Cinta Untuk Gadis Madinah

Cinta Untuk Gadis Madinah
Episode 38


__ADS_3

Mendesak-desak rindu di dada melihat sembilan menara Masjidil Haram memancarkan cahaya menembus mega. Membangkitkan semangat wajah-wajah letih yang terbangun dari tidurnya.


Sejak memasuki gerbang Makkah, Al tak henti membaca shalawat Ibrahimiyah dalam hati. Menurutnya bacaan itulah yang paling cocok untuk menghormati bapak para nabi.


Bis tiba di Terminal Jiad pukul 01.00 dini hari. Al dan Oma turun lewat pintu depan. Tangannya menenteng dua hand bag. Kemudian keluar Nidar membawa hand bag Riany.


Travel bag besar dibawa oleh petugas bagasi yang muda-muda dan ramah ke hotel.


Dinar mabuk perjalanan karena hamil muda, dan Eyang Munzir kena migrain karena kurang istirahat. Riany sibuk mengurus mereka.


Oma tidak terlihat lelah melewati perjalanan panjang dan menguras energi itu. Dengan semangatnya berjalan menuju Makkah Clock Royal Tower, tempat rombongan menginap.


Makkah Clock Royal Tower adalah hotel terdekat ke Ka'bah, berada di kompleks mewah Abraj Al-Bait.


"Cah bagus," kata Oma. "Setelah menyimpan tas di kamar, kita langsung ke Masjidil Haram, Oma kangen lihat Ka'bah."


"Istirahat dulu sebentar."


"Kamu capek?"


"Tidak."


"Buat apa istirahat kalau tidak capek?"


"Oma tidak capek?"


"Tidak."


"Ya sudah, sekalian thawaf dan sa'i."


"Betul," sela Pak Hanif. "Biar cepat lepas ihram."


"Dan cepat belah duren busuk," sindir Nek Surti. "Sudah kebelet kayaknya."


"Nenek," tegur Pamela halus. "Ini Tanah Haram, mulut Indonesia tinggalkan."


Nek Surti langsung diam. Istighfar beberapa kali di dalam hati.


"Pulang ke hotel habis shalat Dhuha," kata Oma.


"Pikirkan kondisi, Oma."


"Kamu lelah ya belum tidur?"


"Oma butuh istirahat."


"Di bis sudah cukup."


Hampir satu jam Oma tertidur. Orang terakhir yang mengikuti Al bertalbiyah. Motivasi yang kuat membuat Oma kelihatan lebih bugar dari orang-orang yang tidur di awal.


"Aji mumpung, cah bagus," ujar Oma. "Kapan lagi bisa puas-puas ibadah. Bersyukur kita 8 hari di Makkah, orang-orang paling 3-4 hari."


"Karena ongkosnya lumayan."


Tujuh puluh juta lumayan? Sejak kapan Al bisa merendahkan uang? Atau karena saldo kartu ATM di dompetnya sangat fantastis?


"Uang tidak dibawa mati, cah bagus."


"Uang justru harus dibawa mati."


"Maksudnya?"


"Banyak-banyak sedekah."


"Uangnya kan ada di kamu."


"Jadi boleh Al banyak sedekah buat Oma?"


"Buat kamu juga."


"Al dapat pahala dari amanah."


Rombongan tiba di serambi kanan hotel. Berkumpul di tempat yang tidak mengganggu lalu-lalang. Biar malam sangat larut, ada satu dua tamu hotel berkeliaran.


"Kita tunggu Riany," kata Irma.


"Cah bagus, kamu tahu lobinya di mana?" tanya Oma.


"Oma ini," potong Irma. "Yang pernah ke Makkah kan Oma?"

__ADS_1


"Lantai P11," jawab Al.


"Nah, itu tahu," cetus Oma. "Tunggu cah ayunya di lobi saja."


Al tidak kuasa menolak, padahal ingin menunggu Riany bersama rombongan.


"Ada yang mau ikut?" Matanya beredar ke rombongan.


"Aku menunggu di sini saja," jawab Nek Surti. "Aku kan jomblo, nanti digondol syaikh Arab lagi."


"Buat memandikan onta?" sindir Bu Hanif pelan.


"Nenek." Sekali lagi Pamela menegur. "Kebiasaan deh."


"Astaghfirullah," desis Nek Surti. "Susah diremnya nih mulut."


"Nggak bakalan nyasar kan, Al?" tanya Pak Hanif ragu.


"Insya Allah, saya bisa dipercaya."


"Jangan percaya sama manusia, musyrik," potong Nek Surti. "Percaya itu sama Gusti Allah."


"Kalau tidak boleh percaya sama manusia, lalu apa artinya Al-Amin bagi Rasulullah ?"


"Jangan ladeni, cah bagus."


"Hanya meluruskan."


"Salah lagi," keluh Nek Surti. "Aku bawa duit segambreng cuma buat bayar dam kali ya."


"Ayo, cah bagus," ajak Oma tidak sabar. "Kita masuk."


"Sekalian beli buah-buahan ya, Oma?"


"Oma kepingin kue 7Days."


"Milyarder doyan kue 1 riyal."


"Makanan mahal belum tentu menyehatkan, cah bagus."


"Di kota penuh berkah insya Allah menyehatkan."


