
Al tidak tahu mengapa selalu ada jalan bagi Riany untuk mengetahui setiap sisi kehidupannya. Dia kira semua yang terjadi bukan karena kebetulan.
Al menjelaskan kalau rumah di sebelah home stay Wulandari adalah rumah pertama kali Opa belajar hidup mandiri. Dia ingin bertanggung jawab sebagai suami dari hasil keringatnya sendiri.
Riany tidak peduli dengan sejarah kepemilikan rumah. Dia paling tidak suka sejarah karena sering dibelokkan tergantung siapa yang bercerita. Dia hanya ingin tahu kenapa Al menyembunyikan informasi darinya.
"Aku baru tahu rumah ini dihibahkan padaku saat mau pergi ke Yogya," kata Al sambil melangkah masuk ke ruang tamu yang sejuk. "Opa minta aku tinggal di sini selama kuliah. Aku menolak karena cuma menyeret ingatanku sama Oma, dan semakin jauh jarak dengan penggantinya."
Al sulit menerima Jennifer sebagai bagian dari keluarga besarnya. Dia menghormati Ibu, sekalipun Oma sudah ikhlas.
Dia berharap keikhlasan Oma muncul karena ketaatan pada Nabi, bahwa apa yang diterimanya adalah syariat yang harus dipatuhi. Jadi bukan karena segalanya sudah terjadi.
Dia tidak mau menerima hadiah ini, lagi-lagi Ibu membujuknya. Beliau tidak sudi punya ibu tiri yang lebih muda darinya, namun dia tidak berani menunjukkan di depan ayahnya. Patuh. Cuma itu sikapnya.
"Aku tidak tanya itu," ujar Riany ketus. "Ada modus atau tidak di balik hadiah ini, aku tidak peduli. Aku cuma minta alasan, kenapa aku tidak dikasih tahu?"
Bola mata kebiru-biruan itu bersinar tajam laksana belati. Al cuma bisa mengusap-usap kepala. Dia tidak punya alasan yang tepat. Rumah ini seakan ditakdirkan untuk yang ketiga!
Al berlagak bodoh. "Aku salah ya?"
"Nggak," jawab Riany. "Nggak ketulungan niatnya."
"Niat apa?"
"Aku kira bukan kebetulan kalau Ayah membeli rumah di kompleks dimana Lin Wei tinggal, kalau Opa membeli rumah masa lalu di dekat home stay Wulandari, dan mungkin saja Aisyah menerima wasiat untuk menempati rumah Oma."
"Jadi kamu menuduh mereka mendukung aku untuk....?" Al tidak melanjutkan kata-katanya.
Mata indah itu mendelik. "Untuk apa? Kok tidak diteruskan ngomongnya?"
"Untuk memikirkan kamu."
"Preet."
"Kok begitu sama suami?"
"Aku tahu bukan itu maksudnya."
"Nyatanya itu yang harus dilakukan. Aku harus memikirkan istriku."
"Istrimu tinggal di istananya, di pesantren. Pas kan? Rumah empat mobil empat. Harta berlimpah. Jadi tidak kekurangan."
"Kamu kok bisa kepikiran begitu ya?"
Riany memandang dengan selidik. "Kepikiran begitu bagaimana? Memang betul kamu punya rumah empat mobil empat. Duit segambreng."
"Rumahku cuma tiga."
"Kamu tahu rumah siapa yang baru dibangun di samping asrama santriwati?"
"Rumah Ahmed. Aku lihat dia sibuk banget selama pembangunan."
Rumah itu sudah berdiri sebelum mereka ta'aruf. Dan Ahmed berkecimpung dalam proses pembangunannya. Jadi punya siapa lagi?
__ADS_1
"Dia sibuk mengurusi kontraktor karena diminta Ayah. Dia sedikit-sedikit paham tentang bangunan. Rumah itu buat aku tempati."
"Rumah itu dibangun jauh sebelum kita ta'aruf."
"Perjodohan kita terjadi saat pesantren selesai dibangun. Jadi bukan kebetulan kalau rumah itu dibangun untukku."
Al merasa ada peluang untuk menyerang balik. "Kapan kamu tahu rumah itu untukmu?"
"Saat kita mulai ta'aruf."
Al semakin mendapat angin. "Jadi sudah lama sekali. Aku tahu mendadak tentang apa yang dimiliki dan kau serang habis-habisan. Sementara kau menyimpan informasi yang sudah lama terjadi. Apa ini adil?"
Al tersenyum dalam hati melihat wajah yang cantik jelita itu tampak berubah seakan baru menyadari sudah melakukan sebuah kekeliruan. Bola mata bening kebiru-biruan itu memandang buram laksana samudera menyaksikan kepergian matahari.
Tutur katanya penuh sesal, "Maafkan aku, beb. Tujuannya aku pengen ngasih kejutan."
"Kejutan buat siapa?"
"Kejutan buat suamiku, buat siapa lagi?"
"Aku sudah jadi suamimu sejak duduk di pelaminan. Aku tidak dengar ada kejutan. Aku tidak mungkin melewatkan malam pengantin di rumah mertuaku kalau kejutan itu kau sampaikan."
"Aku rencananya mau ngasih tahu pas kita sudah selesai kuliah."
"Percuma, aku sudah punya banyak rumah."
"Kok gitu sih, beb?"
