Cinta Untuk Gadis Madinah

Cinta Untuk Gadis Madinah
Episode 87


__ADS_3

Nidar dan teman-temannya sedang berkumpul di teras masjid pesantren sambil membicarakan rencana pelaksanaan pembangunan gedung koperasi ketika matanya terbelalak melihat postingan video tabrakan beruntun di jalan tol oleh seorang netizen, dengan narasi ala kadarnya.


Dia lagi mencari informasi tentang bangunan yang cocok untuk koperasi, kemudian membuka medsos sekilas dan melihat berita duka yang menimpa Al dan ketiga sahabatnya.


"Innalillahi wa inna ilaihi rajiun," kata Nidar dengan wajah mendung pekat.


Ridwan terkejut dan menatap temannya tak berkedip. "Ada apa?"


"Al dan ketiga sahabatnya kecelakaan di jalan tol."


Teman-temannya yang sibuk berdiskusi tentang bangunan koperasi langsung beralih perhatiannya kepada Nidar.


"Bagaimana keadaannya?" tanya pemuda yang duduk di sampingnya ingin tahu.


"Tidak ada informasi," sahut Nidar. "Mereka sekarang ada di rumah sakit, sebagai korban yang tidak dikenal."


Ridwan memandang bingung. "Maksudnya?"


"Polisi tidak menemukan barang apapun di mobil yang ditumpangi mereka, kecuali makanan dan minuman ringan."


"Pasti ada yang menjarah," geram Ridwan marah. "Biadab sekali."


Dia mantan residivis, tapi tidak pernah berbuat sekejam itu. Dia hanya mencuri barang yang bermanfaat untuknya dan selalu mengembalikan barang yang tidak berguna melalui paket atau menghubungi korban untuk mengambil di suatu tempat. KTP, SIM, Paspor, dan seienisnya.


"Maling jaman now sungguh tidak ada hati," ujar pemuda kerempeng yang duduk di dekat Ridwan. "Apa salahnya kalau mereka buang kartu identitas Al dan ketiga gadis itu di sekitar lokasi? Kartu itu tidak berguna buat mereka. Jadi jangan salahkan warga kalau main hakim sendiri."


"Perbuatan biadab mereka bukan pembenaran bagi kita untuk berbuat barbar," tukas Nidar.


Melihat kondisi mobil yang ringsek, kemungkinan kecil Al dan ketiga gadis itu masih hidup, hanya kebesaran Allah yang membuat mereka lolos dari maut. Nidar berharap mukjizat datang menghampiri mereka.


"Kita harus segera ke rumah sakit itu," ucap Ridwan tercekat. "Aku akan pinjam bus ke bagian logistik."


Air mata menitik membasuh kesedihan di wajahnya. Musibah datang tanpa seorang pun dapat menghindarinya. Andai Al naik kereta sesuai rencana semula, tentu dia tidak akan mengalami tragedi ini.


"Al seharusnya mengikuti kata hatinya untuk naik kereta," sesal pemuda kerempeng, "sehingga musibah itu tidak terjadi."


"Semua ini sudah jadi ketentuan-Nya," ujar Nidar terbata. "Jika Allah berkehendak, bisa saja teman kita mengalami peristiwa yang lebih tragis di kereta. Memang harus demikian jalan hidupnya."


Ridwan bangkit dari duduknya. "Kita kumpulkan para santri dan santriwati untuk berzikir dan berdoa demi keselamatan mereka, setelah itu kita pergi ke rumah sakit."


"Baiknya begitu," kata Nidar sambil bangkit pula. "Aku akan memberi tahu keluarga Abi Hamzah."

__ADS_1


Nidar pergi ke bangunan utama dan minta izin kepada security untuk menemui Abi Hamzah. Dia di persilakan menunggu di ruang tamu, sementara security memberi tahu Abi Hamzah lewat i-phone.


Nidar duduk di ruang tamu dengan gelisah. Tidak lama kemudian Abi Hamzah datang dan duduk di hadapannya. Melihat sikap santrinya, dia tahu ada kabar yang tidak menggembirakan.


"Ada berita apa?" tanya Abi Hamzah dengan sinar mata menyelidik. "Kau kelihatan cemas sekali."


"Al dan ketiga tamu itu mengalami kecelakaan, Abi," jawab Nidar tersendat. "Tabrakan beruntun di jalan tol."


"Innalillahi wa inna ilaihi rajiun," ucap Abi Hamzah dengan air muka berawan. "Kau dapat kabar dari mana?"


"Medsos."


Abi Hamzah kaget. "Medsos? Mengapa polisi tidak menghubungi keluarga? Sungguh aneh."


"Polisi kesulitan untuk mengidentifikasi karena tidak menemukan barang apapun di dalam mobil. Saya kira tangan jahil sudah mendahului mengamankan barang mereka."


"Masya Allah," ucap Abi Hamzah bergetar. "Begitu teganya orang itu mengambil keuntungan disaat saudaranya tertimpa musibah."


"Jaman now banyak orang macam itu, Abi. Saya dan teman-teman akan pergi ke rumah sakit untuk melihat keadaan Al beserta ketiga gadis itu, dan mengurus segala sesuatunya."


