Cinta Untuk Gadis Madinah

Cinta Untuk Gadis Madinah
Episode 86


__ADS_3

Kecelakaan di jalan tol itu melibatkan beberapa kendaraan pribadi dan menimbulkan tabrakan beruntun yang sulit dihindari. Jalan datar dan lurus membuat pengemudi memacu kendaraan dalam batas maksimal yang dianjurkan.


Belasan ambulance berdatangan dalam hitungan menit. Suara sirine meraung merobek angkasa. Tenaga medis dibantu polisi mengevakuasi puluhan korban. Mayoritas tewas di tempat dengan kondisi sangat mengenaskan. Korban terluka parah segera dilarikan ke rumah sakit terdekat.


Tol macet total. Para pengemudi dan penumpang turun dari dalam mobil sekedar untuk menyaksikan tragedi itu atau membantu petugas menyelamatkan korban dari mobil yang ringsek.


Biadabnya, di antara mereka ada beberapa orang yang juga mengamankan barang berharga milik korban, tidak semata-mata berniat tulus untuk menolong. Entah di mana hati nuraninya, atau mereka adalah orang yang sengaja mencari kesempatan dalam kesempitan.


Mengambil keuntungan dari musibah yang terjadi adalah perlambang keruntuhan akhlak manusia yang paling hakiki. Mereka tidak hanya merugikan korban, namun juga menyulitkan petugas untuk menangani kecelakaan secara tuntas.


"Amankan semua barang bukti dari tangan orang yang tidak bertanggung jawab," perintah komandan polisi berpangkat kolonel kepada beberapa anak buahnya, sebagian lagi sibuk mengevakuasi korban dengan prioritas korban yang masih hidup. "Dan hubungi keluarga mereka."


Perintah itu sudah sedapat mungkin dilaksanakan oleh anak buahnya. Personil yang terbatas seakan tertelan oleh gelombang massa yang semakin ramai berdatangan. Berkat bantuan massa, mereka bisa dengan cepat mengevakuasi korban, dan orang-orang tidak terpuji itu sudah ahli memanfaatkan situasi.


Ada beberapa keluarga korban yang tidak bisa dihubungi karena barang mereka sudah terlebih dahulu diamankan oleh tangan-tangan jahil. Polisi sulit untuk menggeledah massa yang sudah berjibaku untuk membantu. Lagi pula, pelaku tentu langsung menghilang dan polisi tidak tahu barang apa saja yang sudah dijarah.


Jadi tidak aneh ketika di dalam mobil Ferarri yang terguling di lokasi yang terpisah tidak ditemukan barang apapun. Korban segera diangkut ke rumah sakit dalam satu ambulance besar, tapi polisi kesulitan untuk menghubungi keluarga mereka karena semua barang sudah dijarah.


"Sungguh biadab para penjarah itu," geram lelaki separuh baya yang turut membantu mengevakuasi Al dan ketiga sahabatnya. "Mereka harusnya sedikit punya nurani untuk meninggalkan kartu identitas atau apa agar memudahkan Pak Polisi dalam melaksanakan tugas."


"Jaman now tidak semua orang punya hati, Pak," ujar seorang pemuda dengan tubuh bersimbah keringat. Dia paling sibuk membantu polisi. "Ada oknum yang sengaja mencari situasi seperti ini."


"Tiga ustadz tadi mana?" tanya polisi senior. "Mereka yang pertama kali menolong korban. Coba kamu tanya barangkali tahu ada orang lain sebelum mereka datang."


Polisi junior yang diperintah menjawab, "Sudah saya tanya, mereka tidak memperhatikan karena fokus mengeluarkan korban dari dalam mobil."


"Aneh," kata polisi senior sambil mengamati tiga orang ustadz yang membantu komandan polisi mengevakuasi korban meninggal. "Masa satupun di antara mereka tidak ada yang tahu?"


"Bisa saja, senior. Mereka datang secara spontan untuk membantu, mana mereka curiga ada yang berpura-pura jadi relawan?"

__ADS_1


Polisi masih mencari barang yang mungkin ada di dalam Ferarri dan menyisir lokasi di sekitar. Oknum relawan rupanya menggasak habis semua barang yang ada sehingga polisi tidak dapat mengidentifikasi pengemudi dan ketiga penumpang mobil mewah itu.


Setelah semua korban berhasil dievakuasi, polisi mulai membersihkan jalan raya dari segala hambatan. Mobil-mobil ringsek disingkirkan untuk sementara ke bahu jalan sehingga beberapa jam kemudian jalan raya sudah dapat dilalui kendaraan.


