Cinta Untuk Gadis Madinah

Cinta Untuk Gadis Madinah
Episode 68


__ADS_3

"Pulang umrah kamu jadi lancang, cah bagus," tegur Opa dengan wajah kurang senang. "Itu yang kamu dapatkan dari Tanah Suci?"


"Banyak yang aku dapat di Dua Kota Suci," sahut Al sambil membuka pintu kamar Oma dan menaruh travel bag di sisi tempat tidur, hand bag diletakkan di atas meja kecil. Sedangkan barang-barang miliknya disimpan Arya di sudut kamar, dekat tiga paket berukuran besar. Kemudian Al memandang opanya lekat-lekat. "Opa tahu kenapa Oma pergi ke Tanah Suci?"


Opa diam menunggu kelanjutan kata-katanya.


"Betapa berat perjuangan untuk menemukan rasa ikhlas, sampai-sampai Oma melupakan rasa lelahnya. Manakala Oma sudah ikhlas, saat itu adalah saat terakhir hidupnya."


"Kamu sudah mewujudkan impian Oma, anakku," tukas Pak Haikal kagum sekaligus ingin menutup topik yang tidak enak itu. "Impian setiap orang."


"Apa itu?"


"Kamu bisa membuat Oma shalat di belakang Imam Besar Masjidil Haram, membawa Oma melihat langsung makam Nabi lewat Babussalam, dan keajaiban-keajaiban lainnya dari kota yang penuh berkah."


"Oma ingin berjumpa dengan Nabi karena taatnya pada suami."


"Kak Al mantap banget deh," sambar Arya. "Jadi viral di kampung ini. Aku sangat bangga sebagai adiknya."


"Tapi aku tidak bangga sebagai kakakmu."


"Ada saatnya membuat bangga seorang kakak."


"Ketika aku di Tanah Suci, itulah saatnya. Di setiap doa-doaku terselip nama adikku. Kenapa aku sampaikan ini? Betapa inginnya aku melihatmu membuat bangga Ayah dan Ibu."


Arya tersenyum senang. "Terima kasih sudah didoakan. Oh ya, Kak Al mau minum apa?"


"Kamu tidak tahu minuman aku?" tatap Al tajam. "Sudah berapa lama jadi adikku?"


"Pulang umrah jadi baperan ya." Arya meninggalkan kamar.


"Aku ilfeel," gerutu Al, "punya adik tidak perhatian."


"Parjo," kata Bu Haikal.


"Parno," ralat Al. "Al salah ya, Bu?"


"Banget. Adikmu itu di setiap selesai shalat tidak biasanya ngaji, kadang sampai larut malam. Dia takut sekali kehilangan kakaknya, apalagi pas terjadi kecelakaan pada pesawat maskapai tetangga. Tahajudnya semakin rajin. Di setiap malam namamu disebut. Tahu siapa coba yang tiap hari bersih-bersih kamarmu? Ibu dan Bi Umi sampai keduluan."


Arya muncul lagi membawa secangkir teh hijau hangat dan menyodorkan cangkir itu ke kakaknya sambil berkata, "Aku buat sendiri, sesuai takaran yang dibuat si Bibi."


Al menerima cangkir dan meneguk sedikit. Panas. Dia taruh di meja kecil.


"Adikku baik banget," komentar Al separuh meledek. "Semoga bukan karena oleh-olehnya banyak."


"Oleh-olehnya apaan, Kak?"


"Paket dari Makkah belum datang?"


"Sudah dua hari yang lalu. Ada lima dus. Cuma belum dibuka."


"Dus yang paling besar itu punyamu."


"Terima kasih, Kak." Arya memeluk Al dengan senang. "Kak Al adalah kakak yang paling baik sedunia."


"Dan kamu adalah adik yang paling baik se-RT."


"Cuma se-RT?"

__ADS_1


"Itu saja terpaksa karena aku tidak punya adik lagi."


Arya buru-buru pergi keluar kamar.


"Ke mana?" tegur Bu Haikal.


"Pulang," sahut Arya tanpa menoleh. "Bongkar oleh-oleh."


Opa memandang Al dengan sendu. "Ada pesan di saat-saat terakhir Oma?"


"Banyak. Dan pesan itu Oma sampaikan tiap hari."


"Apa pesannya?"


Al menoleh sekilas ke sudut kamar. "Di paket itu. Satu untuk orang rumah, satu untuk Opa, satu untuk Jennifer. Paket yang lainnya dikirim langsung ke keluarga besar di Jakarta."


"Ada pesan khusus selain paket itu?"


"Paket itu adalah pesan istimewa Oma."


"Pesan lain?"


Al memandang Opa dengan acuh tak acuh. "Pesan apa lagi? Paket itu sudah menggambarkan segalanya."


"Oma tidak pernah cerita tentang kebenciannya padaku?" tanya Jennifer langsung ke sasaran, tidak sabar. "Tidak minta Opa menceraikan aku?"


