
Al membuka pintu mobil, kemudian turun dan menutup pintu kembali. Nidar sudah keluar lebih dulu di belakang. Mereka mengamati situasi. Tidak ada gerakan mencurigakan di semak-semak atau di balik pohon. Mereka mulai bergerak ke batang pisang dengan waspada.
"Aneh," kata Nidar dengan suara pelan. "Mereka tidak menampakkan diri, harusnya sekaranglah saatnya."
"Mereka kayaknya pikir-pikir," sahut Al. "Ada yang tahu siapa kamu."
Nidar menoleh tak percaya. "Ada yang kenal aku?"
"kalau cuma kenal, kita bisa dihabisi."
"Lalu?"
"Pertarungan kamu sama preman pasar sudah tersebar ke mana-mana dan kayaknya sampai ke bukit ini."
"Riany cerita?"
"Irma."
"O ya?"
"Irma kayaknya naksir kamu."
"Pantas apa?"
"Yang penting luruskan niat untuk ta'aruf."
"Maksudku pantas apa di situasi begini ngomong soal perempuan?"
"Biar kamu tidak tegang."
"Aku lihat Riany jatuh cinta sama kamu. Ketahuan sekali sejak ketemu Lin Wei. Dia cemburu pada semua perempuan yang mendekatimu...."
"Aku tidak tegang."
"Biar kamu tegang."
"Kawanan rampok pasti cari tahu siapa kamu, siapa orang-orang yang membahayakan operasinya."
Perkiraan mereka benar. Batang pisang itu perangkap. Di bawahnya tertancap rakitan beberapa kaleng kecil menyerupai bom paku low explosive. Cukup untuk merusak ban jika mendapat sedikit tekanan.
Al dan Nidar bisik-bisik mengatur strategi dengan gaya yang membuat orang tidak curiga.
Mereka mengangkat batang pisang dengan hati-hati dan menggotong ke sisi jalan. Kemudian batang pisang itu secara serempak dilemparkan ke udara dan jatuh di rumpun semak.
Mereka berlari ke mobil. Lamborghini langsung melesat begitu Al dan Nidar masuk. Mereka tidak tahu apa yang terjadi. Mereka cuma mendengar beberapa letusan kecil.
Riany mengendarai mobil dengan mata berlinang.
"Bisa fokus?" tanya Al.
"Aku tidak apa-apa."
Al mengambil tissue di kotak berwarna keemasan dan disodorkan ke Riany. Gadis itu membuka niqab dan meraih tissue. Dia keringkan wajah yang basah. Kemudian menutup lagi niqab.
Al juga memberi Irma tissue untuk menghapus air matanya.
"Aku berdoa habis-habisan," kata Irma. "Aku takut kalian kenapa-napa."
Al menatap Riany sekilas. "Kamu juga?"
"Pantesnya?"
"Itulah kenapa aku berani mempertaruhkan nyawa. Aku yakin doa hijaber yang mengalir lewat air mata adalah doa termakbulkan."
"Aku lihat kawanan itu mengintip di balik semak dekat kalian, kayaknya banyak."
Riany ternyata jeli juga. Al hitung yang bersembunyi di balik rumpun semak ada sepuluh orang dengan pakaian dan samurai di punggung ala Ninja. Dia kira kemampuan bela diri mereka cukup untuk melumpuhkan kawanan itu kalau memiliki ilmu rata-rata. Dia kuatir mereka berilmu tinggi sehingga membahayakan kedua gadis itu.
Al bersandar dengan rileks di balik sabuk pengaman. "Kita lihat besok ada kabar apa dari bukit ini."
"Aku mau cari tahu," kata Nidar. "Siapa di antara kawanan itu yang kenal kita."
__ADS_1
"Kenal kamu kali," ralat Riany. "Al kan gede di Yogya."
"Jangan-jangan temanmu ada yang jadi rampok," potong Irma. "Mereka tahu kamu jago bela diri, maka itu tidak berani keluar."
"Aku tidak sehebat itu. Ada yang tahu tentang Al."
"Berarti teman kalian berdua."
"Bukit ini dekat kampung Ridwan," kata Al. "Kawanan itu tidak mungkin kecut nyalinya karena masa lalu."
"Mereka bisa saja tahu dari medsos ayahmu," cetus Irma. "Beliau sering update kamu melatih mahasiswa belajar silat."
"Atau dapat bocoran dari Ridwan," timpal Nidar.
"Jangan asal ya," sambar Irma. "Ridwan sudah hijrah."
"Aku tidak menuduh Ridwan jadi inteljen rampok. Kan bisa lagi kumpul-kumpul Ridwan ngomong sama teman-temannya."
"Jadi kamu menuduh teman-temannya kawanan rampok?"
