
Al jadi merasa kehilangan muka akibat postingan adiknya. Begini kalau update status kebanyakan micin. Satu masalah selesai muncul masalah lain.
Jamaah manasik umrah heboh begitu mengetahui Al diam-diam menaruh hati sama Riany, kalau pulang dari Yogya karena rindu pada gadis itu.
Setiap kali melihat jamaah bisik-bisik, Al merasa mereka sedang membicarakan dirinya, padahal belum tentu demikian. Tapi dia benar-benar merasa sudah ditelanjangi di depan umum. Pulang ke rumah pasti dilabraknya anak itu. Dibel tidak diangkat-angkat, tahu kalau kakaknya marah besar.
Riany sendiri seperti tidak ada beban dengan kehebohan yang terjadi, malah kelihatan senang. Barangkali kejadian ini dianggap bumbu penyedap dalam romantika ta'aruf dengan Harbi. Nidar dan Irma sama saja. Mereka seolah mendapat kesempatan untuk mem-bully habis.
Al baru merasa tenang saat latihan manasik dimulai. Mereka sejenak melupakan segala urusan dunia. Dia bergabung dengan kelompok laki-laki di serambi selatan masjid. Kelompok perempuan di serambi utara.
Harbi dan Riany mengajari cara berpakaian ihram melalui pengeras suara supaya kedengaran jelas oleh jamaah yang rata-rata sudah berumur. Al sudah tahu semua tata cara manasik dan doanya, belajar dari YouTube.
Manasik hari ini lumayan berkeringat, terpanggang terik matahari. Tapi tidak ada yang mengeluh kepanasan atau kehausan. Semua khidmat melakukan thawaf dan sa'i sambil membaca doa-doa, bergema mengangkasa.
Manasik berhenti sementara menjelang waktu Dhuhur. Harbi dan petugas manasik membagi-bagikan lunch box. Suasana ramai seperti pasar.
Al mencari-cari Oma di serambi utara. Tidak ada. Di bangku outdoor di bawah pohon rindang tidak terlihat. Di taman kebanyakan bapak-bapak. Perempuan jarang sekali.
Al jadi berpikir. Di antara ratusan jamaah saja dia kesulitan menemukan Oma. Bagaimana di Tanah Suci yang jumlahnya ratusan ribu?
"Al," seru Nidar yang makan siang bersama sekelompok petugas di teras masjid. "Gabung sini."
Petugas itu kebanyakan mantan pasukan bandring. Sebenarnya Al ingin menolak, keberadaan Harbi di samping Riany membuatnya tidak nyaman. Tapi sekali ini dia merasa perlu menemui mereka, sekalipun tahu apa risikonya.
"Duduk," sambut Harbi ramah saat Al tiba di teras masjid. "Makan sama-sama itu lebih nikmat."
Al melihat senyum bangsawan itu seperti meledeknya, padahal dia benar-benar tulus mengajak bergabung.
"Terima kasih," sahut Al tawar. "Aku cuma ingin minta maaf."
Harbi tertawa hangat. "Santai saja, bro. Aku tidak apa-apa. Masa lalu adalah masa lalu."
Kamu tidak apa-apa, batin Al pahit. Aku malu setengah mati. Harbi rupanya bukan laki-laki pencemburu.
"Masa lalu itu tersisa sampai sekarang," kata Al. "Maka itu aku perlu minta maaf."
"Minta maafnya harusnya ke Riany," sambar Irma separuh meledek. "Yang kamu rindukan Riany, atau Harbi juga?"
Mereka tertawa.
"Gak kelihatan tuh kangennya," goda Nidar. "Gak ada mellow-mellownya."
Tiba-tiba saja Al merasa seperti mahasiswa baru yang lagi diplonco. Mereka seolah ingin mempreteli harga dirinya di depan Harbi.
"Mukanya kusut banget," komentar Riany. "Kayak profesor kehilangan buku. Harbi dan semua mantan pasukanmu ingin mendengar langsung darimu."
"Mendengar apa?"
"Apa benar kamu pulang untukku?"
__ADS_1
Al terpana. Terus terang dia tidak menyangka Riany berani mempermalukan dia di hadapan calon suaminya. Kalau menuruti hawa nafsu, dia sudah pergi saat itu juga, tapi dia mencoba sabar.
Riany menatap separuh mengejek, "Kamu laki-laki kan? Masa tidak berani jujur?"
Barangkali ada sisa dendam di masa kecil. Riany sengaja ingin membuka aib karena hatinya telah menabung rindu yang salah dan terperangkap dalam jerat cinta terlarang.
"Empat tahun aku menabung rindu untukmu," ujar Al getir. "Sampai-sampai aku tidak sempat untuk jatuh cinta pada gadis lain, dan aku menghinakan diri pulang cuma untuk cinta yang konyol."
