Cinta Untuk Gadis Madinah

Cinta Untuk Gadis Madinah
Episode 15


__ADS_3

Riany membuat setiap langkah Al dicurigai oleh ibunya. Minta izin keluar rumah saja prosesnya berbelit-belit. Padahal ada urusan penting, tapi wanita itu meragukannya.


Bertahun-tahun menjalin komunikasi lewat ponsel membuat Bu Haikal tidak hapal siapa anaknya. Dia berasumsi bahwa Al sama seperti pemuda kebanyakan, menghalalkan segala cara untuk mendapatkan cinta.


Al memang pemuja cinta dan bisa berkorban apa saja demi cintanya, tapi cinta hakiki, bukan cinta kepada perempuan, apalagi perempuan itu sudah punya calon suami. Dia tidak pernah berpikir untuk jadi orang ketiga, lebih senang mendoakan yang terbaik buat mereka. Meski sakit, dia percaya setiap luka pasti ada obatnya.   


"Mau ke mana?" Mata Bu Haikal curiga kental melihat puteranya berdandan rapi.


"Kantor imigrasi."


"Buat apa?"


"Bikin paspor."


"Tahu! Masa beli nasi uduk?"


"Iya juga."


"Maksud Ibu bikin paspor buat apa? Kuliah di Maroko masih lama."


Al sebenarnya tidak berminat kuliah S2 di Negeri Maghribi itu. Bukan tidak ingin memperdalam ilmu agama, dia tahu ibunya mengirim ke Universitas Qarawiyyin cuma untuk menaikkan pamor kelompoknya dalam menandingi kaum intelektual pesantren. Dia tak mau terlibat di dalamnya. 


"Menemani Oma pergi umroh," kata Al santai.


Bu Haikal memandang kaget. "Oma pergi ke Tanah Suci? Kok tidak bilang-bilang?"


"Coba saja bel."


"Tidak diangkat. Pagi ini sudah lima kali ngebel."


Bu Haikal mendapat desakan dari Ustadzah Hamidah untuk mengklarifikasi tentang keberadaan ibunya di masjid pesantren. Dia khawatir hal ini menimbulkan preseden buruk bagi warga kalau dibiarkan.


Bu Haikal ingin meminta ibunya agar tidak terlalu sering pergi ke pesantren. Masjid kampung tak kalah megah. Bahkan dia memberi sumbangan terbesar saat renovasi. Alangkah baiknya kalau dia berpartisipasi meramaikannya.


"Tidak bising ya Oma?" komentar Al.


"Ponselnya tidak aktif. Cuma lagi ada keperluan saja aktif."


"Ngirit batere barangkali."


"Egois namanya."


"Kok begitu ngomongnya sama Oma?" 


"Habisnya Oma begitu."


"Begitu bagaimana?" Al tidak bisa mengira-ngira, keretakan hubungan mereka gara-gara Opa menikah lagi, atau pembelotan omanya atas ajaran yang dianut. "Ini bukan contoh yang baik buat anak-anak Ibu."


"Oma susah dipahami. Ibu sudah coba datang ke rumahnya. Tapi kata asisten rumah, Oma tidak ada."


"Lebih tiga hari ancamannya neraka."


"Maka itu Oma basa-basi ngebel tiga hari sekali."


"Kayak dosis dokter."


"Oma marah karena Ibu tidak lapor soal Jennifer."


"Kok bisa?"


"Ibu kira Opa bolak-balik ke rumah perempuan itu untuk menagih hutang, tidak tahunya menengok kutang."


"Ibu tahunya dari mana?"


"Opa sering mampir."


Pasti untuk memanjakan Arya. Bawa oleh-oleh yang banyak dari kota Jennifer. Anak itu masih saja minta sama Opa padahal kebutuhan sudah tercukupi. Tambah makmur sekarang karena Oma pindah ke kampung.


"Pantas saja mukanya berseri-seri, tidak tahunya habis gilir," gerutu Bu Haikal.


Urusan bisa panjang kalau sudah bicara madu. Ujung-ujungnya menyerempet ke ayahnya, padahal belum tentu curiganya benar. 


"Gara-gara itu ayahmu jadi berani macam-macam," kata Bu Haikal.


Kasihan Ayah jadi pesakitan. Padahal setiap lelaki wajar tertarik pada Fatimah. Pesona Arabianya sanggup menggelincirkan iman. Jujur Al tidak tahu mesti berada di pihak mana. Dia mengerti perasaan ibunya, tapi belum menemukan bukti untuk menguatkan perasaan itu.

__ADS_1


Al ingin mengakhiri topik yang memenatkan hati itu. "Oma banyak menghabiskan waktu di masjid pesantren, jadi jarang di rumah."


"Nah, itu. Ibu tidak mungkin ke masjid itu. Apa kata ibu-ibu pengajian nanti?"


"Jadi lebih memikirkan ibu-ibu pengajian daripada ibu kandung sendiri?"


"Bukan begitu. Anggota majlis ta'lim sudah membuat kesepakatan. Siapa saja tidak boleh masuk ke pesantren apapun alasannya."


"Ada kesepakatan seperti itu."


