Cinta Untuk Gadis Madinah

Cinta Untuk Gadis Madinah
Episode 43


__ADS_3

Di sepanjang jalan sopir jadi pemandu mereka, menjelaskan wilayah-wilayah yang dilalui dan sejarah miqat di Masjid Aisyah dengan bahasa Indonesia yang terbatas. Sopir itu imigran dari Nigeria. Tidak sia-sia memberi uang tip 1000 riyal.


Masjid Aisyah terletak di Tan'im, 7 km di sebelah utara Masjidil Haram.


Alkisah, Siti Aisyah sedang datang bulan bertepatan dengan pelaksanaan Haji Wada sehingga tidak dapat melaksanakan umrah. Begitu suci, Aisyah ingin melakukan umrah. Nabi memerintahkan saudara laki-laki Aisyah, Abdurrahman, untuk mengantar berihram ke Tan'im. Lalu masjid itu dikenal dengan nama Masjid Aisyah.


Ketika bis tiba di halaman masjid, kesibukan mulai terasa. Rombongan dari berbagai negara datang silih berganti mengambil miqat untuk berumrah.


Di halaman masjid, ramai pedagang menggelar aneka pernak-pernik suvenir. Ada pula sewa jasa kursi roda bagi jamaah lanjut usia.


Di sudut halaman toko-toko suvenir dipadati pengunjung yang ingin sekedar cuci mata maupun beli oleh-oleh.


Sekelompok anak kecil riang gembira bermain kejar-kejaran dan bersepeda ria di halaman.


Bagi rombongan yang tidak membawa kendaraan, terdapat bis dan taksi parkir di sisi jalan. Para sopir berlomba-lomba menawarkan jasa untuk mengantar penumpang ke Masjidil Haram. Tarifnya beragam, 8 hingga 10 riyal per penumpang.


"Haram. Haram. Haram."


"Indonesia. Indonesia. Indonesia. Silakan." Seorang sopir menawarkan kepada rombongan Indonesia yang meninggalkan masjid untuk naik bis.


Janda muda yang lagi kepingin punya suami Arab, iseng menggoda, "Bisa gak ke Janda Muda, eh, Jalan Pemuda?"


Sopir tersenyum. Itu jawaban sederhana kalau mereka tidak mengerti apa yang dikatakan pengunjung.


Kalau ada pedagang menyebut-nyebut tokoh politik atau selebriti Indonesia, bukan berarti mereka populer di Saudi. Hanya taktik dagang belaka agar jamaah Indonesia tertarik.


Nidar hampir tidak jadi belanja suvenir karena pedagang menyebut artis yang Nidar tidak suka.


"Dulu aku suka lagu-lagunya, berani menentang penguasa. Sekarang berada di ketiak penguasa, aku tidak jadi beli."


"Mak Erot. Mak Erot."


"Sudah lama meninggal. Yang update dong."


"Liza Soberano. Liza Soberano."


"Nah, baru oretz. Tasbihnya sepuluh."


Pedagang membungkus tasbih. Nidar serahkan uang lalu mendatangi Al yang lagi mengurus rombongan.


"Liza Soberano itu siapa sih?" tanya Nidar. "Penyanyi keroncong ya?"


"Liza Soberano?"


"Iya."


"Artis Filipina."


Nidar bengong. "Lah, aku kira satu suku sama Sukarno?"


Al memberi informasi yang diperlukan sebelum rombongan berpencar, "Ingat baik-baik nomor mobilnya. Perhatikan lokasi parkir. Kalian ada waktu dua jam di Tan'im. Yang mau belanja suvenir atau cari kudapan, silakan. Setelah itu berihram."


Waktu yang diberikan pihak travel sebenarnya satu jam. Tapi itu tidak cukup. Terjadi antrian panjang di toilet, locker, tempat wudhu, dan lokasi air zam zam.


Al ingin mereka menjalankan ibadah dengan tertib dan nyaman sekalipun harus keluar biaya ekstra dari kantong sendiri.


Sebagian dari rombongan langsung antri wudhu, sebagian lagi jalan-jalan mencari suvenir dan kudapan.


Mereka sudah diberi tahu untuk mandi sunah di hotel, jadi tidak ada yang antri di kamar mandi seperti rombongan lain.


Al dan Oma duduk-duduk di beranda menunggu antrian ke ruang locker berkurang.


Harbi datang dan bertanya, "Rombonganmu ada tambahan rental hours ya?"


"Apa boleh buat."


"Sudah menghubungi Riany?"


"Untuk apa?"


"Jatahnya hanya satu jam."


"Sudah kuhubungi biro transportasi. Tidak masalah katanya asal bayar charge."

__ADS_1


"Ini bukan soal charge, kedisiplinan. Kamu tidak bisa atur schedule seenaknya."


"Siapa yang nyusun schedule ini?"


"Ada di kontrak."


"Siapa yang bikin kontrak?"


"Riany."


"Orangnya tahu tidak situasinya kayak apa?"


"Kok tanya aku?"


"Terus tanya siapa? Bukit Na'im?"


"VC Riany bisa, kan?"


