
Al menatap Aisyah dengan segurat sesal. "Kau harusnya memberi tahu wasiat ini saat di Tanah Suci. Aku tidak mungkin naik ke pelaminan bersama Riany."
Aisyah balas menatap dengan mata berkaca-kaca. "Kau tidak punya sedikitpun cinta untukku. Aku tidak mau kamu menikahi aku karena sekedar melaksanakan wasiat Oma. Apa jadinya anakku nanti kalau lahir tanpa cinta?"
Al tersenyum kecut. Perempuan begitu ingin dinikahi karena cinta, padahal setelah berumah tangga yang diharapkan bukan cinta. "Laki-laki menikahi perempuan tidak perlu karena cinta. Mengapa kau mengharapkan sesuatu yang tidak ada dalam keterangan?"
"Aku tidak mau kamu nikah sama aku karena terpaksa. Lagi pula, aku tidak mau kau meninggalkan Riany. Dia sangat mencintaimu dan tidak berkurang setetes jua sejak dia mengenal cinta."
"Lalu maksudnya apa, kau sekarang ngasih tahu aku tentang wasiat Oma?"
"Kau berhak tahu. Wasiat itu untukmu."
"Hak itu harusnya kau berikan di Tanah Suci."
Oma barangkali ingin mengirim wasiat itu kepada Al. Tapi dia tukaran handphone sama Riany. Jadi Oma terpaksa mengirim ke Aisyah.
Sekarang bagaimana dia mengambil sikap? Dia tidak mungkin berpisah dengan Riany karena janji sudah terlanjur terucap.
Semua yang dikatakan Oma benar adanya. Aisyah lebih matang untuk mengarungi hidup berumah tangga. Barangkali karena tumbuh dewasa tanpa ibunya hingga terbentuk kepribadian yang mandiri.
"Riany sudah memberi izin untuk mengambil kamu sebagai istri," kata Al hati-hati. "Bagaimana menurutmu?"
Aisyah tersenyum, meski terkesan sedikit dipaksakan. "Kau berniat untuk menjadikan aku sebagai madu?"
Al diam sejenak untuk mengusir galau dalam hatinya, kemudian berkata, "Keterlambatan informasi ini membuatmu hanya memiliki kesempatan untuk jadi yang kedua. Dan bukankah itu yang kau harapkan?"
"Harapan itu bersemi saat aku berada di Tanah Suci, dan kau tidak ada niatan untuk mengambilku jadi yang kedua, karena cintamu cuma untuk Riany. Lalu sekarang kau bersedia membuka hati. Kenapa? Karena aku cacat?"
"Karena kau terlambat menyampaikan wasiat itu."
"Aku sudah katakan saat itu aku keberatan kalau kau membatalkan perjodohan dengan Riany, banyak hal yang dipertaruhkan, bukan cuma cintanya. Maka itu aku sengaja menyimpan video Oma."
"Jadi kamu lebih suka mengorbankan cintamu sendiri?"
"Aku tidak mengorbankan cintaku, aku tetap berharap kau membuka hati. Tapi bukan dengan jalan seperti ini."
"Maksudnya jalan seperti apa?"
"Kau bersedia membuka hati karena aku cacat. Sampai kapan kau sanggup bertahan? Sampai merasa bosan punya istri lumpuh?"
"Aku pasti membuka hati seandainya kau sampaikan wasiat Oma sebelum mendapat musibah. Aku akan belajar mencintaimu. Aku yakin cinta bisa hadir saat kita mengarungi bahtera rumah tangga."
Wajah Aisyah semakin berawan menahan kepedihan yang mengiris hatinya. "Segalanya sudah terlambat, Al. Aku tidak mau jadi beban kamu."
__ADS_1
"Aku tidak merasa terbebani."
Aisyah tidak percaya. Bagaimana mungkin Al tidak terbebani sementara untuk urusan mandi saja dia perlu bantuan suaminya?
Al mungkin tahan pada tahun-tahun pertama, tapi tahun-tahun selanjutnya? Buat apa berumah tangga kalau berujung pilu?
Aisyah tidak yakin Al sanggup bersabar untuk mengurusnya sepanjang umur.
"Aku tidak perlu minta suster untuk memindahkan kamu dari kursi roda ke sofa, mobil, atau tempat tidur, kalau kau jadi istriku."
Aisyah tersenyum pedih, "Kau jadi suami hanya untuk melayaniku? Siapa yang percaya? Di ranjang aku tak ubahnya boneka!"
"Aku menikah bukan karena hal itu."
