
Mereka tiba di apartemen mewah di kawasan Garden Park pukul 22.00 waktu Madinah, tempat tinggal Riany selama menempuh pendidikan. Interiornya bergaya Persia. Ada tiga kamar tidur, ruang tamu, dapur, dan dua kamar mandi.
Selesai Al merapikan travel bag dan beristirahat sejenak di kamar, dia keluar dan mengetuk kamar istrinya. Mereka tidur terpisah. Riany tinggal dengan Belinda, dia dan adiknya, satu kamar lagi ditempati asisten rumah.
"Ada apa?" tanya Belinda sambil membuka pintu sedikit.
"Aku tidur di Nabawi. Habis Dhuha baru pulang."
"Baiknya istirahat dulu, beb," kata Riany yang sedang ganti pakaian dengan baju tidur. "Subuh kita pergi ke Nabawi."
"Lelahku hilang rasanya tertutup rindu untuk segera berjumpa dengan bagindaku dan bagindamu."
Madinah adalah kota yang selalu dirindukan. Dia berencana akan menyempatkan waktu secara rutin untuk berkunjung. Setelah lulus kuliah, istrinya ingin bulan madu keliling dunia dan berakhir di Dua Kota Suci.
Al berjalan menuju ke pintu keluar. Arya sudah menunggu di depan kamar mereka.
"Aku ingin tahu kehidupan kota Madinah di malam hari," kata Arya sambil berjalan di sampingnya melintasi ruang tamu. "Tapi setelah bertemu dengan bagindaku dan bagindamu."
"Kau berani pulang sendiri?" tanya Al. "Aku menginap di Nabawi."
"Aku menunggu-nunggu kesempatan untuk bermalam di Nabawi."
"Bilang saja pulang takut nyasar."
Jarak apartemen ke Masjid Nabawi lumayan jauh, sekitar 4 km. Mereka tinggal di kawasan hijau dengan dikelilingi taman dan pepohonan.
Mereka pergi ke Masjid Nabawi dengan naik taksi. Denyut kehidupan di kota penuh berkah ini sangat terasa di malam hari. Keramaian banyak dijumpai di area terbuka dan pusat perbelanjaan. Siang hari biasanya sepi karena cuaca sangat terik.
"Kakak serius minta aku nikah setelah lulus SMA?" tanya Arya sambil matanya menikmati pemandangan di sepanjang jalan yang dilewati.
"Ada masalah?" toleh Al sekilas.
"Jelas masalah! Aku belum punya penghasilan untuk menghidupi istriku. Aku juga berarti harus membiayai Belinda sekolah mode."
"Alhamdulillah. Belum satu hari di kota penuh berkah, adikku sudah mulai berpikir tentang tanggung jawab."
__ADS_1
"Justru aku jadi suami tidak bertanggung jawab kalau nikah muda, karena tidak mampu memberi nafkah lahir."
"Kamu bukan tidak bertanggung jawab, tapi sedang mempersiapkan diri untuk memikul tanggung jawab yang lebih besar, dengan sekolah sungguh-sungguh tentunya."
"Aku kasih tahu ya, Kak. Penghasilan Belinda rata-rata lima ratus juta per bulan, berarti sekurang-kurangnya aku harus memberi uang sebesar itu, belum biaya kuliahnya. Ayah banyak tanggungan, tanggungan resmi dan tidak resmi."
"Maksudnya?"
"Tanggungan resmi; beliau harus membiayai hidupku dan Ibu. Tanggungan tidak resmi; membiayai anak Ustadz Bashori dan jandanya."
"Kok tanggungan tidak resmi? Mereka adalah ladang pahala bagi Ayah."
"Tapi ladang penderitaan bagi Ibu. Setiap bulan berat badannya turun karena Fatimah."
"Aku kira sengaja diet biar tidak kalah seksi, ternyata makan hati," keluh Al. "Aku jadi bingung apa yang harus dikatakan jika bertemu dengan Ayah nanti?"
"Aku pikir kita netral saja."
"Tidak bisa kalau Ibu sampai turun berat badan. Artinya Fatimah betul-betul jadi masalah baginya."
"Siapa sih yang tidak bermasalah kalau dimadu? Padahal dari nenek moyangnya sampai Oma semua dimadu!"
"Lalu aku bagaimana?"
"Aku yang memintamu nikah muda, bukan Ayah sama Ibu. Jadi aku bertanggung jawab terhadap semua kehidupanmu sampai kamu mampu menafkahi istrimu kelak."