"Susah ya ngomong sama orang yang otaknya ketinggalan," dengus Nidar keki. "Yang menuduh kawanan rampok itu siapa?"
"Terus?"
"Bisa saja temannya Ridwan cerita ke yang lain, jadi pesan berantai, akhirnya sampai ke kawanan rampok. Jadi tahu dah siapa Al ... judge in the dark."
"Sudah deh jangan ngira-ngira," potong Riany. "Yang pasti-pasti saja."
"Apa itu?" tanya Al.
"Dinner jangan sampai telat."
"Bisa cancel sebentar soal itu?"
"Gak."
"Belum tiga puluh menit berdoa sampai nangis-nangis, sekarang sudah mulai lagi."
"Ibuku sendiri tidak peduli kali. Nyatanya nggak ngebel-ngebel."
"Bener juga," cetus Irma. "Jangan-jangan dinner-nya gagal."
"Vidya kayaknya belum siap."
"Bagus dah."
"Kamu itu senang banget lihat teman menderita."
"Aku tidak setuju kamu ta'aruf dengan Vidya. Aku setujunya dengan Pamela Bordin, si Goyang Zigzag."
"Ada pendukung tuh," sindir Riany. "Tunggu apa lagi?"
"Mulai lagi dah," gerutu Irma. "Kamu itu setujunya Al sama siapa sih?"
"Sama kamu."
"Waduh," seru Irma tersedak. Dia sebenarnya kepingin. Tentu saja itu cuma harapan kosong. Dia tahu tidak masuk daftar pilihan. "Habis aku sama santriwati."
"Apa hubungannya?"
"Soalnya puteri pemilik pesantren orangnya cemburuan, padahal sudah ada yang punya. Kamu inginnya Al nunggu jandamu ya?"
"Kalau dinner-nya batal, berarti bisa dong mampir shalat Isya di masjid kampung Ridwan?" potong Nidar. "Sebelahnya ada rumah makan, soto babatnya yummy banget."
"Ide bagus," kata Al. "Sudah lama aku tidak makan soto babat."
Riany menolak dengan tegas, "Tidak. Kita harus cepat pulang."
"Shalat bisa telat."
"Kita musafir, jadi tidak masalah."
__ADS_1
"Kita bawa mobil sendiri, bisa berhenti di masjid mana saja, lebih baik shalat tepat waktu. Jangan sampai kita masuk golongan yang melalaikan shalat."
"Aku tidak menunda-nunda shalat. Aku bisa sampai di masjid pesantren tepat waktu, setidaknya masbuk."
"Harbi marah ya kalau pulang telat?"
"Yang paling penting saat ini adalah ibumu."
"Dinner-nya kan gagal."
"Masa bodoh dinner-nya gagal atau tidak, aku cuma peduli ibumu."
"Kamu susah dapat simpatinya."
"Kalau gampang, perselisihan pesantren sama orang kampung pasti reda."
"Kirain karena anaknya."
"Ngapain mikirin anaknya? Anaknya sendiri sibuk mikirin pacar yang segambreng."
"Kamu bikin bete."
"Habis mancing-mancing."
"Ya sudah, kita shalat di masjid pesantren."
"Bukan kita, aku. Kita pisah di perempatan ke arah kampung."
"Ngapain? Pesantren kan kelewatan sama aku?"
"Lagian sepi kan, Ri?" sela Irma. "Dekat makam lagi."
"Gengges banget ya. Kamu bel sopir suruh jemput, cepetan."
"Suruh nunggu di prapatan? Iih, jangan deh. Pas kita naik tar jadi sopir ngesot."
"Banyakan horor sih."
"Tapi, Ri, kalau dekat TPU...."
"Terus suruh nunggu di mana? Di rumah Al? Habis aku sama ibunya!"
"Sama Harbi kali," ledek Al.
"Kamu tidak tahu bagaimana bencinya ibumu sama pesantren, sama aku."
"Jadi kamu ilfeel?"
"Tidak."
"Terima kasih."
"Aku menghormati ibumu."
"Karena anaknya?"
"Ya salam!"
"Syukur dah kalau ya salam. Jadi aku tidak ada beban. Kapan-kapan aku ingin mengundang kamu dinner."
"Impossible."
"Harbi keberatan?"
"Ibumu lebih suka yang datang Lin Wei."
"Ya iyalah. Lin Wei kan belum punya calon."
"Karena ibumu berdiri paling depan menentang pesantren!"
Maka itu Ibu sibuk cari jodoh buat aku, batin Al. Takut kita nekat jatuh cinta.
__ADS_1
Al tidak tahu seandainya Riany berontak, apa dia dapat menahan hati? Hanya pada sujud malam dia mempertaruhkan cinta!