Cinta Untuk Gadis Madinah

Cinta Untuk Gadis Madinah
Episode 53


__ADS_3

Al mengeluarkan handphone Riany dari kantong kurta dan disodorkan kepada pemiliknya.


Riany menolak. "Perjanjiannya selama di Saudi kita tukeran HP. Di Makkah saja belum habis harinya."


"Bete aku menerima VC sama chat dari cewek gak jelas."


"Gak jelas gimana? Semua itu teman kuliahku."


"Maka itu tidak jelas ngomong apa. Mana ngerti aku bahasa Arab? Sekalinya ada cewek bule, malah nuduh aku nyolong HP kamu."


"Bilang saja kamu calon imamku."


"Masa harus segitunya?"


"Gak apa-apa."


"Jadi itu yang kamu lakukan sama teman-teman aku?"


"Iya," senyum Riany jujur. "Setiap kali ada cewek VC atau chat, aku bilang kalau lagi tukeran HP sama calon suamiku. Terus aku tunjukkan cincin berlian ini."


"Mana percaya mereka? Tahunya aku ini gembel."


"Aku kirim foto kamu yang lagi bergaya di Lamborghini dan istanamu."


"Benar-benar."


"Sekarang jadi sepi tuh. HP tidak berisik lagi."


Masuk kuliah, aku habis di-bully, pikir Al kecut. Untung calonnya hijaber gaul. Kalau bunga desa katrok, pasti parah banget.


"Nyesel ya tukeran HP?" senyum Riany separuh meledek. "Jadi anjlok deh pasaran. Cuma sisa tiga."


Justru mereka bertiga yang membahayakan posisi kamu, sahut Al dalam hati. Mereka tidak peduli status kamu calon atau sudah jadi istri.


"Aku izinkan kamu pergi ke Riyadh," kata Al. "Tidak enak sama keluarga Faye. Kamu sahabatnya yang paling dekat."


"Tapi tidak aku izinkan kamu pergi sama Aisyah."


"Laki-laki tidak perlu izin untuk pergi bersama perempuan."


"Pokoknya aku ingin video call tiap satu jam sekali."


"Dalam satu jam itu pengkhianatan bisa terjadi."


"Jadi kamu sengaja mengizinkan aku pergi supaya bebas selingkuh?"


"Kata-kata itu buat kamu."


"Aku tidak ada apa-apa sama Lukman."


"Lalu aku ada apa-apa sama Aisyah?"

__ADS_1


"Kamu sangat perhatian sama Aisyah."


"Kamu juga sangat perhatian sama Lukman. Aku tidak masalah."


"Tapi aku masalah, karena sudah dibuktikan dengan rekaman video selama di Riyadh kalau Lukman cuma sahabat. Nah, kamu buktinya apa kalau Aisyah cuma sahabat?"


"Dua pendamping ta'aruf ada di dekatku."


"Baik, aku percaya. Nidar dan Irma adalah pegawaiku. Siapa orang yang kamu percaya untuk menemaniku pergi ke Riyadh?"


"Dinar."


"Gak, gak, gak."


"Kenapa?"


"Bisa habis duitku."


"Kamu pikirkan saja Faye, aku pikirkan shopping-nya Dinar."


Riany memperhatikan wajah yang bercahaya itu beberapa detik dengan sinar mata menyelidik. Pandangan paling lama yang pernah dilakukan kepada seorang lelaki!


Al tersenyum kecut. "Curigai dirimu sendiri."


"Aku hanya punya satu cinta untuk selamanya," kata Riany merdu. "Jangan kecewakan cintaku."


"Aku ada di Tanah Suci dan kamu ada di Las Vegas-nya Saudi. Menurutmu siapa yang lebih pantas dicurigai?"


Al naik ke dalam bis dan mengabsen rombongan yang akan pergi miqat ke Masjid Ji'ranah.


Di tempat ini Nabi pernah nyaris diracun oleh para musuh. Sumur tempat mengambil minum dibubuhi zat yang mematikan. Namun Malaikat Jibril memberi tahu kepada Nabi agar tidak mengambil air di sumur.


Kini sumur itu ditutup oleh Pemerintah Saudi.


Riany mengubah jadwal sebelum pergi ke Riyadh. Selesai miqat di Ji'ranah esok paginya ambil miqat di Hudaibiyah, padahal harusnya istirahat.


Al membiarkan saja karena tahu Riany ada maksud terselubung, membatasi pertemuannya dengan Aisyah. Padahal laki-laki banyak akalnya.


