
Menjemukan sekali.
Menunggu adalah pekerjaan yang paling tidak menyenangkan. Al melihat jam tangan. Kurang lima menit. Riany belum muncul juga. Semilir angin bukit sedikit menghibur keresahannya.
Angkutan umum berhenti beberapa meter di depannya menurunkan penumpang. Ternyata ibu-ibu pulang dari pasar. Kelihatan repot sekali membawa belanjaan. Ibu itu menghilang di jalan setapak menuju ke perkampungan di lereng bukit.
Al duduk sedikit di kabin Lamborghini Aventador yang parkir sisi jalan di bawah pohon peneduh. Dia mencoba rileks menunggu dengan memasukkan tangan ke saku celana sirwal.
Al sengaja menunggu di ujung kampung agar tidak menarik perhatian warga. Dia tidak menjemput di depan pintu gerbang pesantren. Orang kampung pasti heboh menyaksikan mereka pergi bersama lewat CCTV yang tersambung ke setiap handphone.
Al tidak mau jadi sumber dosa bagi warga. Mereka tidak sadar, dengan tayangan CCTV itu mereka jadi gibah, sibuk membicarakan orang yang datang ke pesantren. Perbuatan yang tidak dibenarkan dalam agama.
Perbedaan ajaran membuat mereka melakukan dosa yang seharusnya dapat dihindari. Ustadzah Hamidah secara tidak langsung sudah mengajari mereka untuk merumpi.
Kaki bukit ini mengingatkan Al pada masa kecil, saat dia dan Riany bertemu untuk menyelundup ke kampung tetangga.
Mereka menyerang markas Ridwan dan memancing gengnya supaya mengejar ke bukit yang mereka sudah hapal medannya. Al menghajar mereka satu per satu, sementara Riany melindungi dengan panah bandulnya.
"Kamu pantas jadi permaisuriku," puji Al setelah mereka memenangkan perang. "Aku pasti kalah tanpa bantuan ratu jamparing."
Al mengecup bibirnya sebagai tanda terima kasih. Gadis cilik itu menampar wajahnya keras-keras.
"Kurang ajar," geram Riany marah. "Bagaimana kalau aku hamil?"
Al meraba pipinya yang terasa panas. "Kasar banget. Di film layar tancap begitu kalau pangeran berterima kasih sama permaisuri."
"Ini bukan film layar tancap," sergah Riany hampir menangis. "Ini sungguhan. Kalau aku hamil, bagaimana?"
Al jadi bingung melihat ratu kecilnya panik. Saat itu mereka terlalu kecil untuk memahami arti kemesraan. Untung ada bapak-bapak hendak pergi ke kebun. Dia menjelaskan hal yang belum mereka mengerti dan sebenarnya tabu dilakukan. Mereka jadi tenang.
Al tersenyum teringat kejadian itu, tapi kemudian senyumnya perlahan surut. Kecupan itu adalah kecupan pertama dan terakhir. Riany sudah jadi milik orang lain. Dia segera menghapus kenangan itu dari pikiran karena takut menyesatkan.
Alphard hitam berhenti beberapa meter di depan Lamborghini. Mobil itu adalah kendaraan operasional pesantren, ada logonya dengan tulisan cukup besar di kaca belakang.
Riany dan Irma turun dari dalam mobil. Al sedikit lega manakala tahu laki-laki yang keluar di belakang mereka bukan Harbi, tapi Nidar.
Alphard bermanuver lalu balik lagi ke arah semula. Al melambaikan tangan waktu sopir membunyikan klakson.
"Assalamu'alaikum," sapa Riany.
"Wa'alaikumussalam," jawab Al.
"Tidak telat, kan?"
"Pas banget."
Riany muncul dengan tepat waktu dari arah yang sama. Bedanya dulu jalan berkerikil dan gadis itu naik sepeda batere dengan anak panah di punggungnya.
Kini Riany datang dengan hijab modis dan penuh pesona, memikat hati setiap laki-laki yang melihatnya. Orang lewat pasti mengira selebgram, atau foto model muslim lagi berjalan di catwalk alam.