"Ya, lakukan dengan segera," perintah Abi Hamzah. "Ada nomor yang bisa dihubungi?"


"Lalu kamu tahu alamat rumah sakitnya dari mana?"


"Saya kira korban dibawa ke rumah sakit terdekat. Saya bisa tanya nanti pada petugas tol."


"Netizen itu tidak tahu?"


"Dia hanya bantu share. Jadi tidak tahu apa-apa."


"Keluarga Al sudah dikasih tahu?"


"Belum, Abi."


"Biar Abi yang memberi tahu, Riany juga."


"Baik, Abi. Saya langsung berangkat."


"Ya hati-hati. Abi dan keluarga segera menyusul."


Nidar keluar dari bangunan utama. Di halaman pesantren sudah parkir sebuah bis siap berangkat. Rombongan dipimpin oleh Ahmed. Mereka tinggal menunggu Nidar. Perbekalan makanan dan minuman buat di jalan sudah disiapkan di bagasi, sebagian disimpan di kolong kursi.

__ADS_1


Santriwati tidak ada yang ikut. Mereka berkumpul di masjid, berzikir dan berdoa untuk keselamatan saudara mereka yang tertimpa musibah. Bis langsung berangkat begitu Nidar duduk di depan bersama Ridwan.


"Aku tahu siapa yang menjarah mobil teman kita," kata Nidar. "Mereka adalah kriminal yang pernah berurusan dengan Al di masjid perkebunan."


"Kau tahu dari mana mereka pelakunya?" tanya Ridwan. "Jangan asal menuduh."


Nidar memutar video postingan netizen dan diserahkan kepada Ridwan untuk ditonton. "Tiga orang begundal yang berpakaian ustadz itu. Mereka dulu berpakaian santri. Kebaikan Pak Kyai ternyata tidak membuat mereka bertaubat, malah semakin meningkatkan kejahatannya."


"Kita cari mereka sampai ketemu," ujar Ridwan menahan marah. "Akan aku hubungi semua mantan temanku."


"Kita urus Al dan sahabatnya dulu, setelah itu baru kita bereskan mereka."


"Aku kira kalau kamu yakin mereka pelaku penjarahan itu lebih baik lapor ke polisi," saran Ahmed yang duduk di kursi sebelah mereka. "Biarkan aparat yang bertindak."


"Kami jutsru ingin meringankan tugas polisi," jawab Nidar. "Kami selidiki dulu, kemudian kami tangkap kalau kecurigaan itu ternyata benar dan diserahkan ke polisi."


Polisi sebenarnya mudah untuk menangkap mereka karena wajah pelaku yang lagi membantu evakuasi itu terekam jelas. Hanya Nidar tidak bisa melapor berdasarkan catatan masa lalu. Dia harus membuktikan terlebih dahulu kalau mereka yang mengambil barang temannya.


Dan pembuktian bagi seorang mantan preman bukan dengan interogasi atau penggeledahan, tapi melalui pertarungan.


Nidar sudah mencoba menghubungi nomor Al dan ketiga gadis itu, tidak tersambung. Mungkin kartunya sudah dibuang atau handphone mereka dimatikan.


Nidar paling tidak suka orang berbuat kriminal dengan berkedok atribut agama. Hal ini bisa membuat masyarakat trauma menghadapi orang yang berpakaian serupa.


Namun masalah itu bisa diselidiki lain waktu. Dia ingin mengetahui keadaan Al dan ketiga sahabatnya terlebih dahulu. Kondisi mobil yang rusak parah sangat menggentarkan hatinya.


"Semoga Allah melindungi mereka dan aku berharap saat ini bukan waktu mereka untuk pergi," ucap Nidar berurai air mata. "Aku belum siap untuk kehilangan sahabatku."


"Kita semua tidak siap untuk kehilangan Al saat ini," kata Ridwan. "Dan Riany adalah orang yang paling tidak siap."


"Kita semua hanya bisa pasrah," tukas Ahmed dengan wajah kelam. "Semoga Allah menentukan ketetapan sesuai dengan harapan kita."


"Riany sudah dikasih tahu?" tanya Nidar.


"Sewaktu kita berangkat, Abi Hamzah belum memutuskan untuk memberi tahu atau tidak. Beliau tahu puteri bungsunya sangat mencintai Al. Dia adalah segalanya bagi Riany. Beliau kuatir terjadi apa-apa dengannya. Ada kemungkinan Dinar dan kakaknya akan menyusul ke Madinah untuk memberi tahu."


"Baiknya begitu," ujar Nidar. "Saya kuatir kalau dikasih tahu sekarang akan berakibat fatal. Riany saat ini tentu masih dalam penerbangan."


Riany pasti tidak dapat menerima kenyataan kalau terjadi apa-apa dengan suaminya. Al adalah suami yang diimpikannya sejak lama. Dia sampai rela mengurangi jam tidur untuk meminta dalam sujud malamnya agar menjadikan Al sebagai imam terbaik yang hanya tercipta untuk dirinya.


Seandainya Allah memperbolehkan manusia menyembah kepada manusia, maka Al adalah orang pertama yang akan menerima sembah sujudnya.

__ADS_1


__ADS_2