"Biayanya tidak sedikit loh, Kak?"
"Kamu siapkan saja dirimu untuk jadi suami yang baik, belajar menutup mata terhadap perempuan lain."
"Aku tidak mau tinggal di apartemen murah di Paris. Kehidupanku juga tidak mau seperti tamu tidak terhormat, terlantar. Aku sulit mempertahankan rumah tanggaku karena kehidupan Belinda tidak biasa."
"Aku tidak memintamu untuk jadi gelandangan di Paris. Aku cuma memintamu untuk belajar sungguh-sungguh, dan jangan permalukan agama dan bangsamu."
"Aku minta ditransfer satu milyar per bulan."
__ADS_1
"Aku kirim satu setengah milyar. Lima ratus juta untukmu, satu milyar untuk istrimu, nominal yang sama yang diberikan pada istriku."
Arya tampak senang sekali. "Kau benar-benar kakak terbaik di dunia. Aku bisa bulan madu setiap hari."
"Dan kau betul-betul adik terburuk di dunia. Aku bisa sakit empedu setiap hari."
"Jaga ucapan, Kak. Kita berada di Kota Suci."
"Kita berada di dalam taksi!"
Tapi Al tetap beristighfar di dalam hati karena maksudnya bercanda. Dia sangat senang adiknya mau menerima saran secara baik-baik, jadi tidak perlu menggunakan ancaman dan kekerasaan. Kalau soal besarnya transfer, dari dulu adiknya tidak bisa hidup tanpa kemewahan.
Dia sudah menunaikan tugasnya sebagai seorang kakak, dan semoga berjalan sesuai rencana untuk mengurangi beban tanggung jawabnya selaku anak sulung.
Persoalan Arya dianggapnya sudah beres. Adiknya tinggal menjalankan apa yang sudah direncanakan. Ada persoalan berat dimana dia sulit menentukan sikap, ayahnya.
Ibu betul-betul menolak keras kehadiran madu, apapun alasannya, dan situasi ini bisa membuatnya jatuh sakit. Dia tidak mau ibunya mengalami nasib seperti Oma. Berjuang mencari ikhlas di sisa umurnya!
Satu bukti harta berlimpah bukan jaminan kebahagiaan!
Maka itu Al mengadu kepada Al-Fattah dengan air mata berderai di atas permadani hijau di Raudhah. Dia meminta agar diberi jalan keluar terbaik dari masalah yang dihadapinya. Jangan sampai terkunci dalam kerumitan hidup.
Dia tidak rela ibunya menderita, akan tetapi dia juga tidak mau ayahnya tersakiti. Sementara Fatimah adalah fisabilillah yang patut dilindungi!
Kemudian Al juga meminta agar diberi kemudahan dalam menjalankan tugasnya sebagai kepala rumah tangga. Jangan sampai anak dan istrinya jadi saksi yang memberatkan di akhirat.
Sekelumit wajah mampir dalam pikirannya. Perempuan yang membuat hati lelaki tergelincir karena pesona Arabianya. Bertahun-tahun mereka menjalani hidup dalam persahabatan, dan menghadirkan sebuah harapan.
Kemudian harapan itu hancur karena sebuah petaka. Al sudah membuat gadis yang demikian berjasa dalam hidupnya jadi menderita tiada terperi.
Sebuah penyesalan hadir dalam pengakuan yang tulus di depan khaliknya.
"Maafkan aku, Aisyah," kata Al lirih. "Aku hanya punya satu cinta untuk istriku, tetapi aku siap bersanding denganmu jika Ryan mencintaimu dalam sesaat."
Aisyah adalah perempuan yang paling cocok untuk menjadi pendamping hidupnya, begitu menurut pilihan Oma. Akan tetapi, cinta kadang hinggap di teratak yang salah. Dan sekarang menjadi tugasnya untuk membenahi teratak agar menjadi perhiasan terindah dari yang pernah ada.
__ADS_1
"Semoga engkau hidup bahagia bersama laki-laki pilihanmu," desis Al pedih. "Dan aku akan selalu menunggu untuk menghapus air matamu, seandainya doaku tidak termakbulkan."
Al tidak tahu, apakah doa yang disampaikan adalah doa terbaik? Raudhah jadi saksi, betapa inginnya dia melihat Aisyah hidup bahagia.