
Mereka pulang ke tanah air hari itu juga. Riany terlebih dahulu menghubungi bagian kemahasiswaan kampus dan memberi tahu minggu ini belum bisa masuk kuliah karena suaminya tertimpa musibah.
Air mata Riany tak henti mengalir hingga duduk di dalam pesawat Saudia. Dia tidak bisa memaafkan dirinya yang telah memaksa Al untuk naik mobil bersama mereka, padahal suaminya bersikeras ingin naik kereta. Bukan semata-mata ingin menghindari ketiga gadis itu, dia sangat nyaman naik kereta karena dapat melihat panorama alam di sepanjang perjalanan.
"Sudahlah, berhentilah menangis, semua ini bukan salahmu," kata Dinar. "Allah ingin memberi ujian di usia perkawinan kalian yang seumur jagung. Jika sudah kehendak-Nya, musibah pasti datang sekalipun suami kamu menunggang kuda pergi ke Yogya."
"Baru tiga hari aku jadi istri, sudah menyuguhkan musibah bagi suamiku," sesal Riany. "Aku harusnya tidak meminta Al untuk naik mobil bersama mereka."
"Jangan sesali apa yang sudah menjadi kehendak Allah," ujar Fatimah menghibur. "Kecelakaan itu terjadi bukan karena permintaanmu, karena takdir."
"Takdir itu terjadi karena aku," sanggah Riany dengan air mata berderai. "Aku tidak bisa memaafkan diriku yang terlalu banyak meminta."
Baru disadari sekarang kalau Riany terlalu egois dengan perasaannya. Rasa takut kehilangan yang demikian besar membuatnya tak memikirkan bagaimana perasaan Al. Cintanya sudah jadi bumerang bagi mereka.
Pernikahan dini itu terjadi karena keinginannya untuk menciptakan ikatan cinta yang lebih kuat. Dia kuatir kesetiaan Al akan tergoyahkan dengan kehadiran bidadari di sekelilingnya, padahal lelaki tidak terikat untuk memilih lebih dari satu perempuan.
Sejujurnya mereka belum siap untuk menikah. Mengayuh biduk rumah tangga tidak cukup dengan berbekal cinta. Mereka perlu menyiapkan hati, jiwa, dan pikiran dengan matang agar pernikahan tidak mengalami pasang surut.
"Memangnya kamu sudah minta apa saja sehingga menurutmu terlalu banyak?" tanya Fatimah ingin tahu. "Kamu minta mobil? Rumah? Aku kira permintaan itu tidak sulit untuk dipenuhi oleh Al. Lagi pula, Al sudah memiliki semua itu. Rumah dan mobil mewah yang bagaimana lagi yang kamu inginkan?"
"Permintaan itu tidak terpikirkan olehku karena materi bukan masalah dalam kehidupan rumah tanggaku. Al bisa mengabulkan semua keinginanku jika aku minta, tapi aku tidak pernah minta."
"Lalu kamu minta apa?"
Riany sulit menjelaskan. Fatimah dan Dinar menikah di usia yang sudah cukup. Jadi mereka sudah siap untuk menempuh bahtera rumah tangga. Suami mereka berusia lebih matang, selisih lima tahun. Kehidupannya juga sudah mapan. Sehingga tidak limbung terhantam badai.
Sementara usia Al hanya selisih beberapa hari dengannya. Dia terlalu muda untuk menjadi kepala rumah tangga, dan sebetulnya belum siap untuk menjadi suami. Riany kuatir bila ada badai menghantam biduk rumah tangga, mereka sulit untuk bertahan. Cinta tidak akan bisa mengatasi segalanya.
__ADS_1
Kalau hal itu terjadi, kehidupannya berarti tamat. Tidak ada laki-laki yang dapat menggantikan Al di hatinya. Dia hanya ingin hidup bersamanya, sementara hari-hari yang dilalui masih sangat panjang.
Beberapa jam kemudian Riany menghubungi Nidar lagi. Dia sangat sedih ketika mendapat kabar dari sahabatnya kalau kondisi Al belum mengalami perkembangan yang menggembirakan. Nidar dan Ridwan diperbolehkan untuk menungguinya secara bergantian dengan protokol kesehatan yang ketat.
"Jadi...Al masih koma?" cetus Riany terbata sambil menggigit bibir menahan tangis. "Kata dokter bagaimana harapannya?"
"Kondisi Al tidak stabil," ujar Nidar lewat sambungan jarak jauh. "Setiap saat dia bisa masuk ke stadium shock."
"Jadi separah itu keadaan suamiku," desis Riany bergetar, berusaha menguatkan diri. "Bacakanlah ayat suci agar dia terbangun."
"Teman-teman kita di rumah sakit dan di pesantren sampai sejauh ini belum tidur, mereka mengaji dan berzikir."