"Lowbat."


Harbi menyodorkan handphone. "Nih."


"Kau saja."


"Gimana sih?"


"Aku ingin mereka tidak buru-buru."


"Berarti jadwal rombonganmu hari ini di-reschedule semua. Tidak bareng rombongan lain."


"Bareng gak bareng sama saja, kan? Sibuk ngurusin rombongan masing-masing."


"Sorry, aku sendiri keteteran."


"Seharusnya tidak masalah dong dengan daerah Makkah?"


"Jamaahnya bermasalah. Barusan ada suami-istri berantem gara-gara kentut."


"Masalah kecil kok dibesar-besarkan?"


"Keceplosan kali."


"Aku tidak tahu."


"Masa gitu aja ribut?"


"Kayaknya sudah ada masalah dari rumah, segala apa disebut-sebut."


"Jangan-jangan harimnya naksir antum, sengaja cari gara-gara."


"Bisa saja kau."


"Di kampung lagi nge-trend cari laki-laki impor."


Harbi tersenyum sedikit. "Senang ngobrol sama kamu."


Bangsawan Arab itu menepuk pundak Al, lalu pergi mencari rombongan yang tercecer.


Harbi orangnya asyik juga, pikir Al, tidak kaku. Tapi benarkah dia dapat menerima? Datang ke Indonesia cuma untuk sebuah peran berpura-pura? Tidakkah kedekatannya dengan Pamela hanya kompensasi belaka karena kecewa dengan Riany?


"Lagi galau ya, cah bagus?" selidik Oma ingin tahu.


"Jangan nebak-nebak deh."


"Pergi dua-duaan ke Riyadh, bermalam, itu tidak membuatmu galau?"


"Riany besuk teman kuliahnya yang kecelakaan, yang kebetulan calon istri Lukman."


"Dinar cerita?"


"Al malah belum ketemu Dinar."


"Terus tahunya dari siapa?"

__ADS_1


"Nidar."


"Nidar dari Dinar?"


"Irma."


"Irma dari Dinar?"


"Kalau dari Dinar hoax ya, Oma?"


"Kata-kata Dinar bisa dipegang."


"Kalau Riany kata-katanya lepas terus?"


"Cah ayu itu besuk Faye."


"Jadi temannya Riany itu namanya Faye?"


"Kata Dinar."


"Terus?"


"Kecelakaan itu pas banget ya besoknya ada konser band ngetop di Riyadh."


Hari ini ada konser Svangeli, band metal dari Uni Emirat Arab, favorit Riany dan Lukman. Tiket sold out. Pasti Oma tahu dari Instagram Harbi.


"Kamu tidak curiga kalau ini cuma akal-akalan mereka?"


"Masa iya sih cuma gara-gara konser, Faye dijadikan modus?"


"Semoga saja cah ayu benar-benar besuk temannya. Tidak ada motif lain."


Sebetulnya Al tidak peduli Riany pergi besuk atau nonton konser. Dia tidak bisa mengekang kebebasannya. Ta'aruf bukan penjara.


Hanya masalahnya, Riany selalu bawa Irma kalau pergi bersamanya, agar tidak timbul fitnah, kadang Al juga bawa Nidar. Tapi pergi bersama Lukman, kenapa tidak bawa pendamping? Kebebasan macam apa yang dia inginkan?


Kalau Irma tidak suka Svangeli, ada Nidar fans beratnya. Tapi sudahlah. Al tidak mau berpikir macam-macam, hanya mengotori ibadahnya. Dia datang ke Tanah Suci bukan untuk ta'aruf. Jadi dia singkirkan segala kegaduhan di hatinya.


"Kita ihram dulu, Oma," kata Al melihat antrian ke ruang locker sudah mulai sepi.


Mereka bangkit. Irma datang tergopoh-gopoh dan menyodorkan handphone ke Al.


"Riany pengen ngomong," ujar Irma.


"Terima saja," sahut Al tak peduli. "Aku mau ihram."


"Penting."


"Ihram juga penting."


Al pergi ke ruang locker, mengeluarkan ihram dari tas gendong, lalu melepaskan semua pakaian dan mengenakan ihram dengan ringkas.


Setelah itu Al menyusul Oma yang berihram di toilet perempuan.


Irma muncul lagi dan memohon, "Please deh, Al."


"Dia ngebel lagi?"


"HP kamu di mana sih?"


"Di meja hotel."


"Tolong terima deh."


"Kamu tidak lihat aku belum wudhu?"


"Bentar aja."


"Waktu kita di Tan'im juga bentar lagi."


Al dan Oma pergi wudhu. Kemudian masuk ke dalam masjid dengan lantai tertutup permadani yang cantik. Mereka berhenti dekat rak Al-Qur'an. Siap-siap untuk shalat sunah.


Al berbisik sambil mata menerawang jauh menembus batas dinding, "Aku memenuhi panggilan-Mu, ya Allah. Cintaku kepada-Mu tidak pernah terhinakan."

__ADS_1


Al mengangkat dua tangan bertakbir mulai menunaikan shalat sunah dua rakaat.


__ADS_2