
Jalan tol Cikopo-Palimanan adalah rawan kecelakaan karena lurus dan datar sehingga sopir gampang mengantuk. Maka itu Al tidak mau ambil risiko. Dia sudah tiga jam mengemudi dan sudah waktunya istirahat. Dia pun belok memasuki rest area.
Dalam berkendara, Al membiasakan diri untuk beristirahat 10-15 menit dalam setiap tiga jam perjalanan. Dia tidak ingin menguras stamina yang justru akhirnya dapat berakibat fatal. Berkendara adalah aktivitas yang berisiko tinggi untuk kesalahan sekecil apapun, apalagi di jalan bebas hambatan.
Ketiga gadis itu terlihat sangat ceria dan seperti tidak ada capeknya mengobrol. Mereka memanfaatkan momen langka ini untuk bersenang-senang. Mereka belum pernah traveling komplit begini; tiga sahabat karib dengan satu lelaki yang menjadi tujuan hidup mereka.
Al menjadi pusat perhatian dengan tiga gadis cantik berjalan di sampingnya. Sinar mata iri bertebaran di sepanjang trotoar yang dilewati. Mata itu seolah berkata betapa hebat dirinya memiliki tiga istri yang solehah dan tampak rukun! Ini baru lelaki pemersatu bangsa!
Mereka bertiga mengenakan hijab dengan model fashionable sehingga tidak kalah sedap dipandang untuk sekedar cuci mata, dan memuji kehebatan maha karya Allah dalam menciptakan perempuan yang demikian sempurna!
Lin Wei dan Wulandari mulai terbiasa untuk menutup aurat sekalipun agak gerah. Mereka harus menjadi perempuan sesuai dengan selera Al kalau ingin menjadi istrinya. Baru menyulap penampilan saja, orang di sekitar sudah menganggap beda! Alangkah bangganya mereka!
"Kita harusnya mampir dulu di kota mini Lembang," kata Lin Wei. "Cukup lama aku tidak berkunjung ke kota yang sejuk itu."
"Besok pagi aku harus ke kampus untuk mengajukan judul skripsi," tukas Al sambil berjalan menuju ke gerai minuman. "Tidak ada waktu untuk mampir."
"Cuma sebentar, paling berapa jam," sambar Wulandari yang masih kecewa karena tidak singgah di lokasi wisata yang lagi viral itu. "Jarang-jarang kita bisa pergi bareng kayak gini."
"Sekarang bukan waktu yang tepat," sahut Al. "Aku kira banyak waktu nanti untuk pergi ke Lembang."
"Kapan?" desak Lin Wei penasaran. "Setelah Aisyah jadi yang kedua? Itu sih bulan madu namanya!"
"Bulan madu ke kota mini," ujar Aisyah separuh menggerutu. "Tidak ada tempat romantis yang lebih jauh apa?"
"Namanya bulan madu pergi ke semak-semak juga romantis! Soalnya hati lagi full happy."
"Yang pertama saja belum bulan madu," sanggah Wulandari. "Kalian sudah ingin mencuri start."
Mereka masuk ke sebuah gerai minuman yang tidak terlalu ramai, dan duduk di meja sudut. Al memesan minuman dingin empat botol dan makanan ringan keripik kentang.
"Kira-kira Riany sudah sampai mana ya?" cetus Lin Wei.
"Kayaknya masih di atas Samudera Hindia," jawab Wulandari.
"Ya iyalah, kalau sudah lewat Samudera Hindia sudah sampai namanya."
__ADS_1
Seorang pelayan perempuan datang membawa pesanan. Mereka mengambil minuman masing-masing dan meneguknya. Terasa segar membasuh kerongkongan yang kering. Kemudian mereka membuka bungkus snack dan menyantapnya.
"Riany kelihatannya tidak suka dengan kado dari kita," keluh Wulandari. "Apa dia tidak suka traveling ya?"
"Dia tidak mungkin kuliah di Madinah kalau tidak suka traveling," tukas Lin Wei. "Kita saja ngasih kadonya kepagian."
Wulandari menatap separuh protes. "Kok kepagian?"
"Iya dong. Riany dan Al baru bisa menggunakannya enam bulan lagi, setelah lulus kuliah. Kelamaan."
"Lalu kado yang pantas apa? Buku diktat?"
"Ballpoint, buat nusuk-nusuk."
"Nusuk apa?"
"Kira-kira pantasnya buat nusuk apa?"
Al heran mereka seakan tidak kehabisan topik untuk membahas masalah seputar itu. Percakapan yang sebenarnya tiada arti karena Al sudah kukuh dengan pendiriannya.
Sejak dari bandara mereka tak bosan membicarakan tentang indahnya madu empat, dimana mereka bisa keliling dunia bersama, baik dengan suami atau tidak. Mereka bisa menjadi sahabat yang kompak. Sesuatu yang tidak pernah terpikirkan oleh Al. Benarkah mereka bisa seiring sejalan kalau sudah jadi madu?
Namun Al tidak bisa mementahkan harapan yang sudah terlanjur matang itu. Dia tidak ingin mereka menjadi buah busuk sebelum dipetik. Ketiga gadis itu adalah sahabatnya, dan dia berharap suatu saat mereka dapat menemukan pasangan hidup yang cocok.