"Kita beli di Bin Dawood."


"Bin Dawood jauh."


"Tinggal masuk. Di balik dinding ini."


"Kamu ini dapat bisikan ya?" pandang Bu Hanif heran. "Kok bisa tahu, padahal belum pernah ke Saudi?"


"Ini gunanya ilmu," sahut Oma. "Jadi tidak planga-plongo."


"Ah, si Pamela tiap hari buka google tidak paham-paham," sanggah Nek Surti. "Kamu pasti dikawal malaikat."


"Kita semua dikawal malaikat, Nek."


"Berarti jangan takut nyasar."


"Berarti jangan takabur."


Riany datang bersama Dinar dan Eyang Munzir yang kelihatan agak kepayahan sehingga perlu dibimbing oleh Lukman.


"Kok tidak masuk?" tanya Riany.


"Nunggu kamu," sahut Al. "Bagaimana, kak, eyang?"


"Alhamdulillah, barokah," jawab Dinar.


Nek Surti meledek Eyang Munzir, "Kamu ini cowok kalah sama cewek. Perlu tukaran baju apa?"


"Nenek," tegur Pamela. "Susah banget ya dibilanginnya."


Nek Surti diam. Beristighfar lagi.


"Rombongan lain mana?" tanya Al.


"Banyak yang masuk angin," jawab Riany. "Lagi kerokan dulu."


"Sebaiknya di hotel saja."

__ADS_1


"Tidak kuat katanya. Lagi di hotel kan urus-urus dulu, malahan ada yang kepingin langsung thawaf dan sa'i."


"Semangat bener."


"Jam segini tukang cukurnya tutup kali," sela Nek Surti.


"Cukur sedikit saja," kata Pak Hanif. "Kita tujuh kali umrah. Kalau baru sekali sudah dicukur, uban mana lagi yang digunting?"


Al berjalan ke pintu masuk bersama rombongan. Udara sejuk menerpa tubuh tatkala mereka memasuki ruangan.


"Tunggu ya, Oma," kata Al. "Aku beli buah-buahan dulu."


"7Days-nya, cah bagus."


"Ya."


"Malam-malam makan buah, tidak takut sakit perut apa?" komentar Nek Surti.


"Di kota penuh berkah insya Allah buah-buahan jadi obat."


"Tolong belikan aku," kata Eyang Munzir. "Ini duitnya."


Eyang Munzir membuka hand bag lalu mengeluarkan dompet kecil.


"Tidak usah, eyang. Siapa lagi yang mau buah apel atau buah apa saja?"


"Asal jangan buah simalakama, aku mau," sambar Nek Surti.


"Katanya takut sakit," sindir Pamela. "Ada gratisan berubah pikiran deh."


"Ini cucu bukannya pispot."


"Support."


Al menaruh hand bag dekat Oma lalu pergi ke stan buah-buahan, beli beberapa kilo, dan beli kue 7Days lumayan banyak.


Kemudian Al membagi-bagikan buah dan kue ke rombongan sampai sisa satu apel dan satu 7Days di tangannya.


Setelah itu rombongan berjalan ke pintu lift. Dibagi jadi beberapa kelompok dan masing-masing dipimpin oleh orang yang tahu tentang cara menggunakan lift. Banyak orang kaya di rombongan ini tapi awam.


Kelompok Al keluar di lantai P11. Dari pintu sebelah muncul kelompok Irma. Mereka berkumpul menunggu kelompok berikutnya naik.


Terakhir kelompok Riany muncul. Gadis itu pergi ke front office mengurus kamar. Rombongan ada 45 orang. Al kebagian kamar triple bersama Nidar dan Lukman.


Di kamar sebelah; Oma, Riany, dan Irma. Pak Hanif dan istri menempati kamar twin. Eyang Munzir memilih kamar single karena tidurnya ngorok, takut menggangu orang lain.


"Aku nunggu rombongan lain," kata Riany ke Al. "Kamu pandu mereka ke kamar masing-masing di lantai 33."


"Berani cah ayu nunggu sendiri?" tanya Nek Surti. "Nanti ada yang iseng."


"Ini kota penuh berkah. Berburuk sangka itu tidak baik."


"Astaghfirullah."


"Ada saya, Nek," tukas Lukman. "Insya Allah aman."


"Oma ingin langsung thawaf, cah ayu."


"Kalau bisa sama rombongan."


"Kan ada cah bagus."


"Maksud Riri ajak rombongan." Lalu Riany mengedarkan pandang ke sekeliling. "Ada yang mau langsung thawaf dan sa'i, terus shalat Subuh?"


"Aku kepingin istirahat dulu," sahut Dinar. "Shalatnya di kamar saja."


"Eyang bagaimana?"


"Insya Allah sanggup."


"Yang pimpinnya siapa, Ri?" tanya Pamela.


"Al," jawab Riany. "Dia tahu cara-caranya."


Al menatap separuh protes. "Jadi ini alasan kamu memilih rombongan aku? Supaya bisa lempar tanggung jawab?"


"Kamu calon imamku. Kamu juga nanti yang pimpin aku thawaf dan sa'i."


"Sok ciwiiit," kicau Nek Surti.

__ADS_1


"So sweet," ralat Pamela.


__ADS_2