
Al bersyukur hari ini sudah keluar keputusan tentang judul skripsi yang harus digarapnya. Ia kebagian jadwal minggu depan untuk mempresentasikan judul skripsi.
Jadi besok Al bisa pulang bersama Riany untuk selanjutnya pergi ke Madinah.
Tapi bagaimana dengan Aisyah?
Ryan akan datang besok ke rumahnya. Dia bebas untuk melelang rayuan karena tidak ada lagi verboden.
Lagi pula, apa hak Al untuk melarang Ryan datang ke rumah Aisyah?
Gadis itu pernah bersikeras untuk mengisi slot istri kedua, namun segalanya berubah sejak terjadi tabrakan beruntun di jalan tol.
Aisyah seolah kehilangan motivasi dan ingin menghentikan perburuan cintanya.
Al tidak bisa apa-apa.
"Aku sama Wulan boleh nggak ikut denganmu?" tanya Lin Wei sambil berjalan bersama Riany keluar gedung sekretariat. "Kayaknya asyik bikin materi presentasi di kota Madinah, kota paling sehat di dunia."
Riany menjawab dengan kalimat menggantung, "Secara pribadi sih boleh-boleh saja. Tapi...."
Riany senang sekali jika Wulandari dan Lin Wei ikut bersamanya ke Kota Suci. Ryan jadi banyak kesempatan untuk pedekate sama Aisyah.
Dia kira gadis itu sulit untuk menolak dengan kondisi kaki yang cacat.
Jadi ada harapan besar baginya untuk memiliki Al seutuhnya.
Dia sudah melakukan kesalahan dengan memberi kesempatan kepada suaminya untuk mengambil Aisyah sebagai madu, dan akhirnya jadi bumerang.
"Tapi apa?" desak Lin Wei penasaran.
Riany berkata dengan hati-hati, "Kota Madinah tertutup untuk wisatawan non muslim."
"Begitu ya?"
"Tapi sebentar lagi hadir smart city untuk pemukiman non muslim."
"Lagi pula, siapa yang menemani Aisyah kalau kalian pergi ke Kota Suci?" cetus Rivaldo yang jalan bersama Al di belakang. "Kasihan dia sendiri di Yogya."
Padahal Rivaldo ingin mewakili suara hati temannya. Al pasti gelisah di Madinah karena harus memikirkan gadis di Yogya dari gangguan Ryan.
Keberadaan Wulandari dan Lin Wei akan sangat membantu untuk menjaga Aisyah.
Kejadian hari ini sudah cukup memberi gambaran kalau mereka tidak suka dengan kehadiran Ryan dalam kehidupan temannya.
Mereka bertiga sudah berikrar untuk memiliki satu suami!
"Bukan begitu, bro?" ujar Rivaldo sambil menoleh ke arah Al yang banyak merenung sejak kedatangan Ryan.
__ADS_1
Al sedang bingung memikirkan keputusan yang akan diambilnya. Dia senang melihat Aisyah menemukan gairah hidup lagi.
Tapi wasiat Oma menghantui pikirannya, bahwa Aisyah lebih pantas untuknya dibanding Riany, dan nyatanya demikian.
Keunggulan Riany dari mereka bertiga terletak pada pesona yang akan memudar seiring berjalannya waktu. Sebuah keunggulan semu dan tidak abadi.
Al terhanyut oleh masa kecil sehingga tidak sadar kalau berumah rumah tangga bukan butuh kesempurnaan fisik semata.
Tapi Al tidak menyesal dengan keputusannya. Penyesalan hanya membuat dia kelihatan bodoh di mata kehidupan.
Apa dia perlu bersaing dengan Ryan untuk memperjuangkan wasiat itu?
Selama ini Al merasa tenang karena Aisyah sudah menutup pintu hati untuk laki-laki lain. Dia merasa tidak diburu waktu. Manakala gadis itu mulai membuka kesempatan untuk Ryan, dia kalang kabut sendiri.
Lalu bagaimana kalau Aisyah memilihnya?
Masalah tidak selesai, malah tambah ribet. Ibu sudah pasti menentang keras.
Al jadi serba salah.
"Aku ngomong gak didengerin ya?" tegur Rivaldo.
"Kamu ngomong apa?" tanya Al acuh tak acuh.
Rivaldo jadi senewen, dan berkata beda lagi, "Aku pengen ngajak kamu lunch di kafe termewah di kota ini."
"Banyakan aku duitnya. Jadi aku yang pantas mentraktir."
"Omongan kamu yang bisa dimengerti cuma urusan makan."
Rivaldo adalah jaminan perutnya saat Al menghadapi masa-masa sulit dulu, selain Aisyah dan kedua temannya.
