Cinta Untuk Gadis Madinah

Cinta Untuk Gadis Madinah
Episode 137


__ADS_3

Matahari cukup terik ketika Al keluar dari pintu Baqi padahal hari masih pagi. Dia berjalan melewati Jebreel Health Center menuju ke deretan gerai makanan Indonesia. Riany sudah menunggunya untuk makan pagi. Selain musim haji, gerai makanan banyak yang tutup.


Hari ini adalah hari keempat mereka berada di Madinah. Al pulang ke apartemen cuma ganti baju. Waktunya banyak dihabiskan di Masjid Nabawi. Suasana syahdu membuatnya fokus mengerjakan materi presentasi judul skripsi, dan sudah selesai. Senin depan sudah siap untuk diuji.


Empat hari pula Al berdoa tiada henti untuk kebaikan orang tuanya. Dia bingung berpihak pada siapa. Dia tidak rela Ibu menderita, tapi tidak mau Ayah tersakiti. Dan Aisyah adalah penutup doa dari segala permohonan yang dipanjatkan, termasuk doa untuk kebaikan Oma di alam sana. Dia begitu ingin melihat Aisyah bahagia. Begitu ingin kehidupan keluarganya tenteram dan damai.


Seandainya penderitaan mereka harus ditukar dengan kebahagiaannya, maka Al ikhlas. Kesengsaraan akan lebih mendekatkan dirinya pada hakikat hidup. Dunia adalah penjara bagi orang yang percaya akan adanya kehidupan akhirat.


Dia tidak ingin orang-orang yang dicintainya menderita, lebih baik dirinya yang sengsara!


Tiba di deretan gerai makanan, mata Al mencari-cari istrinya di antara pengunjung yang cukup ramai. Kebanyakan jamaah umrah dari Indonesia.


Al terkejut manakala matanya hinggap di gerai nasi goreng spesial. Orang-orang yang disebut dalam doanya di Raudah tampak tengah bercengkrama dalam suasana akrab. Bagaimana mungkin hal ini terjadi?!


Al sampai tidak percaya pada penglihatannya. Ibu tampak akrab mengobrol dengan Fatimah dan Jennifer. Ayah terlibat pembicaraan santai dengan Opa. Riany, Belinda dan Arya jadi pendengar setia. Betapa sejuk hatinya melihat pemandangan itu.


Mukjizat apa yang telah diturunkan Allah untuk menjawab doanya? Bagaimana Ibu dalam sekejap bisa berubah sikap terhadap Fatimah dan Jennifer? Apapun sebabnya, Al bersyukur doanya termakbulkan!


"Cah Bagus!" panggil Ibu. "Sini! Kok bengong di situ? Kamu tidak lapar?"


Al mengayunkan langkah sambil bibirnya bergeletar memuji kebesaran Allah. Dia berkuasa atas segalanya. Dia adalah maha membolak-balik hati manusia.


Al duduk di dekat Arya. Matanya memandang ketiga perempuan di depannya dengan rasa tak percaya.


"Aku butuh penjelasan untuk memahami semua ini," kata Al. "Bagaimana Ibu bisa akrab dengan ... madu?"


"Madu lebah," sambar ayahnya dongkol. "Kamu juga rupanya sudah temakan omongan orang."


"Aku dapat laporan dari adikku."


"Adikmu orang kan? Nah, gara-gara fitnah itu, pulang-pulang aku kena siram air seember, untung aku belum mandi, pergi ke masjid kena somasi jamaah."

__ADS_1


"Jangan salahkan ibuku dan jamaah. Tidak adanya klarifikasi tentang tuntutan Fatimah membuat mereka menduga-duga termasuk aku."


"Apa yang perlu diklarifikasi? Fatimah benar minta dihalalkan di depan pengurus DKM, dan aku keberatan karena ibumu. Aku belum mengambil madu saja ibumu setiap bulan berkurang berat badannya, bagaimana jika kejadian? Wajahku kayaknya masih ngangenin. Aku melihatmu seperti bercermin."


"Enak saja! Maksudnya aku sudah tua begitu?"


"Gantengnya!"


"Nah, terus aku nggak ganteng menurut Ayah?" potong Arya keki. "Belinda berarti matanya kelilipan?"


"Aku tidak mau bercermin padamu, karena aku bukan buaya."


Mereka tertawa.


"Lalu empat janda almarhum diangkut semua tujuannya untuk seru-seruan?" tanya Al.


"Mereka ingin berziarah ke makam mertuanya di Jawa Timur, ya sekalian diangkut."


