Cinta Untuk Gadis Madinah

Cinta Untuk Gadis Madinah
Episode 39


__ADS_3

Masjidil Haram adalah masjid terbesar di dunia. Berada di pusat kota Makkah dan dikelilingi beberapa gunung.


Al membawa rombongan memasuki masjid melalui King Fahd Gate, pintu utama berwarna keemasan di sebelah barat, posisinya tepat menghadap Zam Zam Tower dan Hotel Dar at Tauhid Continental. Kemudian dia memimpin doa melihat Ka'bah.


Suasana di sekitar Ka'bah cukup ramai. Ada beberapa rombongan dari berbagai negara.


"Ingat-ingat nomor pintunya," kata Al selesai berdoa. "Nomor 79."


"Ya."


"Kalau terpisah selagi thawaf nanti, jangan panik. Selesaikan thawaf lalu tunggu di bawah lampu hijau." Al menunjuk lampu yang terpasang di pilar timur. "Lampu itu lurus ke rukun Hajar Aswad."


Hajar Aswad adalah sebuah batu yang berasal dari surga dan ditemukan pertama kali oleh Nabi Ismail. Dahulu kala memiliki sinar terang dan dapat menerangi seluruh jazirah Arab. Tapi semakin lama sinarnya semakin redup, hingga akhirnya sekarang berwarna hitam.


Batu itu mempunyai wangi alami yang unik semenjak awal keberadaannya, dan diletakkan di sudut luar Ka'bah oleh Nabi Ibrahim.


"Thawafnya kayak latihan manasik?" tanya Pamela.


"Beda sedikit. Syarat sahnya thawaf mulai dari rukun Hajar dan berakhir di rukun Hajar. Jadi saat saya mulai thawaf dan baca bismillahi Allahu Akbar, bagi yang tidak sejajar sama saya, jangan ikuti bacaan itu."


"Karena belum berdiri sejajar dengan rukun Hajar?" cetus Bu Hanif.


"Ya."


"Apa kita boleh bergandengan tangan biar tidak terpisah?"


"Lagi ibadah masih ingat mesra-mesraan," sindir Nek Surti. "Sekalian saja bawa ranjang pengantin."


"Tidak perlu," sahut Al. "Jangan pernah berpikir takut terpisah karena akan mengurangi khusyu' kita."


"Yakinlah Allah akan menuntun Al untuk menemukan kita," kata Eyang Munzir.


"Aamiin."


Oma menengadahkan tangan berdoa. "Ya Allah, berikanlah nikmat-Mu yang terindah melalui tangan cucuku."


"Aamiin."


"Aku ingin mencium kiswah, cucuku."

__ADS_1


"Insya Allah."


Al mengamati situasi di lantai thawaf, lalu berkata, "Kita masuk dari rukun Syami, agak sepi."


Al memandu rombongan menuju rukun Syami. Nidar dan Eyang Munzir berjalan paling belakang.


Rombongan masuk ke lantai thawaf di rukun Syami, sehingga di rukun Yamani mereka sudah dapat mencium kiswah harum yang terbuat dari sutera pilihan. Oma berjalan lambat-lambat sambil menyentuh kiswah, menangis rindu. Nek Surti sampai berderai air mata.


Hati Al terasa kosong. Air matanya menitik dalam kehampaan.


Ada apa dengan diriku, batin Al sambil memandang dinding Ka'bah dengan muram. Apakah keimanan itu tiba-tiba lenyap? Atau karena gedung Abraj Al-Bait mengalahkan kemewahan rumah Tuhanku?


Al dan Oma mulai thawaf dengan mencium Hajar Aswad. Sementara yang lain cukup mengusap karena rombongan dari beberapa negara makin banyak berdatangan dan berdesakan.


Sebelumnya Al sudah mengingatkan jika situasi tidak memungkinkan, tak perlu memaksakan. Cukup beristilam, yaitu mengangkat tangan kanan ke arah Hajar Aswad dan rukun Yamani.


Untuk putaran selanjutnya, Al cukup mengusap rukun Yamani dan Hajar Aswad sambil melindungi Oma yang bersikeras ingin mencium batu surga itu.


Selesai thawaf, mereka mendapat kesempatan berdoa di Multazam, dinding antara Hajar Aswad dan pintu Ka'bah yang ditutupi kiswah Al-Barqaf. Lalu shalat sunah dua raka'at di belakang Maqam Ibrahim.