Sudah tiba waktunya untuk membalas budi baik mereka.
"Aku tidak perlu ditemani," kata Aisyah. "Aku bukan anak kecil yang ketakutan ditinggal sendiri."
"Karena ada Ryan?" tanya Wulandari langsung ke sasaran. Temannya ini jadi berubah sejak pertemuan singkat dengan Ryan. Apakah karena rasa bahagianya, ada pangeran yang tidak peduli dengan kakinya? Cuma peduli dengan cinta!
Aisyah menatap Wulandari dengan tidak senang. "Kok jadi meleber ke Ryan sih? Lin Wei ingin pergi ke Madinah. Jangan sampai gara-gara aku, dia jadi mengurungkan niatnya."
"Kamu kan tahu Madinah tertutup untuk...."
"Lin Wei bisa tinggal di Riyadh atau Jeddah."
"Dia ingin tinggal bersama Riany."
"Riany bisa tinggal bersamanya."
__ADS_1
"Aisyah betul," kata Riany sambil mendorong kursi roda pelan-pelan. "Aku bisa naik kereta untuk pergi kuliah, lagian nggak tiap hari. Jadi bisa menemani kalian jalan-jalan di Riyadh."
"Aku pergi ke kotamu bukan untuk jalan-jalan," sambar Lin Wei. "Bikin materi presentasi di kota yang tenang.'
"Bete juga kali kalau nggak keluar-keluar dari hotel, sesekali refreshing."
Al tahu apa alasan Riany mendukung Aisyah, mereka memiliki kepentingan yang sama untuk tujuan berbeda.
Riany tidak mau berbagi suami kalau ada peluang untuk bertahan, dan Ryan adalah benteng pertahanannya.
Sementara Aisyah ingin memberi kesempatan pada Ryan untuk membuktikan keluhuran cintanya.
"Bagaimana kalau Aisyah dan aku ikut?" usul Rivaldo. "Kayaknya asyik juga jalan-jalan di kota Riyadh. Aku dengar, kota itu lagi berbenah untuk menerima wisatawan dari berbagai belahan dunia."
Sekali lagi Rivaldo ingin mewakili kegundahan hati sahabatnya. Dia tahu Al tidak mungkin menyampaikan hal itu.
Sewaktu jomblo saja, Al belum pernah punya ide jalan-jalan, karena tidak ada biaya. Nah, sekarang sudah banyak uang, muncul kendala baru.
Al sudah barang tentu harus menghormati istrinya. Dia tidak mungkin mengajak mereka untuk ikut pergi bersamanya.
Riany pasti merasa terganggu privasinya. Kehadiran tiga bidadari dalam perjalanan bulan madu adalah pertanda kurang baik.
"Bagaimana dengan usul aku, bro?" tanya Rivaldo pada Al. "Kau tidak keberatan aku sama Aisyah merecoki bulan madu kalian?"
"Ngapain kamu ikut ke Riyadh?" sambar Wulandari kurang suka. "Mau bikin kandang onta?"
Rivaldo menjawab dengan santai, "Jangan kegeeran. Aku bukan mau pedekate sama kamu. Aku tidak akan memaksakan cinta, karena aku bukan pengemis cinta."
"Kayak judul lagu jadul."
"Tapi masih enak didengar."
"Nah, terus ngapain kamu ikut?"
"Aku dengar di Riyadh markasnya cewek cakep, siapa tahu ada yang nyangkut."
"Kita pergi ke Riyadh untuk bikin materi presentasi! Bukan cari cewek!"
"Nah, sikap ambigu begini yang bikin aku pusing," keluh Rivaldo sambil mengusap-usap kepala. "Aku pedekate sama cewek Arab dilarang, ngedeketin cewek berdarah biru nggak boleh. Kamu senang ya melihat aku jadi jomblo seumur hidup? Jangan-jangan kamu bukan berdarah biru, tapi berdarah panas!"
"Usul kamu bagus juga," kata Riany. "Bagaimana kalau sekalian kita ajak Ryan sama Jonas?"
Kata-kata itu terasa nyelekit bagi Al. Sebuah penolakan kasar yang dibungkus dengan kalimat yang bijak.
Mereka tiba di tempat parkir mobil. Al menekan remote untuk membuka kunci pintu, kemudian membuka pintu belakang, dan mengangkat tubuh Aisyah untuk dipindahkan ke kursi mobil.
Kelihatan sekali kalau Al ingin menghindari bertemu pandang dengan bola mata bening memukau yang sangat dekat dengan wajahnya.
__ADS_1
"Kamu banyak diam hari ini," kata Aisyah dengan berbisik, untuk menghindari kuping-kuping liar di sekitar. "Cemburu aku dekat sama Ryan?"
"Boleh aku cemburu?"