Al tidak mau berlama-lama menikmati pemandangan yang menjerumuskan rasa itu, cukup sedetik mengaguminya untuk mengingat tanda kebesaran Ash-Shomad yang telah menciptakan perempuan yang demikian sempurna.
"Ingat masa lalu ya?" tegur Irma membuyarkan lamunannya.
"Kayaknya tidak percaya ada bidadari turun dari Alphard," canda Nidar. "Jauh sekali sama ratu kecilnya."
"Al juga beda bangat," puji Irma. "Pangling aku lihatnya."
Al tersenyum samar. "Kamu adalah perempuan ke seribu satu yang ngomong begitu."
"Yang pertama ngomong pasti tante-tante," sindir Riany.
"Aku ada tampang apa jadi sugar baby?"
"Banget."
"Kamu tidak berubah."
"Tidak berubah apanya?"
"Gemar mem-bully aku."
"Karena kamu tidak pernah memujinya," bela Irma. "Dia ingin dipuji penampilannya, karena sudah dandan habis-habisan."
Riany memarahi temannya, "Jangan asal. Aku tidak butuh pujian manusia. Aku berdandan karena aku merasa lebih percaya diri."
"Aku suruh kodok nanti untuk memuji kalau tidak butuh pujian manusia," kata Al. "Pujian adalah bentuk berpikir positif manusia, terlepas apa motifnya."
Nidar mengusap-usap rambutnya yang klimis. "Pagi ini aku kenyang dengar ceramah."
"Temanmu yang mulai."
"Kamu yang mulai!"
"Galaknya juga tidak berubah."
"Jadi cuma Pamela Bordin yang berubah?"
"Wah, ini sih urusannya lain lagi," keluh Irma. "Kayaknya gara-gara makan bareng di lesehan."
Al juga bingung saat itu, kenapa Riany mendadak pergi padahal ada Harbi di sampingnya?
Al tidak mau berpikir aneh-aneh, dia mengusir rasa penasaran di hatinya, dan berkata, "Aku kira kalian tidak datang. Telat semenit saja, aku pergi sendiri."
"Gaya!" semprot Nidar. "Datanya ada di Riany. Kamu pergi sendiri mau minta-minta di depan kantor imigrasi?"
"Persyaratannya ada yang kurang tuh," celetuk Irma. "Pasfoto."
"Ukuran berapa?"
"Ukuran 10R buat di kamarnya."
"Aku pasti datang," kata Riany. "Karena aku bukan kacang lupa kulitnya."
"Aku kacang tidak punya kulit," jawab Al.
__ADS_1
"Kacang gosong kali," sambar Nidar.
"Kacang goreng."
"Aku ingat hari itu kalian janji ketemuan di sini," kicau Irma. "Seandainya Riany tidak datang, berarti rencana balas dendamnya gagal dong?"
"Ada gantinya dua selir," sahut Nidar. "Pamela Bordin dan Vidya Ambarwati."
"Aku pasti datang karena aku ratu kecilnya, sekalipun terpaksa."
Satu kenistaan kalau ratu kecil tidak ikut berperang bersama pangerannya. Riany pasti dikucilkan dalam pergaulan.
Irma menggoda, "Hari ini kamu datang secara sukarela. Apakah secara sukarela juga jadi ratu rumah tangganya?"
"Sudah deh," potong Al. "Jangan bikin suasana tidak nyaman. Dia calon harimnya Harbi."
"Kamu bikin suasana tidak nyaman," balik Riany. "Semua orang sudah tahu aku ini siapa, biar tidak disebut-sebut."
Al diam. Dia tidak mau merusak suasana. Gadis itu sepertinya tidak suka perjodohannya diungkit-ungkit, tapi tidak merasa terpaksa juga dijodohkan.
"Aku sering senyum sendiri kalau ingat kejadian itu," kata Riany. "Aku benar-benar takut hamil saat itu."
Irma melotot. "Jadi kalian sudah melakukan hubungan...?"
"Hubungan apa?" sergah Riany. "Hubungan badan? Memangnya sudah kepikiran saat itu?"
"Alah, kalian kan hobi nonton film layar tancap plus-plus, pasti pengen coba-coba."
"Kamu ini hijaber apa slaber? Mulutnya jember banget!"
