mereka sudah mengenakan kimono tidur.


"Kau tidak apa-apa, Al?" tanya Wulandari kuatir. "Kamu baru sembuh, jangan sampai masuk lagi."


Al tersenyum untuk menghalau rasa kuatir yang menggantung kuat di matanya. "Aku tidak apa-apa."


"Beneran?"


"Demi."


Ada rasa tidak enak di hati Riany melihat perhatian Wulandari yang demikian besar. Dia tidak sadar kalau ada yang paling berhak untuk mempedulikannya.


Persahabatan selama tiga tahun lebih sudah membuat mereka seakan tiada jarak, padahal ada istri di sampingnya.

__ADS_1


Atau Wulandari sudah mendengar kabar kalau Al hendak melamar Aisyah? Jadi pintu untuk yang ketiga mulai terbuka.


Tapi Aisyah tidak mungkin membocorkannya pada Wulandari dan Lin Wei. Dia pasti berada dalam tekanan mereka untuk menerima tanpa pertimbangan lagi.


Aisyah tidak akan bertindak bodoh karena pasti jadi bumerang.


Jadi perhatian Wulandari adalah murni wujud dari kedekatan mereka selama ini.


Riany diam-diam heran, bagaimana Al bisa memilih perempuan yang jauh di kampung sementara banyak bidadari di sekelilingnya?


Barangkali itulah cinta, tidak terhalang jarak dan waktu.


Cinta itu kini dipertaruhkan di hadapan Aisyah!


Riany tahu suaminya tidak mencintai gadis itu, tapi cinta tidak penting untuk laki-laki!


Lagi pula, Aisyah sanggup mendatangkan cinta dalam satu malam!


Wulandari dan Lin Wei adalah dua gerbang berikutnya yang sulit untuk tidak dikunjungi. Mereka memiliki daya tarik yang membuat seorang suami lupa pada istrinya.


Tapi satu saja belum beres! Riany terlalu terbawa arus pikirannya.


"Aku takut teman-temannya datang malam ini," kata Lin Wei cemas. "Mereka bisa menuntut balas dengan membawa kekuatan lebih besar."


"Anggota reserse ada yang berjaga-jaga nanti," ujar Al. "Kalian tenang saja."


"Aku kira mereka tidak berani ambil risiko. Ketua geng klitih itu datang untuk membela kakaknya, terlepas benar atau tidak. Jadi tidak ada sangkut pautnya dengan mereka."


"Sekarang ada sangkut pautnya karena ketua mereka ditangkap."


"Sudahlah, kita jangan bicara terlalu jauh tentang mereka. Kita bicara yang dekat-dekat saja."


"Apa itu?"


"Acaraku besok padat banget. Ngantar Aisyah ke kampus, ngantar Wulan ke galeri, terus kamu pengen cari buku referensi untuk bikin skripsi. Nah, Riany pengen keliling Yogya sebelum pergi ke Madinah. Jadi sekarang kita istirahat, sudah malam."


Geng klitih sudah ditangani polisi dan ada reserse yang berjaga-jaga nanti untuk mengantisipasi kedatangan teman-temannya. Apa lagi yang perlu dipikirkan?


Dia anggap urusan penjarahan dan geng klitih sudah selesai. Dia tidak mau terlibat terlalu jauh yang akhirnya terkesan sok pahlawan.


Mereka sebenarnya adalah adik-adiknya juga yang perlu bimbingannya.


Al ingin fokus mengerjakan skripsi. Dia sudah mencapai titik akhir perjuangan belajarnya. Dia tidak mau konsentrasinya buyar karena memikirkan hal yang di luar masa depannya.


"Begitulah gambarannya kalau empat," kata Riany setelah mereka berbaring di tempat tidur. "Aku nggak bisa bayangin kalau empat-empatnya punya acara di waktu yang sama dan harus dihadiri oleh suami."

__ADS_1


Al tidak tertarik untuk membahas hal itu. Dia tidak tergiur untuk memiliki mereka semua meski peluang terbuka lebar.


Hidup tidak sekedar untuk hasrat. Semua ada pertanggungjawabannya. Orang yang kelebihan uang terlalu enak hidupnya kalau tidak ada konsekuensi dari kelebihannya itu.


Al sudah cukup dipusingkan dengan urusan Aisyah. Jika menikah secara diam-diam, maka dia menciptakan masalah yang lebih besar.


Mengharapkan restu dari orang tua sama dengan kodok ingin bisa terbang. Ibu sudah mengunci pintu untuk perempuan lain, tidak hanya untuk suami, untuk anaknya juga.


"Enak-enak mumet ya punya empat," ujar Riany. "Enaknya banyak serep kalau kepengen, mumetnya kalau lagi ada keperluan yang butuh suami. Nah, kamu pasti puyeng harus pergi sama istri yang mana."


Karena tidak tertarik membicarakan hal itu, pikiran Al jadi melayang pada kata-kata ketua geng klitih bahwa anak istri kakaknya kelaparan karena kepala rumah tangganya masuk bui. Dia ingin mengecek kebenaran omongannya.


Dia ingin memberi bantuan sehingga proses persidangan tidak membuat keluarga mereka terlantar. Sebuah risiko yang seharusnya tidak diterima kalau kepala keluarga mencari uang halal.


"Kok kamu diam saja sih?" tanya Riany. "Omongan aku gak asyik ya?"


"Aku tidak tahu kamu ngomong apa," jawab Al acuh tak acuh.


Dia tidak suka istrinya mancing-mancing, padahal mereka tidak mau hal itu terjadi. Aisyah adalah pengecualian yang sulit mereka hindari.


"Jadi cuma sampai Aisyah?" selidik Riany ingin tahu.


"Aku tidak tahu Aisyah juga sampai atau tidak," sahut Al kelu. Dia sebenarnya ingin menghindari pembicaraan tentang gadis itu, karena hanya membuat sesak dadanya.


"Aisyah adalah permintaanku," kata Riany. "Jadi kamu harus siap untuk mengisi hari-harinya."


"Aku baru siap untuk mengisi perutmu," ucap Al separuh menggoda. "Mengambil bonus tak terbatas sebanyak-banyaknya."


"Kamu pasti sedang bingung kalau mengalihkan percakapan."


"Urusan Aisyah enam bulan lagi."


"Enam bulan tidak lama. Untuk meluluhkan hati Ibu tidak cukup waktunya."


"Hati Ibu tidak akan luluh meski kamu yang minta restu. Dia malah akan menyangsikan cintamu padaku."


"Yang penting suamiku percaya padaku."


"Tapi aku harus mendengar sabda Ibu sampai sisa nafasku yang terakhir."


"Insya Allah Ibu merestui kamu untuk menghalalkan Aisyah kalau sudah melihat kondisinya. Hanya dia pasti khawatir Ayah mengikuti jejakmu. Itu masalahnya."


"Jadi waktu untuk ngambil bonus sudah tutup?" potong Al tidak sabar, sekalian ingin mengakhiri percakapan yang membuat penat hatinya. "Aku tidak mungkin pergi ke home stay sebelah karena tidak ada cap halal!"


Riany tersenyum mesra. "Kamu tinggal masuk ke dalam selimut. Aku siap saji."

__ADS_1


Malam penuh cinta adalah perjalanan indah yang dilewati di antara duri kehidupan.


__ADS_2