"Aku rasa sudah cukup kita beristirahat," kata Al. "Kita lanjutkan perjalanan."
Al memanggil pelayan dan membayar semua minuman dan makanan ringan. Sisa kembalian dia masukkan ke kotak amal yang ada di pintu keluar, dan tak lupa menyebut atas nama Oma. Dia ingin pahalanya mengalir kepada almarhumah sekecil apapun sedekah yang diberikan.
"Setiap kita berhenti, entah di lampu merah, terjebak macet, atau rest area, kau selalu menyisihkan uang untuk mereka," komentar Lin Wei. "Apakah kau yakin uang yang diberikan akan digunakan sesuai dengan keperluannya?"
"Aku berusaha untuk tidak berprasangka buruk kepada penerima sedekah, dengan belajar ikhlas bersedekah. Ketika uang itu disalahgunakan, pahalaku tidak berkurang, jadi aku tidak rugi."
"Sama artinya kamu sudah memberi peluang kepada mereka untuk berbuat curang."
"Aku memberi peluang kepada mereka untuk berbuat kebajikan, yaitu mengelola uang sedekah dengan benar. Ketika terjadi kecurangan, itu urusan dia dengan Tuhan. Urusanku hanya sampai memberi sedekah dan mendapat pahala, karena yang aku kejar adalah pahala."
__ADS_1
"Begitu sederhana konsep sedekah di matamu, sehingga kau tidak merasa perlu mengetahui ke mana uang itu mengalir."
"Tentu saja aku perlu mengetahui, sekedar perlu. Di kotak amal kan tertulis peruntukannya."
"Bisa saja mereka berbohong, uang itu digunakan untuk sesuatu yang tidak benar."
"Itu bukan urusanku lagi, urusan dia dengan Tuhan."
"Nah, terus urusan pintu mobil bagaimana?" potong Wulandari menahan jengkel. "Aku sudah pegal nunggu kamu buka pintu."
Wulandari sudah bersabar menunggu mereka selesai mengobrol. Tapi Al begitu asyik menjelaskan tentang konsep sedekah seolah lupa mereka sudah sampai di tempat parkir, padahal Al ingin Lin Wei benar-benar paham agar tidak salah tafsir.
"Tidak sabaran banget," ujar Al. "Kangen sama Mas Paijo?"
Paijo adalah sopir pribadi yang paling dibenci oleh Wulandari karena cerewet dan suka lapor kepada orang tuanya. Maka itu dia lebih suka membawa motor untuk pergi kuliah, tapi Paijo tetap saja membuntuti dengan mobil atas perintah ibunya.
"Kulitku bisa gosong kena terik matahari," gerutu Wulandari keki. "Percuma aku luluran setiap hari."
"Kamu ini ribet bener deh," omel Lin Wei. "Woles sedikit kenapa sih? Orang sabar disayang Tuhan."
"Pak Sabar saja tidak sabar, apalagi aku Wulandari!"
"Kamu ini kalau ngomong suka asal," tegur Aisyah. "Tidak baik membuat plesetan untuk sebuah kebenaran, akhirnya kebenaran jadi permainan."
Wulandari diam. Bukan karena kejengkelannya sudah reda, tapi sudah ada konsensus di antara mereka bertiga bahwa siapapun tidak boleh membantah kepada calon istri yang urutannya lebih tinggi. Penentuan urutan ini berdasarkan usia. Aisyah lebih tua beberapa bulan dari Wulandari dan Lin Wei.
Al membuka kunci pintu dengan remote, kemudian membukakan pintu buat mereka. Wulandari dan Lin Wei duduk di belakang. Aisyah duduk di depan. Jika ada Riany, pastinya dia yang mendampingi Al. Istri pertama mendapat kedudukan istimewa di mata mereka.
Setelah semuanya masuk, Ferarri melesat meninggalkan rest area. Terasa segarnya mengendarai mobil setelah beristirahat. Perhatian Al jadi fokus ke jalan raya yang lurus dan datar. Matanya tidak melulu memperhatikan aspal hitam yang bisa menjebak karena fatamorgana, sesekali terlempar ke lalu lintas kendaraan yang cukup ramai.
Bagaimanapun waspadanya Al mengendarai mobil, bagaimanapun hati-hatinya dia menyalip kendaraan lain, musibah tidak hanya disebabkan oleh kelalaian diri sendiri, tapi juga pengemudi lain....
Sekonyong-konyong sebuah mobil SUV melesat terbang menabrak pembatas jalan dan jatuh di jalur yang berlawanan sehingga beberapa mobil di depan Al tidak sempat mengerem dan terjadi tabrakan beruntun. Suara jeritan mengangkasa.
Al masih sempat banting setir ke jalur lambat menghindari tabrakan beruntun, kemudian mengambil bahu jalan karena ada mobil terguling, dan menerabas rerumputan keluar dari jalan beraspal.
__ADS_1
Karena permukaan tanah bergelombang, Al jadi hilang kendali. Mobil melesat terbang diiringi jeritan ketiga gadis itu, kemudian jatuh terguling ke tanah dengan keras.
Jeritan berhenti.