Mereka terpukau, seolah tidak menyangka Al akan membuat pengakuan seberani itu.
Riany kelihatan bahagia sekali, dan menggoda, "Cinta yang konyol? Jadi kamu anggap cintamu kepadaku adalah konyol?"
"Aku ternyata menabung rindu yang salah. Aku laki-laki payah, tidak bisa segampang itu berhenti merindukanmu. Aku butuh sedikit waktu untuk pergi dari kehidupan kalian. Maafkan aku...."
Bergegas Al meninggalkan mereka. Kalau tidak ingat Oma, detik itu juga dia pulang ke rumah. Kejadian ini benar-benar membuat hatinya capek.
Riany keterlaluan. Al mengakui mencintai calon istri orang adalah salah besar. Tapi tidak sekejam itu hukumannya.
"Kelihatannya kamu butuh istirahat," kata Pamela sambil menghampiri Al yang duduk termenung di bangku outdoor taman. "Oma biar aku antar pulang."
"Oma biasa jalan kaki pulang."
Pamela duduk di sampingnya. "Aku antar dengan jalan kaki."
"Terima kasih. Masalah ini tidak boleh membuat aku melalaikan tanggung jawab."
"Mereka ramai membicarakan dirimu."
"Besok juga reda dengan sendirinya. Mereka tidak bermaksud meledekmu. Mereka hanya mencari topik terhangat untuk merumpi. Hari ini kamu jadi trending."
"Riany sudah mempermalukan aku di depan calon suaminya."
"Aku tidak bisa berkomentar apa-apa, takut disangka mengompori dan memancing di air keruh."
Al bergurau, "Kalau kamu berniat mancing, aku kuras dulu airnya biar jadi bening."
Pamela tersenyum menanggapi candanya. "Aku tidak tahu apa maksud Riany berbuat begitu. Aku berkeyakinan Riany dan Vidya memiliki perasaan sama seperti aku. Kami bertiga terpesona oleh masa lalu."
"Maksudnya kalian mencintai...aku?"
"Ya. Satu ratu dua selir."
"Riany sudah punya Harbi. Orang tidak akan percaya hal itu."
"Kamu bisa membuat mereka percaya kalau Riany suka sama kamu, dan tidak ada cinta untuk Harbi."
"Buat apa?"
"Biar dia merasakan apa yang kamu alami saat ini."
__ADS_1
"Dendaman kalau begitu."
"Riany sudah menganggap cintamu permainan, maka wajar kalau kamu menganggap cintanya juga permainan."
"Aku tidak sejahat itu."
"Kamu tidak perlu jadi jahat, just kidding saja. Lagi pula, hitung-hitung membantu menyadarkan kalau dia tidak boleh mencintai lelaki lain."
"Dimulai dengan duduk berdua denganmu."
"Jangan sama aku."
"Bagaimana sih? Kamu yang punya ide?"
"Sama Vidya saja, sekalian bawa pulang ke ajaran leluhurnya."
"Vidya tidak pergi umrah. Jadi gadis yang paling tepat adalah kamu."
"Aku takut keterusan. Aku susah move on kalau terlanjur cinta."
"Kamu tidak mau terlanjur cinta padaku?"
"Aku tidak pantas untukmu."
"Karena kamu artis dangdut?"
"Jadi kamu tidak masalah dengan artis dangdut?"
"Ada apa dengan artis dangdut? Kamu terlibat prostitusi online?"
"Sialan."
Sepanjang siang itu Al tidak pernah lepas dari Pamela. Dia banyak menghindar dari Riany yang datang menemui. Barangkali gadis itu menyesal sudah mempermalukannya.
Al beruntung dengan keberadaan Pamela. Gadis itu bisa jadi tameng gelora cinta yang meronta ke luar. Sementara waktu dia dapat menjadi pelipur kegundahan hatinya.
"Brengsek," gerutu Pamela. "Aku jadi tambah lumayan."
"Baperan banget."
"Kamu lihat kan bagaimana reaksi Riany saat berpapasan dengan kita? Cemburunya minta ampun melihat kita jalan berdua, apalagi melihat kamu pura-pura tidak peduli padanya."
"Aku benar-benar tidak peduli padanya, bukan cuma pura-pura. Buat apa aku peduli sama calon istri orang? Tanggapan jamaah pasti lain karena adanya postingan Arya."
"Cukup hari ini saja ya. Aku takut hatinya terbakar nanti."
"Siram pakai air."
"Hanya padam kalau disiram dengan cintamu."
__ADS_1
Pamela merelakan diri jadi korban gosip. Mereka menganggapnya tempat pembuangan cinta Al karena gagal dengan Riany. Sialan. Memangnya dia bak sampah apa?