
Mereka pulang jalan-jalan hampir Maghrib. Al tidak keburu untuk pergi ke Masjid Agung. Dia akhirnya mengimami mereka di apartemen Aisyah.
Padahal Abi Rashid sebenarnya yang pantas jadi imam. Tapi Aisyah ingin diimami olehnya.
Barangkali inilah cara perpisahan yang indah. Dimana tidak ada benci dan dendam di antara mereka. Semua bersujud dengan penuh kehinaan di hadapan Al Aziz.
Al merasa malam ini adalah malam penutup harapan. Aisyah biasanya memberi penjelasan panjang lebar tentang keinginannya untuk pergi, tapi malam ini dia menyerahkan keputusannya kepada ayahnya.
"Terus terang saja aku berat untuk melepas Aisyah pergi," kata Abi Rashid yang membuat semua mata jadi layu. "Aisyah cuma akan merepotkan kalian di Riyadh."
"Kami tidak merasa direpotkan kok, Abi," bantah Wulandari. "Suster juga akan kami bawa."
"Aku memandang mudharatnya," kilah Abi Rashid. "Anakku pergi dengan mengeluarkan banyak biaya hanya untuk membuat beberapa lembar presentasi, tidak sebanding."
"Jadi Abi tidak mengizinkan?" tanya Lin Wei separuh mendesak.
"Aku menyerahkan keputusan akhir sama anakku," jawab Abi Rashid pasrah. "Aku turuti apapun permintaan anakku."
"Bagaimana, Ay?" desak Wulandari tidak sabar.
"Aku minta maaf," sahut Aisyah dengan wajah berkabut. "Aku tidak bisa pergi kalau abiku keberatan."
Al merasa jawaban gadis itu kayak bola pingpong. Padahal dia tidak pernah gampang menyerah, tapi ada sesuatu yang membuatnya malas memperjuangkan. Al sudah kehilangan daya tariknya karena Ryan.
Aisyah sudah menjatuhkan pilihan dan ingin mengakhiri perburuannya untuk jadi istri kedua. Cita-cita yang sejak awal didendangkan, tapi sirna disaat-saat terakhir, dimana kesempatan justru terbuka lebar.
Seandainya Al harus memilih, maka dia lebih memilih Aisyah, meski risiko besar pasti dihadapinya. Kebersamaan mereka selama bertahun-tahun terlalu indah kalau dilupakan begitu saja.
Dia tidak sadar sudah memilih perempuan tercantik karena pesona masa lalu. Padahal kecantikan ternyata tidak menawan hati Oma untuk merestuinya.
Al kira harta satu triliun yang dihibahkan padanya mengandung pesan kalau dia harus memilih istri yang paling tepat.
Al tidak tahu apa alasan Oma menjatuhkan pilihan pada Aisyah, padahal Riany sangat perhatian padanya.
Al baru tahu jawabannya manakala Aisyah tidak berusaha merebutnya dari genggaman Riany. Ada banyak kesempatan untuknya, tapi dia lebih memilih untuk berbagi.
__ADS_1
Aisyah adalah perempuan modern yang pemikirannya kontradiksi dengan mommy jaman now. Dia berusaha taat pada rasul tanpa meninggalkan kehidupan masa kininya.
Dia sadar setiap muslim ingin melaksanakan hal yang paling mudah dalam hidupnya, jadi manakala lelaki memilih untuk menjalankan sunah yang satu itu adalah normal, karena sunah tentang madu adalah satu-satunya ibadah yang sesuai keinginan mereka.
Perempuan juga pasti memilih melaksanakan sunah yang paling ringan sebelum mengambil sunah yang paling berat.
Mengambil jalan termudah adalah pilihan normal dalam kehidupan.
Aisyah mungkin kelihatan bodoh di mata mommy jam now, namun setiap orang memiliki pandangan yang berbeda dalam menjalani kehidupan, dan perbedaan itu pasti ada pertanggungjawabannya di akhirat.
"Aku tidak berharap malam ini persahabatan kita berakhir," kata Wulandari sebelum masuk ke dalam mobil. "Aku tahu kamu berani melanggar kesepakatan kita demi Ryan."
Aisyah memandang sedih dari atas kursi rodanya. "Kok kamu ngomong gitu sih, Wulan? Aku tidak berpikir sama sekali ke arah itu."
"Lalu kamu berpikir apa? Al ngajak kamu pergi ke Riyadh, terus kamu tolak mentah-mentah! Keputusanmu ini menutup peluang aku sama Lin Wei untuk jadi istri Al."