Al tidak tega melihat wajah putih eksotik itu tenggelam dalam penyesalan. Ia tersenyum. "Aku sekarang sudah tahu rumah baru di pesantren adalah milikku, jadi percuma kau kasih tahu setelah lulus kuliah. Aku ngomong gak salah kan?"
"Aku selalu memaafkan istriku, kecuali kamu pantas untuk tidak dimaafkan. Aku tidak akan mengempatkan istriku, kecuali kamu pantas untuk diempatkan."
Al tidak mengerti dengan fenomena yang dialaminya. Ia memiliki rumah empat, mobil empat, butik empat lokasi, duit empat rekening.
"Kau pilih-pilih kamar dulu," kata Al. "Cari yang sesuai seleramu. Masing-masing kamar beda model dan interior."
"Ada berapa kamar di rumah ini?"
"Empat."
Riany menatap Al bolak-balik seolah ingin mencari makna yang tersembunyi dari ucapan itu.
"Urusan kamar saja dicurigai," keluh Al.
Riany menjawab dengan santai, "Siapa yang mencurigai? Gak boleh aku ngelihatin suamiku? Oh ya, aku mau pesan food, aku minta alamat rumah."
"Jalan W**** tiga nomor tiga."
"Jauh nggak kawasan kuliner dari sini?"
"Tiga blok."
"Ada nomor kontaknya?"
__ADS_1
"+62*** 3333 3333."
Riany terdiam. Pikirannya susah untuk menghapus curiga karena kenyataan yang dihadapi serba mendukung.
"Rumah ini betul-betul disiapkan untuk Wulandari," sindir Riany.
"Jangan dihubung-hubungkan deh."
"Alamat rumah Oma Jalan M**** dua nomor dua, rumah yang dibeli Ayah Jalan T**** empat nomor empat. Nah, rumah ini Jalan W****tiga nomor tiga. Nomor mobil *1111, *2222, *3333, *4444. Jadi kunci mobil ini seharusnya untuk Lin Wei."
"Nomor kontakmu +62*** 2222 2222, password SUAMI222222, alamat rumahmu Jalan S****dua nomor dua. Jadi aku suami pilihan kedua? Pilihan pertamanya siapa?"
"Kok ke situ-situ?"
"Alamat rumahku Jalan S**** satu nomor satu, nomor kontak +62*** 1111 1111. Kau tidak bahas?"
Riany memilih nomor kontak angka dua semua, maksudnya kontak pertama dengan Allah, kontak kedua dengan manusia. Password dengan komposisi seperti itu maksudnya suami adalah nomor dua, nomor satu agama.
Dia percuma menjelaskan karena suaminya tidak butuh penjelasan. Al hanya tidak mau segala sesuatu dihubungkan dengan rumah tangga mereka.
Kalau Riany memilih kamar nomor satu, bukan berarti ia ingin diistimewakan, kamar itu paling dekat dengan pintu masuk, interior cocok dengan seleranya.
Riany sangat nyaman dengan kamar itu.
Al mengira Riany kesal dengan masalah nomor. Dia keluar kamar cuma saat makan, tidak banyak bicara. Selesai merapikan meja makan, masuk lagi ke dalam kamar.
Ketika Al pamit untuk shalat Maghrib dan Isya di Masjid Agung, Riany hanya bicara seperlunya di pintu kamar.
Al sengaja tidak menegur karena perangai anak bungsu begitu. Mengurung diri di kamar kalau ngambek.
Dia tidak mau memperlakukan istrinya secara berlebihan. Dia biarkan sampai hatinya tenang, kecuali sudah kelewatan, dia baru menasehati. Kemarahan yang wajar tidak perlu ditanggapi secara heboh.
Al tidak merasa jengkel ketika pulang dari Masjid Agung tidak ada penyambutan di muka pintu. Dia hanya heran saat membuka pintu kamar, lampu di dalam mati. Padahal Riany tidak suka tidur dalam gelap.
Al bertanya, "Lampunya rusak atau bagaimana?"
Riany tidak menjawab. Dia kayaknya ketiduran di balik selimut. Barangkali capek kurang tidur di rumah sakit, dan mengemudi lumayan jauh.
Al menutup pintu kamar. Keadaan di dalam kamar jadi gelap gulita. Dia menekan stop kontak. Lampu ternyata tidak masalah. Kamar jadi terang.
Di meja kecil berukir di dekat Riany berbaring ada kue ulang tahun dengan toping menarik dan lilin berbentuk angka.
Al duduk di sisi pembaringan di depan kue ulang tahun.
Riany membuka mata dan tersenyum manis, "Happy birthday, beb. God bless you."
Riany menyalakan lilin sambil memegangi selimut yang menutupi tubuhnya. Dia kelihatannya tidak mengenakan pakaian sehelai pun.
"Jangan lupa berdoa sebelum meniup lilin," kata Riany sambil berbaring lagi.
Al terpana. Jadi istrinya kelihatan marah sepanjang siang karena ingin memberi kejutan di malam hari?
Al merasa terharu, ia berdoa untuk kebaikan suami istri dan meniup lilin, kemudian membungkuk mengecup kening istrinya dengan lembut. "Terima kasih, beb. Hadiahnya apa?"
__ADS_1
Riany memandang suaminya dengan mesra, lalu menyingkapkan selimut yang menutupi tubuhnya dan berbisik merdu, "Hadiahnya aku...."