"Tapi hal itu perlu untuk menjaga keharmonisan rumah tangga."
"Aku bisa mendapatkannya dari Riany."
"Lalu apa fungsiku sebagai istri?"
"Aku juga bisa mendapatkannya dari kamu."
"Bullshit. Sudahlah, aku tidak apa-apa. Aku ikhlas impian untuk hidup bersamamu kandas."
"Bagaimana jika kamu sembuh dan aku melamarmu? Kau bersedia? Aku pada saat itu mungkin sudah kehilangan selera untuk mengambilmu jadi istri, karena aku bukan suami yang mau enak sendiri. Aku ingin jadi suami disaat kamu membutuhkan, bukan hanya disaat aku membutuhkan."
"Tapi bagiku belum cukup. Aku tidak mau mengecewakan Oma. Aku akan melamarmu pada Abi."
"Aku pasti menolak!"
"Jadi kau lebih suka dibenci oleh Wulandari dan Lin Wei?"
Aisyah terdiam. Mereka bertiga sudah membuat kesepakatan. Sekarang peluang terbuka lebar untuknya. Dia bisa menikah secara sah dan resmi karena Riany memberi restu. Wulandari dan Lin Wei pasti protes keras kalau dia menolak lamaran Al!
Haruskan dia memikirkan orang lain disaat dia tidak mau jadi beban bagi orang lain?
"Jika aku menerima lamaranmu, apakah kau akan menjadikan Wulandari dan Lin Wei untuk yang berikutnya?" tanya Aisyah.
Al balik bertanya, "Apakah itu merupakan persyaratan agar lamaranku diterima?"
"Aku hanya ingin tahu saja, karena suami tidak perlu restu istri untuk nikah lagi, kau sering katakan itu."
"Kau lebih baik tidak tahu kalau begitu."
__ADS_1
Untuk melamar Aisyah saja, Al pusing bagaimana caranya. Ibu pasti menentang keras. Poligami adalah perkara halal yang paling dibencinya. Nah, Ayah bisa diminta bantuan, tapi timbal baliknya dia harus mendukung Fatimah jadi mama muda.
Minta bantuan Opa lebih parah risikonya, dia pasti dibully dan dipaksa menerima Jennifer sebagai anggota keluarga besar. Ibu lagi yang jadi korban.
Al bisa saja melamar atas nama sendiri, tidak perlu diwakili. Tapi bagaimana dengan keluarganya? Mereka pasti tersinggung!
Al tidak mau karena ingin menolong seorang perempuan sampai berbuat durhaka kepada orang tuanya!
"Aku minta video Oma," kata Al sambil nge-share dua video berisi wasiat itu ke nomernya. "Aku perlu ini untuk bukti ke orang tuaku."
"Buat apa?"
"Kok buat apa? Memangnya Abi sama jaddah bersedia kalau aku melamar untuk diri sendiri?"
"Mereka pasti nanya aku menerima atau tidak lamaran kamu."
"Itu urusan mereka. Urusanku menanyakan sama orang tuamu anaknya sudah ada yang punya apa belum."
Aisyah memandang dengan selidik. "Kamu serius?"
"Apa aku terlihat main-main?"
"Kamu pasti mendapat malu!"
Al tersenyum seakan tak ambil pusing. "Risiko. Namanya melamar kalau tidak diterima, ya ditolak."
Kemudian Al mengambil kertas untuk mencetak proposal. Dia masukkan ke printer dan mulai mencetak.
Selesai dicetak, Al rapikan dan dimasukkan ke sebuah map.
"Aku jilid dulu," kata Al. "Besok pagi aku menjemputmu untuk mengajukan proposal."
"Aku sudah minta Wulandari sama Lin Wei untuk ngantar ke sekretariat."
"Terus aku tidak boleh ikut, padahal aku yang bikinnya? Nggak tahu terima kasih banget."
Aisyah tampak tidak suka. "Bantuan kamu sekarang jadi ada pamrihnya."
Al seolah sengaja ingin membuat Aisyah tambah ilfeel. "Iya dong. Kamu sendiri mulai ada pamrih."
"Pamrih apa?" tanya Aisyah bingung. "Aku tidak pernah minta pamrih darimu."
"Kata siapa? Aku harus kerja dulu baru dikasih tahu video Oma. Aku harus menyembuhkan kakimu dulu baru diterima lamaran aku. Apa itu bukan pamrih?"
__ADS_1
"Kelihatannya kok jadi aku yang salah?"
"Jelas kamu yang salah! Kamu tahu nggak? Aku tidak berani melamar kalau kamu sempurna!"