"Al tidak berniat ambil istri lagi."
"Kamu pikir aku tidak tahu apa yang kalian bicarakan? Kamu menolak lamaran Al karena mengharapkan sesuatu yang tidak mungkin darinya! Asal kamu tahu, rumah tangga tidak butuh cinta, sekarang bukan jaman Cinderella, rumah tangga itu butuh tanggung jawab!"
"Sudah aku capek," potong Wulandari tidak mau lagi mendengar penjelasannya. "Aku pergi."
Wulandari masuk ke dalam mobil, meninggalkan Aisyah yang duduk termangu memandang kepergiannya.
Al tidak mendengar apa yang mereka bicarakan, tapi dia sudah menebak bahwa persahabatan mereka sudah mulai retak.
Lin Wei bahkan sudah tidak mau lagi ngomong dengannya. Dia capek hati melihat temannya keras kepala. Hal yang belum pernah terjadi sebelumnya. Semua itu pasti karena Ryan!
Aisyah pikir cinta bisa membahagiakan hidupnya selaku istri. Perhatian, kasih sayang, dan materi cukup adalah jaminan kelanggengan berumah tangga!
Cinta hanyalah bumbu dari kemesraan yang terjadi!
Bagaimana Al bisa memiliki cinta kalau tidak diberi kesempatan untuk memilikinya?
Al tidak menganut paham pacaran. Dia hanya tahu ta'aruf. Pada proses saling kenal itu pun, mereka harus hati-hati menjaga rasa karena belum halal!
__ADS_1
Al bukan laki-laki fanatik, dia hanya berusaha menjalankan syariat yang ada, untuk dirinya sendiri.
Dia tidak menghujat mereka yang gemar pacaran, tidak pula nyinyir pada temannya yang menganut kehidupan bebas. Masing-masing memiliki kebebasan untuk memilih jalan hidup dan bertanggung jawab sendiri-sendiri.
Selama tidak mengganggu kehidupannya, Al membiarkan perbuatan mereka karena ada aturan universal yang berlaku. Kecuali terjadi dosa berjamaah, dia baru mengambil garis keras, karena dia kena getahnya.
Al hanya ingin menjalani hidup sesuai dengan pilihannya.
"Nah, sekarang bagaimana?" tanya Al melihat mereka diam saja kayak marmut kelaparan, padahal dua porsi spaghetti carbonara baru saja mampir. Mereka adalah dua bidadari yang jago makan. Tapi heran tubuhnya tetap seksi. "Jadi pergi nggak ke Riyadh? Aku pesankan tiket sekalian."
"Nggak mood," kata Lin Wei. Dia sebenarnya ingin segera pulang untuk istirahat, tapi Al mengajak singgah di restoran sekalian menunggu shalat Isya. "Aku mau pergi kalau bertiga."
Pramusaji datang membawa chicken steak dan langsung disantap oleh Lin Wei.
Al menggodanya, "Kamu kalau lagi nggak mood, makan gembul ya? Chicken steak itu untuk dua orang loh?"
"Aku lagi marah, tahu gak?"
"Bagus sih marah sama makanan, nggak sama orang. Untung kita orang kaya."
"Aku marah sama orang! Sama Aisyah!"
"Marah sama Aisyah kok malah makan chicken steak? Makan dong temanmu."
"Kamu pikir aku suku kanibal apa?"
"Kamu terlalu cantik untuk jadi suku kanibal, pantasnya jadi suku cadang."
Al sengaja bercanda untuk mencairkan kemarahan mereka. Dia tidak mau persahabatan mereka hancur cuma gara-gara Ryan. Mereka sudah banyak melewati hari-hari indah dan tidak boleh rusak oleh kejadian sesaat.
Al belum pernah melihat mereka marah. Sekalinya marah sampai menghabiskan ratusan ribu dalam sekejap, tapi bukan persoalan.
Kebersamaan mereka selama empat tahun belum pernah diisi dengan perselisihan. Hari-hari berlalu dengan penuh warna. Jadi rasanya agak aneh ketika muncul masalah di antara mereka.
Al ingin menghadapi peristiwa yang terjadi hari ini dengan kepala dingin. Dia sangat percaya takdir. Jika dia dan Aisyah ditakdirkan untuk berpisah jalan, maka tidak ada daya dan upaya untuk bersatu.
__ADS_1