Cinta Untuk Gadis Madinah

Cinta Untuk Gadis Madinah
Episode 83


__ADS_3

"Aku tidak mengerti dengan sikapmu," kata Al sambil menutup pintu kamar. Mereka baru pulang dari kebun Ridwan. "Kau angkat Aisyah jadi ketua koperasi, apa maksudnya?"


"Dia ingin mencari berkah hidup, bekerja sekaligus beramal. Koperasi itu menurutku cocok untuknya. Kau keberatan?"


"Aku tidak ada urusan dengan koperasi."


"Lalu apa masalahnya?"


"Kamu begitu cemburu kepada Aisyah sebelum menikah, mengapa kini jadi bertolak belakang?"


"Kamu sendiri bilang jangan habiskan cemburuku. Maka itu aku memelihara cemburuku dengan menjadikannya ketua koperasi. Aku tidak minta pendapatmu karena menurut mereka kamu tidak ingin mempengaruhi segala kebijakan koperasi kecuali tentang laba. Nah, aku bantu mereka mencari ketua yang paham tentang perhitungan bisnis."


"Kenapa tidak kau pilih Pamela Bordin?"


"Kau ingin aku memilih dia?"


"Aku sekedar bertanya."


"Pamela Bordin memiliki penghasilan lumayan besar dengan profesi sekarang. Aku kira dia akan menolak karena jadi ketua koperasi tentu upahnya lebih kecil."


"Kau sudah menawarinya?"


"Kau ingin aku menawarinya?"


"Kenapa sih pertanyaanmu selalu seperti itu setiap kali aku bertanya?"


"Tandanya aku ingin tahu keinginan suamiku, dan aku wajib memenuhinya selagi aku bisa."


Riany sudah bermain-main dengan cemburunya. Dia tidak tahu kalau Aisyah adalah perempuan seteguh karang. Dia seperti sengaja mendekatkan gadis itu dengan dunia laki-laki, padahal mereka tak berarti baginya. Aisyah hanya menginginkan satu laki-laki, dan laki-laki itu adalah Al Farisi Haikal Najid.


"Aku ingin menawari Pamela Bordin bagian marketing. Dia bisa melakukan promosi melalui YouTube atau pada saat show."


"Jangan karena aku menyebut nama itu kau langsung mencari jabatan untuknya."


"Aku semula ingin menawari Wulandari, namun aku kira berat untuknya. Dia tidak berhijab dan tentu tidak bisa tinggal di lingkungan pesantren. Kamu lihat sendiri sekarang, dia sangat tidak betah menggunakan hijab."


"Lin Wei sudah kamu tawari?"


"Dia sebenarnya sangat berminat. Tapi dia harus memegang perusahaan papinya kelak."


"Aku harap kamu jangan terlalu jauh turut campur ke dalam struktur koperasi. Biarkan Ridwan dan Nidar mengaturnya."


"Kamu tidak melihat struktur koperasi hasil rapat anggota?"


"Mereka tidak memberi tahu aku dan tidak masalah bagiku."


"Ada di dalam map di meja."

__ADS_1


Al kira map di atas meja itu adalah proposal pesantren untuk mengajukan permintaan dana kepada donatur. Maka itu dia tidak berhasrat untuk tahu selama Riany tidak meminta pendapatnya.


Al membuka dan membaca berkas itu. Dia mengernyitkan alis melihat susunan pengurus. "Sejak kapan koperasi ada komisaris?"


"Anggota ingin memberi penghargaan kepada pemilik modal sebagai ketua dan istrinya wakil ketua, kemudian pemilik lahan anggota komisaris. Jadi menurutmu aku tidak pantas turut campur?"


"Jangan sampai kesibukanmu ini mengganggu aktivitas di pesantren dan yayasan."


"Aku hanya menerima laporan bulanan dari ketua koperasi. Aku kira tugas itu tidak menyita waktuku."


"Seharusnya tugasku selaku ketua komisaris."


"Kamu pasti tidak ada waktu. Kamu harus mengurus butik, pesantren, dan yayasan."


Al tersenyum kecil. "Artinya kau tidak mengijinkan aku untuk kerja di Timur Tengah."


"Kau tetap ingin kerja di Yordan?"


"Aku ingin memajukan kampungku untuk melaksanakan amanah Oma. Kau jadikan apa aku di pesantren dan yayasan?"


"Jabatan tertinggi."


Mata Al menyipit. "Ketua pesantren dan yayasan?"


"Itu keputusan Abi."


"Mereka lebih suka mengurus istri dan jalan-jalan. Bisnis mereka saja yang mengurus orang lain."


"Aku juga maunya begitu."


"Berarti istrimu yang memangku jabatan ketua. Nah, kau ingin jalan-jalan dengan istri yang mana sedangkan aku sibuk bekerja?"


Mulai deh, keluh Al dalam hati. Riany ingin membuatnya sibuk dengan melimpahkan jabatan ketua kepadanya, sehingga dia tidak sempat memikirkan ketiga perempuan itu.


"Jangan baper," tegur Riany halus. "Aku hanya bertanya."


"Kamu bisanya cuma fotokopi ucapanku ya?"


"Maka itu kamu jadi imam aku."


Berkumandang panggilan shalat Ashar dari masjid. Mereka kaget. Umi biasanya mengetuk pintu lima belas menit sebelum adzan tiba. Apa Umi bablas tidur siang?


