
Al merasa sudah mengambil keputusan dengan gegabah. Bagaimana kalau Aisyah bersedia dilamar? Dia pasti pusing tujuh keliling!
Minta tolong sama siapa untuk melamarnya? Barangkali Ayah yang paling tepat, meski jadi modal besar baginya untuk mempersunting Fatimah.
Al sebenarnya tidak mempersoalkan Ayah mengambil madu. Dia tidak memandang rendah kalau wanita itu hadir karena syahwat. Ayah adalah manusia biasa dan berakhlak biasa.
Tapi kehadiran madu untuk melengkapi kekurangan di rumah, bukan menimbulkan kegaduhan. Jika terjadi perang tiap hari, buat apa?
Keberadaan madu harus memberi manfaat!
Untuk Aisyah secara sepintas merugikan bila diambil jadi madu. Seorang perempuan cacat hanya merepotkan suami. Namun adakalanya manfaat itu tidak secara fisik.
Manfaat dapat berupa kebaikan untuk di akhirat. Mengambil madu dengan alasan seperti itu adalah ibadah, bukan karena syahwat.
Aisyah ingin jadi istri yang sempurna, sehingga dia bisa menjadi bidadari di surga bagi suaminya. Dia merasa pesimis dengan keadaannya sekarang. Itu alasannya menolak lamaran Al.
"Aku minta kamu jangan nekat," kata Aisyah sebelum mereka keluar dari ruang belajar. "Jangan lamar aku, please."
"Permintaan kamu aneh."
"Aku tidak mau kamu dapat malu."
"Makanya terima lamaranku kalau tidak mau aku dapat malu."
"Aku sayang kamu, Al. Tapi aku tidak mau cintaku menyusahkan kamu. Jadi aku tidak bisa menerima lamaranmu."
"Aku pasti tersinggung berat kalau kamu menerima lamaran laki-laki lain."
"Tidak akan pernah."
"Jadi dalam usia semuda ini kamu sudah memutuskan untuk hidup sendiri?"
"Kau berharap aku tidak sembuh?"
"Aku bicara kemungkinan terburuk."
Kemungkinan terburuk adalah kemungkinan terbesar yang terjadi pada Aisyah. Diagnosa dokter menunjukkan harapan kecil untuk sembuh. Dia akan mengalami cacat seumur hidup.
Al tidak berharap Aisyah menerima lamarannya dalam waktu dekat. Dia belum punya gambaran tentang apa yang harus dilakukan jika orang tuanya tidak setuju.
Ibu pasti memilih untuk tidak melaksanakan wasiat Oma karena tidak berdampak pada hilangnya harta warisan dari Simbah buyut. Padahal Al berniat menikahi Aisyah bukan demi menyelamatkan harta.
Al ingin menyelamatkan kehidupan Aisyah. Dia kira tidak ada laki-laki tampan dan kaya raya yang sudi jadi suami seorang gadis cacat!
Aisyah merasa tidak mampu melayani suami karena keadaan dirinya. Dia pasti tersisihkan oleh istri pertama!
Riany adalah perempuan terindah tiada cela secara fisik. Kemasan yang rapi membuat Ben Muzakir tergila-gila dan jadi gila karenanya. Al beruntung bisa memiliki dan berbuat apa saja dengan label halal.
Tapi berumah tangga tidak sekedar bergantung pada keindahan fisik.
Al bukan termasuk suami yang suka memanjakan istri dengan seribu dayang-dayang, dimana untuk memakai baju dan sepatu dibantu oleh asisten. Dia memberi tugas pada mereka untuk mengurus rumah, bukan mengurus suami.
Mereka masak, belanja kebutuhan dapur, cuci pakaian, bersih-bersih, beres-beres. Selesai. Untuk melayani makan, minum teh, dan keperluan pribadi adalah tugas istrinya.
Al ingin setiap kali pergi dan pulang ke rumah selalu ada istrinya. Dia sudah mencukupi segala kebutuhannya. Jadi tidak ada alasan lagi untuk istrinya keluar rumah cari tambahan.
__ADS_1
Al menerapkan paham Ibu dalam bertetangga. Istrinya boleh bertetangga asal berfaedah. Dia melarang kalau cuma untuk ngegosip. Membicarakan kejelekan orang lain adalah tidak elok karena diri sendiri boleh jadi lebih jelek di mata orang yang dibicarakan.
Akhirnya mereka saling menjelekkan. Berawal dari perkara sepele jadi mewabah ke setiap sisi kehidupan dan mendapat murka Allah.
Bahaya jari dan lisan adalah hal yang tidak bisa diprediksi!
"Jadi wasiat Oma yang membuatmu berubah?" tanya Al dalam perjalanan pulang dari rumah Aisyah. "Kamu rela berbagi kayak berbagi permen."
Riany tersenyum manja. "Sifat aku kayak anak-anak ya? Padahal sudah punya suami."
"Kamu takut kehilangan suami, lantas nego untuk berbagi."
"Aisyah bilang begitu?"
"Dia tidak bilang apa-apa. Maksudnya kamu nego sama diri sendiri."