Maqam Ibrahim terletak di sebelah timur Ka'bah, berupa sebuah batu dari surga tempat berdirinya Nabi Ibrahim waktu menerima bongkahan batu dari anaknya, Nabi Ismail, untuk membangun Ka'bah.


Ruang minum air zam zam berada di bawah area thawaf dengan 23 anak tangga dilengkapi penyejuk udara. Karena tempat masuk ke ruangan terpisah antara laki-laki dan perempuan, Al tidak mengambil air zam zam di lokasi itu.


Dia bersama rombongan pergi ke Shafa untuk sa'i melalui pintu Al-Rami.


Antara Shafa dan Marwah banyak peristiwa fenomenal yang terjadi. Di antaranya perjuangan Siti Hajar mencari air untuk Ismail yang ditinggal di padang tandus, dan akhirnya diabadikan dalam acara ritual sa'i.


Shafa berarti kejernihan, sedang Marwah adalah kepuasan. Maka suatu usaha mesti dimulai dengan niat yang jernih sehingga mendapatkan kepuasan. Begitu alasannya sa'i dimulai dari Shafa dan berakhir di Marwah.


Jarak antara Shafa dan Marwah kira-kira 450 meter. Shafa meninggalkan sedikit bebatuan yang diamankan di dalam kotak kaca. Konon kepingan batunya sering diambil orang.


Ada empat jalur yang digunakan, yakni dua jalur untuk pejalan kaki dan dua jalur khusus bagi difable maupun pengguna kursi roda, dilengkapi dengan fasilitas pendingin udara dan kipas angin.


Sepintas Al melihat sa'i adalah panggung pagelaran kemewahan ibadah dengan lampu warna-warni dan ruangan sejuk.


Kecantikan Shafa dan Marwah membuat Al sulit membayangkan beratnya perjuangan Siti Hajar berlari bolak-balik di bawah panggangan matahari dan pasir kristal laksana bara.


Perjalanan dari Shafa ke Marwah tidak terasa berat bagi Al dan Oma yang terbiasa berjalan kaki, lebih berkeringat perjalanan dari rumah Oma ke masjid pesantren.

__ADS_1


"Ini yang ketujuh ya," kata Nek Surti dengan nafas terengah-engah, kelelahan, berkali-kali menyusut wajah dengan tissue.


"Kalau capek istirahat saja," saran Eyang Munzir. "Aku temani."


"Pedekate ya?"


"Ya salam. Lagi sa'i sempat-sempatnya parno."


"Ikutin bacaan Al," tegur Pamela. "Jangan ngobrol."


Melintasi Bathnul Wadi yang ditandai lampu berwarna hijau, pria berlari-lari kecil, sedangkan wanita berjalan cepat. Nek Surti semakin kedodoran.


"Makanya jangan bermegah-megahan dengan dunia," sindir Eyang Munzir. "Keluar halaman saja naik mobil, terasa sekarang."


"Rempong deh."


Al menunggu rombongan di Marwah. Setelah berkumpul, dia berdoa, mereka mengamini. Lalu mengarahkan perempuan ke lorong antara dinding dan pilar besar untuk tahallul. Sebagian menghalangi sebagian yang lain menutupi aurat yang terbuka.


Selesai tahallul mereka istirahat di sekitar pilar Marwah. Makan buah-buahan dan minum air zam zam.


"Al," panggil Pak Hanif. "Aku sama istriku duluan ya ke hotel?"


"Gak sabaran betul," sindir Eyang Munir. "Belah duren busuk saja pengen buru-buru."


"Eyang," tegur Al halus. "Kita ada di Rumah Suci. Jaga kata-kata sebelum Allah mengingatkan Eyang."


"Astaghfirullah."


"Saya bukan melarang," kata Al ke Pak Hanif. "Kita baru tiba dan belum hapal lokasi. Kalau kesasar repot carinya."


"Ada syekh google."


"Sudah kebelet kayaknya," kicau Nek Surti. "Pengen bobol gawang tidak ada kipernya."


"Aku ingin istirahat," kilah Pak Hanif. "Bukan ingin belah duren."


"Lagian ingin belah duren kenapa?" sambar Eyang Munzir. "Pakai malu-malu."


"Ya sudah saya antar," kata Al. "Oma tunggu sebentar ya."

__ADS_1


Al pergi mengantar mereka, untuk mengakhiri gunjingan yang seharusnya tidak boleh ada. Mentang-mentang banyak duit, segala sesuatu dibayar dengan dam.


__ADS_2