"Nah, kasus kena siram air itu konon alasannya terpeleset. Untung aku sudah dapat bocoran kalau di kampung geger bahwa ketua DKM kawin lagi. Maka aku minta semua janda almarhum untuk datang ke rumah dan menjelaskan duduk perkara sebenarnya."


Al memandang Fatimah sekilas. "Tapi benar ustadzah mencintai ayahku?"


"Aku kira normal jatuh cinta pada pria gagah," jawab Fatimah jujur. "Tapi aku tidak bisa memaksakan cinta. Ayahmu punya rasa malu kepada bagindanya. Dia tidak mau melaksanakan sunah yang manis-manis, sementara sunah yang pahit-pahit belum semua dilaksanakannya. Aku lebih tidak berani lagi untuk memaksa setelah mengenal ibumu secara dekat, ibumu tidak rela dimadu dan hal itu tidak akan mendatangkan kebahagiaan bagiku."


"Lalu Oma Jen?" tanya Al kepada ibunya.


"Dalam sujud malamku dua hari lalu, aku tiba-tiba saja teringat padamu," sahut ibunya. "Aku merasa kebencianku pada Jennifer dan kecemburuanku pada Fatimah jadi beban pikiranmu. Aku tidak mau anakku menderita karena perbuatanku. Maka itu aku membawa mereka semua ke Kota Suci sebagai bentuk permintaan maaf atas sikapmu selama ini."


"Subhanallah," kata Al seraya bangkit dari duduknya.


"Mau ke mana kamu? Nasi gorengnya makan dulu."

__ADS_1


"Ke Raudhah. Di sanalah aku berikrar janji dengan bagindaku. Aku ingin segera menemuinya."


Al berjalan menelusuri jalan paving blok menuju ke masjid Nabawi. Di persimpangan kawasan gerai, dia berhenti melangkah dan tertegun. Dari arah berlawanan, muncul Aisyah dengan kursi roda dikawal Nidar dan Irma.


"Hei, kenapa bengong begitu?" tegur Nidar. "Heran melihatku mengawal Bu Asiyah? Dia adalah bosku, ketua koperasi. Kemarin baru diresmikan."


"Aisyah...," bisik Al bergetar. "Ryan mana?"


Aisyah tersenyum manis. "Orang tua Ryan kelihatannya kurang setuju mempunyai menantu lumpuh. Aku memutuskan untuk menolak lamarannya, daripada di kemudian hari aku mengalami hal yang menyakitkan."


"Lalu kamu datang ke Kota Suci untuk siapa?"


"Aku datang ke Kota Suci untukmu," jawab Aisyah merdu. "Aku rindu kamu, dan akan selalu merindukanmu."


Jadi ini jawaban atas doanya untuk Aisyah? Dia harus beristri dua? Kota Suci adalah tempat yang cocok untuk menyampaikan sebuah kejujuran kepada ibunya. Karena pasti cuma beliaulah yang menentang takdir ini.


"Kamu sudah tahu kalau aku sangat mencintaimu, dan aku sudah tahu kalau kamu tidak bisa mencintaiku karena cuma ada satu cinta di hatimu, untuk ratu kecilmu."


"Aku laki-laki pecundang yang tidak berani menghadapi dakwaan istri di pengadilan akhirat. Tapi aku sudah berjanji di Raudhah, jika Ryan cuma hadir sesaat, maka aku akan bersanding hidup denganmu untuk selamanya."


Aisyah menggeleng pelan. "Aku tidak mau kamu belajar mencintaiku. Biarlah aku mencintaimu dalam kesendirian. Aku akan bahagia jika kalian bahagia, aku kira itu jalan terbaik bagiku, karena aku akan selalu dekat dengan kehidupan kalian. Aku akan mencoba terapi di Al Khanza sambil bikin skripsi. Jika ada perkembangan maka aku akan tinggal lebih lama, kemudian pulang ke tanah air untuk mengelola koperasi."


"Jika kamu selesai menjalani terapi, bolehkah aku berharap kamu datang untukku?"


Aisyah menggeleng. "Jangan lagi berpikir untuk menduakan istrimu, meski Riany ikhlas, karena hal itu akan sangat menyiksamu."


Aisyah menggerakkan tuas. Kursi roda bergerak melewatinya. Al melihat gadis itu sudah tidak terbebani dengan kakinya. Wajahnya sangat ceria. Mereka menuju ke tempat keluarganya berkumpul.


Sambil berjalan ke pintu Baqi, Al berpikir dengan hati sejuk. Barangkali Allah menjawab doanya melalui kata-kata Aisyah. Dia tidak mampu beristri dua karena cuma punya satu cinta, dan itu untuk Riany.


T A M A T

__ADS_1


__ADS_2