"Ada kejadian apa sih, Al?" selidik Irma penasaran. "Riany sampai takut hamil begitu."
Al berlagak lupa. "Kejadian yang mana ya?"
Riany melirik dengan keki.
"Komitmen kamu membuat aku happy banget," ujar Nidar. "Teman-teman yang lain juga."
Al memandang heran. "Soal apa?"
"Tidak mengambil sikap frontal terhadap pesantren."
Al tersenyum sedikit, tidak ingin mati gaya di depan Riany yang diam-diam mencuri pandang.
"Kirain soal apa."
"Aku sempat kuatir perang di masa lalu kembali berkobar."
"Impossible," sambar Irma. "Mereka sudah sama-sama hijrah."
"Justru itu, aku kuatir terjadi perang yang lebih dahsyat karena ajaran yang berbeda, apalagi di pesantren banyak mantan musuhnya."
Al bertanya, "Teman-teman semua aktif di masjid pesantren?"
"Yang lain?"
"Menunggu komando darimu. Mereka masih setia jadi anak buahmu."
"Jadi cuma kamu yang berani melawan sejak aku pergi?"
"Ratu kecilmu minta aku jadi marbot. Kupikir mendingan jadi marbot dibanding menduduki pos sisa di pabrik, upah lebih sedikit tapi pahala lebih besar."
"Untung alasannya bisa diterima."
"Apa yang perlu disampaikan ke teman-teman?"
"Pergilah ke pesantren kalau itu pilihan kalian. Tapi kuhabisi kalian kalau berani menghujat tahlil, qunut, dan maulid."
"Siap, raja bandring."
"Kamu sendiri?" tanya Irma ingin tahu.
"Aku berharap pesantren dan orang kampung akur."
"Susah."
"Aku tidak perlu berharap kalau gampang."
"Kalau harapanmu tidak dihiraukan?"
"Aku perangi dua-duanya."
Nidar berdecak kagum, "Salahuddin Al Ayyubi. Dia tidak gentar menghadapi semua pihak yang bertikai demi menjaga keutuhan umat."
Salahuddin Al Ayyubi adalah jendral perang dari Tikrit yang mampu mempersatukan wilayah Islam di bawah kekuasaannya.
"Ketinggian," kata Al. "Aku adalah Al Farisi Haikal Najid, yang tidak sudi melihat tanah kelahiranku terpecah belah karena perbedaan."
"Ada satu cara agar pesantren sama orang kampung akur," ujar Irma.
Al menoleh dengan acuh tak acuh. "Apa itu?"
"Kalian harus bersatu."
Nidar menanggapi dengan antusias. "Aku setuju banget. Kalian adalah tokoh idola dari golongan berbeda yang sanggup memerangi mereka."
"Bukan memerangi mereka."
"Lalu?"
"Duduk berdua di pelaminan. Jadi raja dan ratu sepanjang masa."
"Jangan bikin ilfeel deh," tegur Al. "Bagusnya Harbi tidak ada."
Irma malah menggoda, "Jadi bebas buat pedekate?"
__ADS_1
"Aku bukan laki-laki yang suka jadi orang ketiga."
Riany menoleh sekilas seolah ingin membaca pikirannya, seperti halnya Al yang ingin membaca hatinya lewat bola mata bening kebiru-biruan itu.
"Kayak tidak ada perempuan lain," kata Al.
"Betul itu," tukas Nidar. "Kayak nggak laku saja."
"Kayaknya sih benar kalau tidak laku," jawab Al jujur. "Di kampung pasaranku payah."
"Pesimis banget."
"Pamela dan Vidya menolak pergi bersamaku."
Sekali lagi Riany menoleh sekilas. Dan sekali lagi dia tidak bisa membaca pikirannya, sebagaimana Al tidak dapat membaca hatinya.
"Jadi aku pilihan sisa?" dengus Riany ketus. "Kamu pasti pergi sama mereka kalau mereka bersedia."
"Aku pikir itu lebih baik untuk menghindari gunjingan."
Riany memandangnya dengan tajam. "Jadi kamu terpaksa pergi sama aku?"