"Pelopornya Ustadzah Hamidah dan Kyai Rojali."


"Kakak beradik."


"Semua gara-gara Nidar. Dia menolak mentahlilkan bapaknya. Padahal bapaknya anggota majlis ta'lim dan berwasiat minta ditahlilkan. Lalu Nidar menantang berkelahi Kyai Rojali, kalau menang, boleh ditahlilkan. Murid beliau terpancing emosi. Akhirnya Nidar dikeroyok."


"Nidar berhasil kabur setelah membuat babak belur murid Kyai."


"Ayah cerita?"


"Ibu. Pas ngebel malam-malam sebelum Al pulang, sampai lupa saking banyaknya kejelekan pesantren yang dibicarakan, padahal cuma pandangan sepihak."


"Pandangan kamu sendiri bagaimana?"


"Butuh waktu untuk menilai."


"Ribet."


"Penilaian tergesa-gesa seperti ini jadinya. Warga jadi terkotak-kotak. Bagaimana kelanjutan ceritanya?"


"Sejak itu anggota majlis ta'lim bersumpah, tujuh turunan tidak boleh masuk pesantren itu."


"Baru turunan pertama sudah banyak yang melanggar, karena kid jaman now tidak peduli sumpah itu."


"Apa sumpah itu salah?"


"Seharusnya tidak ada. Sumpah itu membuat masyarakat bingung."


"Kok bingung?"


"Orang pesantren memprovokasi."


"Dan majlis ta'lim terprovokasi."


"Nidar harus dikasih pelajaran. Dia sudah menyakiti perasaan orang kampung."


"Nidar kehabisan akal untuk melarang, maka itu dia menantang berkelahi Kyai Rojali."


"Kurang ajar itu."


"Kenapa pesantren jadi sasaran?"


"Ajaran itu munculnya dari pesantren."


"Pesantren sudah minta maaf secara terbuka."


"Tidak cukup."


"Maunya ditutup?"


"Ya."


"Jadi kalau ada anggota malis ta'lim berbuat kurang ajar, maunya majlis ta'lim dibubarkan?"


"Jelas tidak."


"Kok?"


"Berbuat kurang ajar tidak diajarkan di majlis ta'lim."


"Di pesantren diajarkan?"


"Tapi diajarkan bela diri."


"Itu kurang ajar?"

__ADS_1


"Bela diri untuk berkelahi sehingga Nidar berani melawan Kyai Rojali."


"Bela diri buat jaga-jaga."


"Jaga-jaga untuk berkelahi."


"Jaga-jaga kalau ada serangan massa ke pesantren, untuk bertahan hidup."


Ibu lupa kalau ayah dari suaminya memiliki perguruan silat. Anak-anaknya digodok untuk jadi seorang laki-laki dengan mahir ilmu bela diri. 


"Perbuatan Nidar sudah menyulut perang," kata Bu Haikal muak.


"Perkelahian tidak diajarkan di pesantren."


"Larangan tahlilnya!"


"Itu hak Nidar sebagai anak."


"Tapi bapaknya berwasiat."


"Wasiat tidak perlu dilaksanakan kalau menurut ajaran anaknya kurang baik."


"Maka itu ajarannya salah kaprah!"


"Menurut warga."


"Menurut kamu?"


"Masa Al harus mengulang-ulang jawabannya?"


"Jadi kamu sebenarnya berpihak pada siapa?"


"Berpihak pada agama. Warga dan pesantren masing-masing punya dalil. Mereka dua-duanya jadi salah kalau dalil itu diperdebatkan. Seharusnya dua-duanya jadi benar kalau tidak mabuk taqlid."


"Kalau begitu kamu tidak punya kawan di kampung ini."


"Lebih baik tidak punya kawan daripada banyak kawan tapi berkomplot untuk berbuat kegaduhan. Baiknya Ibu keluar dari kesepakatan itu."


"Tidak bisa."


Al angkat bahu sedikit. "Ya sudah. Terus izinnya bagaimana?"


"Perginya sama siapa?"


"Riany."


Muka Bu Haikal langsung berubah masam. "Tidak ada yang lain apa?"


"Riany sudah biasa urus-urus."


"Biasanya Ahmed, kakak iparnya, yang urus paspor laki-laki."


"Ini maunya Oma."


"Apa maksud Oma menyuruh Riany?"


"Tanya sendiri dah."


"Berdua perginya?"


"Sama Harbi kali."


"Kok kali?"


"Al tidak tahu siapa yang Riany bawa."


"Jangan-jangan kamu sendiri kepingin pergi sama Riany," sindir Bu Haikal sinis.


"Riany sudah punya calon imam, Bu," sahut Al sabar. "Ibu sudah menghubungi Vidya, jawabannya maaf tidak bisa mengantar, capek baru pulang dari Kairo. Ibu juga sudah ngebel Pamela, maaf nanti siang ada show. Nah, kenapa tidak sekalian saja Nek Surti suruh menemani Al?"


"Kamu meledek Ibu?"


"Al cuma ingin menegaskan siapapun boleh membantu Al mengurus paspor."


"Pokoknya aku tidak mau kamu pergi sama Riany!"

__ADS_1


__ADS_2