Cinta Untuk Gadis Madinah

Cinta Untuk Gadis Madinah
Episode 116


__ADS_3

Abi Rashid membantu memindahkan Aisyah dari kursi roda ke dalam mobil, karena dua suster agak kesulitan melakukannya.


"Suster perlu ikut tidak ke kampus?" tanya Abi Rashid pada mereka.


"Tidak usah," jawab Riany. "Ada kami bertiga."


Abi Rashid menatap sangsi. "Bagaimana Aisyah nanti turunnya di kampus?"


"Kita gotong ramai-ramai," sahut Wulandari. "Masa gak terangkat?"


Suster yang tenaganya besar saja keringatan, batin Abi Rashid ragu. Apalagi kalian yang kerjanya cuma dandan!


"Lagian ikut di mana?" cetus Lin Wei. "Mobil ini cuma cukup buat empat penumpang, lima sama sopir."


Wulandari harusnya bawa mobil sendiri, pikir Al serba salah. Mobilnya lebih besar, hingga dua suster itu tidak kesulitan untuk memindahkan Aisyah.


Suster mengurus badannya sendiri saja repot!


Mobil ini terlalu mungil untuk mereka.


"Abi sama suster ikut saja," pinta Aisyah. "Bawa mobil aku."


Al mencegah, "Nggak perlu. Kayak pindahan rumah ramai-ramai."


"Mereka ngangkat air satu gayung saja belum pernah, bagaimana ngangkat aku?" protes Aisyah.


Riany tersenyum kecut. "Sampai segitunya ya aku di matamu?"


"Bawang merah saja kamu gak tahu," kata Aisyah. "Ketahuan banget gak pernah ke dapur. Nggak pernah kerja. Apalagi ngangkat barang berat."


Begini kalau Umi terlalu blakblakan pada mereka. Dia jadi kena bullying. Salahnya juga tidak pernah ke dapur. Disuruh ngambil bawang merah, malah ngambil bawang bombay.


"Memangnya aku kuli panggul ngangkat barang berat?" omel Riany.


"Aku lima puluh kiloan loh, hampir sama denganmu."


"Kan digotong rame-rame sama Wulan, sama Lin Wei."


Al menaruh proposal judul skripsi di pangkuan Aisyah, dan berbisik, "Makanya jangan tolak lamaran aku. Jadi nggak risih kalau dibopong."


"Ngomong apaan sih?" gerutu Aisyah ketus.


Gadis itu jadi sering jutek sejak kakinya lumpuh. Padahal sebelumnya, hanya ada senyum di wajah yang rupawan itu setiap kali bertemu dengannya.


Tragedi di jalan tol membuat Al tersiksa dengan perlakuannya.

__ADS_1


Melihat matahari bersinar di wajahnya adalah fenomena yang langka.


Herannya, Aisyah tidak berubah di hadapan teman-temannya. Wajah itu berseri-seri bagai matahari bersinar di pagi hari.


"Aku sama Lin Wei sudah disetujui," kata Wulandari. Mereka bertiga duduk di belakang, Riany di depan. "Tinggal nunggu kamu sama Al."


"Al kayaknya hari ini keputusannya keluar," ujar Aisyah. "Biasanya paling lama dua hari."


Di depan mereka, gadis itu tidak menunjukkan rasa tidak sukanya pada Al, sehingga mereka tidak melihat ada perubahan.


Barangkali Aisyah tidak mau membuat mereka curiga dan mengundang banyak pertanyaan.


"Aku tiga hari," cetus Wulandari.


"Aku empat hari," tukas Lin Wei.


Mereka mulai berhitung, pikir Riany tersenyum. Suatu peristiwa kebetulan yang sangat unik. Mengapa bukan Lin Wei tiga dan Wulandari empat?


Memikirkan kejadian unik ini sungguh menguras perasaan Riany. Dia tidak menyangka hari-harinya diwarnai fenomena yang membuat capek hati.


Akankah Wulandari jadi madu ketiga dan Lin Wei keempat?


Hanya kepada sang Khalik, Riany menyerahkan jalan hidupnya.


"Kalian berdua adalah pengecualian," kata Aisyah. "Tim komisi review dalam situasi tidak biasa, minggu itu beberapa anggota tim dinas luar."


"Kok kamu diam saja, Ri?" tegur Aisyah. "Capek ya semalam habis lembur?"


Ada penekanan pada kata lembur, membuat paras Riany sedikit memerah menerima candanya. Dia sangat capek dengan pemberian bonus tak terbatas, pegal-pegalnya belum hilang hingga sekarang, tapi sudah kewajibannya selaku istri.