"Kamu pernah katakan cuma punya satu cinta. Aku pasti tersingkirkan kalau kamu sudah dengar wasiat Oma."
"Aku juga sudah sering bilang kalau laki-laki tidak perlu menikah karena cinta, tidak perlu minta restu istri, tidak perlu memberi tahu istri kalau ada urusan dengan orang tuaku. Apa belum cukup jelas?"
"Jelas banget."
"Terus kenapa takut ditinggalkan?"
"Cintaku sama suamiku melampaui cintaku pada diri sendiri. Ada keterangan dari Nabi; seandainya manusia boleh bersujud pada manusia, maka akan diperintahkan istri untuk bersujud pada suami, saking pentingnya peran suami dalam rumah tangga."
"Aku tidak termasuk lelaki yang bangga dengan adanya hadits itu. Di balik keistimewaan itu terdapat ancaman, bahwa suami tidak masuk surga sebelum istrinya menjalani persidangan di akhirat, karena setiap perbuatan istri jadi tanggung jawab suami kalau ada proses pembiaran."
"Suami dimanjakan di dunia, tapi istri mendapat dispensasi di akhirat."
"Maksudnya?"
"Di akhirat, ada dua kehidupan abadi; surga dan neraka. Ciri-ciri penduduk surga seperti apa dan ciri-ciri penduduk neraka seperti apa, sudah jelas dalam agama. Jadi kau tidak perlu pergi ke akhirat untuk mengetahui bagaimana ciri-cirinya."
"Ya aku tahu."
"Kalau kau ingin jadi penduduk surga, ya ikuti ciri-ciri penduduknya. Jangan sampai kau ingin jadi penduduk surga tapi malah mengikuti ciri-ciri penduduk neraka."
"Jadi kau tidak akan meninggalkan aku?"
"Aku tidak ada alasan dan semoga tidak ada alasan sampai tua nanti untuk menceraikan kamu."
"Lalu Aisyah bagaimana?"
"Dia minta aku jangan mempermalukan diri sendiri."
"Maksudnya?"
"Dia minta aku jangan melamar karena pasti ditolaknya."
"Ada cewek berani nolak cowok seharga satu triliun."
"Lagian aku tidak ingin melamarnya pada bulan-bulan ini."
"Aku setuju. Habis wisuda saja."
__ADS_1
"Habis wisuda juga aku tidak tahu. Lihat situasi saja."
"Kok lihat situasi?"
"Aku tidak enak kalau datang melamar untuk diriku sendiri."
"Kau bisa minta tolong sama Ayah."
"Risikonya aku harus mendukung dia untuk ngambil ibu tiri."
"Pikiranmu kok begitu banget?"
"Begitu banget gimana?"
"Mencurigai ayahmu yang bukan-bukan."
"Ngambil madu kok yang bukan-bukan? Kalau istri ngambil suami kedua, nah, baru!"
"Banyak, kan?"
"Aku tidak mau ngomongin orang, diriku saja jadi omongan orang."
"Aku kira masalah Ayah tidak pelik kayak masalahmu."
"Dari sudut pandang lelaki, masalah Ayah jauh lebih rumit dari aku."
"Kamu bisa minta tolong Opa kalau kuatir ayahmu minta bantuan kamu untuk melamar Ustadzah Fatimah."
"Aku jadi pecundang kalau minta tolong Opa. Dia akan mengembalikan semua perkataan aku, dan mendesak aku untuk menerima Jennifer sebagai oma muda."
"Oma sudah tiada. Apalagi yang jadi ganjalan kamu?"
"Jika aku menerimanya sebagai anggota keluarga besar, maka Ibu tidak punya alasan lagi untuk menolak. Aku adalah benteng terakhir untuknya. Ibu tidak bisa berbuat apa-apa pada Ayah kalau aku merestui Fatimah jadi ibu tiri."
"Ibumu begitu patuh padamu."
"Adalah salah kalau seorang ibu patuh pada anaknya. Ibu hanya merasa akulah yang bisa jadi sandaran di hari tua. Dia tidak mau menghabiskan sisa umur di panti jompo. Maka itu dia tidak mau menyakiti hatiku, padahal rasa itu tidak ada bagiku untuk seorang ibu.'
"Kau sungguh anak yang berbakti, aku bangga jadi istrimu."
Al tersenyum miris. "Terlalu gampang menyebut aku anak yang berbakti jika dilihat bagaimana perjuangan seorang ibu dalam membesarkan anaknya."
"Berarti pernikahanmu sama Aisyah pasti mengecewakan ibumu."
"Aku kira tidak jika istriku memberi restu. Aku justru kecewa wasiat itu datang terlambat."
"Kau akan menggagalkan perjodohan kita kalau tahu dari awal?"
"Aku tidak mau membahas apa yang sudah terjadi, hanya menambah beban di pundakku untuk menyambut masa depan."
"Aku akan membantu meringankan beban di pundakmu."
"Caranya?"
"Aku akan melamar Aisyah untukmu."
__ADS_1