
Belinda berpakaian sangat seksi. Ia jadi malu sendiri melihat penampilan Al yang islami, dengan model dandy dan trendy.
"Belinda," katanya mengenalkan diri sambil cium tangan. "Teman sekelas Arya."
Al sebenarnya tidak biasa bersalaman dengan perempuan, tapi tidak elok menolaknya. Niatnya sekedar menghormati antar sesama.
Al sering mengingatkan Aisyah yang menghindari bersalaman, tapi tidak menundukkan pandangan saat berbicara. Artinya sama saja, terjadi kontak.
Bersalaman adalah masalah budaya, baiknya diselesaikan secara budaya pula. Jadi tidak perlu dibesar-besarkan.
"Silakan duduk," kata Al. "Teman sekelas ya?"
"Sudah jadian sih," jawab Belinda sedikit tersipu, matanya melirik Arya yang duduk di sampingnya. "Sudah dua bulan ya?"
"Lupa," sahut Arya singkat.
"Masa lupa?"
"Perayaan jadiannya sibuk sama syuting."
"Yang sibuk kan aku?"
"Yang repot aku."
Gadis model begini kayaknya langsung dicoret dari daftar calon menantu, batin Al kecut. Penilaian pertama ibunya adalah cara berpakaian, kemudian rapor kehidupan tidak jeblok. Harta dan tahta tidak penting.
Tapi Al tidak mengomentari penampilannya, atau memandang receh. Sinar matanya terpancar hangat menyambut kedatangan artis sinetron itu.
Al duduk dengan santai di hadapannya, sementara menunggu Riany selesai dandan. Mereka berangkat pagi ini supaya tidak terlalu malam tiba di kampung halaman.
Al membuka chat yang masuk, dari Rivaldo, minta dikirim referensi untuk presentasi judul. Dia membalasnya.
Belinda memanfaatkan kesempatan itu untuk berbisik pada Arya,"Kenapa kamu nggak bilang kalau kakakmu muslim yang taat? Aku kan jadi malu pakai baju model begini."
"Terus kamu mau pakai karung?" tanya Arya acuh tak acuh. "Tren fashion kamu adalah tuntutan profesi, mau gimana lagi?"
"Aku bisa ngikuti situasi."
Arya memandangnya separuh meledek. "Emang kamu punya baju muslim?"
"Banyak," jawab Belinda keki. "Aku sering syuting sinetron religius."
"Dipakai waktu syuting saja, kan? Nyimpannya juga lupa."
"Aku bisa beli."
"Ya sudah, kita mampir nanti di butik."
"Jam segini butik mana ada yang buka?"
"Pinjam punya kakak ipar kegedean ya?"
"Mana aku tahu? Orang belum kenal."
"Pasti kelonggaran. Kita beli di jalan kalau kamu merasa nggak nyaman dengan bajumu."
"Aku nggak nyaman sama mereka, bukan sama bajuku."
"Kok gitu?"
__ADS_1
Al sudah selesai membalas chat Rivaldo. Dia tersenyum kecil. "Ada apa bisik-bisik? Aku jadi kayak nggak dianggap."
"Maaf, Kak," kata Belinda tersipu. "Aku lagi ngomongin soal bajuku."
"Ada apa dengan bajumu?"
"Aku malu pakai baju model begini. Disangkanya aku pasti suka mengumbar aurat. Cewek nggak bener."
Al tersenyum maklum. "Memangnya bisa dinilai dari penampilan ya? Bukannya penampilan bisa menipu?"
Berpakaian adalah hak pribadi dan untuk kenyamanan diri sendiri. Jadi keliru kalau disesuaikan dengan selera orang lain.
Al berpakaian kurta dan sirwal karena merasa nyaman berpenampilan begitu. Jadi tolok ukurnya bukan islami atau tidak.
Menurutnya, semua pakaian islami kalau sesuai syariat, dan syariat tidak mengacu pada model, tapi pada kemaslahatan.
Model adalah budaya.
Riany muncul dari ruang dalam dengan penampilan sangat fashionable, membuat Belinda semakin inferior.
Riany tersenyum dan menyapa mereka, "Lama ya nunggu?"
"Segitu sih belum apa-apa," jawab Arya. "Cewek di samping aku kalau dandan, aku nunggu dari kenyang sampai lapar."
"Namanya juga artis," kata Riany. "Penampilan nomor satu."
Belinda bangkit menghampiri Riany dan mengenalkan diri sambil cium tangan, "Belinda."
"Aku sudah tahu namamu. Cuma sama orangnya baru ketemu sekarang. Aslinya ternyata jauh lebih cantik."
"Aku malu dibilang cantik sama perempuan tercantik."
"Emangnya kakak mau main sinetron?"
Kid jaman now tidak tahu basa-basi, batin Riany. Biasa ngomong apa adanya.
Riany tersenyum kecil. "Aku tidak ada waktu."