"Buka saja paketnya. Apa ada cerita itu?"


Penasaran Jennifer membuka paket. Di dalamnya terdapat kotak kecil berisi jam tangan emas, gelang, kalung, anting, dan cincin bermata berlian. Lalu ada beberapa setel baju muslimah bermodel kekinian yang terbuat dari bahan pilihan.


"Oma ingin kamu berhijab, tidak hanya di acara tertentu," tatap Al mendung. "Oma tahu waktunya sudah dekat. Hadiahnya itu adalah pertanda kalau Oma sudah ikhlas kamu jadi penggantinya."


"Di travel bag ada banyak 7Days rasa coklat, sangkaan Oma Al sengaja beli kue kesukaan Opa, padahal salah beli."


"Kamu marah sama Opa, cah bagus?" tegur Bu Haikal lembut. "Sampai-sampai hilang etikamu."


"Al benci situasi ini. Al sudah ada firasat usia Oma tidak lama lagi, tapi Al turuti setiap keinginannya hanya untuk rasa ikhlas yang seharusnya tidak perlu ada, hingga Oma kelelahan. Itu vonis dokter di COD."


"Kamu ingin menentang sunah Nabi?" pandang Opa berawan. "Jangan sengketakan perkara yang halal bagimu."


"Pertanyaannya, kenapa Opa berani berkorban untuk sunah yang satu ini, sementara sunah-sunah yang lain dilakukan sambil lalu saja? Bahkan banyak yang belum dilaksanakan?"


Bu Haikal mengingatkan anaknya. "Kendalikan dirimu, cah bagus."


"Al cuma empati kalau kenyataan ini tidak mudah bagi Oma."


"Kamu sudah membawa Oma ke tempat yang paling mulia, pertemuan dengan manusia pilihan, dan meninggal di Kota Suci yang jadi impian setiap orang."


Al duduk di sisi tempat tidur. Diam merenung. Setelah pikirannya agak tenang, matanya bergulir pada kedua orang tuanya. "Riany ingin menikah sebelum berangkat ke Madinah."


Mereka kaget.


"Berarti waktunya sampai akhir pekan ini?" tatap Pak Haikal separuh tak percaya. "Kuliah kamu bagaimana?"


Al tersenyum hambar. Baru saja pulang dari Tanah Suci, ayahnya tidak lupa dengan pertanyaan klasik itu.


"Seperti biasa," sahut Al jemu. "Mesti dapat nilai bagus. Kalau tidak, mana berani Al pulang?"

__ADS_1


"Kalau sudah menikah, pasti terganggu," kata Jennifer. "Lagian apa bisa pengantin baru langsung pisah dan pergi ke kota masing-masing?"


"Malam pertamanya tidak kayak kamu sama Opa yang tidak keluar-keluar kamar," sindir Al pedas, padahal nikahnya kapan saja tidak tahu. "Tidak ada kamar pengantin, hanya sebuah ikatan. Setelah nikah, aku pergi ke Yogya dan Riany pergi ke Madinah."


"Ada kejadian apa di Tanah Suci, cah bagus?" selidik Bu Haikal penasaran. "Mendadak sekali nikahnya?"


"Banyak kejadian."


"Banyak?"


Al tersenyum kecil. "Bukan seperti yang ada di pikiran Ibu. Masa iya berani begituan di Kota Suci?"


"Kali."


"Buat jaga-jaga saja."


"Maksudnya?"


"Biar halal kalau sesekali Riany ke Yogya."


"Kamu yang ke Madinah."


"Kan sama saja ke Yogya atau ke Madinah. Tidak bisa satu kamar."


"Jadi hanya karena kepingin tidur satu kamar kalian menikah?"


"Tidak juga."


"Lalu?"


"Banyak motifnya."


"Kamu apa Riany?"


"Riany dong, Bu," sahut Al sabar. "Kan Riany yang kepingin nikah buru-buru."


"Kamu sendiri?"


"Bagaimana baiknya saja."


"Kok gitu?"


"Capek memikirkannya. Al kepingin istirahat."


"Makan dulu. Ibu sudah siapkan masakan kesukaanmu."


"Nanti saja. Tidak lapar."


"Tidak kangen sama masakan Ibu?"


"Banget."


"Ibu bawakan ya ke kamar? Sekalian Ibu ingin dengar ceritamu di Kota Suci."


"Biarkan istirahat dulu," potong Pak Haikal. "Ceritanya nanti saja."


Tumben Ayah pengertian, pikir Al curiga. Jangan-jangan lagi cari sponsor biar dapat restu nikah sama Fatimah.

__ADS_1


Mereka pergi meninggalkan kamar. Jennifer yang keluar terakhir menutup pintu. Al rebahan di tempat tidur. Berbagai pikiran menumpuk di kepalanya.


__ADS_2