Malam-malam yang dilalui adalah milik cinta.


"Namanya pengantin baru," goda Wulandari. "Capek sedikit wajar. Tetanggaku sampai masuk rumah sakit karena sehari semalam menerima agresi cinta."


"Butuh ramuan nggak, Ri?" tanya Lin Wei. "Mami aku baru pulang dari tanah leluhur, bawa ramuan herbal banyak banget."


"Ramuan itu untuk pengantin basi," sambar Wulandari. "Biar onderdil nggak pada copot."


Riany memotong dengan santai, "Kalian ini ngomong apaan sih? Kayak sudah pada tahu saja."


"Maka itu kasih tahu dong," sela Aisyah. "Biar aku nggak kaget nanti. Tolong cerita pas melewati malam pertama. Main gelap-gelapan atau semua lampu dinyalakan? Melipir sedikit gak apa-apa."


Jika Irma yang minta bercerita, dengan senang hati Riany akan menceritakan pengalaman pertamanya, karena dia sebentar lagi menikah sama Nidar. Hitung-hitung berbagi pengalaman.


Kalau Aisyah yang minta, kesannya jadi lain. Dia pasti memberi pelayanan lebih dari kekurangan istri pertama!

__ADS_1


"Buka baju sendiri apa dibukain?" tanya Wulandari. "Apa nunggu di balik selimut?"


"Kayaknya langsung terkam deh," sambar Lin Wei tertawa. "Pelatihan malam pengantin kan banyak di internet."


Pengantin baru kena bullying adalah biasa. Riany harus tahan mental dan tidak mudah terpancing. Dia merasa dapat peluang untuk balik ngebully.


Riany menyindir, "Sering nonton ya? Pantesan omongannya nyerempet KPI terus."


"Aku cuma ngasih tahu, dan itu bukan berarti sering nonton," bantah Lin Wei. "Ngapain nonton begituan? Cuma bikin penasaran saja!"


Al ikut-ikutan ngebully, "Kan bisa praktek sama Jonas."


Jonas adalah mahasiswa satu fakultas yang sampai detik ini gigih berjuang untuk mendapatkan cinta Lin Wei. Al sengaja mencatut namanya supaya gadis itu bisa melupakan dirinya. Tapi jawaban yang diterima sungguh di luar dugaan:


"Memangnya kamu mau dapat sisa?!"


Aisyah dan Wulandari tertawa. Riany tersenyum kecut.


"Sukurin," ledeknya. "Mendingan kamu dengerin aja kalau empat perempuan lagi ngomong."


Empat perempuan, pikir Al lambat-lambat. Riany seakan membuka jalan dengan kata-katanya, padahal dia tidak mau ada jalan untuk mereka!


Riany sebenarnya cuma memancing Al untuk melamar Aisyah, saat pancingannya disambut baik, dia jadi merasa terjebak oleh omongan sendiri.


Wasiat Oma membuatnya tak berdaya dan menyudutkan pada situasi untuk berbagi. Sebuah kenyataan yang benar-benar menguji kesabaran hatinya.


Tiga perempuan itu laksana debur ombak yang menguji ketangguhan batu karang.


"Kita nanti bikin skripsinya bareng-bareng," kata Lin Wei. "Minggu pertama di rumah Al, minggu kedua di rumah Aisyah, minggu ketiga di rumah Wulan, minggu keempat di rumah aku. Pas satu bulan kan? Bulan berikutnya begitu lagi. Nah, bulan keempat kita maju sidang."


Riany tersenyum kecil. Lin Wei tidak memberi tekanan khusus pada kata empat, tapi cukup menggelitik hatinya.


Bukan kebetulan kalau jumlah minggu dalam satu bulan ada empat, kalau jadwal sidang bulan empat, kalau ban Ferrari yang mereka tumpangi ada empat.


Nah, mobil ban empat itu berhenti di gedung keempat dari gerbang empat. Ada empat mobil parkir di pelataran.


Astaghfirullah! Riany segera mengusir angka empat yang bertaburan di kepalanya. Lama-lama bisa stres memikirkan angka empat!


Al mengambil kursi roda di bagasi, lalu memasangnya di dekat pintu belakang. Dia tidak jadi mengangkat tubuh Aisyah saat melihat wajahnya berubah dingin seakan menolak.


Al tidak tersinggung. Matanya beredar ke sekeliling. Dia melihat teman karibnya keluar dari dalam sedan yang baru datang.


Al memanggilnya, "Rivaldo!"


"Buat apa kamu manggil dia?" tanya Wulandari heran.

__ADS_1


"Mindahin temanmu ke kursi roda."


Aisyah bengong.


__ADS_2