"Aku tidak siap untuk kehilangan suamiku," ucap Riany separuh terisak. "Aku terlalu muda untuk mengarungi hidup seorang diri."
"Tabahkan hatimu, Ri. Kita semua tidak siap untuk kehilangan Al. Kita hanya bisa berdoa agar Al dapat melewati masa kritis."
"Keadaan Ibu bagaimana?" tanya Riany. Mertua perempuan itu sangat sayang kepada putera sulungnya dan memiliki jiwa tidak setegar keluarga yang lainnya. "Apakah beliau baik-baik saja?"
"Ibu tidak sadarkan diri beberapa kali, saat ini beliau ada di kamar VIP ditemani Umi dan kakak sulungmu."
Riany merasa pesawat sangat lambat untuk segera sampai ke tanah air, padahal lewat monitor di depannya terlihat kecepatan pesawat tidak pernah kurang dari 920 km/jam. Dia duduk gelisah dengan hati tak henti berdoa untuk keselamatan suaminya.
Para penumpang memanfaatkan waktu perjalanan untuk istirahat. Mereka adalah para TKI dan rombongan jamaah umrah yang hendak pulang ke tanah air. Pelajar cuma dia satu-satunya. Cuma dia pula satu-satunya orang yang masih terjaga di dalam pesawat ini. Pramugari tidak ada yang lalu lalang. Mereka memberi kesempatan kepada penumpang untuk beristirahat.
Riany sebenarnya sangat lelah. Dia menempuh perjalanan bolak-balik Jakarta-Madinah tanpa sekejap pun mata terpejam. Dia tidak sempat beristirahat di apartemen, pergi menghabiskan waktu di Raudhah, kemudian datang kedua kakaknya membawa kabar buruk.
Fatimah dan Dinar tertidur lelap karena kelelahan menempuh perjalanan nonstop. Mereka hanya singgah di apartemen satu jam, lalu berangkat lagi naik pesawat pulang ke tanah air. Sungguh perjalanan yang sangat menguras energi, sekalipun kerjanya cuma duduk.
__ADS_1
Di tanah air tentu sudah menjelang Subuh. Nidar dan kawan-kawan tidak tidur. Mereka berkumpul di rumah sakit. Sementara keluarga beristirahat di kamar VIP rumah sakit, sebagian menginap di hotel.
Nidar dan kawan-kawan belum bisa tenang karena kondisi Al tidak stabil. Setiap saat mereka bisa kehilangan temannya. Al dan Aisyah adalah korban yang paling parah kondisinya. Sementara Lin Wei dan Wulandari sudah mulai membaik, mereka sudah pindah ke kamar perawatan.
Riany jadi semakin terpukul mendapati kenyataan ini. Aisyah adalah perempuan yang paling dicemburuinya. Namun dia tidak rela kalau gadis itu pergi untuk selamanya. Betapa tersiksanya Al nanti. Aisyah adalah sahabat yang paling dekat dengan suaminya.
Pada saat terjadi musibah, Aisyah duduk di depan bersama Al sehingga mengalami kondisi yang cukup serius. Namun kecelakaan kadang tidak ditentukan oleh posisi duduk, tergantung pada siapa takdir menghampiri.
Penumpang terbangun ketika berkumandang pengumuman lewat pengeras suara agar mengenakan sabuk pengaman karena pesawat akan segera mendarat.
Pesawat mulai menurunkan ketinggian dan mengatur kecepatan, kemudian menukik turun untuk mendarat. Bangunan di sekitar landasan mulai kelihatan, dan tanpa terasa roda-roda pesawat menyentuh landasan, bersamaan dengan terbitnya matahari.
Semakin lama pesawat semakin melambat, kemudian berbelok memasuki taxi way menuju apron untuk menurunkan penumpang. Garbarata datang dan mendekat ke pintu pesawat yang berhenti.
Riany keluar paling dulu diikuti oleh Fatimah dan Dinar.
"Pelan-pelan dong, Ri," tegur Dinar yang keteteran mengikuti langkah Riany karena berbadan dua. "Kau ingin keponakanmu lahir prematur?"
"Kita harus cepat-cepat ke rumah sakit, Kak," ujar Riany tidak sabar.
"Aku tahu," jawab Dinar. "Tapi di terminal kedatangan tetap saja kita harus menunggu travel bag."
"Baiknya kamu pulang saja," kata Fatimah. "Biar aku sama Riri ke rumah sakit."
"Aku juga kepingin tahu keadaan adik iparku."
Riany memesan taksi online sambil berjalan menuju ke gerbang imigrasi. Pemeriksaan berlangsung cukup cepat, mereka menunggu travel bag sebentar, kemudian meninggalkan bandara dengan menggunakan taksi.
__ADS_1