Mereka segera pergi untuk memenuhi panggilan itu. Semua ruangan yang dilewati kosong. Pegawai juga tidak ada. Berarti mereka sudah pergi semua. Mereka sengaja tidak memberi tahu penghuni kamar pengantin itu. Sentimen.


Mereka tiba di masjid menjelang iqamah. Kemudian berpencar mencari tempat sesuai peruntukan dan masing-masing kebagian di shaf paling belakang. Biasanya Al selalu shalat di shaf paling depan dengan datang lebih awal.


Dia bisa saja menyalip dan dipersilakan oleh jamaah untuk mengisi ruang kosong di depan, namun itu bukan kebiasaannya. Mendirikan shalat di shaf paling depan memang paling utama, tapi tempat itu adalah jatah orang yang datang lebih dulu.

__ADS_1


Selesai shalat Ashar, Riany mendatangi keluarganya yang berjalan menuju ke bangunan utama tempat tinggal mereka. Dia sampai lupa untuk menunggu suaminya yang belum keluar dari dalam masjid.


"Umi kenapa tidak mengetuk pintu kamarku?" protes Riany. "Aku hampir masbuk."


"Shalat berjamaah bersama suami di rumah kan tidak apa-apa," sahut Umi tersenyum. "Jangan paksakan kalau tidak sempat. Terburu-buru itu justru tidak baik."


"Umi maklum keadaan kamu," sindir Dinar. "Besok pagi kan harus pergi ke Madinah, jadi Umi tidak ingin mengganggu pengantin baru yang lagi kangen-kangenan."


"Tidak bisa ya mulut keponya disimpan dulu di kotak amal?" gerutu Riany ketus.


"Jangan lupa azlu," pesan Umi. "Kamu berat kuliah kalau perut isi."


"Iya," sahut Riany acuh tak acuh.


Jadi mereka menganggap dia dan suaminya mengurung diri di dalam kamar untuk bermesraan sepanjang sisa waktu? Riany dari dulu suka diam di dalam kamar, melakukan kesibukan apa saja, menjelajah internet, medsos, belajar berbagai ilmu, termasuk latihan bela diri dan fitness. Al juga jarang sekali keluar kamar asrama kalau tidak ada acara. Dia tenggelam dalam buku-buku dan kitab suci.


Di dalam kamar pengantin itu mereka melakukan aktivitas sendiri-sendiri, padahal lumrahnya pengantin baru adalah melakukan kegiatan bersama seperti sangkaan keluarganya. Kegiatan lain hanya selingan.


"Aku saja sampai mandi junub berkali-kali sampai sekarang kalau Ahmed pergi lama ke Timur Tengah. Kamu tidak sempat kali mandi junub ya? Nonstop? Rahasianya apa sih?"


Nah, kakaknya mulai ingin tahu ramuan yang digunakan. Kesempatan emas untuk Riany memberi motivasi. "Habis Subuh baca Al-Qur'an sekurang-kurangnya satu juz, lalu fitness."


Kebiasaan itu sudah ditinggalkan oleh Dinar sejak mempunyai anak. Dia sibuk mengurus anak, padahal ada baby sitter dan bisa ditinggalkan, kecuali dia mengurus rumah sendiri, kemudian pergi ke mall. Sekedar jalan-jalan atau cari sesuatu yang dia sendiri tidak butuh dan akhirnya jadi milik asisten rumah. 


Cara menghindari kehamilan sebenarnya tidak hanya dengan azlu, banyak cara yang sesuai dengan syariat Islam, diantaranya suami memakai pelapis atau tidak melakukan hubungan intim pada masa subur.


Kesempatan Riany adalah azlu dan memakai pelapis. Dia lagi dalam periode masa subur. Namun dia siap melayani sekalipun dua hal itu diabaikan. Semua tergantung suaminya.


"Kamu masih ada kesempatan untuk mengambil hakmu sebelum aku pergi," kata Riany ketika mereka sudah berbaring di tempat tidur selesai shalat Isya. "Sekalipun kau menginginkan tanpa azlu."


Al tersenyum lembut. "Pernikahan bukan sekedar berpesta syahwat secara halal. Ada yang lebih penting, yaitu masa depan dari rumah tangga itu sendiri. Aku cukup bahagia bisa tidur di sampingmu tanpa takut akan dosa. Ada saatnya nanti untuk menikmati semua itu."


"Berat rasanya aku pergi ke Madinah dan membiarkan suami tinggal sendiri di Yogya."


"Antara Yogya dan Madinah itu cuma sepuluh jam. Aku bisa terbang kapan saja bila kamu rindu."


"Satu jam saja aku tidak sanggup berpisah denganmu, apalagi enam bulan."


"Bawalah rindumu ke Raudhah, sampaikan pada bagindamu dan bagindaku, agar rindu itu jadi sesuatu yang indah."


"Aku ingin kamu berkunjung ke Madinah setiap ada kesempatan."


"Kesempatan selalu ada untuk rindumu."


Air bening mencuat di sudut mata Riany. Sedih. Kemudian dia mencium wajah suaminya dengan lembut dan berbaring di dadanya.


Ya Allah, jangan pisahkan hatiku dan hatinya, doa Riany dalam diam sebelum memejamkan mata.

__ADS_1


__ADS_2