Komandan polisi memberi pesan kepada tiga orang ustadz yang sudah membantunya bekerja. Mereka mengendarai colt mini yang berada pada barisan paling depan. "Hati-hati, Pak Ustadz. Kecelakaan bisa menimpa siapa saja yang berkendara, kepada orang alim sekalipun."


"Terima kasih atas nasehatnya, Pak," kata ustadz kerempeng yang duduk di samping sopir. "Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumussalam." 


Colt mini itu melaju melewati lokasi kecelakaan. Tiga jam mereka terjebak macet, tapi tidak terpancar wajah lelah apalagi jengkel. Mereka malah tertawa-tawa seolah tragedi itu adalah kejadian yang sangat menyenangkan.


"Rasain," kata ustadz kerempeng yang bernama Ramdani itu. "Pemuda itu biar mampus sekalian."


"Itu adalah karma bagi orang so suci," timpal Bastomi, ustadz paling kalem yang mengemudi. "Dia sudah mendapat balasan yang setimpal."


"Allah Maha Adil," ujar Gery, ustadz atletis yang duduk di belakang. "Doa orang teraniaya itu makbul."


Mereka adalah tiga orang kriminal berkedok santri yang pernah dihajar Al karena ingin memeras Fatimah di sebuah masjid yang cukup terkenal itu. Pak Kyai sudah berbaik hati membebaskan mereka, tapi bukan bertaubat, malah menaikkan level kejahatan.


Mereka kini berpenampilan ala ustadz; mengenakan pakaian kurta, sorban, dan kopiah putih. Mereka menggasak habis isi mobil yang dikendarai Al sebelum polisi datang. Ferarri itu terjungkir di dekat mobil mereka.


"Pemuda itu harusnya kamu cekik tadi," seringai Bastomi keji. "Untuk memastikan dia pasti mampus."


"Kau ini pintar-pintar goblok," sergah Gery. "Kita pasti ketahuan lagi menjarah kalau aku tidak pura-pura berusaha mengeluarkan dia dari mobil yang ringsek, padahal aku sengaja berbuat seolah sangat susah agar kalian bebas beraksi."


"Kau betul," ujar Ramdani. "Biasanya rumah sakit akan membiarkan korban dengan modus UGD penuh sampai keluarga yang bertanggung jawab datang. Nah, dia pasti mampus kehabisan darah karena polisi kesulitan untuk menghubungi keluarganya."


"Itu sih pengalaman kamu," sindir Bastomi. "Jelas rumah sakit membiarkan kamu karena orang yang dicopet adalah dokter UGD."

__ADS_1


"Aku juga kan manusia, harusnya mereka profesional."


"Manusia katamu, kataku binatang. Manusia mana ada yang inses dengan ibu kandung sendiri?"  


"Aku ingin beribadah kepada ibuku yang lama menjanda!"  


"Binatang pasti banyak alasannya."


"Alah, kamu juga binatang, selingkuh sama ibu tiri."


"Aku ingin membantu ayahku karena sering mogok di tanjakan!"


"Sudah," potong Gery. "Sesama binatang dilarang saling menjelekkan."


"Betul," kata Bustomi. "Kita rayakan hari kemenangan ini dengan pesta mabok semalam suntuk. Uang hasil jarahan cukup kan?"


"Seandainya tiap hari ada tabrakan beruntun, bisa kaya kita."


"Di balik musibah pasti ada hikmahnya. Tidak hanya bagi keluarga yang ditinggalkan, bagi kita juga!"


Mereka tertawa. Ketiga kriminal itu adalah orang yang senang menari di atas penderitaan orang lain. Menjadikan musibah sebagai sebuah kesempatan. Terlalu.


Mereka merasa cukup dengan menjarah mobil Ferarri karena banyak menemukan barang berharga.


Untung polisi tidak kehilangan akal. Polres bekerja sama dengan tokoh publik untuk menyebar informasi kepada masyarakat dengan memajang foto korban di medsos mereka, termasuk foto Al dan ketiga sahabatnya.


Di lokasi kejadian juga banyak orang yang memposting tragedi itu ke dunia maya. Terlepas dari apapun tujuan mereka, netizen adalah wartawan tanpa tanda jasa.


Mereka minta di-share foto-foto itu agar sampai kepada keluarga korban. Netizen yang bijak mendoakan para penjarah agar diberikan hidayah untuk segera bertaubat.

__ADS_1


Karena mereka, semua jadi susah.


__ADS_2