"Kita berangkat," potong Al sambil bangkit dari duduknya.
"Aku belum pamit sama Wulan, sama Lin Wei."
"Chat saja."
"Kurang afdol. Mereka ada di home stay sebelah. Kalian nunggu di mobil."
Mereka berjalan meninggalkan ruang tamu. Security berdiri di dekat mobil siap membukakan pintu.
"Kak Al nggak pamit sama tetangga sebelah?" tanya Arya.
"Kebanyakan pamit," jawab Al. "Aku sudah ada di Yogya lagi minggu depan."
"Sering silaturahmi makin baik."
"Tumben otakmu lurus."
Al sudah pamit lewat chat. Ia kira sudah cukup, karena bertemu langsung ucapan yang disampaikan sama juga, kecuali istrinya ada cipika cipiki.
Lagi pula, persoalan Aisyah belum selesai bagi Wulandari dan Lin Wei. Mereka pasti bercerita panjang lebar kalau Al berkunjung ke rumah sebelah. Cuma bikin capek hati.
__ADS_1
Al berpikir sederhana saja. Dia ingin membantu Aisyah untuk mengatasi kehidupannya yang berat, saat gadis itu memilih Rian, berarti dia tidak membutuhkannya.
Al menyadari Aisyah akan lebih mudah menjalani hidup bersama Ryan. Jadi madu pasti banyak tantangan dan makin menambah berat hidupnya. Padahal dia ingin mengurangi beban deritanya.
Aisyah sudah mengambil keputusan yang benar. Dia bisa memiliki suami seutuhnya, tanpa kuatir jadi gunjingan tetangga.
Al malah diuntungkan dengan terpilihnya Ryan. Masalah jadi berantai kalau Aisyah jadi istrinya. Wulandari pasti menuntut jadi istri ketiga, dan Lin Wei istri keempat. Kepalanya bisa pecah.
Al sebenarnya ingin bertahan dengan satu istri, karena cuma punya satu cinta. Kemudian muncul wasiat Oma dan tragedi di jalan tol. Dia jadi merasa memiliki kewajiban.
Al bangga dengan istrinya. Dia rela berkorban untuk memberi tempat pada Aisyah. Semua dia lakukan karena Al adalah satu-satunya lelaki yang ada di hatinya sejak mengenal cinta.
Riany tidak menunjukkan rasa benci pada Wulandari dan Lin Wei, padahal mereka ada pada antrian berikutnya jika Aisyah bersedia jadi istri kedua.
Riany begitu tabah menyimpan gelembung di hatinya. Dia sadar berumah tangga tidak selamanya indah.
Al tahu tidak ada istri yang ikhlas dimadu. Tapi Riany mampu membungkus rasa tidak ikhlasnya dalam bentuk ketaatan pada Nabi. Padahal mereka masih masa pengantin baru.
Al jadi makin sayang pada istrinya.
"Eh eh eh, jangan peluk-peluk," kata Riany. "Arya nyetir nggak fokus nanti."
"Apa urusannya sama nyetir?" tanya Al cuek. "Aku bebas peluk kamu di mana saja. Nah, kalau kutu loncat itu nggak boleh peluk Belinda di mana saja."
"Aku punya kakak sayang bener sama adiknya," sindir Arya sambil mengendarai mobil dengan kecepatan minimum di jalan tol. Belinda duduk di sebelahnya. "Nggak ada julukan yang lebih jelek apa?"
"Kamu kalau bukan kutu loncat terus apa namanya? Bulan ini ada di hati Belinda, bulan depan loncat ke hati siapa?"
"Jangan bongkar kartu. Percuma. Belinda sudah tahu semuanya. Namanya teman satu kelas."
"Oh ya, Bel. Kamu minggu ini sekolah nggak padat, kan?"
"Padat kalau dilindas mesin giling," sambar Arya.
"Emangnya kenapa, Kak?"
"Aku mau ngajak kamu ke Madinah."
Belinda menoleh dengan tak percaya. "Serius?"
"Aku bukan tukang ghosting kayak pacarmu. Bagaimana? Kamu boleh bawa saudaramu."
Belinda menatap heran. "Kok bawa saudara?"
"Maunya bawa pacar? Arya tidak diajak juga pasti maksa ikut kalau kakaknya pergi traveling. Supaya orang tuamu percaya kalau bawa saudara."
"Papi sama Mami percaya banget sama Arya."
"Mudah-mudahan kupingnya nggak budek, biar berhenti jadi kutu loncat. Tapi bawa saja adik atau kakakmu, Bel."
"Aku anak bungsu. Kakakku dua-duanya sekolah di luar. Kalau bawa tante, boleh?"
"Kok bawa tante? Yang lebih muda sedikit. Kamu sama Arya pusing nanti dapat ceramah tiap menit."
"Tanteku masih muda, seumuran kakak. Dia kuliah di Yogya."
"Siapa?"
"Aisyah."
__ADS_1