"Kalau berturut-turut umrah, mereka nanti kecapean," komentar Harbi selesai mengambil miqat. "Riany tidak pikirkan itu apa?"


"Tidak," sahut Al ringan. "Dia memikirkan diri sendiri."


"Itu bukan sifat Riany."


"Jadi sifat Riany setelah ta'aruf denganku."


"Kok tumben-tumbenan kamu diam saja?"


"Jadwal itu kan hanya berlaku buat rombonganku."


"Karena buat rombonganmu, maka itu aku tanyakan kenapa kamu tidak protes?"

__ADS_1


"Yang memegang kendali rombongan ini kan aku. Segala keputusan ada di tanganku. Biarkan saja Riany mengatur rencana."


Kalau kemudian Al mengikuti schedule yang disusun Riany, bukan berarti penurut. Ada bagusnya umrah tidak diselingi agenda lain. Jadi tidak kehilangan momen. Acara jalan-jalan lebih baik diakhirkan.


"Belum jadi istri berani ngatur-ngatur," kata Aisyah waktu mereka bertemu selesai Isya di Masjidil Haram. "Jangan-jangan kamu pakai CD ditentukan modelnya oleh dia."


Aisyah keki tidak bisa mengajak Oma jalan-jalan. Oma tentunya lebih memilih umrah.


"Jangan lebay deh. Yang penting kamu kan bisa pergi sama Oma."


"Maksudnya?"


"Apa salahnya umrah sambil jalan-jalan? Kau bisa ikut rombongan kalau mau."


Dengan kepergian Riany, Al tahu siapa yang diinginkan Oma untuk menemani. Aisyah adalah pengganti yang tepat. Irma tidak sabaran orangnya.


"Lagi aku pikir ide Riany masuk akal. Tiap hari umrah akan mengurangi mereka untuk belanja. Menghabiskan uang untuk hal yang tidak berguna."


"Beli oleh-oleh kok tidak berguna?"


"Oleh-oleh yang mereka beli sudah lebih dari cukup buat warga satu RT, belum nanti di Madinah."


"Berarti bagus dong semua warga kebagian."


"Aku melihatnya sebagai persaingan terselubung. Setiap kali habis belanja, yang mereka obrolkan adalah barang-barang yang mereka beli. Kebiasaan yang seharusnya mereka tinggalkan di kampung. Di Haram seharusnya mereka berlomba-lomba untuk beribadah."


Handphone Al bunyi. Dia keluarkan dari saku gamisnya. Lihat layar. "Bentar."


Bergegas Al pergi dari sisi Aisyah. Melakukan video call dengan Riany. Gadis itu menunjukkan lokasi di rumah sakit, ada Lukman, Dinar dan keluarga Faye. Al juga menunjukkan lokasi di pintu Marwah. Selesai mereka berhandai-handai, dia simpan handphone di saku gamisnya.


Al membalikkan badan hendak kembali ke tempat semula dan kaget melihat Aisyah sudah berdiri di belakangnya.


"Belajar bohong ya," senyum Aisyah. "Tiap satu jam sekali kamu pergi dariku."


"Aku cuma ingin buktikan, biar tukeran HP tetap saja sekedar alat."


"Alat nge-ghosting?"


"Memangnya kamu mau di-ghosting?"


"Yang VC sama kamu kan bukan aku."


"Aku hanya tidak ingin Riany curiga."


"Berarti bisa saja Riany juga cuma tidak mau kamu negative thinking. Bisa saja setelah video call pergi sama Lukman."


Al sedikit terpengaruh juga. Keluarga Faye ada di rumah sakit. Jadi Lukman bisa pergi meninggalkan calon istrinya. Dan Riany tahu di mana tempat aman agar bebas berduaan, membiarkan Dinar asyik dengan hobi shopping-nya, mall.


Tapi Al tidak membiarkan curiganya berkembang. Kepercayaan sangat penting untuk menjaga kesetiaan.


Oma sudah selesai berindu-rindu dengan Tuhannya. Dia rajin sekali bertasbih. Tidak ada di rombongan yang sehebat Oma dalam berzikir, padahal banyak orang yang lebih tua darinya, yang secara lahiriah lebih dekat kepada kematian.

__ADS_1


Aisyah pamit karena malam sudah cukup larut. Lagi dia harus bersiap-siap karena besok mereka akan pergi ke Hudaibiyah.


Kepergian Aisyah selalu meninggalkan sesuatu di hati Al.


__ADS_2