"Aku pikir begitu," sahut Al seolah sengaja ingin membuatnya kesal. "Aku malah minta Ibu untuk ngebel Nek Surti."
"Buat apa?"
"Menemani aku bikin paspor. Apa lagi?"
"Aku bilang sama Oma kalau begitu. Cucunya keberatan berangkat sama aku."
Al membiarkan saja Riany menghubungi omanya. Dia tidak heran gadis itu mudah terpancing emosi, bawaan dari kecil, dan itu cuma kepadanya.
Kemudian Riany menyimpan kembali handphone di tas mungil. Oma tidak dapat dihubungi. Dia menatap dengan dingin, dan bertanya, "Jadi berangkat sekarang?"
Al menoleh dengan santai. "Kamu ini kenapa sih baperan banget?"
"Jelas baper dong," bela Irma. "Ratu masa jadi pilihan sisa? Kalah sama selir!"
"Kamu ini benar-benar suka cari perkara," tegur Al sabar. "Masa lalu adalah masa lalu."
Riany memandang dengan sinar mata penuh misteri. "Segampang itu kamu melupakan masa lalu?"
Tentu saja sangat sulit, jawab Al dalam hati, pedih. Dia menabung rindu bertahun-tahun untuk kemudian hancur oleh sebuah elegi kehidupan. Tapi dia tidak mau menangisi cintanya. Kenyataan pahit itu semakin mendekatkan diri kepada cinta sejati, yang senantiasa terlantun lewat sujud malamnya.
"Bagus dah tidak jadi pergi sama Vidya," kicau Irma. "Bila perlu, tidak usah ketemu sekalian."
"Senang ya lihat teman susah?"
"Mahasiswi Kairo itu bisa membawa bencana buat kamu."
"Kenapa?"
"Vidya adalah gadis Kairo rasa London."
"Kirain gadis Kairo rasa Yogya." Al berjalan ke pintu mobil. "Siapa yang duduk di depan?"
"Aku sama Irma di belakang, " sahut Riany.
"Guide di depan," protes Nidar. "Aku tidak tahu alamat kantor imigrasi. Kesasar ke KUA, bagaimana?"
"Sudah deh jangan mancing-mancing," tegur Al mulai keki. "Kamu duduk di depan."
Nidar dan Irma malah kompak duduk di kursi belakang.
"Jadi pasang-pasangan," keluh Al serba salah. "Kamu tidak keberatan?"
"Aku harusnya yang bertanya, karena aku bukan Pamela yang setiap pagi lesehan bersama kamu."
"Baru sekali lesehan dibilang setiap pagi."
"Mana aku tahu?"
"Jangan komentar kalau tidak tahu. Jadi fitnah nanti."
"Fitnah kalau tanpa bukti."
"Nah, terus kamu mau apa kalau aku lesehan sama Pamela tiap hari?"
"Aku cuma mau ngasih tahu, kamu sekarang viral dengan julukan baru; ustadz gaul, karena mau lesehan sama artis dangdut."
"Gampang banget ngasih julukan. Mereka pikir tidak jadi pertanggungjawaban di akhirat?"
"Bilang sama netizen, jangan sama aku."
"Kamu kan yang ngomong."
"Aku cuma menyampaikan apa kata netizen."
"Jadi penyambung lidah juga ada pertanggungjawabannya."
"Kok jadi aku yang salah?"
"Aku tidak menyalahkan, cuma hati-hati dalam menyampaikan berita."
"Kamu keberatan duduk bersamaku?" potong Riany habis sabar. "Kok jadi banyak omong?"
"Aku ingin menjaga perasaan Harbi."
Perasaanku juga, sambung Al dalam hati. Dia takut tidak bisa menjaga rasa kalau duduk berdampingan.
"Ya sudah, aku duduk di belakang," kata Riany dengan wajah cemberut.
"Di bagasi maksudnya?" ledek Al sambil membukakan pintu untuknya. Kemudian dia menutup pintu lagi setelah gadis itu masuk dengan terpaksa.
Pesona Riany dapat membolak-balikkan hati setiap laki-laki meski disembunyikan di balik baju syar'i. Bagaimana Al dapat melupakannya?
__ADS_1